Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kecemasan Berbicara

Kecemasan berbicara adalah salah suatu jenis kecemasan berbasis komunikasi berupa reaksi negatif, perasaan gugup, dan tidak nyaman yang terjadi pada individu, baik itu komunikasi antara pribadi maupun saat presentasi disebabkan ketidakmampuan menyampaikan pesan. Kecemasan berbicara merupakan suatu jenis fobia sosial, yang ditandai dengan adanya suatu pemikiran bahwa dirinya akan dikritik atau dinilai jelek oleh orang lain.

Kecemasan Berbicara

Kecemasan berbicara disebut juga dengan istilah reticence atau communication apprehension. Kecemasan berbicara adalah suatu keadaan tidak nyaman yang sifatnya tidak menetap pada diri individu yang terjadi ketika seseorang mengalami tekanan perasaan (frustrasi) dan pertentangan batin (konflik) yang ditandai dengan reaksi fisik dan psikologis saat berbicara di depan orang banyak.

Kecemasan berbicara merupakan bentuk dari ketakutan kognitif, keterbangkitan syaraf fisiologis dan suatu pengalaman subjektif dari ketegangan atau kegugupan. Kecemasan berbicara ditandai dengan perasaan tidak nyaman dengan kehadiran orang lain, biasanya disertai dengan perasaan malu, yang ditandai dengan kekakuan, hambatan dan kecenderungan untuk menghindari interaksi sosial.

Pengertian Kecemasan Berbicara 

Berikut ini definisi dan pengertian kecemasan berbicara dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Bodie (2010), kecemasan berbicara adalah subtipe spesifik dari kecemasan berbasis komunikasi dimana individu mengalami gairah fisiologi, kognisi diri yang negatif dan perilaku seiring dalam menanggapi presentasi yang diharapkan atau aktual.
  • Menurut Apollo (2007), kecemasan berbicara adalah ketidakmampuan individu untuk mengikuti diskusi secara aktif, mengembangkan percakapan, menjawab pertanyaan yang diajukan di kelas, yang bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan akan tetapi karena adanya ketidakmampuan dalam menyusun kata-kata dan ketidakmampuan menyampaikan pesan secara sempurna, meskipun sudah dipersiapkan sebelumnya.
  • Menurut Ririn (2013), kecemasan berbicara adalah ketidakmampuan individu untuk mengembangkan percakapan yang bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan akan tetapi karena adanya ketidakmampuan menyampaikan pesan. 
  • Menurut Rakhmat (2011), kecemasan berbicara adalah reaksi negatif dalam bentuk kecemasan yang terjadi pada individu pada situasi komunikasi, baik itu komunikasi antar pribadi maupun saat presentasi. 
  • Menurut Rogers (2008), kecemasan berbicara adalah perasaan gugup dan tidak nyaman yang dialami individu ketika melakukan presentasi, rasa takut untuk berbicara serta kesulitan-kesulitan yang dialami seseorang saat mereka harus berbicara di hadapan banyak orang secara sempurna, yang ditandai dengan adanya reaksi secara psikologis dan fisiologis.

Aspek-aspek Kecemasan Berbicara 

Menurut Rogers (2008), terdapat beberapa aspek kecemasan berbicara, yaitu sebagai berikut:

a. Aspek fisik 

Komponen fisik biasanya dirasakan jauh sebelum memulai pembicaraan. Gejala fisik tersebut dapat berbeda pada tiap orang. Gejala-gejala fisik tersebut di antaranya jantung berdebar-debar, suara yang bergetar, kaki gemetar, kejang perut, dan sulit untuk bernafas.

b. Aspek mental 

Aspek mental memiliki gejala seperti sering mengulang kata atau kalimat, hilang ingatan secara tiba-tiba sehingga sulit untuk mengingat fakta secara tepat dan melupakan hal-hal yang sangat penting. Selain itu juga tersumbatnya pikiran sehingga membuat individu yang sedang berbicara tidak tahu apa yang harus diucapkan selanjutnya.

c. Aspek emosional 

Gejala-gejala yang termasuk dalam komponen emosional adalah adanya rasa tidak mampu, rasa takut yang biasa muncul sebelum individu tampil dan rasa kehilangan kendali. Biasanya secara mendadak muncul rasa tidak berdaya seperti anak yang tidak mampu mengatasi masalah, munculnya rasa panik dan rasa malu setelah berakhir pembicaraan.

Adapun menurut Bodie (2010), aspek-aspek kecemasan adalah sebagai berikut: 

  1. Aspek kognitif, yaitu respon kognitif dari kecemasan atau ketakutan yang meliputi negatif evaluasi, dan keyakinan yang tidak logis mempengaruhi kemampuan berpikir jernih, memecahkan masalah, atau mengatasi tuntutan lingkungan. 
  2. Aspek fisiologis, yaitu sistem saraf pusat, otonom, dan somatik serta sistem seluler hormonal, semua yang mengatur tubuh manusia dan respon terhadap kecemasan meliputi tekanan darah meningkat, jantung berdegup kencang lebih cepat, berkeringat di telapak tangan dan wajah.
  3. Aspek perilaku, yaitu mengacu pada perilaku untuk menghindar. Misalnya gugup, tremor, berbicara cepat.

