Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Strategi Koping - Bentuk, Strategi, dan Faktor yang Mempengaruhi

Strategi koping adalah suatu cara, usaha dan metode yang dilakukan oleh seorang individu untuk mengendalikan, mengurangi, mengatasi atau mentoleransi permasalahan yang dialami atau diterima berupa tuntutan-tuntutan (distress demands) berupa tekanan baik fisik maupun psikis yang dapat mengancam atau merugikan.

Strategi Koping - Bentuk, Strategi, dan Faktor yang Mempengaruhi

Setiap orang memiliki respon untuk mengurangi stres bila mendapatkan tekanan berlebihan. Hal inilah yang dimaksud dengan usaha koping stres, sehingga setiap orang memiliki koping stres yang berbeda. Koping stres merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang ketika menghadapi suatu permasalahan, baik usaha dalam bentuk positif maupun negatif yang bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi ancaman-ancaman yang ditimbulkan oleh masalah internal maupun eksternal.

Pengertian lain dari strategi koping yaitu suatu proses dinamis dari suatu pola tingkah laku maupun pikiran-pikiran yang secara sadar digunakan untuk mengatasi tuntutan-tuntutan dalam situasi yang menekan dan menegangkan. Proses penyesuaian diri berupa perilaku dan pikiran internal berupa sumber daya, nilai-nilai yang dianut, dan komitmen sebagai upaya pertahanan diri dari tuntutan eksternal yang mengancam untuk memperoleh rasa aman dan menurunkan efek negatif yang ditimbulkan.

Pengertian Strategi Koping 

Berikut definisi dan pengertian strategi koping dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut King (2010), strategi koping adalah upaya mengelola keadaan dan mendorong usaha untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan seseorang, dan mencari cara untuk menguasai dan mengatasi stress.
  • Menurut Yusuf (2004), strategi koping adalah upaya-upaya yang dilakukan individu untuk mengatasi, mengurangi dan mentoleransi beban perasaan yang tercipta karena stress. 
  • Menurut Kertamuda (2009), strategi koping adalah suatu cara atau metode yang dilakukan tiap individu untuk mengatasi dan mengendalikan situasi atau masalah yang dialami dan dipandang sebagai hambatan, tantangan yang bersifat menyakitkan, serta ancaman yang bersifat merugikan. 
  • Menurut Safaria dan Saputra (2009), strategi koping adalah semua usaha secara kognitif dan perilaku untuk mengatasi, mengurangi, dan tahan terhadap tuntutan-tuntutan (distress demands). 
  • Menurut Rasmun (2004), strategi koping adalah suatu cara yang dilakukan oleh seorang individu yang bertujuan untuk mengurangi tekanan baik fisik maupun psikologi yang dapat mengancam situasinya.

Bentuk-bentuk Strategi Koping 

Menurut Maryam (2017), strategi koping bertujuan untuk mengatasi situasi dan tuntutan yang dirasa menekan, menantang, membebani dan melebihi sumber daya (resources) yang dimiliki. Terdapat dua bentuk strategi koping yang biasa dilakukan oleh seseorang saat menghadapi masalah yang dihadapi, yaitu sebagai berikut:

a. Strategi Koping Berfokus Pada Masalah (Problem Focused Coping) 

Problem focused coping merupakan bentuk koping yang lebih diarahkan kepada upaya untuk mengurangi tuntutan dari situasi yang penuh tekanan, artinya koping yang muncul terfokus pada masalah individu yang akan mengatasi stres dengan mempelajari cara-cara keterampilan yang baru. Strategi koping yang berpusat pada masalah cenderung dilakukan jika individu merasa bahwa sesuatu yang konstruktif dapat dilakukan terhadap situasi tersebut atau ia yakin bahwa sumber daya yang dimiliki dapat mengubah situasi.

