Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perilaku keselamatan (Safety Behavior) - Pengertian, Aspek, dan Contoh

Perilaku keselamatan (safety behavior) adalah tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dalam usahanya untuk mematuhi, mendukung, dan berpartisipasi segala aktivitas yang dikaitkan dengan keselamatan di tempat kerja untuk menghindari, memperkecil kemungkinan atau mencegah terjadinya kecelakaan dalam bekerja.

Perilaku keselamatan (Safety Behavior) - Pengertian, Aspek, dan Contoh

Keselamatan kerja adalah suatu keadaan yang aman dan selamat dari penderitaan dan kerusakan serta kerugian di tempat kerja, baik pada saat memakai alat, bahan, mesin-mesin dalam proses pengolahan, maupun menjaga dan mengamankan tempat serta lingkungan kerja.

Perilaku Keselamatan merupakan perilaku kerja yang relevan dengan keselamatan, yang dapat dikonseptualisasikan dengan cara yang sama dengan perilaku-perilaku kerja lain yang membentuk perilaku kerja. Keluaran dari perilaku keselamatan kerja yang negatif disebut sebagai safety outcomes, berupa cedera atau perilaku ceroboh yang hampir mencederakan diri sendiri, kerusakan material maupun mencelakakan orang lain.

Pengertian Perilaku Keselamatan 

Berikut definisi dan pengertian perilaku keselamatan (safety behavior) dari beberapa sumber buku:

  • Menurut Zin, dkk (2012), perilaku keselamatan adalah perilaku yang mendukung praktik dan aktivitas keselamatan dalam bekerja, dimana kedua hal tersebut harus diterima oleh karyawan sebagai persayaratan kerja untuk menghindari kecelakaan dalam bekerja.
  • Menurut Heinrich (1980), perilaku keselamatan adalah tindakan atau perbuatan dari seseorang atau beberapa orang karyawan yang memperkecil kemungkinan terjadinya kecelakaan terhadap keryawan. 
  • Menurut APA Dictionary of Psychology (2007), perilaku keselamatan adalah suatu perilaku yang dilakukan dengan ketertarikan individu dalam usaha untuk memperkecil atau mencegah suatu bencana yang ditakutkan.
  • Menurut Borman dan Motowidlo (1993), perilaku keselamatan adalah perilaku tugas dan perilaku konstektual, yaitu pematuhan dan partisipasi individu pada aktivitas-aktivitas pemeliharaan keselamatan di tempat kerja.
  • Menurut Syaaf (2007), perilaku keselamatan adalah sebuah perilaku yang dikaitkan langsung dengan keselamatan, misalnya pemakaian kacamata keselamatan, penandatanganan formulir risk assesment sebelum kerja atau berdiskusi masalah keselamatan.

Aspek-aspek Perilaku Keselamatan 

Menurut Borman dan Motowidlo (1993), perilaku keselamatan atau safety behavior terdiri dari dua aspek, yaitu sebagai berikut:

a. Pelaksanaan Keselamatan (Safety Compliance) 

Pelaksanaan keselamatan merupakan perilaku karyawan dalam menerapkan perilaku keselamatan seperti membawa tata krama keselamatan dan mengikuti prosedur keselamatan ke dalam pekerjaan yang dilakukan. Contoh dari pelaksanaan keselamatan adalah pekerja wajib mengikuti prosedur keselamatan kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan tempat dimana individu bekerja.

b. Partisipasi Keselamatan (Safety Partisipation) 

Partisipasi keselamatan perilaku karyawan dalam merealisasikan keselamatan pada lingkungan kerja yang meliputi partisipasi dalam membantu rekan kerja, mempromosikan program keselamatan di tempat kerja, inisiatif dalam mendemonstrasikan perilaku keselamatan, dan ikut berusaha untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan di tempat kerja. Contoh dari partisipasi keselamatan kerja pada pekerja adalah turut berpartisipasi dan berusaha guna meningkatkan keselamatan dan keamanan di tempat kerja.