Jenis-jenis Kecemasan Berbicara 

Menurut McCroskey (1984), berdasarkan lokasi dan lawan berbicara, kecemasan berbicara terdiri dari beberapa jenis, yaitu: 

  1. Kecemasan berbicara di depan umum (about public speaking). Kecemasan berbicara dapat terjadi saat individu melakukan komunikasi di depan khalayak ramai seperti saat berpidato atau memberikan presentasi pada suatu forum.
  2. Kecemasan berbicara di dalam pertemuan (about speaking in meeting). Kecemasan berbicara dapat terjadi saat individu berada dalam situasi formal seperti saat rapat.
  3. Kecemasan berbicara dalam diskusi kelompok (speaking group discussion). Kecemasan berbicara dapat terjadi saat individu di dalam sebuah kelompok kecil. Saat berada dalam diskusi kelompok kecil individu memberikan argumen, respon, dan tanggapan dalam diskusi tersebut yang melibatkan penilaian dan atensi peserta diskusi.
  4. Kecemasan berbicara saat interaksi dua arah (in dyadic interaction). Kecemasan berbicara saat individu melakukan percakapan dengan orang lain.

Berdasarkan bentuk-bentuk kecemasan yang terjadi, kecemasan berbicara dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

  1. Unwillingness. Unwillingness adalah tidak adanya minat individu melakukan berbicara di depan umum, sehingga ada usaha untuk menghindar bila melakukan kegiatan tersebut.
  2. Unrewarding. Unrewarding adalah tidak adanya penghargaan atau peningkatan hukuman atas komunikasi yang pernah dilakukan individu. Pengalaman tersebut menjadikan individu mengalami kecemasan bila dikemudian hari berbicara di muka umum lagi. 
  3. Uncontrol. Uncontrol adalah ketidakmampuan individu melakukan kontrol terhadap situasi, peralatan, dan tempat komunikasi sehingga menyebabkan kecemasan.

Ciri-ciri dan Indikator Kecemasan Berbicara 

Menurut Nevid (2005), kecemasan berbicara ditandai dengan beberapa gejala atau ciri antara lain yaitu sebagai berikut:

  1. Gejala fisik dari kecemasan, yaitu; kegelisahan, anggota tubuh bergetar, banyak berkeringat, sulit bernafas, jantung berdetak kencang, merasa lemas, panas dingin, mudah marah atau tersinggung. 
  2. Gejala behavioral dari kecemasan, yaitu; berperilaku menghindar, terguncang. 
  3. Gejala kognitif dari kecemasan, yaitu; khawatir tentang sesuatu, perasaan terganggu akan ketakutan terhadap sesuatu yang terjadi dimasa depan, keyakinan bahwa sesuatu yang menakutkan akan segera terjadi, ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah, pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan, sulit berkonsentrasi.

Menurut Stuar (2006), respon atau gejala dari kecemasan berbicara antara lain yaitu: 

  1. Respon fisiologi. Ditandai dengan gangguan jantung berdebar, tekanan darah meninggi, rasa mau pingsan, pingsan, tekanan darah menurun, denyut nadi menurun, napas cepat, napas pendek, tekanan pada dada, napas dangkal, pembengkakan pada tenggorok, sensasi tercekik, terengah-engah, refleks meningkat, reaksi kejutan, mata berkedip-kedip, insomnia, tremor, rigiditas, gelisah, wajah tegang, kelemahan umum, kaki goyah, gerakan yang janggal, kehilangan nafsu makan, menolak makanan, rasa tidak nyaman pada abdomen, mual, rasa terbakar pada jantung, diare, tidak dapat menahan kencing sering berkemih, wajah kemerahan, berkeringat setempat, gatal, rasa panas dan dingin pada kulit, wajah pucat, berkeringat seluruh tubuh. 
  2. Respon perilaku. Ditandai dengan gelisah, ketegangan, tremor, gugup, bicara cepat, kurang koordinasi, cenderung mendapat cedera, menarik diri dari hubungan inter-personal, menghalangi, melarikan diri dari masalah, menghindari, hiper-ventilasi.
  3. Respon kognitif. Ditandai dengan perhatian terganggu, konsentrasi buruk, pelupa, salah dalam memberikan penilaian, pre-okupasi, hambatan berpikir, bidang persepsi menurun, kreativitas menurun, produktivitas menurun, bingung, sangat waspada, kesadaran diri meningkat, kehilangan objektivitas, takut kehilangan kontrol, takut pada gambaran visual, takut cedera atau kematian. 
  4. Respon afektif. Ditandai dengan mudah terganggu, tidak sabar, gelisah, tegang, nervous, ketakutan, teror, gugup, gelisah.