Individu menggunakan strategi ini ketika mereka percaya bahwa tuntutan dari situasi dapat diubah. Individu akan mencari sumber solusi dengan berpikir secara logis dan dapat memecahkan masalahnya secara positif. Individu akan cenderung menggunakan perilaku ini bila dirinya menilai masalah yang dihadapinya masih dapat dikontrol dan dapat diselesaikan. Problem focused coping biasanya caranya dalam menyelesaikan masalah yaitu dengan langsung mengambil tindakan atau mencari informasi yang berguna untuk membantu pemecahan masalah.

Problem focused coping atau koping berfokus pada masalah terdiri dari tiga bentuk strategi, yaitu sebagai berikut: 

  1. Confrontative coping atau konfrontasi, yaitu usaha-usaha untuk mengubah keadaan atau menyelesaikan masalah secara agresif dengan menggambarkan tingkat kemarahan serta pengambilan risiko. Dimana seseorang menentang masalah atau kesulitan dengan berhadapan langsung dan secara terang-terangan. Bereaksi untuk mengubah keadaan yang dapat menggambarkan tingkat risiko yang harus diambil. Contohnya, seseorang yang melakukan confrontative coping akan menyelesaikan masalah dengan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan yang berlaku walaupun kadang kala mengalami risiko yang cukup besar. 
  2. Planful problem solving, yaitu bereaksi dengan melakukan usaha-usaha tertentu yang bertujuan untuk mengubah keadaan, diikuti pendekatan analitis dalam menyelesaikan masalah. Contohnya, seseorang yang melakukan planful problem solving akan bekerja dengan penuh konsentrasi dan perencanaan yang cukup baik serta mau mengubah gaya hidupnya agar masalah yang dihadapi secara berlahan-lahan dapat terselesaikan. 
  3. Seeking social support atau kompromi, yaitu mengubah keadaan secara hati-hati, meminta bantuan kepada keluarga dekat dan teman sebaya atau bekerja sama dengan mereka. Suatu sikap untuk mendapatkan kenyamanan emosional dan informasi dari orang lain, bereaksi dengan mencari dukungan dari pihak luar, baik berupa informasi, bantuan nyata, maupun dukungan emosional. Contohnya, seseorang yang melakukan seeking social support akan selalu berusaha menyelesaikan masalah dengan cara mencari bantuan dari orang lain di luar keluarga seperti teman, tetangga, pengambil kebijakan dan profesional, bantuan tersebut bisa berbentuk fisik dan non fisik.

b. Strategi Koping Berfokus Pada Emosi (Emotion Focused coping) 

Emotion focused coping adalah strategi koping bertujuan untuk mengurangi dampak stressor yang berfokus pada emosi seseorang dengan cara menyangkal ataupun menarik diri dari situasi. Strategi koping jenis ini menunjukkan berbagai macam upaya yang dilakukan individu baik secara mental maupun perilaku dalam rangka untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi, mereduksi, atau meminimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh dengan tekanan.

Individu yang menggunakan emotion focused coping lebih menekankan pada usaha-usaha untuk menurunkan atau mengurangi emosi negatif yang dirasakan ketika menghadapi masalah. Strategi koping yang berpusat pada emosi cenderung dilakukan bila individu merasa tidak dapat mengubah situasi yang menekan dan hanya dapat menerima situasi tersebut karena sumber daya yang dimiliki tidak mampu mengatasi situasi tersebut.

Adapun bentuk-bentuk strategi emotion focused koping atau koping yang berfokus pada emosi, yaitu sebagai berikut: 

