Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kesulitan Belajar - Pengertian, Karakteristik, Indikator, Jenis dan Faktor Penyebab

Kesulitan belajar atau learning disability adalah kondisi yang dialami oleh siswa yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu dalam menerima dan menyerap pelajaran yang disebabkan oleh banyak faktor, bukan hanya masalah instruksional atau pedagogis saja, tetapi bisa juga merujuk pada masalah psikologis sehingga siswa mengalami kesulitan dalam aktivitas mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, menalar atau menghitung.

Kesulitan Belajar - Pengertian, Karakteristik, Indikator, Jenis dan Faktor Penyebab

Kesulitan belajar siswa bermacam-macam baik dalam hal menerima pelajaran, menyerap pelajaran, atau keduanya. Setiap siswa pada prinsipnya mempunyai hak untuk mencapai prestasi belajar yang memuaskan. Namun kenyataannya, siswa memiliki perbedaan, baik dalam hal kemampuan intelektual, maupun fisik, latar belakang keluarganya, kebiasaan maupun pendekatan belajar yang digunakan. Perbedaan itulah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar setiap siswa sehingga menimbulkan kesulitan dalam belajar.

Siswa yang mengalami kesulitan belajar biasanya mengalami beberapa hambatan yang ditunjukkan dengan gejala-gejala seperti prestasi yang rendah atau di bawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok. Hasil yang dicapai oleh siswa tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan, padahal siswa telah usaha berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah. Selain itu siswa juga lambat dalam mengerjakan tugas-tugas, dimana siswa selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam mengerjakan soal-soal atau tugas-tugas yang diberikan.

Pengertian Kesulitan Belajar 

Berikut definisi dan pengertian kesulitan belajar dari beberapa sumber buku:

  • Menurut Subini (2011), kesulitan belajar adalah kesukaran yang dialami peserta didik dalam menerima dan menyerap pelajaran. Beragam bentuk kesulitan belajar yaitu belajar dalam aktivitas mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, menalar dan menghitung.
  • Menurut Rohmah (2015), kesulitan belajar adalah peserta didik yang tidak dapat belajar dengan wajar dan berbeda dengan teman-teman lainnya. Hal ini disebabkan karena adanya ancaman, hambatan atau gangguan yang dialami selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
  • Menurut Hellen (2002), kesulitan belajar adalah kemampuan seorang siswa untuk menguasai suatu materi pelajaran secara maksimal tetapi dalam kenyataannya siswa tidak dapat menguasainya dalam waktu yang telah ditentukan, dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhi.
  • Menurut Tohirin (2008), kesulitan belajar adalah kondisi dimana siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, baik dalam menerima maupun menyerap pelajaran. Kesulitan belajar ditandai dengan menurunnya kinerja anak secara akademik atau prestasi belajar siswa. Kesulitan ini juga dibuktikan dengan menurunnya kelainan perilaku (Mishbehaviour). 
  • Menurut Mahmud (1990), kesulitan belajar adalah suatu kondisi dan suatu proses belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan-hambatan belajar ini bukan hanya masalah instruksional atau pedagogis saja, tetapi merujuk pada masalah psikologis.

Istilah Kesulitan Belajar 

Istilah kesulitan belajar dalam dunia pendidikan juga memiliki beberapa macam penyebutan seperti learning disorder, learning disabilities, learning disfunction, under achiever, atau slow learner. Masing-masing istilah tersebut memiliki definisi tersendiri, yaitu (Mulyadi, 2010):

  1. Learning Disorder (ketergangguan belajar), adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan. Dengan demikian, hasil belajar yang dicapai akan lebih rendah dari potensi yang dimiliki. 
  2. Learning Disabilities (ketidakmampuan belajar), adalah ketidakmampuan seseorang yang mengacu kepada gejala dimana seseorang tidak mampu belajar (menghindari belajar) sehingga hasil belajarnya di bawah potensi intelektualnya.
  3. Learning disfunction (ketidakfungsian belajar), adalah menunjukkan gejala dimana proses belajar tidak berfungsi dengan baik meskipun pada dasarnya tidak ada tanda-tanda subnormalitas mental, gangguan alat indra atau gangguan psikologis lainnya. 
  4. Under Achiever (pencapaian rendah), adalah mengacu pada seseorang yang memiliki tingkat potensi intelektual di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.
  5. Slow Learner (lambat belajar), adalah seseorang yang lambat dalam proses belajarnya sehingga membutuhkan waktu dibandingkan seseorang yang lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.

