Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kompetensi Sosial - Aspek, Ciri, Unsur dan Faktor yang Mempengaruhi

Kompetensi sosial adalah kemampuan, kecakapan atau keterampilan individu dalam berhubungan dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain sehingga dapat diterima secara sosial dalam berbagai situasi sehingga terjalin hubungan yang positif dengan lingkungan sesuai dengan budaya, nilai dan normal yang berlaku. Individu yang berkompeten secara sosial mampu untuk memahami suatu perubahan situasi dan berperilaku tepat sesuai dengan situasi tersebut.

Kompetensi Sosial - Aspek, Ciri, Unsur dan Faktor yang Mempengaruhi

Kompetensi sosial merupakan kemampuan seseorang dalam mengokohkan dan memelihara hubungan dengan orang lain melalui tiga hal, yaitu; menerapkan emosi yang sesuai dengan konteks sosial yang dihadapi (sensivitas sosial), kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain (empaty), dan kepercayaan terhadap kemampuan diri (locus of control). Melalui tiga kompetensi ini, seseorang yang berkompeten secara sosial dapat mencari teman atau menjaga pertemanan dan menyelesaikan tujuan mereka ketika berhubungan dengan orang lain.

Kompetensi sosial adalah kecenderungan untuk membangun dan mempertahankan hubungan dekat yang mampu memenuhi kebutuhan komunal (kebutuhan yang sifatnya sosial atau interpersonal seperti kebutuhan akan afeksi atau cinta, intimasi, dukungan persahabatan, pengasuhan, kesenangan, dan seksual) dan kebutuhan agentik (kebutuhan yang sifatnya individual, seperti kebutuhan akan pencapaian, kekuasaan, pengakuan atau status, penerimaan, autonomi, identitas dan self esteem).

Pengertian Kompetensi Sosial 

Berikut definisi dan pengertian kompetensi sosial dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Smart dan Sanson (2003), kompetensi sosial adalah perilaku yang dapat diterima secara sosial, cara berperilaku yang dapat dipelajari yang memampukan seseorang untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain, dan mengarah pada perilaku dan respon-respon sosial yang dimiliki individu. 
  • Menurut Hurlock (2002), kompetensi sosial adalah kemampuan atau kecakapan yang ada dalam diri seseorang dalam berhubungan dengan orang lain untuk terlibat dalam situasi sosial. 
  • Menurut Gullota (1990), kompetensi sosial adalah kemampuan, kecakapan atau keterampilan individu dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan dan memberi pengaruh pada orang lain demi mencapai tujuan dalam konteks sosial tertentu yang disesuaikan dengan budaya, lingkungan, situasi yang dihadapi serta nilai yang dianut oleh individu. 
  • Menurut Semrud dan Clikeman (2007), kompetensi sosial adalah kemampuan untuk melihat dan menangkap perspektif lain dari sebuah situasi dan mempelajarinya dari pengalaman sebelumnya dan menerapkan hasil pelajarannya ke suatu perubahan situasi sosial lainnya. 
  • Menurut Rahman (2010), kompetensi sosial adalah kemampuan yang cenderung menetap untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi dalam interaksi sosial dan tetap menjaga hubungan yang positif dengan orang lain dalam berbagai situasi.

Aspek-aspek Kompetensi Sosial 

Menurut Smart dan Sanson (2003), kompetensi sosial terdiri dari beberapa aspek, yaitu sebagai berikut: 

  1. Assertif. Assertif yaitu perilaku yang berinisiatif seperti menanyakan mengenai informasi kepada orang lain, menanggapi tindakan yang dilakukan oleh orang lain, dan memperkenalkan diri sendiri kepada orang lain. 
  2. Kooperatif. Kooperatif yaitu perilaku seperti patuh terhadap perintah dan permintaan, membantu orang lain, dan berbagai tentang suatu hal. 
  3. Empati. Empati yaitu perilaku yang menunjukkan perhatian dan menghormati orang lain. Empati adalah kemampuan untuk merasakan perasaan orang lain, suatu aktivitas untuk memahami apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan orang lain terhadap kondisi yang dialami orang lain tanpa kehilangan kontrol dirinya. 
  4. Tanggung jawab. Tanggung jawab yaitu perilaku yang menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang dewasa dan menghormati benda atau pekerjaan. 
  5. Pengendalian diri. Pengendalian diri yaitu perilaku yang muncul pada saat konflik seperti menanggapi hal-hal yang mengganggu dengan tepat. Kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur, dan mengarahkan perilaku ke arah konsekuensi yang positif termasuk dalam menghadapi konflik yang ada di dalam lingkungan.