  1. Positive reappraisal (memberi penilaian positif), adalah bereaksi dengan menciptakan makna positif yang bertujuan untuk mengembangkan diri termasuk melibatkan diri dalam hal-hal yang religius. Contohnya, seseorang yang melakukan positive reappraisal akan selalu berpikir positif dan mengambil hikmahnya atas segala sesuatu yang terjadi dan tidak pernah menyalahkan orang lain serta bersyukur dengan apa yang masih dimilikinya. 
  2. Accepting responsibility (penekanan pada tanggung jawab), yaitu bereaksi dengan menumbuhkan kesadaran akan peran diri dalam permasalahan yang dihadapi, dan berusaha mendudukkan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Contohnya, seseorang yang melakukan accepting responsibility akan menerima segala sesuatu yang terjadi saat ini sebagai nama mestinya dan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi yang sedang dialaminya. 
  3. Self controlling (pengendalian diri), yaitu bereaksi dengan melakukan regulasi baik dalam perasaan maupun tindakan. Contohnya, seseorang yang melakukan koping ini untuk penyelesaian masalah akan selalu berpikir sebelum berbuat sesuatu dan menghindari untuk melakukan sesuatu tindakan secara tergesa-gesa. 
  4. Distancing (menjaga jarak) agar tidak terbelenggu oleh permasalahan. Individu berusaha menarik diri dari lingkungan atau tidak mau tahu dengan masalah yang dihadapi. Contohnya, seseorang yang melakukan koping ini dalam penyelesaian masalah, terlihat dari sikapnya yang kurang peduli terhadap persoalan yang sedang dihadapi bahkan mencoba melupakannya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. 
  5. Escape avoidance (menghindarkan diri), yaitu menghindar dari masalah yang dihadapi. Contohnya, seseorang yang melakukan koping ini untuk penyelesaian masalah, terlihat dari sikapnya yang selalu menghindar dan bahkan sering kali melibatkan diri ke dalam perbuatan yang negatif seperti tidur terlalu lama, minum obat-obatan terlarang dan tidak mau bersosialisasi dengan orang lain.

Ciri dan Gaya Strategi Koping 

Menurut Nasir dan Muhith (2011), terdapat dua jenis gaya atau ciri-ciri tertentu dari seseorang dalam memecahkan suatu masalah berdasarkan tuntunan yang dihadapi, yaitu sebagai berikut:

a. Gaya Koping Positif 

Merupakan gaya koping yang mampu menaikkan integritas ego. Gaya koping positif antara lain yaitu: 

  1. Problem solving, merupakan usaha untuk memecahkan suatu masalah yang harus dihadapi dan dipecahkan bukan dihindari seakan masalah itu tidak berarti. 
  2. Utilizing social support, merupakan tindak lanjut dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi ketika masalah itu belum terselesaikan tidak mendiamkan masalah tersebut mencoba mencari dukungan dan bantuan dari orang lain. 
  3. Looking for silver lining, upaya menyelesaikan masalah diharapkan menerima kenyataan sebagai sebuah ujian dan cobaan yang harus dihadapi dan terus semangat untuk mencari penyelesaian masalah.

b. Gaya koping Negatif 

Merupakan gaya koping yang akan menurunkan integritas ego, dimana penentuan gaya koping akan merusak dan merugikan diri sendiri. Adapun bentuk-bentuk gaya koping negatif antara lain yaitu:

  1. Avoidance, merupakan cara menyelesaikan masalah dengan cara lari dari masalah tersebut yang berujung pada penumpukan masalah di kemudian hari. 
  2. Self-blame, merupakan bentuk dari ketidak-berdayaan atas masalah yang dihadapi dengan menyalahkan diri sendiri tanpa evaluasi diri yang optimal.
  3. Wishfull thinking, kegagalan dalam mencapai tujuan yang diinginkan harusnya tidak menjadikan seseorang berada pada kesedihan yang mendalam.

