Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Culture Shock - Pengertian, Indikator, Tahapan, dan Faktor yang Mempengaruhi

Culture shock atau gegar budaya adalah reaksi emosional berupa stres, putus asa atau ketakutan yang berlebihan yang disebabkan proses penyesuaian diri ketika memasuki lingkungan baru yang memiliki perbedaan budaya sehingga individu menghadapi situasi yang membuatnya mempertanyakan kembali asumsi-asumsinya, tentang apa yang disebut kebenaran, moralitas, kebaikan, kewajaran, kesopanan, kebijakan, dan sebagainya.

Culture Shock - Pengertian, Indikator, Tahapan, dan Faktor yang Mempengaruhi

Istilah culture shock pertama kali dikenalkan oleh Oberg pada tahun 1960. Culture shock menggambarkan respon yang mendalam dan negatif dari depresi, frustasi, dan disorientasi yang dialami oleh orang-orang yang hidup dalam suatu lingkungan budaya yang baru. Culture shock menyebabkan seseorang menjadi seperti kehilangan arah, merasa tidak mengetahui harus berbuat apa, atau bagaimana mengerjakan sesuatu di lingkungan yang baru, dan tidak mengetahui apa yang tidak sesuai atau sesuai.

Culture shock merupakan suatu permasalahan yang melibatkan perasaan, cara berpikir dan berperilaku pada diri individu saat menghadapi perbedaan pengalaman maupun budaya ketika berada di daerah atau negara lain dari. Culture shock bukanlah istilah klinis ataupun kondisi medis, culture shock hanya sebuah reaksi negatif yang dirasakan seseorang, tetapi juga merupakan proses pembelajaran. Culture shock adalah proses penting yang harus dilewati individu untuk berpindah ke lingkungan baru. Individu tersebut harus bisa menghadapi terpaan masalah sosial, psikologis, dan filosofis dari perbedaan budaya.

Pengertian Culture Shock 

Berikut definisi dan pengertian culture shock atau gegar budaya dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Mulyana (2007), culture shock adalah efek stres ketika individu memasuki suatu lingkungan baru, individu tersebut menghadapi situasi yang membuatnya mempertanyakan kembali asumsi-asumsinya, tentang apa yang disebut kebenaran, moralitas, kebaikan, kewajaran, kesopanan, kebijakan, dan sebagainya. 
  • Menurut Ridwan (2016), culture shock adalah sebuah penyakit yang diderita karena hidup di luar lingkungan budayanya, dan dalam proses untuk menyesuaikan diri di lingkungan barunya. Culture shock merupakan sebuah rangkaian reaksi emosional yang diakibatkan hilangnya penguatan dari budaya lama karena adanya kesalahpahaman pada pengalaman baru yang berbeda. 
  • Menurut Abbasian dan Sharifi (2013), culture shock adalah reaksi emosional terhadap perbedaan budaya yang tak terduga dan kesalahpahaman pengalaman yang berbeda sehingga dapat menyebabkan perasaan tidak berdaya, mudah marah, dan ketakutan akan ditipu, dilukai ataupun diacuhkan. 
  • Menurut Hayqal (2011), culture shock adalah rasa putus asa, ketakutan yang berlebihan, terluka, dan keinginan untuk kembali yang besar terhadap rumah. Hal ini disebabkan adanya rasa keterasingan dan kesendirian yang disebabkan oleh benturan budaya. 
  • Menurut Mulyana dan Rakhmat (2006), culture shock adalah kegelisahan yang dialami karena kehilangan semua lambang dan simbol yang familiar dalam hubungan sosial, termasuk kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan dalam sehari-hari, misalnya kapan kita harus berjabat tangan, dan apa yang harus kita katakan bila bertemu dengan orang, bagaimana membeli, kapan dan dimana kita tidak perlu merespon.