Adapun menurut Rubin dan Krasnor (1997), terdapat dua aspek utama dalam kompetensi sosial, yaitu:

a. Social problem 

Aspek ini berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki individu untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam interaksi sosial. Disini individu dituntut untuk dapat menyelesaikan masalah inter-personal yang mereka hadapi secara adaptif.

b. Social engagement 

Aspek ini berkaitan dengan kemampuan individu untuk terlibat secara positif dalam berinteraksi dengan teman sebaya. Individu mampu berpartisipasi dalam kegiatan yang melibatkan teman sebaya, serta mampu untuk berinisiatif dalam memulai interaksi dengan orang lain untuk kemudian mempertahankan relasi tersebut.

Ciri dan Indikator Kompetensi Sosial 

Menurut Gullota (1990), kompetensi sosial yang terdapat pada diri seseorang ditandai dengan ciri-ciri atau indikator sebagai berikut:

a. Kapasitas kognitif 

Kapasitas kognitif merupakan hal yang mendasari keterampilan sosial dalam menjalin dan menjaga hubungan interpersonal yang positif. Kapasitas kognitif meliputi: 

  1. Harga diri yang positif, adalah penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri, dan penghargaan dari orang lain. Individu yakin bahwa dirinya berharga, mampu mengatasi segala tantangan dalam hidupnya, serta memperoleh penghargaan atas apa yang dilakukannya. Harga diri yang positif memberikan kepercayaan diri untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan lingkungan sosialnya.
  2. Kemampuan memandang sesuatu dari sudut pandang sosial, merupakan kemampuan untuk memahami lingkungan dan menjadi lebih peka terhadap orang lain. 
  3. Keterampilan memecahkan masalah interpersonal, adalah sebuah proses perilaku yang menyediakan sejumlah respon alternatif yang potensial bagi pemecahan masalah yang dihadapi, serta meningkatkan kemungkinan pemilihan respon yang paling efektif dari bermacam-macam kemungkinan pemecahan masalah yang dihadapi.

b. Keseimbangan bersosialisasi dan privacy 

Seorang yang memiliki kompetensi sosial mampu mengatur keseimbangan antara kebutuhan bersosialisasi dan kebutuhan akan privacy. Kebutuhan bersosialisasi merupakan kebutuhan individu untuk terlibat dalam sebuah kelompok dan menjalin hubungan dengan orang lain. Sedangkan kebutuhan akan privacy adalah keinginan untuk menjadi individu yang unik, berbeda, dan bebas melakukan tindakan tanpa pengaruh orang lain.

c. Keterampilan sosial 

Keterampilan sosial dengan teman sebaya adalah kecakapan individu dalam menjalin hubungan dengan teman sebaya sehingga tidak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kelompok dan dapat terlibat dalam kegiatan kelompok.

Unsur-unsur Kompetensi Sosial 

Individu yang memiliki berkompetensi sosial yang baik, akan mampu berkomunikasi secara efektif, dapat memahami diri sendiri dan orang lain, mampu mengatur emosinya, mematuhi aturan-aturan moral pada lingkungan mereka, menyesuaikan tingkah laku mereka dalam merespon norma yang terkait. Individu dengan kompetensi sosial yang baik juga cenderung memiliki inisiatif, mampu mengontrol situasi dan berusaha mengatasi masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Semrud dan Clikeman (2007), terdapat empat unsur utama yang harus dimiliki seseorang agar memiliki kompetensi sosial yang baik, yaitu: 

