Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Workplace Well-being - Pengertian, Aspek dan Faktor yang Mempengaruhi

Workplace well-being atau kesejahteraan/kenyamanan karyawan di tempat kerja adalah perasaan sejahtera dan nyaman berupa kesehatan fisik dan psikis pada karyawan atau pekerja yang dipengaruhi oleh pertumbuhan pribadi, adanya tujuan hidup, memiliki hubungan positif dengan orang lain, dan adanya kenyamanan lingkungan dan sosial.

Workplace Well-being - Pengertian, Aspek dan Faktor yang Mempengaruhi

Menurut UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, kesejahteraan pekerja/buruh adalah suatu pemenuhan kebutuhan dan/atau keperluan yang bersifat jasmaniah dan rohaniah, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja, yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempertinggi produktivitas kerja dalam lingkungan kerja yang aman dan sehat.

Workplace well-being merupakan suatu keadaan dimana seseorang merasakan rasa sejahtera tentang kondisi psikologis yang baik seperti kontribusi sosial, penyesuaian diri terhadap lingkungan dalam bekerja dan kondisi fisik yang baik yang dirasakan ketika berada di tempat kerja sehingga mampu untuk meningkatkan produktivitasnya dalam bekerja.

Pengertian Workplace Well-being 

Berikut definisi dan pengertian workplace well-being atau kesejahteraan/kenyamanan karyawan di tempat kerja dari beberapa sumber buku:

  • Menurut Danna dan Griffin (1999), workplace well-being adalah kesehatan fisik, dan kesehatan psikis pada pekerja yang menggambarkan adanya indikasi sehat atau sakit secara fisik, tingkatan emosional, dan tingkat epidemologi kesehatan mental.
  • Menurut Page (2005), workplace well-being adalah rasa sejahtera yang diperoleh pekerja dari pekerjaan karyawan yang terkait dengan perasaan pekerja secara umum (core affect) dan nilai intrisik maupun ekstrinsik dari pekerjaan (work value).
  • Menurut Harter, Schmidt, dan Hayes (2002), workplace well-being adalah kesehatan mental karyawan yang dipengaruhi oleh pertumbuhan pribadi, tujuan hidup, hubungan positif dengan orang lain, penguasaan terhadap lingkungan, integrasi sosial, dan kontribusi sosial. 
  • Menurut Keyes (2002), workplace well-being adalah perasaan sejahtera yang dimaknai dengan kehadiran perasaan dan fungsi yang positif.

Aspek-aspek Workplace Well-being 

Menurut Page (2005), workplace well-being atau kesejahteraan/kenyamanan karyawan di tempat kerja memiliki beberapa aspek, yaitu sebagai berikut:

a. Core affect 

Core affect adalah keadaan yang mencakup rasa nyaman atau tidak nyaman bercampur dengan gairah (passion) yang mempengaruhi aktivitas manusia. Core affect memiliki dua indikator utama, yaitu: 

  1. Job satisfaction. Job satisfaction atau kepuasan kerja adalah suatu sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya. Kepuasan kerja merupakan evaluasi yang menggambarkan perasaan sikap senang atau tidak senang, puas atau tidak puas dalam bekerja. Kepuasan kerja adalah hasil dari tenaga kerja yang berkaitan dengan motivasi kerja. 
  2. Work related affect. Work related affect adalah efek kesejahteraan psikologis pada karyawan di tempat kerja didasarkan pada pengalaman subjektif yang terjadi, efek tersebut berupa efek negatif dan positif. Efek negatif adalah dimensi umum dari distres subjektif seperti marah, jijik, mencibir, rasa bersalah, ketakutan dan depresi. Sedangkan efek positif mencerminkan tingkat energi dari individu seperti kegembiraan dan antusiasme.

b. Work value 

Work value merupakan nilai yang terkandung dalam pekerjaan yang mencakup nilai intrisik dan ekstrisik