Indikator Culture Shock 

Menurut Santrock (2002) dan Mulyana dan Rakhmat (2006), culture shock dapat ditandai dengan beberapa aspek atau ciri-ciri antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Ketegangan karena adanya usaha untuk beradaptasi secara psikis 

Pada culture shock perlu adanya cara untuk beradaptasi terhadap situasi yang baru tentunya perlu untuk menyesuaikan diri dalam proses menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, orang harus beradaptasi secara fisik dan juga psikologis. Secara fisik, individu akan jauh lebih mudah beradaptasi apabila individu menikmati lingkungan sekitar, sebagai contoh seperti dengan makanan, di lingkungan sekitar dan iklim. Sedangkan secara psikologis, individu akan lebih sulit untuk beradaptasi. Hal ini disebabkan bahwa individu telah memiliki sifat dasar kultur yang dikenali individu dari sejak kecil. Oleh sebab itu, ketika individu hidup di lingkungan bahkan budaya yang baru, beberapa individu terkadang kesulitan untuk beradaptasi secara psikologis.

b. Perasaan kehilangan dan kekurangan keluarga, teman, status dan kepemilikan 

Pada individu biasanya menyadari mengenai keberadaannya dalam suatu lingkungan budaya yang berbeda, akan mulai muncul respon negatif, seperti rasa tidak berdaya dan stres di dalam dirinya. Perasaan yang muncul pun yang biasanya lebih di sebabkan karena jauh dengan teman-teman dan orang sebelumnya sering di lingkungan hidupnya dan mulai mengalami perasaan kehilangan perasaan dukungan bahkan juga di dorong dengan pertemanan yang menunjukkan sikap sensitif yang didapatkan. Apabila individu mulai berinteraksi dengan individu lain di lingkungan barunya individu tersebut juga memiliki status baru bahkan pandangan baru dari individu lain.

c. Penolakan terhadap dan dari orang-orang di lingkungan baru 

Individu yang baru menemui situasi dan lingkungan baru dalam perpindahan dari suatu daerah ke daerah yang lain, biasanya individu pendatang harus bisa beradaptasi dengan cara berkomunikasi dalam kebudayaan tersebut. Hal ini harus dilakukan ketika individu tidak mampu berkomunikasi dengan baik, maka akan muncul kesalah-pahaman dalam memaknai informasi yang disampaikan jika terjadi kesalahpahaman dalam berkomunikasi, maka akan timbul perasaan tidak diterima.

d. Adanya kebingungan mengenai peran, harapan terhadap peran tersebut, nilai yang dianut, perasaan dan identitas diri 

Setiap budaya juga memiliki harapan yang berbeda untuk setiap anggotanya. Perbedaan-perbedaan yang ada tersebut, akhirnya berdampak pada kebingungan yang dialami oleh orang yang masuk ke lingkungan budaya yang baru. Dimana, orang tersebut harus berperilaku sesuai dengan budaya yang ada di lingkungannya yang baru. Padahal orang tersebut sudah terbiasa hidup dengan budayanya yang lama. Hal ini tentunya akan mengganggu orang tersebut untuk bisa menjalankan perannya dengan baik.

e. Tidak menyukai adanya perbedaan bahasa, kebiasaan, nilai atau norma, sopan santun di daerah asal dengan di daerah baru 

Pada saat seseorang menyadari bahwa dirinya berada dalam lingkungan budaya yang berbeda, akan mulai muncul respon-respon negatif dalam diri orang tersebut. Respon-respon negatif tersebut biasanya muncul dalam bentuk perasaan tidak berdaya hingga stres. Keadaan ini pada akhirnya membuat orang yang berada dalam lingkungan yang baru akan merasa tidak nyaman karena merasa berbeda dengan lingkungannya. Selain itu, kecenderungan orang yang menggunakan budaya yang dimiliki sebagai suatu hal yang harus diikuti, juga dapat memunculkan masalah. Dimana, ketika seseorang ada yang tidak mengikuti, maka akan muncul ketidakharmonisan dalam hubungan. Hal ini dapat memunculkan perasaan marah dan benci karena merasa budaya yang ada di lingkungannya yang baru tidak sesuai dengan kebudayaan miliknya.