Selain itu, menurut Rasmun (2004), berdasarkan waktu yang digunakan dalam mengatasi masalah, strategi coping yang bisa dilakukan oleh individu dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

a. Koping Jangka Panjang 

Cara ini adalah cara yang efektif dan realistis dalam mengatasi masalah psikologis untuk jangka waktu yang lama. Contoh bentuk koping jangka panjang yaitu: 

  1. Ketika muncul masalah dia mencoba untuk mencari informasi lebih banyak tentang masalah yang sedang dihadapinya. 
  2. Individu melakukan latihan fisik ketika ada masalah untuk mengurangi ketegangan atau masalah.
  3. Tukar fikiran dengan orang lain curhat (curah pendapat dari hati ke hati) dengan orang terdekat misalnya teman atau keluarga mengenai masalah yang sedang dihadapi. 
  4. Mengaitkan situasi atau masalah yang sedang dihadapi dengan kekuatan supranatural. 
  5. Untuk mengurangi situasinya individu membuat berbagai tindakan alternatif. 
  6. Dari pengalaman masa lalu yang telah terjadi diambil pelajarannya.

b. Koping jangka pendek 

Cara ini digunakan untuk mengurangi stres atau ketegangan psikologis jika dilakukan sementara maka cukup efektif akan tetapi tidak efektif untuk digunakan untuk jangka panjang. Beberapa contoh koping jangka pendek adalah: 

  1. Mengonsumsi alkohol dan obat-obatan. Minum minuman beralkohol ataupun mengonsumsi obat-obatan guna untuk menghilangkan tekanan akibat permasalahan yang dihadapi adalah cara yang tidak efektif dalam memecahkan masalah. Hal ini dikarenakan konsumsi obat-obatan dan alkohol dapat menyebabkan ketergantungan atau kecanduan dan berefek negatif bagi kesehatan tubuh jika dikonsumsi secara terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama.
  2. Melamun. Ketika ada masalah yang dilakukan melamun atau membayangkan dan berangan-angan seandainya jika permasalahan itu tidak pernah terjadi. Hal ini dilakukan seseorang ketika mengalami tekanan akibat masalah yang dihadapinya, namun hal itu hanya akan membuang- buang waktu dan tidak akan menyelesaikan masalah yang ada.
  3. Banyak Tidur. Tidur sebagai upaya penyelesaian masalah. Daripada memikirkan solusi untuk menghadapi masalah yang menekannya seseorang lebih memilih untuk tidur. Mereka menganggap bahwa dengan tidur maka tekanan dari masalah yang dihadapi dalam dirinya akan berkurang, padahal setelah bangun masalah yang dihadapi akan tetap ada dan tidak terselesaikan tindakan ini hanya akan membuat seseorang menjadi individu yang cenderung malas. 
  4. Banyak mengonsumsi rokok. Bagi para perokok mereka menganggap dengan merokok mereka mendapat ketenangan ketika mereka sedang menghadapi masalah, selain itu mereka juga beranggapan bahwa dengan merokok mereka akan lebih cepat mendapatkan penyelesaian masalah. Namun hal tersebut jika dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang maka menjadi kurang efektif dan akan menimbulkan efek negatif seperti ketergantungan dan gangguan kesehatan akibat merokok. 
  5. Menangis. Menangis dianggap dapat mengurangi rasa tertekan dan ketegangan akibat permasalahan yang dihadapi. Perempuan yang biasanya lebih banyak melakukan hal ini. Karena perasaan perempuan cenderung lebih peka dan mudah tersentuh daripada laki-laki, dan dengan menangis mereka dapat meluapkan semua emosinya untuk sesaat. 
  6. Mencoba melihat aspek humor dari situasi yang tidak menyenangkan. Untuk mengurangi ketegangan yang diakibatkan permasalahan yang sedang dihadapi seseorang akan mencoba mencari sisi humor atau kelucuan dari permasalahan yang terjadi, namun cara ini hanya akan berlangsung sementara dan tidaklah efektif dikarenakan cara ini tidak akan menyelesaikan suatu masalah. 
  7. Yakin dan tidak merasa ragu bahwa semua akan kembali stabil. Sikap optimisme bahwa setiap ada masalah pasti semuanya akan kembali normal dalam menghadapi permasalahan merupakan hal yang positif namun seharusnya pikiran optimis tersebut harus disertai dengan tindakan nyata sehingga permasalahan yang dihadapi dapat terselesaikan.

