Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Metode Diskusi - Pengertian, Tujuan, Jenis, Langkah-langkah dan Hambatan

Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperdebatkan masalah berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematik untuk dibahas dan dipecahkan bersama melalui saling mengadu argumentasi secara rasional dan objektif. Tujuan metode diskusi adalah untuk dapat merangsang siswa dalam berpikir secara kritis mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan, atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah.

Metode Diskusi - Pengertian, Tujuan, Jenis, Langkah-langkah dan Hambatan

Diskusi merupakan suatu percakapan ilmiah oleh beberapa yang bergabung dalam satu kelompok untuk saling bertukar pendapat tentang suatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan untuk mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah. Metode diskusi adalah salah satu cara memecahkan suatu masalah melalui pengumpulan beberapa jawaban alternatif yang dapat mendekati kebenaran. Melalui diskusi dapat merangsang siswa untuk berpikir sistematis, kritis dan bersikap dalam menyumbangkan pikiran-pikirannya untuk memecahkan suatu permasalahan.

Metode diskusi adalah kegiatan tukar menukar informasi, pendapat, dan unsur-unsur pengalaman secara teratur. Tujuannya ialah untuk memperoleh pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti mengenai sesuatu. Metode diskusi berbeda dengan debat yang hanya berisi perang mulut, dimana orang beradu argumentasi, paham, dan kemampuan persuasi guna memenangkan pahamnya sendiri.

Pengertian Metode Diskusi 

Berikut definisi dan pengertian metode diskusi dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2011), metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada siswa (kelompok–kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan, atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah. 
  • Menurut Zuhirini, dkk (1981), metode diskusi adalah metode di dalam mempelajari bahan atau menyampaikan bahan dengan jalan mendiskusikannya, sehingga berakibat menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku murid. 
  • Menurut Killen (1998), metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan dengan tujuan untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan. 
  • Menurut Usman (2002), metode diskusi adalah suatu cara mempelajari materi pelajaran dengan memperdebatkan masalah yang timbul dan saling mengadu argumentasi secara rasional dan objektif. Metode diskusi dimaksudkan untuk dapat merangsang siswa dalam belajar dan berpikir secara kritis dan mengeluarkan pendapatnya secara rasional dan objektif dalam pemecahan suatu masalah. 
  • Menurut Nasih dan Kholidah (2009), metode diskusi adalah metode pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan kualitas interaksi antara peserta didik. Tujuannya ialah untuk memperoleh pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu, di samping untuk mempersiapkan dan menyelesaikan keputusan bersama. 
  • Menurut Hamdayama (2015), metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, dimana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah, yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematik untuk dibahas dan dipecahkan bersama.
  • Menurut Nata (1997), metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada para siswa (kelompok-kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna menyampaikan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas sesuatu masalah.

Tujuan dan Manfaat Metode Diskusi 

Metode diskusi merupakan cara mengajar yang dalam pembahasan dan penyajian materinya melalui suatu problema atau pertanyaan yang harus diselesaikan berdasarkan pendapat atau keputusan secara bersama. Menurut Hamdayama (2015), tujuan metode diskusi adalah memotivasi atau memberi stimulasi kepada siswa agar berpikir kritis, mengeluarkan pendapatnya, serta menyumbangkan pikiran-pikirannya dan mengambil suatu jawaban aktual atau satu rangkaian jawaban yang di dasarkan atas pertimbangan yang saksama.

Menurut Roestiyah (2008), tujuan metode diskusi adalah sebagai berikut: 

  1. Dengan metode diskusi mendorong siswa untuk menyalurkan kemampuannya untuk memecahkan masalah tanpa selalu bergantung pada pendapat orang lain. 
  2. Siswa mampu menyatakan pendapatnya secara lisan karena hal itu perlu untuk melatih kehidupan yang demokratis. 
  3. Diskusi memberi kemungkinan kepada siswa untuk belajar berpartisipasi dalam pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah bersama.