Karakteristik dan Indikator Kesulitan Belajar 

Menurut Mulyadi (2010), kesulitan belajar pada dasarnya dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, maupun afektif. Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, adalah sebagai berikut: 

  1. Menunjukkan prestasi belajar yang di bawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok kelas.
  2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.
  3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar. 
  4. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti; acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
  5. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar. Contohnya; mudah tersinggung, murung, pemarah, bingung, cemberut, kurang gembira, selalu sedih.

Sedangkan menurut Arifin (2012), beberapa indikator yang menunjukkan anak mengalami kesulitan belajar antara lain yaitu: 

  1. Peserta didik tidak dapat menguasai materi pelajaran sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. 
  2. Peserta didik memperoleh peringkat hasil belajar yang rendah dibandingkan dengan peserta didik lainnya dalam satu kelompok. 
  3. Peserta didik tidak dapat mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
  4. Peserta didik tidak dapat menunjukkan kepribadian yang baik, seperti kurang sopan, membandel, dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Jenis-jenis Kesulitan Belajar 

Menurut Mulyono (2012), kesulitan belajar secara umum dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: 

  1. Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan (development learning disabilities). Kesulitan ini mencangkup gangguan perhatian, ingatan, motorik dan persepsi, bahasa dan berpikir.
  2. Kesulitan belajar akademik (academic learning), yang mencangkup kesulitan membaca, menulis dan berhitung atau matematika.

Adapun menurut Tanjungsari dan Soedjoko (2012), beberapa bentuk kesulitan belajar yang biasanya ditemui di dalam kelas antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Kesulitan dalam memahami soal cerita 

Kesulitan dalam kemampuan menerjemahkan berarti kesulitan memahami soal cerita. Kesulitan dalam kemampuan menerjemahkan ditunjukkan dengan kesalahan dalam menafsirkan bahasa soal. Untuk dapat menyelesaikan soal cerita dengan baik, siswa harus dapat menemukan apa yang diketahui, apa yang dicari, dan prinsip atau konsep apa yang akan digunakan serta mencari alternatif lain untuk menyelesaikannya. Kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada umumnya disebabkan karena siswa tidak mengetahui apa yang diketahui, dan apa yang ditanyakan, tidak dapat mengubah kalimat soal ke dalam kalimat matematika atau sebaliknya.

b. Kesulitan dalam menggunakan konsep 

Konsep menunjuk pada pemahaman dasar. Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengkategorikan sekumpulan objek. Siswa dapat mengembangkan suatu konsep ketika mereka mampu mengklasifikasikan atau mengelompokkan benda-benda tertentu. Berdasarkan hal tersebut, untuk mengkongkretkan konsep baru siswa dapat diberi kegiatan yang memungkinkan mereka mengoptimalkan fungsi panca indra mereka seperti: melihat, meraba, mendengar, dan mengkomunikasikan.

c. Kesulitan dalam menggunakan prinsip 

Kesulitan dalam memahami dan menerapkan prinsip sering terjadi karena tidak memahami konsep dasar yang melandasi prinsip tersebut. Siswa yang tidak memiliki konsep yang digunakan untuk mengembangkan prinsip sebagai suatu butir pengetahuan dasar akan mengalami kesulitan dalam memahami dan menggunakan prinsip. Kekurang-pahaman tentang konsep-konsep dasar adalah penyebab utama kesulitan dalam mempelajari prinsip-prinsip dengan metode penemuan terbimbing.

Faktor Penyebab Kesulitan Belajar 

Menurut Dimyati dan Mujdiono (2006), terdapat beberapa faktor yang dianggap menjadi penyebab siswa mengalami kesulitan dalam belajar, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Faktor Internal Siswa 

