Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Madu - Nutrisi, Kualitas dan Jenis Lebah

Madu adalah adalah cairan alami berbentuk kental, berwarna bening, coklat atau kekuningan yang rasanya manis dihasilkan oleh lebah madu (Apis sp.) dari nektar atau sari bunga tanaman (floral nektar) atau bagian lain dari tanaman (ekstra floral) yang dikumpulkan, diubah dan diikat dengan senyawa tertentu oleh lebah kemudian disimpan pada sarang yang berbentuk heksagonal.

Madu - Nutrisi, Kualitas dan Jenis Lebah

Madu merupakan salah satu bahan pangan yang memiliki rasa manis dan kental yang berwarna emas sampai coklat gelap dengan kandungan gula yang tinggi serta rendah lemak. Madu diperoleh dengan proses enzimatis oleh lebah melalui nektar bunga dan digunakan sebagai cadangan makanan. Madu memiliki warna, aroma serta rasa yang berbeda-beda, tergantung pada jenis tanaman yang banyak tumbuh di sekitar peternakan lebah madu. Madu dihasilkan oleh lebah madu dengan memanfaatkan nektar bunga tanaman. Nektar tanaman tersebut dapat diperoleh dari flora yang sejenis (monoflora) maupun flora yang berbeda (multiflora).

Madu merupakan suatu bahan makanan yang dihasilkan oleh lebah. Madu dapat digunakan oleh manusia tanpa diolah terlebih dahulu. Madu mengandung berbagai zat yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Madu terdiri atas berbagai senyawa antara lain yaitu air, mineral, karbohidrat dalam bentuk gula, asam organik, vitamin, enzim dan senyawa bioaktif. Madu selain dikonsumsi secara langsung, juga dimanfaatkan sebagai bahan baku di industri makanan, industri minuman, industri farmasi, industri jamu, dan industri kosmetik.

Pengertian dan Definisi Madu 

Berikut definisi dan pengertian madu dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Standar Nasional Indonesia (Gebremariam dan Brhane, 2014), madu adalah cairan alami yang umumnya mempunyai rasa manis yang dihasilkan oleh lebah madu (Apis sp.) dari sari bunga tanaman (floral nektar) atau bagian lain dari tanaman (ekstra floral) sekresi serangga. 
  • Menurut Hudri (2014), madu adalah zat manis yang dihasilkan oleh lebah madu, berasal dari nektar bunga yang berkembang dari sekresi tanaman yang dikumpulkan oleh lebah madu pekerja, kemudian diubah bentuk dan dikombinasikan dengan zat khusus yang ada pada tubuh lebah dan selanjutnya disimpan hingga masak di dalam sel-sel madu. 
  • Menurut Al Fady (2015), madu adalah bahan alami yang memiliki rasa manis yang dihasilkan oleh lebah dari nektar atau sari bunga atau cairan yang berasal dari bagian-bagian tanaman hidup yang dikumpulkan, diubah dan diikat dengan senyawa tertentu oleh lebah kemudian disimpan pada sarang yang berbentuk heksagonal. 
  • Menurut Rosdiana (2008), madu adalah zat pemanis alami yang dihasilkan lebah dari bahan baku dasar nektar. Nektar adalah senyawa komples yang dihasilkan kelenjar tanaman dalam bentuk larutan gula. Madu berbentuk cairan kental, warnanya bening atau kuning pucat, sampai coklat kekuningan.

Kandungan Nutrisi Madu 

Zat-zat yang terkandung dalam madu sangat kompleks, dan diketahui bahwa kandungan dalam madu kurang lebih ada dari 181 macam zat. Dari 181 macam zat tersebut, karbohidrat merupakan komponen terbesar yang terkandung dalam madu, yaitu sekitar lebih dari 75%. Komposisi terbesar kedua setelah karbohidrat adalah air. Kadar air dalam madu yang telah matang biasanya berkisar dari 15% - 25%.

