Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian, Jenis, Penyebab dan Pengobatan Halusinasi

Halusinasi adalah gangguan persepsi sensori yang menyerang pancaindra, dimana seseorang memersepsikan suatu objek atau gambaran dan pikiran yang sebenarnya tidak terjadi atau tidak nyata. Halusinasi diantaranya merasakan sensasi berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penciuman tanpa stimulus nyata.

Halusinasi - Pengertian, Jenis, Fase, Faktor Penyebab dan Pengobatan

Halusinasi merupakan suatu gejala gangguan jiwa, dimana pasien memersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa objek atau rangsangan yang nyata.

Halusinasi dapat berupa penglihatan yaitu melihat seseorang ataupun sesuatu serta sebuah kejadian yang tidak dapat dilihat oleh orang lain, halusinasi juga dapat berupa pendengaran berupa suara dari orang yang mungkin dikenal atau tidak dikenal yang meminta klien melakukan sesuatu baik secara sadar ataupun tidak sadar.

Pengertian Halusinasi 

Berikut definisi dan pengertian halusinasi dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Direja (2011), halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa dimana klien mengalami perubahan sensori persepsi, yaitu merasakan sensori palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penciuman.
  • Menurut Kusumawati (2012), halusinasi adalah gangguan persepsi sensori tentang suatu objek atau gambaran dan pikiran yang sering terjadi tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem pengindraan. 
  • Menurut Townsend (2010), halusinasi adalah kesalahan sensori persepsi yang menyerang pancaindra, hal umum yang terjadi yaitu halusinasi pendengaran dan penglihatan walaupun halusinasi pencium, peraba, dan pengecap dapat terjadi. 
  • Menurut Maramis (2005), halusinasi adalah gangguan atau perubahan persepsi dimana pasien memersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi melalui pancaindra tanpa stimulus ekstern/persepsi palsu. 
  • Menurut Stuart (2007), halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata, sehingga klien menginterpretasikan sesuatu yang tidak nyata tanpa stimulus atau rangsangan dari luar. 
  • Menurut Kusumawati dan Hartono (2010), halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa objek atau rangsangan yang nyata.

Jenis-jenis Halusinasi 

Menurut Prabowo (2014), halusinasi dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai berikut: 

  1. Halusinasi pendengaran (audotorik). Gangguan stimulus dimana pasien mendengar suara-suara terutama suara orang. Paling sering dijumpai dapat berupa bunyi mendenging atau suara bising yang tidak mempunyai arti, tetapi lebih sering terdengar sebagai sebuah kata atau kalimat yang bermakna. Biasanya suara tersebut ditunjukkan pada penderita sehingga tidak jarang penderita bertengkar dan berdebat dengan suara-suara tersebut. 
  2. Halusinasi penglihatan (visual). Stimulus visual dalam bentuk beragam seperti bentuk pancaran cahaya, gambaran geometric, gambar kartun, panorama yang luas dan bayangan yang menakutkan. Lebih sering terjadi pada keadaan delirium (penyakit organic). Biasanya sering muncul bersama dengan penurunan kesadaran, menimbulkan rasa takut akibat gambaran-gambaran yang mengerikan. 
  3. Halusinasi penghidu (olfaktori). Gangguan stimulus pada penghidu, yang ditandai dengan adanya bau busuk, amis, dan bau menjijikkan, tapi kadang terhidu bau harum. Halusinasi ini biasanya berupa mencium sesuatu bau tertentu dan dirasakan tidak enak, melambangkan rasa bersalah pada penderita. Bau dilambangkan sebagai pengalaman yang dianggap penderita sebagai suatu kombinasi moral. 
  4. Halusinasi peraba (taktil). Gangguan stimulus yang ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa ada stimulus yang terlihat, seperti merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati atau orang lain. Merasa diraba, disentuh, ditiup atau seperti ada ulat yang bergerak di bawah kulit. Terutama pada keadaan delirium toksis dan skizofrenia.
  5. Halusinasi pengecap (gustatorik). Gangguan stimulus yang ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis, dan menjijikkan. Walaupun jarang terjadi, biasanya bersamaan dengan halusinasi penciuman. Penderita merasa mengecap sesuatu. Halusinasi gastorik lebih jarang dari halusinasi gustatorik. 
  6. Halusinasi sinestetik. Gangguan stimulus yang ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine.

Fase-fase Halusinasi 

Menurut Kusumawati (2012), halusinasi berkembang melalui empat fase atau tahapan, yaitu sebagai berikut:

a. Fase pertama 

Disebut juga dengan fase comforting yaitu fase menyenangkan. Pada tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik. Karakteristik; klien mengalami stres, cemas, perasaan perpisahan, rasa bersalah, kesepian yang memuncak, dan tidak dapat diselesaikan. Klien mulai melamun dan memikirkan hal-hal yang menyenangkan, cari ini hanya menolong sementara. Perilaku klien; tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, respon verbal yang lambat jika sedang asyik dengan halusinasinya dan suka menyendiri.

b. Fase kedua 

Disebut dengan fase condemming atau ansietas berat yaitu halusinasi menjadi menjijikkan. Termasuk dalam psikotik ringan. Karakteristik; pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan, kecemasan meningkat, melamun dan berpikir sendiri jadi dominan. Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas. Klien tidak ingin orang lain tahu, dan ia tetap dapat mengontrolnya. Perilaku klien; meningkatnya tanda-tanda sistem saraf otonom seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Klien asyik dengan halusinasinya dan tidak bisa membedakan realitas.