Metode diskusi adalah salah satu cara alternatif yang dapat dipakai oleh seseorang guru di kelas, tujuannya adalah memecahkan masalah dari para siswa. Menurut Sagala (2012), manfaat metode diskusi adalah sebagai berikut: 

  1. Siswa memperoleh kesempatan untuk berpikir. 
  2. Siswa mendapat pelatihan mengeluarkan pendapat, sikap dan aspirasinya secara bebas.
  3. Siswa belajar bersikap toleran terhadap teman-temannya. 
  4. Diskusi dapat menumbuhkan partisipasi aktif di kalangan siswa. 
  5. Diskusi dapat mengembangkan sikap demokratif, dapat menghargai pendapat orang lain. 
  6. Dengan diskusi, pelajaran menjadi relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Jenis-jenis Metode Diskusi 

Menurut Subroto (2002), metode diskusi terdiri dari beberapa jenis, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Diskusi Kelas 

Diskusi kelas atau juga disebut diskusi kelompok adalah proses pemecahan masalah yang diakukan oleh seluruh anggota kelas sebagai peserta diskusi. Pada diskusi kelas, peserta duduk setengah lingkaran, guru bertindak sebagai pemimpin, dan topik sudah direncanakan. Prosedur yang digunakan dalam jenis diskusi ini adalah: pertama, guru membagi tugas sebagai pelaksanaan diskusi, misalnya siapa yang akan menjadi moderator, siapa yang menjadi penulis. Kedua, sumber masalah (guru, siswa, atau ahli tertentu dari luar) memaparkan masalah yang harus dipecahkan selama 10-15 menit. Ketiga, siswa diberi kesempatan untuk menanggapi permasalahan setelah mendaftar pada moderator. Keempat, sumber masalah memberi tanggapan, dan kelima, moderator menyimpulkan hasil diskusi.

b. Diskusi Kelompok Kecil 

Diskusi kelompok kecil dilakukan dengan membagi siswa dalam kelompok-kelompok. Jumlah anggota kelompok antara 3-5 orang. Pelaksanaannya dimulai dengan guru menyajikan permasalahan secara umum, kemudian masalah tersebut dibagi-bagi ke dalam sub masalah yang harus dipecahkan oleh setiap kelompok kecil, ketua kelompok menyajikan hasil diskusinya.

c. Symposium 

Symposium adalah metode mengajar dengan membahas suatu persoalan dipandang dari berbagai sudut pandang berdasarkan keahlian. Symposium dilakukan untuk memberi wawasan yang luas kepada siswa. Setelah para penyaji memberikan pandangannya tentang masalah yang dibahas, maka symposium diakhiri dengan pembacaan kesimpulan hasil kerja tim perumus yang telah ditentukan sebelumnya.

d. Diskusi Panel 

Diskusi panel adalah pembahasan suatu masalah yang dilakukan oleh beberapa orang panelis peninjau yang biasanya terdiri dari 4-5 orang di hadapan audiensi. Diskusi panel berbeda dengan jenis diskusi lainnya. Dalam diskusi panel audiensi tidak terlibat secara langsung, tetapi berperan hanya sekedar peninjau para panelis yang sedang melaksanakan diskusi. Oleh sebab itu, agar diskusi panel efektif perlu digabungkan dengan metode lain, misalnya dengan metode penugasan. Siswa disuruh untuk merumuskan hasil pembahasan dalam diskusi.

e. Buzz Group 

Bentuk diskusi ini terdiri dari kelas yang dibagi-bagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri 3-4 orang peserta. Tempat duduk diatur sedemikian rupa agar para siswa dapat bertukar pikiran dan bertatap muka dengan mudah. Diskusi ini biasanya diadakan ditengah-tengah pelajaran atau di akhir pelajaran dengan maksud untuk memperjelas dan mempertajam kerangka bahan pelajaran atau sebagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang muncul.

f. Syindicate Group 

Dalam bentuk diskusi ini kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 3-6 peserta, masing-masing kelompok mengerjakan tugas-tugas tertentu atau tugas yang bersifat komplementer. Guru menjelaskan garis besar permasalahan, menggambarkan aspek-aspeknya, dan kemudian tiap kelompok diberi tugas untuk mempelajari aspek-aspek tertentu. Guru diharapkan dapat menyediakan sumber-sumber informasi atau referensi yang dijadikan rujukan oleh para peserta.