Teori Kecemasan Berbicara 

Menurut Stuart (2006) terdapat beberapa teori yang menjelaskan tentang penyebab kecemasan berbicara, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Teori Psikoanalitik 

Kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian yaitu id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan norma budaya seseorang. Ego atau aku berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan tersebut, dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.

b. Teori Interpersonal 

Kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal. Kecemasan juga berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kerentanan tertentu. Individu dengan harga diri rendah terutama rentan mengalami kecemasan yang berat.

c. Teori Perilaku 

Kecemasan merupakan hasil dari frustrasi. yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ahli teori perilaku lain menganggap kecemasan sebagai suatu dorongan yang dipelajari berdasarkan keinginan dari dalam diri untuk menghindari kepedihan.

d. Teori Keluarga 

Teori ini menunjukkan bahwa gangguan kecemasan biasanya terjadi dalam keluarga. Gangguan kecemasan juga tumpang tindih antara gangguan kecemasan dan depresi.

e. Teori Biologis 

Teori ini menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepin, obat-obatan yang meningkatkan neuro-regulator inhibisi asam gama-aminobitirat (GABA), yang berperan penting dalam biologis yang berhubungan dengan kecemasan.

Faktor Penyebab Terjadinya Kecemasan Berbicara 

Kecemasan berbicara terjadi pada individu disebabkan oleh perasaan-perasaan dan memperkirakan hasil-hasil yang negatif sebagai hasil keterlibatannya dalam interaksi komunikasi. Menurut Devito (1995), beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya kecemasan berbicara adalah sebagai berikut:

a. Kurangnya keahlian dan pengalaman 

Seseorang yang mempunyai sedikit pengalaman dan keterampilan atau sama sekali tidak mempunyai pengalaman dan keterampilan dalam menghadapi situasi berbicara di depan umum, maka akan lebih besar kemungkinannya untuk mengalami kecemasan ketika dihadapkan pada situasi berbicara di depan umum daripada orang yang sudah berpengalaman dan mempunyai keterampilan yang berkaitan dengan berbicara di depan umum.

b. Tingkat evaluasi 

Apabila seseorang mengetahui atau menganggap bahwa dirinya akan dievaluasi ketika sedang berbicara di depan umum, maka akan semakin besar kecemasan yang terjadi.

c. Status lebih rendah 

Ketika seseorang merasa bahwa orang lain adalah komunikator yang lebih baik atau tahu lebih banyak daripada dirinya dalam hal berkomunikasi di depan umum, maka kecemasan yang muncul pada diri orang tersebut akan lebih besar.

d. Tingkat kemungkinan menjadi pusat perhatian 

Semakin seseorang merasa dirinya sebagai pusat perhatian, maka akan semakin besar kemungkinan orang tersebut merasa cemas. Berbicara di depan umum jauh lebih mencemaskan daripada berbicara di dalam kelompok kecil. Ketika berbicara di depan umum, seseorang secara otomatis akan menjadi pusat perhatian.

e. Tingkat kemungkinan terprediksi situasi 

Semakin suatu situasi tidak dapat diprediksi, maka semakin besar kemungkinan munculnya kecemasan berbicara di depan umum. Terlebih apabila berada dalam situasi baru yang membingungkan dan tidak dapat diprediksi sebelumnya, maka akan semakin besar pula kemungkinan timbulnya kecemasan berbicara di depan umum.

f. Tingkat perbedaan 

Ketika seseorang merasa berbeda dengan pendengar atau komunikan, maka dapat menyebabkan orang tersebut merasa cemas. Semakin besar perbedaan yang dirasakan seseorang atau komunikator dengan para komunikan, maka akan semakin besar pula kemungkinan seseorang mengalami kecemasan.

g. Sukses dan gagal sebelumnya 

Sukses yang dirasakan seseorang sebelumnya pada saat berbicara di depan umum dapat menurunkan tingkat kecemasan ketika ia berbicara di depan umum pada kesempatan berikutnya. Demikian pula sebaliknya, kegagalan berbicara di depan umum sebelumnya dapat dianggap sebagai peringatan bahwa kemungkinan akan mengalami kegagalan dalam situasi selanjutnya.

Daftar Pustaka

  • Bodie, G.D. 2010. A Racing Heart, Rattling Knees, and Ruminative Thoughts: Defining, Explaining, and Treating Public Speaking Anxiety. Communication Education Journal.
  • Apollo. 2007. Hubungan antara Konsep Diri dengan Kecemasan Berkomunikasi Secara Lisan pada Remaja. Jurnal Manasa, Vol.1, No.1.
  • Ririn, A.M. 2013. Hubungan antara Keterampilan Komunikasi dengan Kecemasan Berbicara di depan Umum. Jurnal Ilmiah Konseling.
  • Rakhmat, Jalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Rogers, N. 2008. Berani Bicara di Depan Publik. Bandung: Nuansa.
  • McCroskey, J.C. 1984. The Communication Apprehension Perspective In JA Daly, & JC McCroskey. Avoiding Communication.
  • Nevid, J.S. 2005. Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga.
  • Stuart, W.G. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
  • Devito, A.J. 1995. The Interpersonal Communication Book. New York: Harper Collins Cllege Publishers.
PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Kecemasan Berbicara. Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2022/04/kecemasan-berbicara.html