Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sindrom Pramenstruasi / Premenstrual Syndrome (PMS)

Sindrom pramenstruasi atau Premenstrual Syndrome (PMS) adalah kumpulan gejala fisik, psikologi, emosi atau perilaku yang terjadi selama tahap luteal dari siklus menstruasi, yaitu 7 sampai 10 hari sebelum menstruasi akibat perubahan hormonal yang berhubungan dengan siklus ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium) dan akan hilang dengan sendirinya saat dimulainya menstruasi, tapi dapat pula berlanjut setelahnya.

Sindrom Pramenstruasi / Premenstrual Syndrome (PMS)

Sindrom pramenstruasi merupakan gangguan siklus yang umum terjadi pada wanita muda dan pertengahan, ditandai dengan gejala fisik dan emosional yang konsisten, terjadi selama fase luteal pada siklus menstruasi. Beberapa bentuk gejala sindrom pramenstruasi adalah munculnya perasaan tak menentu, seperti gelisah, gampang marah, mudah tersinggung, dan biasanya menjadi lebih sensitif. Selain itu, sindrom pramenstruasi disertai dengan sakit kepala, keletihan, sakit pinggang, pembesaran dan nyeri pada payudara, dan perasaan begah pada abdomen, kehilangan kontrol, makan sangat berlebihan dan menangis tiba-tiba.

Penyebab ketidaknyamanan atau keluhan-keluhan yang dialami saat sindrom pramenstruasi adalah karena tidak seimbangnya hormon estrogen dan progesterone dalam tubuh wanita. Selain itu terjadi retensi (penahanan) cairan dalam tubuh, di antaranya menyebabkan berat badan bertambah. Adapun gejala kecemasan, rasa gelisah, susah tidur, cepat marah, atau gangguan psikis lainnya bisa jadi disebabkan fluktuasi kadar serotonin di otak yang terjadi pada masa menjelang menstruasi.

Pengertian Sindrom Pramenstruasi 

Berikut definisi dan pengertian sindrom pramenstruasi atau Premenstrual Syndrome (PMS) dari beberapa sumber buku:

  • Menurut Andrews (2010), sindrom pramenstruasi adalah gejala fisik, psikologi, dan perilaku yang menimbulkan distres dan tidak disebabkan oleh penyakit organik yang secara teratur timbul lagi selama fase yang sama pada siklus ovarium (atau menstruasi), dan secara signifikan menurun atau hilang selama sisa siklus tersebut. 
  • Menurut Sukarni dan Margareth (2013), sindrom pramenstruasi adalah kumpulan gejala fisik, psikologi dan emosi yang terkait dengan perputaran menstruasi wanita. Gejala tersebut dapat diperkirakan dan biasanya terjadi secara reguler pada dua minggu periode sebelum menstruasi. Hal ini diperkirakan dapat hilang begitu dimulainya menstruasi, tapi dapat pula berlanjut setelahnya. 
  • Menurut Saryono (2009), sindrom pramenstruasi adalah gangguan siklus yang umum terjadi pada wanita muda dan pertengahan, merupakan kumpulan gejala fisik, psikologis, dan emosi secara konsisten terjadi selama tahap luteal dari siklus menstruasi akibat perubahan hormonal, yang berhubungan dengan siklus ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium) dan menstruasi. 
  • Menurut El Manan (2011), sindrom pramenstruasi adalah suatu keadaan yang menerangkan bahwa sejumlah gejala terjadi secara rutin dan berhubungan dengan siklus menstruasi. Biasanya, gejala tersebut muncul pada 7-10 hari sebelum menstruasi dan menghilang ketika menstruasi dimulai. 
  • Menurut Deasylawati (2010), sindrom pramenstruasi adalah kumpulan gejala berupa gangguan fisik dan mental, yang dialami 7 atau 10 hari menjelang menstruasi kadang keluhan yang dialami bisa bervariasi dari bulan satu ke bulan lainnya, kadang menghilang beberapa hari setelah menstruasi.