Nilai Intrinsik 

  1. Tanggung jawab dalam bekerja. Tanggung jawab dalam bekerja adalah kewajiban seseorang untuk melakukan fungsi yang diberikan kepadanya sesuai dengan kemampuan dan arahan. Tanggung jawab dalam bekerja meliputi menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya, turut serta dalam melaksanakan budaya perusahaan, serta mampu memotivasi elemen perusahaan untuk mencapai tujuan bersama. 
  2. Makna pekerjaan. Makna kerja merupakan pilihan dan pengalaman individu dengan konteks organisasi dan lingkungan dimana individu bekerja. Individu yang memiliki makna terhadap pekerjaan akan memiliki tujuan dalam bekerja serta serta memiliki keterlibatan dalam membangun komunitas dalam bekerja. 
  3. Kemandirian dalam pekerjaan. Kemandirian dalam pekerjaan merupakan perasaan individu bahwa ia dipercaya untuk melaksanakan tugasnya secara mandiri, tanpa petunjuk dari manajemen. Karyawan membutuhkan otonomi di tempat kerja, karena kebanyakan individu cenderung bekerja lebih baik ketika mereka di bawah pengawasan minimal dari penyelia. 
  4. Penggunaan kemampuan dan pengetahuan dalam bekerja. Dalam lingkungan pekerjaan individu diharapkan memiliki pengetahuan tentang pekerjaan yang dilakukan serta dapat menggunakan kemampuannya dalam bekerja. 
  5. Perasaan berprestasi dalam bekerja. Setiap pekerjaan dan tugas yang diberikan bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan pekerjaan itu memberikan perasaan berprestasi pada karyawan.

Nilai Ekstrinsik 

  1. Penggunaan waktu yang sebaik-baiknya. Perasaan karyawan mengenal waktu kerjanya merupakan hal yang penting karena memungkinkan karyawan untuk membentuk keseimbangan antara waktu kerja dan kehidupan pribadi (work-Iife balance). Seseorang yang mampu menggunakan waktu sebaik-baiknya yakni yang memiliki keseimbangan antara waktu kerja dan kehidupan pribadi. 
  2. Kondisi kerja. Kondisi kerja adalah keadaan yang menggambarkan kepuasan karyawan terhadap lingkungan kerja seperti ruang kerja dan budaya organisasi. Individu yang merasa puas terhadap tempat kerja dan budaya kerja dalam lingkungan pekerjaannya.
  3. Surpervisi. Surpervisi merupakan perlakuan atasan, seperti perlakuan baik, pemberian dukungan, pemberian bantuan ketika dibutuhkan, umpan balik yang sesuai dan penghargaan dan atasan. Beberapa studi menemukan bahwa karyawan yang memiliki hubungan yang baik dengan atasan cenderung memiliki kesejahteraan yang tinggi, dan stres yang rendah. 
  4. Peluang promosi. Peluang promosi yaitu pemberian kesempatan kepada karyawan untuk berkembang atau jenjang yang lebih tinggi di tempat kerja. 
  5. Pengakuan kinerja yang baik. Perusahaan yang memiliki pengakuan kinerja yang baik adalah perusahaan yang secara objektif mampu membedakan perlakuan terhadap karyawan yang memiliki kinerja yang baik atau kurang baik.
  6. Penghargaan sebagai individu di tempat kerja. Penghargaan sebagai individu di tempat kerja adalah adanya penerimaan diri karyawan oleh atasan serta adanya penerimaan diri karyawan oleh karyawan lainnya.
  7. Uang. Uang merupakan dampak positif terhadap kinerja individu, tim dan organisasi. Uang secara positif dapat mendorong sebagian besar orang. Dalam perspektif workplace well-being adanya kepuasan karyawan terhadap upah yang diterima. 
  8. Keamanan. Keamanan merupakan rasa puas karyawan terhadap posisi kerja yang di tempati serta memiliki rasa aman terhadap posisi kerja.

