Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Model pembelajaran Quantum Learning

Model pembelajaran quantum learning adalah suatu strategi dan kiat belajar yang memadukan unsur seni, faktor potensi diri dan lingkungan belajar sehingga proses belajar siswa menjadi lebih meriah, menyenangkan dan bermanfaat. Quantum learning merupakan metode yang mengedepankan suasana yang nyaman, menyenangkan selama proses pembelajaran.

Model pembelajaran Quantum Learning

Model pembelajaran quantum learning pertama kali dikenalkan oleh Georgi Lozanov, yaitu seorang ahli saraf, psikiater, psikolog dan pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen mengenai suggestology atau suggesto-pedia. Menurut Lozanov, sugesti dapat mempengaruhi hasil situasi belajar. Beberapa teknik yang digunakan untuk memberikan sugesti positif antara lain yaitu mendudukkan murid secara nyaman, memasang musik latar di dalam kelas, meningkatkan partisipasi individu, dan menggunakan media pembelajaran untuk memberikan kesan besar sambil menonjolkan informasi.

Model pembelajaran quantum learning merupakan pengubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya yang menyertakan segala kaitan, interaksi, dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar serta berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas interaksi yang mendirikan landasan dalam rangka untuk belajar. Quantum learning adalah suatu proses pembelajaran yang menyenangkan, menciptakan interaksi yang edukatif antara guru dengan siswa serta mengoptimalkan lingkungan belajar yang efektif (fisik dan mental) dalam pembelajaran.

Pengertian Quantum Learning 

Berikut definisi dan pengertian model pembelajaran quantum learning dari beberapa sumber buku:

  • Menurut DePorter dan Hernacki (2011), quantum learning adalah kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. 
  • Menurut Kosasih dan Sumarna (2013), quantum learning adalah model pembelajaran yang menyenangkan serta menyertakan segala dinamika yang menunjang keberhasilan pembelajaran itu sendiri dan segala keterkaitan, perbedaan, interaksi, serta aspek-aspek yang dapat memaksimalkan momentum untuk belajar. 
  • Menurut Hamdayana (2014), quantum learning adalah model pembelajaran yang berupaya memadukan (mengintegrasikan, menyinergikan, mengelaborasikan) faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. 
  • Menurut Wena (2013), quantum learning adalah cara baru yang memudahkan proses belajar, yang memadukan unsur seni dan pencapaian terarah untuk segala mata pelajaran dengan menggabungkan keistimewaan-keistimewaan belajar menuju bentuk perencanaan pengajaran yang akan melejitkan prestasi siswa. 
  • Menurut Leasa dan Ernawati (2013), quantum learning adalah suatu cara pandang baru yang memudahkan proses belajar siswa dengan pengubahan belajar yang meriah dengan segala nuansa yang ada di dalam dan di sekitar situasi lingkungan belajar melalui interaksi yang ada di sekitar kelas.

Aspek-aspek Quantum Learning 

Menurut DePoter dan Hernacki (2011), terdapat beberapa aspek yang harus ada di dalam model pembelajaran quantum learning, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. AMBAK (Apa Manfaat Bagi Ku) 

Segala sesuatu yang diinginkan pelajar harus menjanjikan manfaat bagi pelajar tidak akan termotivasi melakukannya. Motivasi ini di sebut sebagai AMBAK. Menemukan AMBAK sama dengan menemukan minat dalam sebuah hal yang dipelajari, dengan menghubungkan ke dalam dunia nyata. Jadi konsep AMBAK dapat diartikan sebagai motivasi yang di dapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat dari suatu keputusan. Sebelum pembelajaran berlangsung siswa diberikan gambaran tentang manfaat dan hasil belajar bagi siswa dalam implementasinya dalam kehidupan sehari-hari maupun keuntungan di masa yang akan datang.

b. Penataan lingkungan belajar 

Cara menata perabotan, cahaya dan bantuan visual di dinding, dan papan iklan, semua merupakan kunci bagi siswa yang menerapkan Quantum Learning untuk menciptakan lingkungan dengan baik, akan menjadi sarana yang dilakukan dengan baik dan bernilai dalam membangun dan mempertahankan sikap positif. Pengaturan lingkungan belajar ini sebagai langkah awal yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar secara menyeluruh. Setiap individu memiliki kesenangan yang berbeda dalam menentukan lingkungan belajar. Akan tetapi individu yang dapat berinteraksi dengan lingkungan semakin mudah dalam mempelajari informasi-informasi baru, karena dapat memperbanyak memori tentang lingkungan sekitar, sehingga dapat digunakan untuk berinteraksi pada perubahan lingkungan selanjutnya.

