Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Iklim Keselamatan Kerja (Safety Climate) - Pengertian, Aspek, dan Pengukuran

Iklim keselamatan (safety climate) adalah persepsi pekerja terhadap sikap manajemen seperti kebijakan, prosedur dan praktik pekerjaan terkait pelaksanaan keselamatan kerja di dalam lingkungan kerja. Iklim keselamatan merupakan ciri dan indikator yang penting budaya keselamatan kerja dalam organisasi. Penekanan iklim keselamatan terletak pada persepsi pekerja mengenai peran manajemen di dalam melaksanakan program keselamatan kerja.

Iklim Keselamatan Kerja (Safety Climate) - Pengertian, Aspek, dan Pengukuran

Menurut International Atomic Energy Agency (1991), safety climate merupakan kondisi kerja yang berasal dari individu, kelompok, persepsi, sikap dan perilaku yang menetapkan sebuah komitmen dan kemampuan dalam mengelola sebuah organisasi keselamatan keselamatan. Iklim keselamatan dipandang sebagai atribut individu dalam perusahaan yang mengandung dua faktor, yaitu komitmen manajemen pada keselamatan dan keterlibatan karyawan pada keselamatan.

Iklim keselamatan berhubungan dengan persepsi bersama yang berkaitan dengan prioritas kebijakan, prosedur, praktik keselamatan, dan sejauh mana kepatuhan keselamatan atau peningkatan perilaku didukung dan dihargai di tempat kerja. Iklim keselamatan menginformasikan kepada karyawan tentang prioritas keselamatan selama proses produksi yang melibatkan risiko fisik atau kesehatan. Iklim keselamatan yang positif akan meningkatkan frekuensi perilaku keselamatan di antara karyawan yang bekerja di lingkungan berbahaya dan sebaliknya.

Pengertian Iklim Keselamatan 

Berikut definisi dan pengertian iklim keselamatan atau safety climate dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Neal & Griffin (2002), iklim keselamatan adalah persepsi karyawan pada kebijakan perusahaan, prosedur, dan pelaksanaan keselamatan dalam lingkungan kerja.
  • Menurut Winarsunu (2008), iklim keselamatan adalah sebuah persepsi pekerja pada sikap manajemen terhadap keselamatan kerja dan persepsi pada sejauh mana kontribusi keselamatan kerja di dalam proses produksi secara umum. 
  • Menurut Cooper (2000), iklim keselamatan adalah aspek psikologis dari budaya keselamatan yang menjelaskan nilai-nilai, sikap serta persepsi individu dan kelompok terhadap penerapan program keselamatan dalam perusahaan. 
  • Menurut Guldenmund (2010), iklim keselamatan adalah persepsi karyawan terhadap kebijakan keselamatan, prosedur, praktik, serta seluruh kepentingan dan prioritas keselamatan kerja.

Aspek-aspek Iklim Keselamatan 

Menurut Kines, dkk (2011), iklim keselamatan atau safety climate terdiri dari tujuh aspek, yaitu sebagai berikut: 

  1. Management safety priority, commitment and competence. Aspek ini berhubungan dengan persepsi pekerja terhadap menajemen mengenai beberapa hal yaitu prioritas terhadap keselamatan, respon terhadap perilaku tidak aman, aktif dalam promosi keselamatan, dan kompetensi dalam mengenai keselamatan serta komunikasi isu keselamatan kerja. 
  2. Management safety empowerment. Aspek ini menangkap persepsi pekerja terhadap pemberdayaan dan dukungan partisipasi pekerja yang dilakukan oleh manajemen. 
  3. Management safety justice. Aspek ini adalah persepsi pekerja mengenai cara manajemen dalam memperlakukan pekerja terkait kecelakaan kerja.
  4. Worker’s safety commitment. Persepsi pekerja mengenai sejauh mana pekerja berpartisipasi dalam menjaga keselamatan kerja dan peduli terhadap aktivitas keselamatan kerja. 
  5. Worker’s safety priority and rsik non accepted. Aspek ini menjelaskan bagaimana kelompok tersebut menilai perilaku sehingga menciptakan norma keselamatan di dalam pekerjaan. 
  6. Safety communication, learning, and trust in co-woker safety competence. Aspek ini berisikan tentang persepsi pada sistem komite kerja, serta tentang pentingnya sebuah pelatihan keselamatan kerja. 
  7. Worker’s trust the efficacy of safety systems. Persepsi pekerja terhadap manajemen dalam mencari solusi permasalahan serta pemberian fasilitas untuk transfer informasi yang berhubungan dengan keselamatan.

Faktor yang Mempengaruhi Iklim Keselamatan 

Menurut Johansson dan Rubernowitz (1994), terdapat beberapa faktor yang dianggap mempengaruhi iklim keselamatan (safety climate) dalam sebuah organisasi, yaitu sebagai berikut:

a. Pengaruh dan kontrol pekerjaan 

Dalam hal ini ada beberapa hal yang bisa dilihat antara lain pengaruh tingkatan kerja, pengaruh metode kerja, pengaruh alokasi kerja dan kontrol teknis serta pengaruh peraturan kerja.

b. Komunikasi terhadap atasan 

Komunikasi yang bisa dilihat adalah kontak dengan atasan, ketika atasan meminta saran dan masukan terhadap masalah-masalah dengan pekerjaan, saat atasan memberikan pertimbangan sudut pandang tertentu dan memberikan informasi yang dibutuhkan serta iklim dalam berkomunikasi di organisasi ataupun perusahaan.

c. Rangsangan dari kerja itu sendiri 

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pekerjaan tersebut menarik dan menstimulasi individu untuk bekerja atau tidak, apakah pekerjaan tersebut bervariasi dan terbagi-bagi atau tidak, kesempatan untuk mempergunakan bakat dan keterampilan, kesempatan untuk belajar banyak hal baru dari pekerjaan dan perasaan keseluruhan tentang pekerjaan yang dilakukan.