Sedangkan menurut Danna, dkk (1999) workplace well-being terdiri dari tiga aspek utama, yaitu sebagai berikut: 

  1. Life/non-work satisfaction. Keadaan yang menggambarkan tentang kesenangan individual yang meliputi kepuasan dan ketidakpuasan terhadap kehidupan sosial, kehidupan berkeluarga, kesenangan berekreasi, keadaan spiritual, serta kesejahteraan lain dalam kehidupan di luar lingkungan kerja. 
  2. Work/job-related satidfaction. Work/job-related satisfaction adalah kepuasan karyawan terhadap variabel-variabel yang berkaitan dengan pekerjaannya. Variabel yang berkaitan dengan pekerjaannya yaitu puas atau ketidak-puasan terhadap upah, peluang promosi, kondisi kerja, dan rekan kerja. 
  3. General Health. Kesehatan secara umum merupakan sub-komponen workplace well-being yang merupakan kombinasi antara indikasi kesehatan mental/psikologi yang berdampak pada frustasi dan kecemasan serta kesehatan fisik/fisiologis yang berdampak pada gangguan kesehatan seperti tekanan darah tinggi kondisi jantung dan kesehatan fisik secara umum.

Faktor yang Mempengaruhi Workplace Well-being 

Menurut Danna, dkk (1999), beberapa faktor yang dianggap dapat mempengaruhi workplace well-being atau kesejahteraan/kenyamanan karyawan di tempat kerja adalah sebagai berikut:

a. Work Setting 

Pengaturan tempat kerja dengan memperhitungkan keselamatan kerja, kenyamanan tempat kerja, keadaan psikologis serta hubungan antar karyawan dalam lingkungan kerja. Budaya organisasi pun termasuk penentu penting keselamatan dan kesehatan karyawan. Untuk itu work setting merupakan bagian integral dari setiap perusahaan untuk mewujudkan keselamatan dan kesehatan di tempat kerja.

b. Personality Traits 

Personality traits merupakan kontrol pribadi atas kehidupan individu yang memainkan peran penting dalam kesehatan dan kesejahteraan. Kontrol pribadi adalah fungsi kontrol objektif individu yang dirasakan secara umum. Kontrol yang dirasakan secara umum biasa juga disebut locus of control internal yaitu individu yang percaya pada perilakunya sendiri dan menentukan apa yang akan dikerjakan. Sedangkan orang dengan locus control of internal adalah orang yang percaya dengan keberuntungan atau pengaruh eksternal lain terhadap penentu yang terjadi di kehidupan karyawan.

c. Occuptional stres 

Selain adanya pengaruh ciri-ciri kepribadian dan faktor lain, stres juga merupakan komponen penting dan masalah utama yang mengancam kesehatan individu, organisasi dan kemasyarakatan. Di dalam organisasi stres biasa dikenal dengan sebutan occuptional stres, yaitu stres yang terjadi dalam sistem kompensasi pekerja.

Sedangkan menurut Bryson, Forth dan Stokes (2014), workplace well-being atau kesejahteraan/kenyamanan karyawan di tempat kerja dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu:

a. Karakteristik pribadi 

Tingkat Workplace Well-being seseorang kemungkinan akan banyak dipengaruhi oleh karakteristik pribadi yang akan mereka bawa. Karakteristik pribadi yang mereka bawa meliputi jenis kelamin, umur, kepribadian, gen dan kemampuan. Banyak dari karakteristik individu jelas terkait satu sama lain. Kepribadian seseorang misalnya mungkin berhubungan dengan komponen genetik kesejahteraan. Karakteristik individu juga terkait erat dengan faktor-faktor pekerjaan dan tempat kerja. Beberapa karakteristik individu mungkin berkorelasi dengan fitur pekerjaan tertentu yang dapat mempengaruhi Workplace Well-being yang mereka rasakan.

b. Karakteristik pekerjaan dan tempat kerja 

Sebuah literatur secara luas membahas karakteristik pekerjaan apa saja yang dapat mempengaruhi Workplace Well-being. Karakteristik pekerjaan tersebut adalah job demand (tuntutan pekerjaan), variasi peluang untuk job control, kejelasan lingkungan, peluang untuk menggunakan keterampilan (Skill), supervisi pendukung, peluang untuk kontak personal, keadilan, upah, lingkungan fisik, prospek karir, dan signifikansi. Banyak dari karakteristik pekerjaan ini sudah diakui dalam kebijakan dan pedoman bagi suatu perusahaan dalam menerapkan kebijakan tentang karyawan.