Faktor yang Mempengaruhi Strategi Koping 

Menurut Fauziah, dkk (2015), beberapa faktor yang dianggap dapat mempengaruhi strategi koping pada seseorang, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Kesehatan fisik 

Kesehatan merupakan hal yang penting, karena selama dalam usaha mengatasi stres individu dituntut untuk mengerahkan tenaga yang cukup besar. Kesehatan mempengaruhi berbagai macam bentuk strategi koping pada individu, apabila individu dalam keadaan rapuh, sakit, ataupun ataupun lelah maka tidak mampu melakukan koping dengan baik, sehingga kesehatan fisik menjadi faktor penting dalam melakukan strategi koping pada individu.

b. Keterampilan memecahkan masalah 

Kemampuan pemecahan masalah pada individu meliputi kemampuan mencari informasi, menganalisis situasi yang bertujuan mengidentifikasi masalah untuk menghasilkan alternatif yang akan digunakan pada individu, mempertimbangkan alternatif yang akan digunakan, mempertimbangkan alternatif dengan baik agar dapat mengantisipasi kemungkinan yang terburuk, memilih dan menerapkan sesuai dengan tujuan pada masing-masing individu, hal ini merupakan faktor yang mempengaruhi strategi koping.

c. Keyakinan atau pandangan positif 

Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting, seperti keyakinan akan nasib (eksternal locus of control) yang mengarahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan (helplessness) yang akan menurunkan kemampuan strategi koping tipe problem-solving focused coping.

d. Keterampilan sosial 

Keterampilan sosial merupakan faktor yang penting dalam strategi koping karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial, sehingga individu membutuhkan untuk bersosialisasi. Keterampilan sosial merupakan cara untuk menyelesaikan masalah dengan orang lain, juga dengan keterampilan sosial yang baik memungkinkan individu tersebut menjalin hubungan yang baik dan kerja sama dengan individu lainya, dan secara umum memberikan kontrol perilaku kepada individu atas interaksi sosialnya dengan individu lain.

d. Dukungan sosial 

Dukungan sosial adalah dukungan atau bantuan yang berasal dari orang yang memiliki hubungan sosial akrab dengan individu yang menerima bantuan. Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga lain, saudara, teman, dan lingkungan masyarakat sekitarnya.

e. Materi 

Dukungan ini meliputi sumber daya daya, setiap sumber daya memiliki kegunaan yang lebih spesifik dan memiliki ciri tersendiri, ada yang berguna bagi kehidupan di daerah itu sendiri dan ada yang berguna bagi daerah lain. Sumber daya pada materi ini berupa uang, barang-barang atau layanan yang biasanya dapat dibeli.

Daftar Pustaka

  • King, L.A. 2010. Psikologi Umum. Jakarta: Salemba Humanika.
  • Yusuf, Syamsu. 2004. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Kertamuda, E Fatchiah. 2009. Konseling Pernikahan untuk Keluarga di Indonesia. Jakarta: Salemba Humanika.
  • Safaria, T., dan Saputra, N.Eka. 2009. Manajemen Emosi. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Rasmun. 2004. Stres, Koping dan Adaptasi. Jakarta: Sagung Seto. 
  • Maryam. 2017. Strategi Coping: Teori dan Sumber Dayanya. Jurnal Konseling Andi Matappa.
  • Nasir, A., dan Muhith, A. 2011. Dasar-dasar Keperawatan jiwa, Pengantar dan Teori. Jakarta: Salemba Medika.
  • Fauziah, N., dkk. 2015. Hubungan Penggunaan Strategi Coping dengan Prestasi Akademik Pada Siswa Kelas XI SMA. ALIBKIN (Jurnal Bimbingan Konseling).
PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Strategi Koping - Bentuk, Strategi, dan Faktor yang Mempengaruhi. Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2022/03/strategi-koping.html