c. Musik 

Musik juga dapat dipergunakan untuk membantu di dalam belajar siswa yang suka mendengarkan musik untuk mengombinasikan pendengaran dalam belajar. Para siswa mengungkapkan bahwa stimulus-stimulus dari alunan musik ini membuat puas, walaupun mereka tidak sungguh-sungguh mendengarkannya. Musik sangat penting dalam Quantum Learning, karena sebenarnya musik berhubungan dan mempengaruhi kondisi psikologis. Selama melakukan pekerjaan mental yang berat, tekanan darah dan denyut jantung cenderung meningkat. Gelombang otot meningkat, otot menjadi tegang, selama relaksasi dan meditasi, denyut jantung dan tekanan darah menurun, dan anda benar-benar relaks, dan sulit relaks ketika anda berkonsentrasi.

d. Sikap positif terhadap kegagalan 

Aset berharga dalam proses belajar menurut quantum learning adalah sikap positif. Kalau individu memiliki harapan yang tinggi terhadap dirinya, harga diri yang tinggi. Cara setiap individu dalam memandang masalah adalah sebuah hal penting dalam pembelajaran, biasanya kegagalan akan membuat individu merasa akan merasa bodoh, sedih, dan berhenti dalam upaya pencapaian tujuan. Sebenarnya di balik sebuah kegagalan ada informasi-informasi yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan. Untuk menekankan sikap positif pada setiap individu maka dibutuhkan umpan balik dari kita, bahwa setiap hal yang berhasil maka di dalamnya selalu didahului kegagalan kecil.

Prinsip-prinsip Quantum Learning 

Menurut DePorter dan Hernacki (2011), model pembelajaran quantum learning terdiri dari lima prinsip utama, yaitu sebagai berikut: 

  1. Segalanya berbicara. Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru (tatapan mata, gerakan tangan dan sebagainya), kertas yang dibagikan, rancangan pelajaran, alat bantu mengajar semuanya mengirim pesan tentang belajar. 
  2. Segalanya bertujuan. Semua yang terjadi dalam pengetahuan anda mempunyai tujuan semuanya.
  3. Pengalaman sebelum pemberian nama. Otak kita berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks, yang akan menggerakkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari. 
  4. Akui setiap usaha. Belajar mengandung risiko. Belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan. Pada saat mengambil langkah ini, mereka patut mendapatkan pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka. 
  5. Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan. Perayaan adalah sarapan pelajar juara. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar.

Sedangkan menurut Sugiyanto (2009), prinsip-prinsip dalam model pembelajaran quantum learning adalah sebagai berikut: 

  1. Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna. Dalam proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan interaksi-interaksi bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar. 
  2. Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Dalam prosesnya menyingkirkan hambatan dan halangan sehingga menimbulkan hal-hal seperti: suasana yang menyenangkan, lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan lain-lain. 
  3. Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran. Dengan kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar sehat, rileks, santai, dan menyenangkan serta tidak membosankan. 
  4. Menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran. Dengan kebermaknaan dan kebermutuan akan menghadirkan pengalaman yang dapat dimengerti dan berarti bagi pembelajar, terutama pengalaman perlu diakomodasi secara memadai. 
  5. Memiliki model pembelajaran yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan yang dinamis. Sedangkan isi pembelajaran meliputi: penyajian yang prima, pemfasilitasan yang fleksibel, keterampilan belajar untuk belajar dan keterampilan hidup. 
  6. Menanamkan nilai dan keyakinan yang positif dalam diri pembelajar. Ini mengandung arti bahwa suatu kesalahan tidak dianggapnya suatu kegagalan atau akhir dari segalanya. Dalam proses pembelajarannya dikembangkan nilai dan keyakinan bahwa hukuman dan hadiah tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai. 
  7. Mengutamakan keberagaman dan kebebasan sebagai kunci interaksi. Dalam prosesnya adanya pengakuan keragaman gaya belajar siswa dan pembelajar.

Langkah-langkah Quantum Learning 

Menurut DePorter, Reardon dan Nurin (2000), terdapat enam langkah utama dalam pelaksanaan model pembelajaran quantum learning yang dikenal dengan istilah TANDUR, yaitu: 