g. Informal Debat 

Biasanya bentuk diskusi ini kelas dibagi 2 tim yang agak seimbang besarnya dan mendiskusikan subjek yang cocok untuk diperdebatkan tanpa memperhatikan peraturan perdebatan formal. Kelas dibagi menjadi dua tim dan mendiskusikan subyek yang cocok untuk diperdebatkan tanpa memperhatikan peraturan perdebatan formal. Yang diperdebatkan bersifat problematik bukan bersifat faktual.

h. Fish Bowl 

Bentuk diskusi ini terdiri dari beberapa orang peserta dan dipimpin oleh seorang ketua untuk mencari suatu keputusan. Tempat duduk diatur setengah melingkar dengan dua atau tiga kursi yang kosong menghadap peserta diskusi. Kelompok pendengar duduk mengelilingi kelompok diskusi yang seolah-olah melihat ikan yang berada dalam sebuah mangkok. Selama diskusi kelompok pendengar yang ingin menyumbangkan pendapatnya dapat duduk di kursi yang kosong yang telah disediakan. Apabila ketua diskusi mempersilahkan bicara maka dia boleh bicara dan kemudian meninggalkan kursi tersebut setelah selesai berbicara.

i. The Open Discussin Group 

Kegiatan dalam bentuk diskusi ini akan dapat mendorong siswa agar lebih tertarik untuk berdiskusi dan belajar keterampilan dasar dalam mengemukakan pendapat, mendengarkan dengan baik, dan memperhatikan suatu pokok pembicaraan dengan tekun. Jumlah anggota kelompok yang baik terdiri antara 3-9 orang peserta. Dengan diskusi ini dapat membantu para siswa mengemukakan pendapat secara jelas, memecahkan masalah, memahami apa yang dikemukakan oleh orang lain, dan dapat menilai kembali pendapatnya.

j. Brainstorming 

Bentuk diskusi ini akan menjadi baik bila jumlah anggotanya terdiri 8-12 orang peserta. Setiap anggota kelompok diharapkan dapat menumbangkan ide dalam pemecahan masalah. Hasil belajar yang diinginkan adalah menghargai pendapat orang lain, menumbuhkan rasa percaya diri dalam upaya mengembangkan ide-ide yang ditemukan atau dianggap benar.

Langkah-langkah Metode Diskusi 

Menurut Hamdayama (2015), agar dalam pelaksanaan metode diskusi berjalan dengan efektif, maka perlu dilakukan langkah-langkah melaksanakan metode diskusi dengan tepat, yaitu sebagai berikut:

a. Langkah Persiapan 

  1. Merumuskan tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan yang bersifat umum maupun tujuan khusus. 
  2. Menentukan jenis diskusi yang dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. 
  3. Menetapkan masalah yang akan dibahas. 
  4. Mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis pelaksanaan diskusi, misalnya ruang kelas dengan segala fasilitasnya, petugas-petugas diskusi seperti moderator, notulis dan tim perumus manakala diperlukan.

b. Pelaksanaan Diskusi 

  1. Memeriksa segala persiapan yang dianggap dapat memengaruhi kelancaran diskusi.
  2. Memberikan pengarahan sebelum dilaksanakan diskusi, misalnya menyajikan tujuan yang ingin dicapai serta aturan-aturan diskusi sesuai dengan jenis diskusi yang akan dilaksanakan. 
  3. Melaksanakan diskusi sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan diskusi hendaklah memerhatikan suasana atau iklim belajar yang menyenangkan, misalnya tidak tegang, tidak saling menyudutkan, dan lain sebagainya. 
  4. Memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta diskusi untuk mengeluarkan gagasan dan ide-idenya.
  5. Mengendalikan pembicaraan kepada pokok persoalan yang sedang dibahas. Hal ini sangat penting, sebab tanpa pengendalian biasanya arah pembahasan menjadi melebar dan tidak fokus.

c. Menutup Diskusi 

Akhir dari proses pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi hendaklah dilakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Membuat pokok-pokok pembahasan sebagai kesimpulan sesuai dengan hasil diskusi. 
  2. Mereview jalannya diskusi dengan meminta pendapat dari seluruh peserta diskusi sebagai umpan balik untuk perbaikan selanjutnya.

