Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penyesuaian Diri - Pengertian, Aspek, Ciri, Bentuk dan Faktor yang Mempengaruhi

Penyesuaian diri adalah suatu proses dalam diri individu mencakup respon mental dan tingkah laku sehingga terwujud harmoni dan keselarasan pada diri dalam menghadapi ketegangan, frustrasi, konflik, depresi, atau emosi negatif lain untuk mencapai suatu hubungan yang memuaskan dengan orang lain, kelompok dan lingkungannya. Penyesuaian diri adalah suatu proses alamiah dan dinamis yang bertujuan mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan.

Penyesuaian Diri - Pengertian, Aspek, Ciri, Bentuk dan Faktor yang Mempengaruhi

Penyesuaian diri merupakan proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dan lingkungannya. Penyesuaian diri adalah tindakan yang dilakukan individu untuk menyesuaikan diri atas tuntutan dari dalam dirinya sendiri dan tuntutan yang diterima dari lingkungan sekitar sehingga mencapai keselarasan kehidupan.

Penyesuaian diri adalah suatu perubahan yang dialami seseorang untuk mencapai suatu hubungan yang memuaskan dengan orang lain dan lingkungan di sekitarnya. Penyesuaian diri merupakan faktor yang penting dalam kehidupan manusia. Penyesuaian diri merupakan kemampuan yang dimiliki individu untuk berinteraksi dengan orang lain yang bertujuan untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya, baik secara pribadi ataupun sosial.

Pengertian Penyesuaian Diri 

Berikut definisi dan pengertian penyesuaian diri dari beberapa sumber buku:

  • Menurut Acocella dan Calhoun (1990), penyesuaian diri adalah interaksi yang berkelanjutan dengan diri sendiri, yaitu apa yang telah ada pada diri setiap individu mengenai tubuh, perilaku, pemikiran, serta perasaan terhadap orang lain dan dengan lingkungan sekitar.
  • Menurut Sunarto dan Hartono (2002), penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungannya. Penyesuaian diri merupakan suatu perubahan yang dialami seseorang untuk mencapai suatu hubungan yang memuaskan dengan orang lain dan lingkungan di sekitarnya. 
  • Menurut Mutammimah (2014), penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya, sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan dan lain-lain emosi negatif sebagai respons pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis. 
  • Menurut Desmita (2014), penyesuaian diri adalah suatu proses yang mencakup respon mental dan tingkah laku, individu berusaha untuk dapat berhasil mengatasi kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya, ketegangan-ketegangan, konflik-konflik, dan frustrasi yang dialaminya, sehingga terwujud tingkat keselarasan atau harmoni antara tuntutan dari dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan. 
  • Menurut Ali dan Asrori (2005), penyesuaian diri adalah suatu proses yang mencakup respon-respon mental dan perilaku yang diperjuangkan individu agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustrasi, konflik, serta menghasilkan kualitas keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dunia luar atau lingkungan tempat individu berada. 
  • Menurut Agustiani (2009), penyesuaian diri adalah satu proses yang mencakup respon-respon mental dan tingkah laku, yang merupakan usaha individu agar berhasil mengatasi kebutuhan, ketegangan, konflik dan frustrasi yang dialami di dalam dirinya. Penyesuaian diri bersifat relatif, artinya harus dinilai dan dievaluasi sesuai dengan kapasitas individu untuk memenuhi tuntutan terhadap dirinya.
  • Menurut Gunarsa (2004), penyesuaian diri adalah subjek yang mampu menyesuaikan diri kepada umum atau kelompoknya dan orang tersebut memperlihatkan sikap dan perilaku yang menyenangkan, berarti orang tersebut diterima oleh kelompok dan lingkungannya.