  1. Sikap terhadap belajar. Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu, yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian tentang sesuatu, mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak, atau mengabaikan. 
  2. Motivasi belajar. Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Oleh karena itu motivasi belajar dapat menjadi lemah, agar motivasi belajar tidak menjadi lemah pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus agar siswa memiliki motivasi belajar yang kuat.
  3. Konsentrasi belajar. Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk memperkuat konsentrasi belajar siswa, maka guru harus menggunakan bermacam-macam strategi belajar mengajar dan memperhitungkan waktu agar siswa tidak bosan maka dalam proses pembelajaran disertakan waktu untuk istirahat. 
  4. Mengelola bahan belajar. Mengelola bahan belajar merupakan kemampuan siswa untuk menerima isi dan cara perolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa. Kemampuan menerima isi dan cara memperoleh, siswa tersebut dapat dikembangkan dengan belajar berbagai mata pelajaran agar kemampuan siswa dalam mengelola bahan tersebut menjadi makin baik. Dan dari segi guru menggunakan pendekatan-pendekatan keterampilan proses pembelajaran dan laboratorium. 
  5. Menyimpan perolehan hasil belajar. Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan. Kemampuan menyimpan tersebut dapat berlangsung dalam waktu pendek dan waktu yang lama. Maksudnya kemampuan penyimpanan dalam waktu pendek berarti hasil belajar cepat dilupakan dan kemampuan menyimpan dalam waktu lama berarti hasil belajar tetap dimiliki siswa dalam jangka panjang. 
  6. Menggali hasil belajar yang tersimpan. Merupakan proses mengaktifkan pesan yang telah diterima. Dalam hal pesan baru, maka siswa akan memperkuat pesan dengan cara memperbaiki kembali, atau mengaitkannya dengan bahan lama. Dalam hal pesan lama, maka siswa akan menggali atau membangkitkan pesan dan pengalaman lama untuk suatu unjuk hasil belajar. Proses menggali pesan lama tersebut dapat berwujud transfer atau unjuk prestasi belajar. 
  7. Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar. Merupakan suatu puncak proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan keberhasilan belajar. Siswa menunjukkan bahwa ia telah membuktikan keberhasilan belajar. Kemampuan berprestasi tersebut terpengaruh oleh proses penerimaan, penyimpanan, pengolahan untuk membangkitkan pesan dan pengalaman selama sehari-hari disekolah. 
  8. Rasa percaya diri siswa. Rasa percaya diri siswa timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian perwujudan diri yang diakui oleh guru dan rekan sejawat siswa.
  9. Intelegensi dan keberhasilan belajar. Perolehan hasil belajar siswa yang rendah, yang disebabkan oleh intelegensi yang rendah atau kurangnya kesungguhan belajar, berarti terbentuknya tenaga kerja yang bermutu rendah. 
  10. Kebiasaan belajar. Dalam kegiatan sehari-hari ditemukan adanya kebiasaan belajar siswa yang kurang baik yaitu, belajar pada akhir semester, belajar tidak teratur, menyia-nyiakan kesempatan belajar, bergaya belas kasihan tanpa belajar. 
  11. Cita-cita siswa. Cita-cita merupakan motivasi intrinsik yang perlu didikan. Cita-cita sebaiknya berpangkal dari kemampuan berprestasi, dimulai dari hal yang sederhana ke yang sulit.

b. Faktor eksternal siswa 

  1. Guru sebagai pembina siswa belajar. Guru adalah pengajar yang mendidik. Tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik generasi muda bangsanya. 
  2. Prasarana dan sarana pembelajaran. Prasarana pembelajaran meliputi gedung sekolah, ruang belajar, lapangan olah raga, ruang ibadah, ruang kesenian dan peralatan olah raga. Sarana pembelajaran meliputi buku pelajaran, buku bacaan, alat dan fasilitas laboratorium sekolah dan berbagai media pengajaran yang lain.
  3. Kebijakan penilaian. Penilaian yang dimaksud adalah penentuan sampai sesuatu dipandang berharga, bermutu, atau bernilai. Hasil belajar merupakan hasil proses belajar. 
  4. Lingkungan sosial siswa di sekolah. Siswa siswi di sekolah membentuk suatu lingkungan pergaulan yang dikenal sebagai lingkungan sosial siswa. Dalam lingkungan sosial tersebut ditemukan adanya kedudukan dan peran tertentu. Ia memiliki kedudukan dan peranan yang diakui oleh sesama. Jika seorang siswa diterima, maka ia dengan mudah menyesuaikan diri dan segera dapat belajar. 
  5. Kurikulum sekolah. Kurikulum yang diberlakukan sekolah adalah kurikulum nasional yang disahkan oleh pemerintah atau suatu kurikulum yang disahkan oleh suatu yayasan pendidikan. Kurikulum sekolah tersebut berisi tujuan pendidikan, isi pendidikan, kegiatan belajar mengajar, dan evaluasi.

Daftar Pustaka

  • Subini, Nini. 2011. Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak. Jogjakarta: Javalitera.
  • Rohmah, Noer. 2015. Psikologi Belajar. Yogyakarta: Kalimedia.
  • Hellen. 2002. Bimbingan Konseling. Jakarta: Ciputat Pers.
  • Tohirin. 2008. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Grafindo.
  • Mahmud, M. Dimyati. 1990. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.
  • Mulyono, Abdurrahman. 2012. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Arifin, Zainal. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Tanjungsari dan Soedjoko. 2012. Diagnosis Kesulitan Belajar Matematika SMP pada Materi Persamaan Garis Lurus. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
  • Mulyadi. 2010. Diagnosa Kesulitan Belajar dan Bimbingan terhadap Kesulitan Belajar Khusus. Yogyakarta: Nuha Litera.
  • Dimyati dan Mujdiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.