Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori Motivasi - Pengertian, Fungsi, Aspek dan Jenis

Motivasi adalah penggerak, pendorong atau energi dalam diri seseorang yang mempengaruhi semangat untuk bertindak, melangkah dan menentukan arah dalam melakukan sesuatu sehingga tercapai hasil atau tujuan tertentu yang memberi kepuasan. Motivasi merupakan salah satu aspek psikis yang memiliki pengaruh terhadap tujuan hidup seseorang.

Teori Motivasi - Pengertian, Fungsi, Aspek dan Jenis

Istilah motivasi berasal dari kata latin (movemore) yang berarti dorongan atau menggerakkan. Motivasi merupakan suatu hal yang mempengaruhi perilaku manusia sebagai pendorong, keinginan, pendukung atau kebutuhan-kebutuhan yang dapat membuat seseorang bersemangat untuk memenuhi dorongan diri sendiri, sehingga dapat bertindak dan berbuat menurut cara-cara tertentu yang akan membawa ke arah yang optimal.

Motivasi merupakan hasrat di dalam seseorang menyebabkan orang tersebut melakukan suatu tindakan. Motivasi adalah kecenderungan untuk beraktivitas, dimulai dari dorongan diri dan diakhiri dengan penyesuaian diri. Dalam pemenuhan kebutuhannya, seseorang akan berperilaku sesuai dengan dorongan yang dimiliki dan apa yang mendasari perilakunya.

Pengertian Motivasi 

Berikut definisi dan pengertian motivasi dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Uno (2008), motivasi adalah suatu keadaan yang terdapat pada diri seseorang dimana ada suatu dorongan untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan. 
  • Menurut Slavin (2011), motivasi adalah sesuatu yang menyebabkan anda melangkah, membuat anda tetap melangkah, dan menentukan ke mana anda mencoba melangkah.
  • Menurut Sardiman (2007), motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya rasa/feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. 
  • Menurut Winkel (1986), motivasi adalah daya penggerak yang telah menjadi aktif, motif menjadi aktif pada saat tertentu, bahkan kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau dihayati. 
  • Menurut Purwanto (2014), motivasi adalah pendorong suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia menjadi tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.

Fungsi dan Tujuan Motivasi 

Menurut Shaleh dan Wahab (2004), motivasi memiliki beberapa fungsi dan tujuan, antara lain yaitu sebagai berikut: 

  1. Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. 
  2. Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan ke pencapaian tujuan yang diinginkan. 
  3. Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya motivasi akan berfungsi sebagai penentu cepat lambannya suatu pekerjaan. 
  4. Motivasi berfungsi sebagai penolong untuk berbuat mencapai tujuan. 
  5. Penentu arah perbuatan manusia, yakni ke arah yang akan dicapai. 
  6. Penyeleksi perbuatan, sehingga perbuatan manusia senantiasa selektif dan tetap terarah kepada tujuan yang ingin dicapai.

Aspek-aspek Motivasi 

Menurut Hasibuan (2009), beberapa aspek yang mempengaruhi motivasi dalam diri seseorang adalah sebagai berikut: 

  1. Kebutuhan fisiologis (physiological needs). Kebutuhan untuk mempertahankan hidup, yang termasuk dalam kebutuhan ini adalah makan, minum, perumahan, udara, dan sebagainya. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan ini merangsang seseorang berperilaku dan giat bekerja. 
  2. Kebutuhan akan rasa aman (safety and security needs). Kebutuhan akan kebebasan dari ancaman yakni rasa aman dari ancaman kecelakaan dan keselamatan dalam melaksanakan pekerjaan. Kebutuhan ini mengarah kepada dua bentuk yakni kebutuhan akan keamanan jiwa terutama keamanan jiwa di tempat bekerja pada saat mengerjakan pekerjaan dan kebutuhan akan keamanan harta di tempat pekerjaan pada waktu bekerja. 
  3. Kebutuhan sosial, atau afiliasi (affiliation or acceptance needs). Kebutuhan sosial, teman afiliasi, interaksi, dicintai dan mencintai, serta diterima dalam pergaulan kelompok pekerja dan masyarakat lingkungannya. Pada dasarnya manusia normal tidak mau hidup menyendiri seorang diri di tempat terpencil, ia selalu membutuhkan kehidupan berkelompok. 
  4. Kebutuhan yang mencerminkan harga diri (esteem or status needs). Kebutuhan akan penghargaan diri dan pengakuan serta penghargaan prestise dari karyawan dan masyarakat lingkungannya. Idealnya prestise timbul karena adanya prestasi, tetapi tidak selamanya demikian. Akan tetapi perlu juga diperhatikan oleh pimpinan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang dalam masyarakat atau posisi seseorang dalam organisasi semakin tinggi pula prestisenya. Prestise dan status dimanifestasikan oleh banyak hal yang digunakan sebagai simbol status itu. 
  5. Kebutuhan aktualisasi diri (self actualization). Kebutuhan akan aktualisasi diri dengan menggunakan kemampuan, keterampilan dan potensi optimal untuk mencapai prestasi kerja yang sangat memuaskan. Kebutuhan ini merupakan realisasi lengkap potensi seseorang secara penuh. Keinginan seseorang untuk mencapai kebutuhan sepenuhnya dapat berbeda satu dengan yang lainnya, pemenuhan kebutuhan dapat dilakukan pimpinan perusahaan dengan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.