Aspek-aspek Penyesuaian Diri 

Menurut Ali dan Asrori (2005), penyesuaian diri dapat dilihat dari tiga aspek sudut pandang, yaitu:

a. Penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation) 

Pada mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptaion). Padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Penyesuaian diri cenderung diartikan sebagai usaha mempertahankan diri secara fisik (self maintenance atau survival). Penyesuaian diri diartikan sama dengan usaha mempertahankan diri maka hanya selaras dengan keadaan fisik saja, bukan penyesuaian dalam arti psikologis. Padahal, dalam penyesuaian diri diri sesungguhnya tidak sekedar penyesuaian fisik, melainkan yang lebih kompleks dan lebih penting lagi adalah adanya keunikan dan keberadaan kepribadian individu dalam hubungannya dengan lingkungan.

b. Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity) 

Dengan memaknai penyesuaian diri sebagai usaha konformitas, menyiratkan bahwa di sana individu seakan-akan mendapat tekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baik secara moral, sosial, maupun emosional. Individu selalu diarahkan kepada tuntutan konformitas dan terancam akan tertolak dirinya manakala perilakunya tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Norma yang berlaku pada suatu budaya tertentu tidak sama dengan norma pada budaya lainnya sehingga tidak mungkin merumuskan serangkaian prinsip-prinsip penyesuaian diri berdasarkan budaya yang dapat diterima secara universal. Konsep penyesuaian diri sesungguhnya bersifat dinamis dan tidak dapat disusun berdasarkan konformitas sosial.

c. Penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery) 

Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimaknai sebagai usaha penguasaan (mastery), yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respon dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan, dan frustrasi tidak terjadi. Penyesuaian diri diartikan sebagai kemampuan penguasaan dalam mengembangkan diri sehingga dorongan, emosi, dan kebiasaan menjadi terkendali dan terarah. Pemaknaan penyesuaian diri sebagai penguasaan (mastery) mengandung kelemahan, yaitu menyamaratakan semua individu.

Sedangkan menurut Schneiders (1964), penyesuaian diri meliputi beberapa aspek, yaitu sebagai berikut: 

  1. Pengakuan (Recognition). Pengakuan adalah menghormati dan menerima hak-hak orang lain. Dalam hal ini individu harus mampu menerima hak-hak orang lain yang berbeda dengan dirinya untuk menghindari terjadinya konflik sosial. 
  2. Partisipasi (Participation). Partisipasi adalah melibatkan diri dalam berelasi. Setiap individu harus dapat mengembangkan dan memelihara sebuah hubungan persahabatan. Individu yang yang tidak mampu membangun relasi dengan orang lain dan lebih menutup diri akan menghasilkan penyesuaian diri yang buruk. 
  3. Persetujuan Sosial (Social Approval). Persetujuan Sosial adalah minat dan simpati terhadap kesejahteraan orang lain. Dimana individu dapat peka dengan masalah dan kesulitan orang lain di sekelilingnya serta bersedia memberikan bantuan untuk meringankan masalah. 
  4. Altruisme (Altruism). Altruisme adalah memiliki sifat rendah hati dan tidak egois. Individu harus mengembangkan rasa saling membantu dan mementingkan orang lain yang merupakan nilai dari penyesuaian moral yang baik. 
  5. Kesesuaian(Conformity). Kesesuaian adalah menghormati dan menaati nilai-nilai integritas hukum, tradisi, dan kebiasaan. Individu harus memiliki kesadaran penuh untuk mematuhi dan menghormati peraturan dan tradisi yang berlaku di lingkungan tempat tinggalnya agar dapat diterima dengan baik oleh lingkungannya.

Ciri-ciri Penyesuaian Diri 

Menurut Schneiders (1964), penyesuaian diri dapat dilihat melalui beberapa ciri atau indikator, antara lain yaitu sebagai berikut: 