Madu mengandung banyak mineral seperti natrium, kalsium, magnesium, alumunium, besi, fosfor, dan kalium. Kandungan vitamin yang terdapat dalam madu adalah thiamin (B1), riboflavin (B2), asam askorbat (C), piridoksin (B6), niasin, asam pantotenat, biotin, asam folat, dan vitamin K. Sedangkan enzim yang penting dalam madu adalah enzim diastase, invertase, glukosa oksidase, peroksidase, dan lipase.

Menurut Suranto (2008), kandungan nutrisi dalam 100 gr madu dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Kandungan Nutrisi Madu

Standar Kualitas Madu 

Standar kualitas madu di Indonesia ditentukan berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 01-3545-2013. Standar tersebut merupakan kriteria dari mutu madu yang telah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional (BSN). Adapun standar kualitas madu dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Standar Mutu Kualitas Madu di Indonesia

Menurut Suranto (2007), madu memiliki sifat-sifat dan karakteristik, antara lain yaitu sebagai berikut: 

  1. Kekentalan (viskositas). Madu yang baru diekstrakkan berbentuk cairan kental. Kekentalannya tergantung dari komposisi madu, terutama kandungan airnya. Bila suhu meningkat, kekentalan madu akan menurun. 
  2. Kepadatan (densitas). Madu mempunyai ciri khas yaitu kepadatannya akan mengikuti gaya gravitasi sesuai berat jenis. Bagian madu yang kaya akan air (densitasnya rendah) akan berada di atas madu yang lebih padat dan kental. Densitas madu tergantung pada kadar air madu, biasanya densitas madu lebih besar dari densitas air sebesar 50%. 3. Sifat menarik air (higroskopis). Madu bersifat menyerap air sehingga akan bertambah encer dan akan menyerap kelembapan udara sekitarnya. 
  3. Tegangan permukaan (surface tension). Madu memiliki tegangan permukaan yang rendah sehingga sering digunakan sebagai campuran kosmetik. Tegangan permukaan madu bervariasi tergantung sumber nektarnya dan berhubungan dengan kandungan zat koloid. 
  4. Suhu. Madu mempunyai sifat lambat menyerap suhu lingkungan, tergantung dari komposisi dan derajat pengkristalannya. Dengan sifat yang mampu mengantarkan panas dan kekentalan yang tinggi menyebabkan madu mudah mengalami overheating (kelebihan panas) sehingga pengadukan dan pemanasan madu haruslah dilakukan secara hati-hati. 
  5. Warna. Warna madu bervariasi dari transparan hingga tidak berwarna seperti air, dari warna terang hingga hitam. Warna dasar madu adalah kuning kecokelatan seperti gula karamel. Warna madu dipengaruhi oleh sumber nektar, usia madu dan penyimpanan. 
  6. Aroma. Aroma madu yang khas disebabkan oleh kandungan zat organiknya yang mudah menguap (volatil). Aroma madu bersumber dari zat yang dihasilkan sel kelenjar bunga yang bercampur dalam nektar dan juga karena proses fermentasi dan gula, asam amino dan vitamin selama pematangan madu. 
  7. Rasa. Rasa madu yang khas ditentukan oleh kandungan asam organik dan karbohidratnya, juga dipengaruhi oleh sumber nektarnya. Kebanyakan madu rasanya manis dan agak asam. 
  8. Sifat mengkristal. Madu cenderung mengkristal pada proses penyimpanan di suhu kamar. Banyak orang berpikir bila madu mengkristal berarti kualitas madu buruk atau sudah ditambah gula. 
  9. Memutar optik. Madu memiliki kemampuan mengubah sudut putaran cahaya terpolarisasi. Kemampuan ini disebabkan kandungan zat gula yang spesifik dalam madu.

Jenis-jenis Lebah Madu 

Lebah madu merupakan serangga sosial yang hidup berkoloni yang berperan dalam menghasilkan madu. Serangga ini mengubah nektar yang dihasilkan tanaman menjadi madu. Lebah madu terdiri dari beberapa jenis di antaranya adalah lebah (Apis dorsata), Apis mellifera, Apis cerana, Apis florea, Apis indica dan Trigona sp. Adapun lebah yang sering dibudidayakan adalah Apis mellifera, Apis cerana dan Trigona sp.