Gejala-gejala Sindrom Pramenstruasi 

Menurut El-Manan (2011), gejala yang muncul saat sindrom pramenstruasi berhubungan dengan berbagai perubahan, di antaranya ialah perubahan fisik, perubahan suasana hati, dan perubahan mental. Adapun penjelasan dari perubahan-perubahan tersebut adalah sebagai berikut: 

  1. Perubahan fisik, seperti: sakit punggung, perut kembung, payudara terasa penuh dan nyeri, perubahan nafsu makan, sembelit, pusing, pingsan, sakit kepala, daerah panggul terasa berat atau tertekan, hot flashes (kulit wajah, leher, dan dada tampak merah serta terasa hangat saat diraba), susah tidur, tidak bertenaga, mual dan muntah, kelelahan yang luar biasa, kelainan kulit (misalnya jerawat dan neurodermatitis), pembengkakan jaringan atau nyeri persendian, dan penambahan berat badan. 
  2. Perubahan suasana hati, seperti: mudah marah, cemas, depresi, mudah tersinggung, gelisah, merasa sedih dan gembira secara bergantian. 
  3. Perubahan mental, seperti: merasa kalut, sulit berkonsentrasi, dan pelupa.

Menurut Proverawati (2009), gejala-gejala yang menyertai Premenstrual Syndrome (PMS), antara lain yaitu: 

  1. Gejala fisik, antara lain yaitu: kram, nyeri perut, nyeri pada payudara, perut kembung, berat badat meningkat, kelelahan, pembengkakan pada tangan dan kaki, nyeri sendi, sakit kepala, dan susah tidur (insomnia). 
  2. Gejala emosional, antara lain yaitu: mudah tersinggung, mudah marah, nafsu makan meningkat, mood tidak stabil, cemas, merasa sedih dan depresi, merasa tertekan, merasa tidak berguna dan bersalah, sensitif, putus asa, merasa memiliki konflik, keinginan untuk beraktivitas menurun, sulit berkonsentrasi, dan muncul perasan berlebihan atau lepas kendali.

Tanda-tanda fisiologis awal terjadinya premenstrual syndrome (PMS) adalah wanita sering mengeluh sakit kepala (headaches), cepat lelah (fatigue), mual-mual (nausea), tidak nafsu makan, kaki atau tangan terasa bergetar, dan sakit perut. Sedangkan tanda-tanda secara psikologis ditandai dengan perasaan cemas (anxiety), tidak berdaya (hopeless), depresi, mudah tersinggung (irritability), dan sulit berkonsentrasi atau mengingat (difficulty of consentration or remembering).

Selain itu keluhan-keluhan yang sering dijumpai pada waktu menjelang haid diantaranya adalah mudah tersinggung (irritability), murung, lesu, kurang semangat, sedih (depression), tegang, gelisah (tension), sakit kepala (headache), lemah, perasaan bengkak (sensation of swelling) dan kehilangan kekuatan (energy loss).

Jenis-jenis Sindrom Pramenstruasi 

Menurut Suryono (2009), sindrom pramenstruasi atau Premenstrual Syndrome (PMS) dapat dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu:

a. PMS Tipe A 

PMS tipe A (anxietas) ditandai dengan gejala seperti rasa cemas, sensitif, saraf tegang, perasaan labil atau mudah marah. Bahwa beberapa wanita mengalami depresi ringan sampai sebelum mendapatkan menstruasi. Gejala ini timbul akibat hormon estrogen yang terlalu tinggi dibanding dengan hormon progesterone.

b. PMS Tipe H 

PMS tipe H (hyperhydroid) ditandai gejalanya dengan edema pada kaki dan tangan, perut kembung, nyeri pada dada, peningkatan berat badan sebelum menstruasi, gejalanya hampir sama dengan tipe lain, pembengkakan terjadi akibat penumpukan air pada jaringan di luar sel (ektrasel) karena asupan garam dan gula yang tinggi.

c. PMS Tipe C 

PMS tipe C (craving) ditandai dengan rasa ingin makan yang manis-manis yang disebabkan oleh stres. Pada umumnya setelah 20 menit akan timbul gejala hipoglikemia seperti lemas, jantung berdebar, pusing kepala dan terkadang sampai pingsan. Hipoglikemi timbul karena hormon insulin dalam tubuh meningkat.