Teori lain yang menjadi faktor pendorong timbulnya motivasi pada diri seseorang adalah sebagai berikut:

  1. Kebutuhan akan prestasi (need for achievemnt). Merupakan daya penggerak yang mendorong memotivasi semangat bekerja seseorang. Karena itu need for achievement akan mendorong seseorang untuk mengembangkan kreativitas dan mengarahkan semua kemampuanserta energy yang dimilikinya demi mencapai prestasi kerja yang maksimal.
  2. Kebutuhan akan kerja sama (need for affiliation). Kebutuhan akan kerja sama need for affiliation menjadi daya penggerak yang akan memotivasi semangat bekerja seseorang. Oleh karena itu, need for affiliation ini akan merangsang gairah bekerja pegawainya. 
  3. Kebutuhan akan kekuasaan (need for power). Merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat kerja karyawan. Need for power merangsang dan memotivasi gairah kerja karyawan serta mengarahkan semua kemampuannya demi mencapai kekuasaan atau kedudukan yang terbaik. Ego manusia lebih ingin berkuasa akan menimbulkan persaingan.

Jenis-jenis Motivasi 

Menurut Arep dan Tanjung (2004), motivasi dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu:

  1. Motivasi positif (insentif positif). Memotivasi dengan memberikan hadiah kepada mereka ataupun diri sendiri yang termotivasi untuk berprestasi baik dengan motivasi positif. Semangat seseorang individu yang termotivasi tersebut akan meningkat, karena manusia pada umumnya senang menerima yang baik-baik. 
  2. Motivasi negatif (insentif negatif). Memotivasi dengan memberikan hukuman kepada mereka ataupun diri sendiri yang berprestasi kurang baik atau berprestasi rendah. Dengan memotivasi negatif ini semangat dalam jangka waktu pendek akan meningkat, karena takut akan hukuman, teteapi untuk jangka waktu panjang dapat berakibat kurang baik.

Menurut Shaleh dan Wahab (2004), motivasi dibagi menjadi dua jenis, yaitu: 

  1. Motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang berasal dari diri seseorang itu sendiri tanpa dirangsang dari luar. Sebagai contoh: orang yang gemar membaca, ia akan mencari sendiri buku-buku yang dibacanya tanpa ada orang yang mendorong. 
  2. Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang datang karena adanya perangsang dari luar, sebagai contoh: seorang mahasiswa rajin belajar karena ada ujian.

Menurut Woodworth dan Marquis (2010), motivasi dibagi dalam dua jenis, yaitu:

  1. Unlearned motives, yaitu motivasi pokok yang tidak dipelajari atau motivasi bawaan, yaitu motivasi yang dibawa sejak lahir, seperti dorongan makan, minum, seksual, bergerak dan istirahat. Motivasi ini sering disebut motivasi yang diisyaratkan secara biologis.
  2. Learned motives, yaitu motivasi yang timbul karena dipelajari, misalnya dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan dan mengejar jabatan. Motivasi ini sering disebut motivasi yang diisyaratkan secara sosial, karena manusia hidup dalam lingkungan sosial.

Menurut Frandsen (2010), motivasi dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: 

  1. Physiological drive, istilah ini digunakan untuk merujuk pada motivasi bawaan (unlearned motives). 
  2. Affiliative need, merupakan motivasi yang dipelajari (learned motives) dengan istilah affiliative need. 
  3. Cognitive motives, motif ini menunjuk pada gejala intrinsik, yakni menyangkut kepuasan individual. Kepuasan individual berada di dalam diri manusia dan biasanya berwujud proses dan produk mental.
  4. Self-expression, penampilan diri adalah sebagian dari perilaku manusia, individu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi juga mampu membuat suatu kejadian. Kreativitas dan imajinasi sangat dibutuhkan, bagi seseorang yang memiliki keinginan untuk aktualisasi diri. 
  5. Self-enhancement, melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorang. Ketinggian dan kemajuan diri menjadi salah satu keinginan bagi setiap individu.

Daftar Pustaka

  • Uno, Hamzah B. 2008. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Slavin, Robert E. 2011. Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktik. Jakarta: Indeks.
  • Sardiman, A.M. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Winkel, WS. 1986. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.
  • Purwanto, M Ngalim. 2014. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
  • Shaleh, A.R., dan Wahab, M.A. 2004. Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam. Jakarta: Prenada Media.
  • Hasibuan, Malayu, S.P. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Arep, Iskak dan Tanjung, Hendri. 2004. Manajemen Motivasi. Jakarta: Gramedia.
  • Frandsen. 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  • Woodworth, R.S., dan Marquis D.G. 2001. Psycology. New York: Holt.