Jenis-jenis Lebah Madu

Berikut ini adalah jenis-jenis lebah madu yang sering diambil madunya.

a. Lebah Madu Apis Dorsata 

Apis dorsata biasa disebut lebah hutan atau lebah liar. Masyarakat sering menyebutnya dengan nama tawon gung (bahasa Jawa). Lebah ini sulit untuk diternakkan karena sifatnya yang ganas dan sengatannya juga cukup berbahaya bagi manusia. Jenis lebah ini banyak terdapat di hutan belantara yang jarang ditempuh oleh manusia. Bentuk sarang dari jenis lebah ini tidak seperti sarang lebah pada umumnya yang berupa sisiran, tetapi bentuknya menjadi satu kesatuan.

b. Lebah Madu Apis Indika 

Apis indica pada umumnya dikenal sebagai lebah unduan, lebah lalat, tawon laler (Bahasa Jawa), lebah gula, lebah sirup atau lebah kecil. Lebah Apis indica ada yang dipelihara (diternakkan) dan ada juga yang hidup liar di seluruh bumi nusantara. Ada yang mengatakan bahwa lebah tersebut adalah asli dari kawasan Asia Polinesia. Lebah Apis indika memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari lebah mellifera dan sifatnya juga agak ganas. Lebah Apis indika ada yang hidup liar di rongga-rongga pohon atau di dahan-dahan pohon besar yang terlindung dari terik sinar matahari dan hujan ada juga yang hidup di atap rumah-rumah tua yang sudah tidak dihuni. Lebah ini cukup banyak dipelihara di desa-desa dengan menggunakan sistem gelodok yang tempatnya terbuat dari batang pohon kelapa yang dibelah dua dan biasanya diletakkan di dahan pohon yang ada di sekitar rumah.

c. Lebah Madu Apis Mellifera 

Lebah madu yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah lebah unggul jenis Apis mellifera dari Eropa. Lebah madu ini dibudidayakan di Indonesia sejak tahun 1841 oleh Rijkeuns seorang Belanda dan tahun 1971 didatangkan Apis mellifera dari Australia. Ciri khas lebah madu Eropa ini adalah memiliki gelang berwarna kuning di belakang abdomen (rongga perut yang berisi alat pencernaan). Abdomen ke-6 tanpa tomentum. Warna tubuh bervariasi dari cokelat gelap sampai kuning hitam. Sifatnya sabar dan selalu menjaga sarangnya agar tetap bersih. Lebah madu ini sudah lama dijinakkan dan dibudidayakan karena memiliki produksi madu yang tinggi.

d. Lebah Madu Apis Cerana 

Apis cerana adalah lebah asli Asia dan diduga asal-usulnya adalah menyebar mulai dari Afghanistan, Cina hingga Jepang. Apis cerana mempunyai ukuran tubuh lebih kecil dan lebih ramping dibandingkan Apis mellifera. Apis cerana lebih suka berpindah tempat, namun lebih tahan terhadap serangan predator (pemangsa) jenis-jenis tawon besar dan parasit-parasit tungau. Selain itu Apis cerana lebih tinggi daya adaptasinya terhadap perubahan iklim daripada Apis mellifera.

e. Lebah Madu Trigona sp. 

Trigona sp. adalah jenis lebah tanpa sengat yang termasuk keluarga Apidae. Lebah tanpa sengat selalu aktif kecuali saat cuaca dingin. Lebah Trigona sp. memilik bentuk fisik sangat kecil yang dikenal dengan nama klanceng atau lonceng (Jawa), teuwul (Sunda), gala-gala atau lebah lilin. Lebah Trigona sp. membuat sarang dalam lubang-lubang pohon, celah-celah dinding, dan lubang bambu di dalam rumah. Tempat tinggalnya di dalam lubang yang gelap. Untuk tempat keluar dan masuk tersedia lubang kecil sepanjang 1 cm yang dilingkupi zat perekat. Tempat tinggalnya tersusun atas beberapa bagian, yang berfungsi untuk menyimpan madu, menyimpan tepung sari, tempat bertelur, dan tempat larvanya.