d. PMS Tipe D 

PMS tipe D (depression) ditandai dengan gejala depresi, ingin menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit dalam mengucapkan kata-kata (verbalisasi), disebabkan ketidakseimbangan hormon progesteron dan estrogen, dimana hormon progesteron dalam siklus haid terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon estrogennya. Biasanya tipe D berlangsung bersamaan dengan tipe A, hanya 3% dari seluruh tipe yang benar-benar murni tipe D. kombinasi tipe D dan A disebabkan oleh faktor stres, kurangnya asam amino tyrosine.

Faktor-faktor Penyebab Sindrom Pramenstruasi 

Menurut Saryono (2009), faktor penyebab pasti terjadinya sindrom pramenstruasi atau Premenstrual Syndrome (PMS) belum diketahui secara pasti. Namun demikian dimungkinkan berhubungan dengan faktor-faktor seperti hormonal, kimia, genetik, psikologis dan gaya hidup. Adapun penjelasan dari masing-masing faktor penyebab terjadinya sindrom pramenstruasi adalah sebagai berikut:

a. Faktor Hormonal 

Faktor hormonal yakni terjadi ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron berhubungan dengan PMS. Kadar hormon estrogen sangat berlebih dan melebihi batas normal sedangkan kadar progesteron menurun. Selain faktor hormonal, PMS berhubungan dengan gangguan perasaan, faktor kejiwaan, masalah sosial, atau fungsi serotonin yang dialami penderita. PMS biasanya lebih mudah terjadi pada perempuan yang lebih peka terhadap perubahan hormonal dalam siklus menstruasi.

b. Faktor Kimia 

Faktor kimiawi sangat mempengaruhi munculnya PMS. Bahan-bahan kimia tertentu di dalam otak seperti serotonin, berubah-ubah selama siklus menstruasi. Serotonin adalah suatu neurotransmiter yang merupakan suatu bahan kimia yang terlibat dalam pengiriman pesan sepanjang saraf di dalam otak, tulang belakang dan seluruh tubuh. Serotonin sangat mempengaruhi suasana hati. Aktivitas serotonin berhubungan dengan gejala depresi, kecemasan, ketertarikan, kelelahan, perubahan pola makan, kesulitan untuk tidur, impulsif, dan agresif. Rendahnya kadar dan aktivitas serotonin ditemukan pada perempuan yang mengeluh sindrom pramenstruasi.

c. Faktor Genetik 

Faktor genetik juga memainkan suatu peran yang sangat penting, yaitu insidensi PMS dua kali lebih tinggi pada kembar satu telur (monozigot) dibanding kembar dua telur. PMS lebih rentan diderita oleh perempuan dengan riwayat PMS pada anggota keluarga perempuan lainnya (ibu kandung dan saudari kandungnya). Ibu yang memiliki riwayat menderita PMS secara bermakna berpeluang lebih besar memiliki putri yang kelak menderita PMS (dengan peluang 70%) dibandingkan populasi umum (peluang 37%). Hal yang sama juga ditunjukkan antar saudari kembar monozigot (yang berpeluang mendapat PMS pada kedua individu 93%) dibandingkan antar saudari kembar dizigot (berpeluang 44%) atau bukan saudari kembar.

d. Faktor Psikologis 

Faktor psikologis, yaitu stres sangat besar pengaruhnya terhadap kejadian PMS. Gejala-gejala PMS akan semakin menghebat jika di dalam diri seorang perempuan terus menerus mengalami tekanan.

e. Faktor Gaya Hidup 

Faktor gaya hidup dalam diri perempuan terhadap pengaturan pola makan juga memegang peranan yang tidak kalah penting. Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit, sangat berperan terhadap gejala-gejala PMS. Makanan terlalu banyak garam akan menyebabkan retensi cairan, dan membuat tubuh bengkak. Terlalu banyak mengonsumsi minuman beralkohol dan minuman-minuman berkafein dapat mengganggu suasana hati dan melemahkan tenaga.