Contoh Perilaku Keselamatan 

Menurut Andi, Alifen, dan Chandra (2005), beberapa contoh bentuk perilaku keselamatan kerja di lingkungan kerja antara lain yaitu sebagai berikut: 

  1. Melaporkan setiap kecelakaan yang terjadi. 
  2. Mengingatkan pekerja lain tentang bahaya dalam keselamatan kerja.
  3. Selalu menggunakan perlengkapan keselamatan kerja (APD). 4. Meletakkan material dan peralatan kerja pada tempatnya. 
  4. Bekerja mengikuti prosedur keselamatan kerja. 
  5. Mengikuti kerja sesuai dengan perintah atasan.
  6. Tidak bergurau dengan rekan kerja sewaktu bekerja.
  7. Tidak pernah melakukan kegiatan berbahaya seperti berlari, melempar atau melompati.

Sedangkan menurut Bird dan Germain (1990), bentuk-bentuk perilaku aman di tempat kerja, antara lain yaitu:

  1. Melakukan pekerjaan sesuai wewenang yang diberikan.
  2. Berhasil memberikan peringatan terhadap adanya bahaya. 
  3. Berhasil mengamankan area kerja dan orang-orang di sekitarnya.
  4. Bekerja sesuai dengan kecepatan yang telah ditentukan.
  5. Menjaga alat pengaman agar tetap berfungsi.
  6. Tidak menghilangkan alat pengaman keselamatan.
  7. Menggunakan peralatan yang seharusnya. 
  8. Menggunakan peralatan yang sesuai. 
  9. Menggunakan APD yang benar.
  10. Pengisian alat atau mesin yang sesuai dengan aturan yang berlaku.
  11. Penempatan material atau alat-alat sesuai dengan tempatnya dan cara mengangkat yang benar.
  12. Memperbaiki peralatan dalam kondisi alat yang telah dimatikan.
  13. Tidak bersenda gurau atau bercanda ketika bekerja.

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Keselamatan 

Menurut Winarsunu (2008), terdapat dua faktor yang mempengaruhi perilaku keselamatan kerja, yaitu:

a. Faktor kondisi lingkungan kerja 

  1. Lingkungan fisik. Pekerjaan yang menggunakan alat industri berteknologi tinggi harus memfasilitasi karyawan dengan pelatihan prinsip dan praktik keselamatan kerja agar dapat melindungi diri dari bahaya-bahaya peralatan dan mesin yang desainnya kurang baik. 
  2. Jenis Industri. Jenis industri yang cukup berat akan membutuhkan persyaratan fisik. Semakin pekerjaan tersebut membutuhkan persyaratan fisik, semakin tinggi risiko angka kecelakaan kerja.
  3. Jam Kerja. Dalam sebuah industri,  jam kerja karyawan sangat perlu diperhatikan. Hal tersebut dikarenakan semakin banyak jam kerja, akan semakin tinggi kemungkinan kecelakaan kerja yang terjadi. 
  4. Pencahayaan. Para ahli semakin berkeyakinan bahwa semakin baik pencahayaan, semakin kecil angka kecelakaan kerjanya. 
  5. Temperatur. Tinggi rendahnya temperatur yang ada di tempat kerja dapat mempengaruhi banyaknya kejadian kecelakaan kerja. 
  6. Desain Peralatan. Hal yang penting dalam mendesain permesinan yang aman adalah penyediaan perlengkapan keselamatan kerja.

b. Faktor personal dari dalam individu 

  1. Kemampuan kognitif. Ada anggapan yang berkembang bahwa kecerdasan berkorelasi secara negatif dengan kecelakaan. 
  2. Kesehatan. Karyawan yang memiliki kesehatan yang buruk/banyak sakit cenderung mendapatkan kecelakaan kerja yang lebih tinggi.
  3. Kelelahan. Kelelahan dapat menjadi penyebab menurunnya produksi dan menjadi penyebab kecelakaan kerja.
  4. Pengalaman kerja. Pada suatu industri, training keselamatan yang komprehensif sangat diperlukan untuk para pekerja barunya.
  5. Karakteristik kepribadian. Pada beberapa kasus kecelakaan kerja, beberapa pekerja yang mengalami kecelakaan memiliki kepribadian yang ambisius, pendendam, penakut, dan emosi tidak stabil.