d. Hubungan dengan rekan kerja 

Hubungan dan kontak dengan rekan kerja, pembicaraan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan dengan rekan kerja, perluasan pengalaman dalam suasana kerja yang menyenangkan, diskusi tentang masalah yang berkaitan dengan pekerjaan dan penghargaan rekan kerja sebagai seorang teman yang baik atau bukan.

e. Beban kerja secara psikologis 

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah stres kerja, beban kerja, perasaan lelah dan kejenuhan sehabis bekerja yang meningkat. Ada atau tidaknya kemungkinan relaksasi dan beristirahat saat bekerja dan beban mental yang ditimbulkan oleh pekerjaan itu sendiri.

Pengukuran Iklim Keselamatan Kerja 

Iklim keselamatan kerja umumnya diukur dengan menggunakan kuesioner yang mengeksplorasi sikap dan persepsi individu mengenai keselamatan. Pengukuran iklim keselamatan dilakukan untuk memprediksi kondisi keselamatan kerja yang akan terjadi di masa yang akan datang. Adapun poin-poin yang menjadi faktor utama dalam pengukuran iklim keselamatan kerja adalah sebagai berikut:

a. Faktor manajerial 

Kelompok ini digunakan dengan merujuk pada semua faktor manajemen non-pengawasan. Beberapa hal yang termasuk dalam kelompok ini adalah kebijakan organisasi, sistem dan prosedur, manajemen dan gaya kepemimpinan, dan komitmen manajemen untuk keselamatan.

b. Faktor pengawas 

Pengawas telah terbukti memiliki pengaruh penting mengenai iklim keselamatan. Dukungan manajemen untuk keselamatan juga ditemukan secara positif mempengaruhi dukungan pengawas untuk keselamatan. pengawas memainkan peran penting dalam proses pencegahan kecelakaan dengan mentransfer elemen iklim keselamatan kepada anggota angkatan kerja.

c. Faktor tenaga kerja 

Tanggung jawab individu anggota tenaga kerja memainkan peran penting dalam keberhasilan pengaruh manajemen keselamatan pada kegiatan keselamatan. Tanggung jawab pribadi untuk keselamatan adalah pelengkap, dan bukan penggantian, pelatihan keselamatan yang baik.

Instrumen Pengukuran Iklim Keselamatan Kerja

Berikut ini adalah beberapa kuesioner pengukuran iklim keselamatan kerja yang sudah diakui untuk dapat digunakan secara umum dalam sebuah perusahaan atau organisasi.

a. Loughborough Safety Climate Assessment Toolkit (LSCAT) 

LSCAT merupakan kuesioner yang dikembangkan oleh Loughborough University, Health & Safety Executive (HSE), dan sejumlah organisasi offshore. Kuesioner Loughborough Safety Climate Assessment Toolkit (LSCAT) terdiri dari 9 dimensi iklim keselamatan dengan 43 item pertanyaan, yaitu komitmen manajemen (management commitmen), komunikasi keselamatan (safety communication), prosedur dan peraturan keselamatan (safety rules dan procedures),keselamatan sebagai prioritas utama (priority of safety), lingkungan pendukung atau dukungan kelompok (supportive environment), keterlibatan (involvement), lingkungan kerja (work environment), keselamatan sebagai priorotas kebutuhan (personal priorities),apresiasi atau tanggapan pribadi terhadap resiko (appreciation of risk). Skala yang digunakan pada kuesioner LSCAT adalah skala likert dimana terdapat variasi pilihan setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.

b. Safety Climate Tools (SCT) 

Safety Climate Tools adalah alat psikometri yang handal dan kuat dalam mengukur iklim keselamatan kerja. SCT merupakan kuesioner yang dikembangkan oleh HSE Climate Tool. Dimana kuesioner ini terdiri dari 8 dimensi yang membangun iklim keselamatan dengan 40 item pertanyaan. Adapun 8 dimensi tersebut adalah komitmen organisasi (organisational commitment, perilaku berorientasi pada K3 (health and safety oriented behaviours), kepercayaan terhadap K3 (health and safety trust), penggunaan prosedur (usability of procedures), keterlibatan dalam K3 (engagement in health and safety), sikap peer group (peer group attitude),sumber daya K3 (resources for health and safety), kecelakaan dan pelaporan nearmiss (accident and near miss reporting).

c. Nordic Safety Climate Questionnaire (NOSACQ-50) 

NOSACQ-50 merupakan kuesioner yang dikembangkan oleh peneliti di wilayah Nordik (Swedia, Finlandia, Denmark, Norwegia dan Islandia) dimana validitas dari NOCASQ-50 telah disahkan oleh berbagai organisasi dan berbagai sektor melalui berbagai macam tingkat iklim keselamatan kerja. Dimensi iklim keselamatan dari NORDIC didasarkan pada teori organisasi dan iklim keselamatan, teori psikologi, teori organisasi, penelitian empiris sebelumnya, dan penelitian empiris yang dilakukan peneliti NORDIC. Kuesioner NOSACQ-50 terdiri dari 7 dimensi iklim keselamatan dengan 50 item pertanyaan, ketujuh dimensi tersebut adalah prioritasi dan komitmen manajemen terhadap K3, pemberdayaan manajemen keselamatan kerja, keadilan manajemen keselamatan kerja, komitmen pekerja terhadap keselamatan kerja, prioritas keselamatan pekerja dan tidak ditoleransinya risiko bahaya, pembelajaran, komunikasi, dan inovasi, kepercayaan terhadap keefektifan sistem keselamatan kerja.