Terapi dan Pengobatan Sindrom Pramenstruasi 

Menurut Saryono (2009), pengobatan dan terapi yang dapat dilakukan untuk mengurangi gejala-gejala yang ditimbulkan dari sindrom pramenstruasi atau Premenstrual Syndrome (PMS) antara lain yaitu:

a. Obat-obatan 

Untuk mengatasi premenstrual syndrome terapi obat yang biasa diberikan dokter yaitu memberikan pengobatan diuretika, obat ini dapat meningkatkan kemampuan ginjal untuk mengeluarkan sodium dan air di dalam urine yang menyebabkan jumlah cairan dalam sel-sel jaringan tubuh berkurang, sehingga dapat mengatasi retensi cairan atau edema (pembengkakan) pada kaki dan tangan. Pemberian hormon progesteron dosis kecil dapat dilakukan selama 8-10 hari sebelum menstruasi untuk mengimbangi kelebihan relatif estrogen. Obat penenang dapat digunakan pada wanita yang merasakan kecemasan, ketegangan berlebihan, maupun kesulitan tidur. Selain itu obat antidepresan juga dapat digunakan bagi mereka yang memiliki gejala premenstrual syndrome yang parah.

b. Perawatan 

Kesembuhan dari premenstrual syndrome saat ini belum ada, tetapi tujuan dari perawatan adalah membantu seorang wanita yang mengalami premenstrual syndrome dapat mengatur gejala-gejala sehingga premenstrual syndrome tidak menghalangi aktivitas sehari-hari. Jika premenstrual syndrome yang dialami adalah ringan maka perawatan yang dilakukan dengan mengubah diet dan gaya hidup sebelum memutuskan kepada perawatan medis. Namun jika mengalami gejala yang berat, maka perawatan medis dapat menjadi pilihan yang tepat.

c. Latihan aerobik 

Pada sebagian besar wanita, latihan aerobik mampu mengurangi gejala-gejala premenstrual syndrome yaitu mengurangi kelelahan dan stres. Latihan ini bisa berupa jalan sehat, bersepeda atau berenang. Latihan aerobik yang teratur adalah suatu hal yang bermanfaat dan dapat mengurangi gejala premenstrual syndrome karena dapat meningkatkan produksi dari endorphin (pembunuh rasa sakit alami tubuh), dimana hal ini dapat meningkatkan kadar serotonin.

d. Relaksasi 

Teknik relaksasi dapat mengurangi tekanan dan gejala-gejala pada wanita yang mengalami premenstrual syndrome. Aktivitas seperti yoga, pijatan, atau tidur yang cukup akan sangat membantu. Teknik relaksasi tertentu seperti latihan menarik nafas dalam-dalam terbukti mempunyai efek terapeutik dalam pengurangan gejala premenstrual syndrome.

e. Edukasi dan konseling 

Meyakinkan seorang wanita bahwa wanita lainnya pun ada yang memiliki keluhan yang sama ketika menstruasi adalah penting. Pencatatan secara teratur siklus menstruasi setiap bulannya dapat memberikan gambaran seorang wanita mengenai waktu terjadinya premenstrual syndrome. Hal ini berguna untuk mengenali gejala yang akan terjadi sehingga mampu menghadapi perubahan-perubahan itu dengan baik.

Daftar Pustaka

  • Andrews, Gilly. 2010. Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta: EGC.
  • Sukarni,I., dan Margareth. 2013. Kehamilan, Persalinan, dan Nifas. Yogyakarta: Nuha Medika.
  • Saryono. 2009. Sindrom Premenstruasi: Mengungkap Tabir Sensitifitas Perasaan Menjelang Menstruasi. Yogyakarta: Nuha Medika.
  • El Manan. 2011. Miss V. Yogyakarta: Buku Biru.
  • Deasylawati, P. 2010. Tetap Happy Saat Menstruasi. Surakarta: Afra.
  • Proverawati, Atika. 2009. MENARCHE - Menstruasi Pertama Penuh Makna. Yogyakarta: Nuha Medika.
PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Sindrom Pramenstruasi / Premenstrual Syndrome (PMS). Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2022/03/sindrom-pramenstruasi.html