Hambatan Metode Diskusi 

Hambatan dalam diskusi biasanya adalah setiap orang menginginkan segera dicapai nya persetujuan atau kesimpulan. Sikap seperti ini menghalangi jalan menuju terjadinya perubahan sikap para siswa oleh mereka sendiri. Perubahan sikap ini lebih penting dari pada yang lain dalam proses belajar mengajar lewat formasi diskusi. Perubahan sikap yang dimaksudkan adalah setiap siswa mau mendengarkan pendapat orang lain, sensitif dan kritis terhadap pendapat yang berbeda, maupun menghadapi pendapat orang lain yang berbeda, dalam konteks yang sama dan sebagainya. Dalam hubungan ini sama sekali tidak bijaksana apabila guru selalu mengkritik pendapat siswa, apalagi kritik secara pribadi kepada siswa.

Menurut Arief (2002), untuk mengatasi permasalahan tersebut, terdapat beberapa kiat yang dapat dilakukan oleh guru untuk mendapatkan hasil diskusi menjadi lebih baik, antara lain yaitu sebagai berikut: 

  1. Pemimpin diskusi diberikan kepada murid dan diatur secara pergantian.
  2. Pemimpin diskusi yang diberikan kepada murid perlu bimbingan dari pihak guru. 
  3. Guru mengupayakan agar seluruh siswa ikut berpartisipasi dalam diskusi.
  4. Mengusahakan agar semua siswa dapat giliran bicara, sementara siswa lain belajar mendengarkan pendapat teman-temannya. 
  5. Mengoptimalkan waktu yang ada untuk mendapatkan hasil atau kesimpulan yang diinginkan.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Diskusi 

Setiap metode pembelajaran biasanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Begitu juga dengan metode diskusi. Menurut Arief (2002), kelebihan dan kekurangan metode diskusi adalah sebagai berikut:

a. Kelebihan 

Kelebihan atau keunggulan metode diskusi adalah: 

  1. Suasana kelas lebih hidup sebab siswa menyerahkan perhatian atau pikirannya kepada masalah yang sedang didiskusikan. 
  2. Dapat menaikkan prestasi kepribadian individu seperti sikap toleran, demokrasi, berpikir kritis, sistematis, sabar dan sebagainya.
  3. Kesimpulan diskusi mudah dipahami siswa karena mereka mengikuti proses berpikir sampai pada proses kesimpulan. 
  4. Adanya kesadaran para siswa dalam mengikuti dan mematuhi aturan-aturan yang berlaku dalam diskusi merupakan refleksi kejiwaan dan sikap mereka untuk berdisiplin dan menghargai pendapat orang lain. 
  5. Membantu murid dalam mengambil keputusan yang lebih baik.
  6. Tidak terjebak dalam pemikiran individu yang terkadang sudah penuh prasangka dan sempit. Dengan diskusi seseorang dapat mempertimbangkan alasan-alasan atau pikiran-pikiran orang lain.

b. Kekurangan 

kekurangan atau kelemahan metode diskusi adalah: 

  1. Adanya sebagian siswa yang kurang berpartisipasi secara aktif dalam diskusi, acuh tak acuh dan tidak ikut bertanggung jawab terhadap hasil diskusi. 
  2. Sulit meramalkan hasil yang ingin dicapai karena penggunaan waktu yang terlalu panjang. 
  3. Para siswa mengalami kesulitan mengeluarkan ide-ide atau pendapat mereka secara ilmiah dan sistematis.

Daftar Pustaka

  • Hasibuan, J.J. dan Moedjiono. 2011. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. 
  • Zuhirini, dkk. 1981. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usana Offset Printing.
  • Killen, Roy. 1998. Effective Teaching Strategies: Lesson From Research and Practice. Australia: Social Science Press.
  • Usman, Basyiruddin. 2002. Media Pendidikan. Jakarta: Ciputat Press.
  • Nasih, A.M,. dan Kholidah, L.N. 2009. Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.  Bandung: Refika Aditama.
  • Hamdayama, Jumanta. 2015. Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter. Bogor: Ghalia Indonesia.
  • Nata, Abudin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam I. Jakarta: Logis.
  • Roestiyah, NK. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Sagala, Syaiful. 2012. Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Alfabeta.
  • Subroto, Suryo. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Armai, Arief. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press.