  1. Psychological Pragmatic, yaitu dinamika pengetahuan yang meliputi persepsi diri, emosi dan pikiran-pikiran yang berperan mengubah sepanjang kontak sosial berlangsung. Kemampuan untuk memahami keadaan emosional orang lain dihubungkan dengan kompetensi sosial dan diistilahkan dengan psychological pragmatic. 
  2. Self Evaluation, yaitu sebuah proses penting bagi seseorang yang meliputi self esteem, penerimaan diri sewajarnya dan kesadaran terhadap situasi sosial. Individu yang mampu menerima dirinya sebagaimana mestinya dapat menciptakan dan menjaga pertemanan serta kurang rentan mengalami stres. 
  3. Empathy, yaitu kemampuan untuk mengenali pikiran, sikap, dan perasaan orang lain, kepekaan sosial terhadap orang lain, berbagi pengalaman dan emosi dengan orang lain yang berhubungan dengan mereka. 
  4. Prosocial behavior, yaitu perilaku yang memiliki intensi untuk mengubah keadaan fisik atau psikologis penerima bantuan dari kurang baik menjadi lebih baik, dalam artian secara material maupun psikologis. Dalam hal ini dapat dikatakan perilaku prososial bertujuan untuk membantu meningkatkan well being orang lain.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kompetensi Sosial 

Menurut Rahman (2010), beberapa faktor yang dianggap dapat mempengaruhi kompetensi sosial pada diri seseorang antara lain yaitu:

a. Temperamen 

Istilah temperamen secara umum digunakan untuk merujuk pada pola perilaku secara mendasar dan menjelaskan perbedaan individu dalam bertingkah laku sejak dari tahun pertama masa kanak-kanak awal. Perilaku yang dimaksud mencerminkan kondisi khas emosi, motorik, dan perhatian terhadap stimulus bagi setiap individu, dan perilaku tersebut secara potensial mempengaruhi kemampuannya dalam membentuk hubungan sosial yang positif.

b. Faktor keterampilan sosial kognitif 

Sosial kognitif berfungsi agar seseorang dapat belajar untuk mengenal dan menginterpretasikan informasi mengenai orang lain, teman sebaya, situasi-situasi sosial, serta belajar tentang perilaku dan respon sosial secara efektif. Fungsi tersebut memberikan dukungan terhadap perkembangan keterampilan kognisi sosial yang memungkinkan individu membentuk pemahaman yang lebih baik mengenai pikiran, perasaan serta kecenderungan perilaku orang lain.

c. Keterampilan komunikasi 

Bahasa merupakan cara utama bagi seseorang untuk membangun interaksi, mengelola hubungan dengan orang lain, dan membangun kontak interpersonal. Dapat dipahami bahwa individu dengan keterampilan bahasa yang rendah tidak dapat menjalin hubungan sosial yang baik. Kapasitas untuk memahami orang lain, serta menunjukkan kebutuhan, pikiran, dan tujuan-tujuan individu sering kali tergantung pada kemampuan berbahasanya. Jika seseorang mampu mengkomunikasikan keinginan dan kebutuhannya dengan baik dalam interaksi sosialnya, maka dapat dikatakan bahwa ia adalah orang yang kompeten secara sosial.

Daftar Pustaka

  • Smart, D., dan Sanson, A. 2003. Social Competence in Young Adulthood Its Nature and Antecedents. Family Matters Journal, No.64. Australian Institute of Family Studies.
  • Hurlock, E.B. 2002. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlanga.
  • Gullotta,T.P., Adams,G.R., dan Montemayor,R. 1990. Developing Social, Competency in Adolescence. USA: Sage Publication.
  • Semrud dan Clikeman, M. 2007. Social Competence in Children. Journal for Educational Research Online.
  • Rahman, F. 2010. Hubungan Antara Egosentrisme dengan Kompetensi Sosial Remaja Siswa SMP Muhammadiyah 22 Setia Budi Pamulang. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.
  • Rubin dan Krasnor, R. 1992. The Nature of Social Competence: A Theoritical Review. Social Development Journal.

PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Kompetensi Sosial - Aspek, Ciri, Unsur dan Faktor yang Mempengaruhi. Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2022/04/kompetensi-sosial.html