c. Fase ketiga 

Disebut dengan fase controlling atau ansietas berat yaitu pengalaman sensori menjadi berkuasa. Termasuk dalam gangguan psikotik. Karakteristik; bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya. Perilaku klien; kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik. Tanda-tanda fisik berupa klien berkeringat, tremor dan tidak mampu mematuhi perintah.

d. Fase keempat 

Adalah conquering atau panik yaitu klien lebur dengan halusinasinya. Termasuk dalam psikotik berat. Karakteristik; halusinasinya berubah menjadi mengancam, memerintah, dan memarahi klien. Klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang kontrol dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di lingkungan. Perilaku klien; perilaku teror akibat panik, potensi bunuh diri, perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri atau katakonik, tidak mampu merespon terhadap perintah kompleks, dan tidak mampu berespon lebih dari satu orang.

Faktor-faktor Penyebab Halusinasi 

Menurut Stuart (2007), halusinasi dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Faktor Predisposisi 

  1. Faktor perkembangan. Perkembangan klien yang terganggu misalnya kurangnya mengontrol emosi dan keharmonisan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah frustasi dan hilang percaya diri. 
  2. Faktor sosial kultural. Seseorang yang merasa tidak diterima lingkungannya sejak bayi akan membekas di ingatannya sampai dewasa dan ia akan merasakan disingkirkan, kesepian dan tidak percaya pada lingkungan. 
  3. Faktor biokimia. Adanya stres yang berlebihan yang dialami oleh seseorang maka di dalam tubuhnya akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia buffofenon dan dimetytranforuse sehingga terjadi ketidak-seimbangan acetylcolin. 
  4. Faktor psikologis. Tipe kepribadian yang lemah dan tidak bertanggung jawab akan mudah terjerumus pada penyalahgunaan zat adiktif, klien lebih memilih kesenangan sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam khayal. 
  5. Faktor genetik dan pola asuh. Hasil study menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.

b. Faktor Presipitasi 

  1. Biologis. Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses informasi serta obnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang menyebabkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulasi yang diterima oleh otak untuk di interpretasikan. 
  2. Stres lingkungan. Ambang toleransi terhadap stres terhadap stres yang berinteraksi terhadap stresor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku. 
  3. Sumber koping. Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stresor.

Terapi dan Pengobatan Halusinasi 

Menurut Kusmawati dan Hartono (2010), terdapat beberapa pengobatan dan terapi guna menyembuhkan pasien yang menderita halusinasi, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Psikofarmakologis 

Farmakoterapi adalah pemberian terapi dengan menggunakan obat. Obat yang digunakan untuk gangguan jiwa disebut dengan psikofarmaka atau psikotropika atau pherentropika. Terapi gangguan jiwa dengan menggunakan obat-obatan disebut dengan psikofarmakoterpi atau medikasi psikotropika yaitu obat yang mempunyai efek terapeutik langsung pada proses mental penderita karena kerjanya pada otak/sistem saraf pusat. Obat biasa berupa haloperidol, Alprazolam, Cpoz, Trihexphendyl.

b. Terapi Somatis 

Terapi somatis adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan gangguan jiwa dengan tujuan mengubah perilaku yang maladatif menjadi perilaku adaptif dengan melakukan tindakan yang di tujukan pada kondisi fisik klien. Walaupun yang di beri perilaku adalah fisik klien, tetapi target adalah perilaku klien. Jenis somatic meliputi pengikatan, terapi kejang listrik, isolasi, dan fototerapi. 

  1. Pengingkatan. Pengikatan adalah terapi menggunakan alat mekanik atau manual untuk membatasi mobilitas fisik klien yang bertujuan untuk melindungi cedera fisik sendiri atau orang lain. 
  2. Terapi kejang listrik/Elekrto convulsive Therapy (ECT). Adalah bentuk terapi pada klien dengan menimbulkan kejang (grandma) dengan mengalirkan arus listrik kekuatan rendah (2-8joule) melalui elektroda yang ditempelkan beberapa detik pada pelipis kiri/kanan (lobus frontal) klien.

c. Terapi Modalitas 

Terapi Modalitas adalah terapi utama dalam keperawatan jiwa. Terapi diberikan dalam upaya mengubah perilaku klien dan perilaku yang maladaftif menjadi perilaku adaftif. Jenis terapi modalitas meliputi psikoanalisis, psikoterapi, terapi perilaku kelompok, terapi keluarga, terapi rehabilitas, terapi psikodrama, atau terapi lingkungan.

Daftar Pustaka

  • Direja, Ade Herman S. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika.
  • Kusumawati, F. 2012. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.
  • Townsend, M.C. 2010. Diagnosis Keperawatan Psikiatri Rencana Asuhan & Medikasi Psikotropik. Jakarta: EGC
  • Maramis, W.F. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.
  • Stuart, G.W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
  • Kusumawati, F., dan Hartono, Y. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.
  • Prabowo, Eko. 2014. Konsep & Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika.

PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Pengertian, Jenis, Penyebab dan Pengobatan Halusinasi. Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2022/02/halusinasi.html