f. Perasaan tidak berdaya yang disebabkan oleh ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru 

Setiap budaya memiliki cara bahkan aturannya masing-masing dan berbeda satu sama lain. Hal tersebut mempengaruhi cara orang dalam bertindak, berkomunikasi dan merespon hal-hal yang dialami dalam hidup. Setiap budaya memiliki aturan dan nilai tersendiri dalam bertindak dan mengatasi situasi-situasi yang sulit dan menegangkan. Aturan dan nilai yang dimiliki suatu budaya, belum tentu cocok jika digunakan dalam budaya yang lain.

Tahapan Culture Shock 

Menurut Hamad (2013), terdapat empat proses atau tahapan culture shock, yaitu sebagai berikut:

Tahapan Culture Shock

a. Fase Honeymoon 

Pada fase ini seseorang baru saja berada di lingkungan baru. Tahap ini adalah tahap dimana seseorang masih memiliki semangat dan rasa penasaran yang tinggi serta menggebu-gebu dengan suasana baru yang akan dijalani. Seseorang akan merasa bahwa semua hal yang dialaminya sangat indah, semuanya terlihat bagus dan baik-baik saja. Selama beberapa minggu pertama kebanyakan senang melihat hal-hal yang baru, menganggap hal baru tersebut sebagai sesuatu yang unik dan menyenangkan. Seseorang menyesuaikan diri dengan budaya baru yang menyenangkan karena penuh dengan orang-orang baru, serta lingkungan dan situasi baru. Individu tersebut mungkin tetap akan merasa asing, kangen rumah dan merasa sendiri namun masih terlena dengan keramahan penduduk lokal terhadap orang asing.

b. Fase Frustration 

Pada fase inilah dimana culture shock itu mulai terjadi, karena lingkungan baru mulai berkembang. Fase ini adalah tahap dimana rasa semangat dan penasaran yang menggebu-gebu tersebut berubah menjadi rasa frustasi, cemas, jengkel dan bahkan permusuhan serta tidak mampu berbuat apa-apa karena realita yang sebenarnya tidak sesuai dengan ekspektasi yang di miliki pada awal tahapan. Seseorang akan merasa apa yang terjadi pada tahap ini sangat tidak sesuai dengan dirinya.

c. Fase Readjustment 

Tahap ini adalah tahap penyesuaian kembali, dimana seseorang akan mulai mengatur kembali untuk mengembangkan berbagai macam cara-cara untuk bisa beradaptasi dengan keadaan yang ada. Seseorang akan mencari pembenaran atas apa yang sedang dilakukannya dan apa yang ada dalam pikirannya, atau dapat juga dengan mencari informasi yang belum diketahuinya tentang hal-hal yang dapat mengurangi rasa ketidaknyamanan tersebut. Seseorang mulai menyelesaikan krisis yang dialami di fase frustation. Penyelesaian ini ditandai dengan proses penyesuaian ulang dari seseorang untuk mencari cara, seperti mempelajari bahasa, dan budaya setempat.

d. Fase Resolution 

Fase yang terakhir dari proses adaptasi budaya berupa jalan akhir yang diambil seseorang sebagai jalan keluar dari ketidaknyamanan yang dirasakannya. Selama fase ini mungkin akan muncul beberapa macam hasil. Pertama, banyak orang memperoleh kembali level keseimbangan dan kenyamanan, mengembangkan hubungan yang penuh makna dan sebuah penghargaan bagi budaya baru. Kedua dalam tahap ini ada beberapa hal yang dapat dijadikan pilihan oleh orang tersebut, seperti: 