  1. T = Tumbuhkan. Tumbuhkan minat belajar siswa dengan memuaskan rasa ingin tahu siswa dalam bentuk Apakah Manfaatnya BAgiku (AMBAK). Tumbuhkan suasana yang menyenangkan di hati siswa, dalam suasana relaks, tumbuhkan interaksi dengan siswa, masuklah ke alam pikiran mereka dan bawalah alam pikiran mereka ke alam pikiran anda, yakinlah siswa mengapa harus mempelajari ini dan itu, belajar adalah suatu kebutuhan siswa, bukan suatu keharusan. 
  2. A = Alami. Unsur alami akan mendorong hasrat alami otak untuk menjelajah. Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua siswa. Jangan sampai anda menggunakan istilah yang asing dan sulit untuk dimengerti, karena ini akan membuat siswa merasa bosan dalam belajar. 
  3. N = Namai. Setelah siswa melalui pengamatan belajar pada kompetensi dasar tertentu, mereka kita ajak untuk menulis di kertas, menamai apa saja yang telah mereka peroleh, apakah itu informasi, rumus, pemikiran, tempat, dan sebagainya. 
  4. D = Demonstrasikan. Setelah siswa mengalami belajar akan sesuatu, beri kesempatan kepada mereka untuk mendemonstrasikan kemampuannya, karena siswa akan mampu mengingat 90% jika siswa itu mendengar, melihat dan melakukannya. Melalui pengalaman belajar siswa akan mengerti dan mengetahui bahwa dia memiliki kemampuan dan informasi yang cukup. 
  5. U = Ulangi. Rekatkan keseluruhan materi pelajaran, tunjukan kepada para siswa tentang cara-cara mengulangi materi dan menegaskan "aku tahu bahwa aku memang tahu ini". Pengulangan sebaiknya di lakukan dengan konsep Multi kecerdasan yang dimiliki oleh siswa. Misalkan jika tadi dicontohkan dengan belajar bersepeda dan kemudian jatuh, maka setelah anda bisa menyeimbangkan diri maka anda akan mampu menggunakannya. Anda benar-benar menguasai apa yang anda lakukan. 
  6. R = Rayakan. Perayaan adalah ekspresi dari kelompok seseorang yang telah berhasil mengerjakan suatu tugas atau kewajiban dengan baik. Maka sudah selayaknya jika siswa sudah mengerjakan tugas dan kewajibannya dengan baik untuk dirayakan dengan bertepuk tangan.

Kelebihan dan Kekurangan Quantum Learning 

Setiap model pembelajaran umumnya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, begitu juga dengan model pembelajaran quantum learning. Menurut Shoimin (2014), kelebihan dan kekurangan model pembelajaran quantum learning adalah sebagai berikut:

a. Kelebihan 

Kelebihan atau keunggulan model pembelajaran quantum learning adalah: 

  1. Dapat membimbing siswa ke arah berpikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama. 
  2. Karena quantum learning lebih melibatkan siswa, saat proses pembelajaran perhatian siswa dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh guru sehingga hal yang penting itu dapat diamati secara teliti.
  3. Karena gerakan dan proses dipertunjukkan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak.
  4. Proses pembelajaran menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
  5. Siswa didorong untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan dan dapat mencoba melakukannya sendiri. 
  6. Karena model pembelajaran quantum learning membutuhkan kreativitas dari seorang guru untuk merangsang keinginan bawaan siswa untuk belajar, secara tidak langsung guru terbiasa untuk berpikir kreatif setiap harinya.
  7. Pelajaran yang diberikan oleh guru mudah diterima atau dimengerti oleh siswa.

b. Kekurangan 

Kekurangan atau kelemahan model pembelajaran quantum learning adalah: 

  1. Model ini memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang di samping memerlukan waktu yang cukup panjang yang mungkin terpaksa mengambil waktu atau jam pelajaran lain. 
  2. Fasilitas seperti peralatan, tempat, dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik. 
  3. Karena dalam metode ini ada perayaan untuk menghormati usaha seseorang siswa, baik berupa tepuk tangan, jentikan jari, nyanyian, dll dapat mengganggu kelas lain. 
  4. Banyak memakan waktu dalam hal persiapan. 
  5. Model ini memerlukan keterampilan guru secara khusus karena tanpa ditunjang hal itu, proses pembelajaran tidak akan efektif.
  6. Agar belajar dengan model pembelajaran ini mendapatkan hal yang baik diperlukan ketelitian dan kesabaran. Namun kadang-kadang ketelitian dan kesabaran itu diabaikan sehingga apa yang diharapkan tidak tercapai sebagaimana mestinya.

Daftar Pustaka

  • DePorter, Bobbi dan Hernacki, Mike. 2011. Quantum Learning. Bandung: Kaifa.
  • Kosasih, Nandang dan Sumarna, Dede. 2013. Pembelajaran Quantum dan Optimalisasi Kecerdasan. Bandung: Alfabeta.
  • Hamdayana, Jumanta. 2014. Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter. Bogor: Ghalia Indonesia.
  • Wena, Made. 2013. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Leasa, Marleny dan Ernawati, Yulian. 2013. Penerapan Pendekatan Quantum Teaching untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V MIN 1 Batu Merah Ambon. Jurnal Prosiding FMIPA Universitas Pattimura.
  • Sugiyanto. 2009. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Panitia.
  • DePorter, Reardon dan Nurin. 2000. Quantum Teaching: Mempratikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Bandung: Mizan Pustaka.
  • Shoimin, Aris. 2014. Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruz Media.