Manfaat Madu 

Menurut Sakri (2015), madu memiliki banyak manfaat dan khasiat, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Pengganti gula 

Madu bisa dijadikan untuk pengganti gula karena madu lebih menyehatkan dibanding gula yang ada di pasaran. Untuk meningkatkan rasa manisnya, bisa menambahkan susu pada madu. Campuran susu dan madu ini dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia.

b. Mudah dicerna 

Madu mudah dicerna oleh perut yang paling sensitif sekalipun karena molekul gula pada madu dapat berubah menjadi gula lain (fruktosa menjadi glukosa).

c. Sumber vitamin dan mineral 

Madu mengandung berbagai vitamin dan mineral. Jenis vitamin dan mineral dan kuantitas mereka tergantung pada jenis bunga yang digunakan untuk pemeliharaan lebah. Umumnya madu mengandung vitamin C, kalsium, dan zat besi.

d. Sebagai penyembuhan Luka 

Pemberian madu pada proses penyembuhan luka karena karena kemampuannya dalam proses pembersihan infeksi yang cepat, debridemen luka, menekan peradangan dan meminimalkan jaringan parut, serta angiogenesis, granulasi jaringan, pertumbuhan epitel. Madu efektif untuk menyembuhkan luka karena tidak menyebabkan iritasi, tidak beracun, steril, bersifat bakterisida dan banyak mengandung nutrisi.

e. Antioksidan 

Sebagai antioksidan madu mengandung berbagai senyawa fitokimia seperti asam organik, vitamin, dan enzim yang dapat berfungsi sebagai sumber antioksidan makanan. Jumlah dan jenis senyawa antioksidan ini sangat bergantung pada sumber atau variasi bunga pada madu. Madu yang lebih gelap lebih tinggi dalam kandungan antioksidan dari padu madu yang lebih terang. Kandungan fitokimia pada madu salah satunya adalah polifenol dapat bertindak sebagai antioksidan.

f. Antimikroba 

Madu memiliki efek sebagai anti mikroba terutama pada bakteri gram positif, baik yang bersifat bakteriostatik maupun efek bakterisida yang dapat melawan banyak bakteri yang bersifat patogen. Glukosa oksidase yang terdapat pada madu menghasilkan agen antibakteri yaitu hidrogen peroksida. Efek anti mikroba madu berkaitan dengan berbagai senyawa misalnya asam aromatik dan senyawa dengan berbagai sifat kimia serta bergantung dari sumber tanaman dari mana madu itu berasal. Konsentrasi gula yang tinggi pada madu bertanggung jawab terhadap aktivitas antibakteri.

Daftar Pustaka

  • Gebremariam, T., dan Brhane, G. 2014. Determination of Quality and Adulteration Effects of Honey From Adigrat and Its Surrounding Areas. International Journal of Technology Enhancements And Emerging Engineering Research.
  • Hudri,F.R. 2014. Uji Efektivitas Ekstrak Madu Multiflora dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Salmonell typhi. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.
  • Al Fady, M.F. 2015. Madu dan Luka Diabetik. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
  • Rosdiana, Anna. 2008. Sukses Bisnis Lebah dan Madu. Bandung: Alfarisi Putra.
  • Suranto, Adji. 2008. Khasiat dan Manfaat Madu Herbal. Jakarta: Agro Media.
  • Sakri, F.M. 2015. Madu dan Khasiatnya. Yogyakarta: Diandra Pustaka Indonesia.

PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Madu - Nutrisi, Kualitas dan Jenis Lebah. Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2022/03/madu-nutrisi-kualitas-dan-jenis-lebah.html