  1. Mampu mengontrol emosionalitas yang berlebihan. Penyesuaian diri yang baik dapat ditandai dengan tidak adanya emosi yang relatif berlebihan atau tidak dapat gangguan emosi yang merusak. Individu yang mampu menanggapi situasi atau masalah yang dihadapinya dengan cara yang normal akan merasa tenang dan tidak panik sehingga dapat menentukan penyelesaian masalah yang dibebankan kepadanya. 
  2. Mampu mengatasi mekanisme psikologis. Kejujuran dan keterusterangan terhadap adanya masalah atau konflik yang dihadapi individu akan lebih terlihat sebagai reaksi yang normal dari pada suatu reaksi yang diikuti dengan mekanisme-mekanisme pertahanan diri seperti rasionalisasi, proyeksi, atau kompensasi. Individu mampu menghadapi masalah dengan pertimbangan yang rasional dan mengarah langsung pada masalah. 
  3. Mampu mengatasi perasaan frustrasi pribadi. Adanya perasaan frustrasi akan membuat individu sulit atau bahkan tidak mungkin bereaksi secara normal terhadap situasi atau masalah yang dihadapinya. Individu harus mampu menghadapi masalah secara wajar, tidak menjadi cemas dan frustrasi. 
  4. Kemampuan untuk belajar. Mampu untuk mempelajari pengetahuan yang mendukung apa yang dihadapi sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat dipergunakan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. 
  5. Kemampuan memanfaatkan pengalaman. Adanya kemampuan individu untuk belajar dan memanfaatkan pengalaman merupakan hal yang penting bagi penyesuaian diri yang normal. Dalam menghadapi masalah, individu harus mampu membandingkan pengalaman diri sendiri dengan pengalaman orang lain sehingga pengalaman-pengalam yang diperoleh dapat digunakan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi. 
  6. Memiliki sikap yang realistis dan objektif. Karakteristik ini berhubungan erat dengan orientasi seseorang terhadap realitas yang dihadapinya. Individu mampu mengatasi masalah dengan segera, apa adanya, dan tidak ditunda-tunda.

Selain bentuk penyesuaian diri yang positif seperti yang dijelaskan di atas, terdapat juga penyesuaian diri negatif yang ditunjukkan oleh individu. Adapun ciri-ciri atau indikator penyesuaian diri yang negatif adalah sebagai berikut: 

  1. Reaksi bertahan. Bertahan dengan mencari-cari alasan (dalam) untuk membenarkan tindakannya; berusaha untuk menekan pengalamannya yang dirasakan kurang enak ke alam tidak sadar; melemparkan sebab kegagalan dirinya kepada pihak lain untuk mencari alasan yang dapat diterimanya. 
  2. Reaksi menyerang. Selalu membenarkan diri sendiri; mau berkuasa dalam situasi; mau memiliki segalanya; menggertak baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan; menunjukkan sikap permusuhan secara terbuka; menunjukkan sikap menyerang dan merusak; keras kepala dalam perbuatannya; bersikap balas dendam; memperkosa hak orang lain; tindakan yang serampangan, dan marah secara sadis.
  3. Reaksi melarikan diri. Memuaskan keinginan yang tidak tercapai dalam bentuk angan-angan (seolah-olah tercapai); kembali kepada tingkah laku yang semodel dengan perkembangan yang lebih awal (misalnya orang dewasa yang bersikap dan berwatak seperti anak-anak, dan lain-lain.

Bentuk-bentuk Penyesuaian Diri 

Menurut Sunarto dan Hartono (2002), penyesuaian diri pada individu dalam dilakukan dalam beberapa bentuk tindakan, antara lain yaitu sebagai berikut: 

  1. Penyesuaian diri dalam menghadapi masalah secara langsung. Dalam situasi ini, individu secara langsung menghadapi masalah dengan segala akibat. Ia akan melakukan tindakan yang sesuai dengan masalahnya. 
  2. Penyesuaian diri dengan melakukan eksplorasi (penjelajahan). Dalam situasi ini, individu mencari berbagai pengalaman untuk menghadapi dan memecahkan masalah-masalahnya. Misalnya, seorang remaja yang merasa kurang mampu dalam mengerjakan tugas membuat makalah akan mencari bahan dalam upaya menyelesaikan tugas tersebut, dengan membaca buku, konsultasi, diskusi, dan sebagainya. 
  3. Penyesuaian diri dengan trial and error. Dalam cara ini, individu melakukan tindakan coba-coba, dalam arti kalau menguntungkan diteruskan dan kalau gagal tidak diteruskan.
  4. Penyesuaian diri dengan substitusi (mencari pengganti). Apabila individu merasa gagal dalam menghadapi masalah, ia dapat memperoleh penyesuaian dengan jalan mencari pengganti. Misalnya, gagal berpacaran secara fisik, ia akan mencari pacar pengganti yang sesuai dengan yang ia inginkan. 
  5. Penyesuaian diri dengan belajar. Dengan belajar, individu dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk membantu penyesuaian dirinya. Misalnya, seorang guru akan berusaha belajar tentang berbagai ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan profesionalismenya. 
  6. Penyesuaian diri dengan pengendalian diri. Penyesuaian diri akan lebih efektif jika disertai oleh pengetahuan memilih tindakan yang tepat serta pengendalian diri yang tepat pula. Dalam situasi ini, individu akan berusaha memilih tindakan mana yang harus dilakukan dan tindakan mana yang tidak perlu dilakukan. Cara inilah yang disebut inhibisi. 
  7. Penyesuaian diri dengan perencanaan yang cermat. Dalam hal ini, sikap dan tindakan yang dilakukan merupakan keputusan yang diambil berdasarkan perencanaan yang cermat dan matang. Keputusan diambil setelah dipertimbangkan dari berbagai segi, seperti untung dan ruginya.

Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri 

Menurut Schneiders (1964), kemampuan penyesuaian diri dalam diri seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Keadaan Fisik 

Kondisi fisik seorang individu dapat mempengaruhi penyesuaian diri, sebab keadaan sistem kekebalan tubuh dapat menjadi faktor penunjang kelancaran individu dalam melakukan penyesuaian diri. Kondisi fisik yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri individu mencakup hereditas, konstitusi fisik, sistem saraf, kelenjar dan otot, ataupun penyakit.

b. Perkembangan dan Kematangan 

Pada setiap tahap perkembangan seorang individu akan melakukan penyesuaian diri yang berbeda-beda menurut kondisi saat itu, hal tersebut dikarenakan kematangan individu dalam segi intelektual, sosial, moral dan emosi yang mempengaruhi bagaimana individu melakukan penyesuaian diri. Perkembangan dan kematangan yang dimaksud mencakup kematangan intelektual, kematangan sosial, kematangan moral, dan emosional.

c. Keadaan Psikologis 

Keadaan mental yang sehat dapat menciptakan penyesuaian diri yang baik pada individu. Keadaan mental yang baik akan mendorong individu untuk memberikan respon yang selaras dengan dorongan internal maupun tuntutan yang didapatkannya dari lingkungan. Faktor psikologis pada individu mencakup pengalaman, perasaan, belajar, kebiasaan, self determination, frustrasi, dan konflik.

d. Keadaan Lingkungan 

Keadaan lingkungan yang damai, tenteram, penuh penerimaan dan dukungan, serta mampu memberi perlindungan merupakan lingkungan yang dapat memperlancar proses penyesuaian diri pada individu. Faktor lingkungan mencakup lingkungan keluarga, rumah, dan lingkungan belajar (sekolah).

e. Tingkat Religiusitas dan Kebudayaan 

Religiusitas dapat memberikan suasana psikologis yang digunakan untuk mengurangi konflik, frustrasi dan ketegangan psikis lain, karena religiusitas memberi nilai dan keyakinan pada individu untuk memiliki arti, tujuan, dan stabilitas dalam hidup. Begitupun dengan kebudayaan pada suatu masyarakat yang merupakan faktor yang mempengaruhi watak dan perilaku individu dalam bersikap.

Daftar Pustaka

  • Acocella, J.R., dan Calhoun, J.F. 1990. Psikologi tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan. Semarang: IKIP Press.
  • Sunarto dan Hartono. 2002. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Mutammimah. 2014. Hubungan Konsep Diri dan Kecerdasan Emosi dengan Kemampuan Penyesuaian Diri Pada Remaja. Persona, Jurnal PsikologiIndonesia, Vol.3, No.01.
  • Desmita. 2014. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Ali & Asrori. 2005. Psikologi Remaja, Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Agustiani, H. 2009. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Aditama.
  • Gunarsa, Singgih D. 2004. Psikologi Praktis Anak, Remaja dan Keluarga. Jakarta: Gunung Mulia.
  • Schneiders. 1964. Personal Adjusment and Mental Health. New York: Holt, Rinehart and Winston.