  1. Full participation, yaitu ketika seseorang sudah mulai merasa nyaman dengan lingkungan dan budaya barunya. Tidak ada lagi rasa khawatir, cemas, ketidaknyamanan, dan bisa mengatasi rasa frustasi yang dialami dahulu. 
  2. Accomodation, yaitu tahapan dimana seseorang mencoba untuk menikmati apa yang ada di lingkungannya yang baru, awalnya mungkin orang tersebut merasa tidak nyaman, namun dia sadar bahwa memasuki budaya baru memang akan menimbulkan sedikit ketegangan, maka dia pun berusaha berkompromi dengan keadaan, baik eksternal maupun internal dirinya. Pada level ini seseorang tidak bisa sepenuhnya menerima budaya baru, tetapi ia bisa menemukan cara yang baik untuk mengatasi persoalan guna meraih tujuan secara memadai. 
  3. Fight, yaitu orang yang masuk pada lingkungan dan kebudayaan baru dan dia sebenarnya merasa tidak nyaman, namun dia berusaha untuk tetap bertahan dan berusaha menghadapi segala hal yang membuat dia merasa tidak nyaman. Pada level ini seseorang akan menemukan cara untuk melakukan yang terbaik, meskipun secara substansial disertai ketegangan dan ketidaknyamanan pribadi. 
  4. Flight, yaitu ketika seseorang tidak tahan dengan lingkungannya dan merasa tidak dapat melakukan usaha untuk beradaptasi yang lebih dari apa yang telah dia lakukan. Akhirnya, ada pula yang gagal bahkan dalam meraih kelanjutan level penyesuaian ulang dan menemukan satu-satunya alternatif adalah mengundurkan diri dari situasi itu.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Culture Shock 

Menurut Parrillo (2008), beberapa faktor yang dianggap dapat mempengaruhi culture shock adalah sebagai berikut: 

  1. Faktor intrapersonal, diantaranya keterampilan komunikasi, pengalaman dalam seting lintas budaya, personal (mandiri atau torelansi), dan akses ke sumber daya. Karakteristik fisik seperti penampilan, umur, kesehatan, kemampuan sosialisasi juga mempengaruhi. Individu yang lebih muda cenderung mengalami culture shock yang lebih tinggi dari pada individu yang lebih tua dan wanita lebih mengalami culture shock dari pada pria. 
  2. Variasi budaya mempengaruhi transisi dari satu budaya ke budaya lain. Culture shock terjadi lebih cepat jika budaya tersebut semakin berbeda, hal ini meliputi sosial, perilaku, adat istiadat, agama, pendidikan, norma dalam masyarakat dan bahasa. Manifestasi sosial politik juga mempengaruhi gegar budaya. Sikap dari masyarakat setempat dapat menimbulkan prasangka, stereotip dan intimidasi. 

Daftar Pustaka

  • Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Ridwan, Aang. 2016. Komunikasi Antarbudaya: Mengubah Persepsi dan Sikap dalam Meningkatkan Kreativitas Manusia. Bandung: Pustaka Setia.
  • Fahime, Abbasian dan Sharifi, Shahla. 2013. The Relationship between Culture Shock and Sociolinguistic Shock: A Case Study of Non-Persian Speaking Learners. Open Journal of Social Science Research.
  • Hayqal, Kevinzky, M. 2011. Proses dan Dinamika Komunikasi dalam Menghadapi Culture Shock Pada Adaptasi Mahasiswa Perantauan (Kasus Adaptasi Mahasiswa Perantau di UNPAD Bandung). Depok: Universitas Indonesia.
  • Mulyana, Deddy dan Rakhmat, Jalaluddin. 2006. Komunikasi Antar Budaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Santrock J.W. 2002. Life-Span Development Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga.
  • Hamad, Ibnu. 2013. Komunikasi dan Perilaku Manusia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  • Parrillo, V.N. 2008. Strangers to These Shores: Race and Ethnic Relations in the United Status. New Jearsy: Prentice Hall.