Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Budgetary Slack - Pengertian, Tujuan, Indikator dan Dampak

Budgetary slack atau kesenjangan anggaran adalah suatu tindakan dalam perencanaan anggaran, dimana individu yang dilibatkan dalam perencanaan anggaran melakukan tindakan meng-underestimate-kan revenue (pendapatan menjadi lebih rendah) dan meng-overestimate-kan cost (biaya menjadi lebih tinggi) sehingga seolah-olah dapat meningkatkan kinerjanya.

Budgetary Slack - Pengertian, Tujuan, Indikator dan Dampak

Budgetary slack merupakan sebuah penyimpangan yang dilakukan individu dengan cara memberikan laporan atau membuat anggaran dengan menaikkan beban atau biaya dan menurunkan pendapatan yang ditargetkan. Budgetary slack dilakukan untuk memudahkan dalam pencapaian standar kinerja dengan cara menaikkan biaya dan menurunkan pendapatan dari yang sebenarnya terjadi.

Budgetary slack juga diartikan sebagai perbedaan antara anggaran yang telah direncanakan dengan pelaksanaan sesungguhnya yang umumnya sengaja dilakukan untuk kepentingan pribadi dari pelaksana anggaran tersebut. Dengan tingginya budgetary slack akan mengakibatkan dua kemungkinan yaitu penambahan dana di luar rencana anggaran semula atau tetap sesuai dengan rencana anggaran dana yang ditetapkan tetapi menurunkan kinerja pelaksana anggaran.

Budgetary slack adalah perbedaan atau selisih antara sumber daya yang sebenarnya dibutuhkan untuk melaksanakan sebuah pekerjaan dengan sumber daya yang diajukan dalam anggaran. Budgetary slack merupakan kendala yang paling sering muncul dalam suatu proses penyusunan anggaran, yang mengakibatkan hilangnya estimasi terbaik dari anggaran itu sendiri yang berpengaruh pada kinerja suatu organisasi.

Pengertian Budgetary Slack 

Berikut definisi dan pengertian budgetary slack atau kesenjangan anggaran dari beberapa sumber buku dan referensi: 

  • Menurut Lubis (2011), budgetary slack adalah selisih antara sumber daya yang sebenarnya diperlukan secara efisien dan jumlah sumber daya yang lebih besar untuk menyelesaikan suatu tugas tersebut. 
  • Menurut Yuhertiana (2005), budgetary slack adalah proses yang terjadi saat perencanaan anggaran, dimana ketika individu dilibatkan dalam pembuatan anggaran akan cenderung meng-overestimate-kan cost atau meng-underestimate-kan revenue. 
  • Menurut Listriani dan Jatmiko (2015), budgetary slack adalah suatu tindakan dimana melebihkan kemampuan produktif dengan mengestimasikan pendapatan lebih rendah dan biaya lebih tinggi ketika diberi kesempatan untuk memilih standar kerja sehingga dapat meningkatkan kinerjanya.
  • Menurut Suartana (2010), budgetary slack adalah perbedaan antara jumlah anggaran yang dinyatakan dan diestimasi terbaik yang secara jujur diprediksikan. Kesenjangan anggaran terjadi dikarenakan manajer menetapkan pendapatan lebih rendah dan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan estimasi yang seharusnya menjadi target organisasi tersebut. 
  • Menurut Kartika (2010), budgetary slack adalah tindakan bawahan yang mengecilkan kapabilitas produktifnya ketika dia diberi kesempatan untuk menentukan standar kerjanya. 
  • Menurut Siregar dan Suripto (2013), budgetary slack adalah jumlah kekurangan pendapatan dan kelebihan biaya yang sengaja dimasukkan ke dalam anggaran sehingga manajer pada tingkat menengah dan manajer pada tingkat bawah lebih mudah meraih tujuan anggaran.

Tujuan Budgetary Slack 

Kesenjangan anggaran atau budgetary slack terjadi karena bawahan ingin mengemukakan anggaran dengan cara menurunkan pendapatan dan kemudian meninggikan biaya dari perkiraan terbaik yang diajukan, agar target mudah dicapai. Menurut Falikhatun (2007), terdapat tiga tujuan utama terjadinya budgetary slack atau kesenjangan anggaran, yaitu: 

  1. Orang-orang selalu percaya bahwa setiap hasil dari suatu pekerjaan yang mereka lakukan akan dilihat baik dan layak di mata para atasan apabila mereka dapat mencapai tujuan dari nilai anggarannya
  2. Kesenjangan anggaran selalu digunakan dalam mengatasi suatu kondisi yang tidak pasti, apabila tidak ada hal yang tidak terduga terjadi, maka manajer tersebut dapat mencapai anggarannya.
  3. Pengalokasian nilai atas sumber daya nanti akan diberlakukan atas dasar estimasi dari anggaran biaya, kemudian menghasilkan kesenjangan anggaran menjadi bersifat fleksibel.

Terjadinya budgetary slack dapat disebabkan oleh beberapa faktor dan kondisi antara lain untuk melindungi diri, memudahkan manajer bawah untuk mencapai target yang telah ditentukan, memperlihatkan kinerja yang baik terhadap atasan. Adapun menurut Welsch, Hilton dan Gordon (2000), penyebab terjadinya budgetary slack antara lain yaitu sebagai berikut: 

  1. Budgetary slack digunakan untuk melindungi diri. Sehingga kinerja dari manajer tidak akan mendapatkan penilaian yang buruk dan tidak dikritik. Hal tersebut dilakukan dengan cara manajer bawah menetapkan anggaran penjualan lebih rendah dari estimasi terbaik. 
  2. Agar penilaian terhadap kinerja manajer bawah terlihat baik oleh manajer atas. Hal tersebut dilakukan dengan cara manajer bawah menetapkan perkiraan pengeluaran yang lebih tinggi dari estimasi terbaik. 
  3. Agar ketika terjadi pengeluaran kas, manajer bawah tidak meminta lagi. Hal tersebut dilakukan dengan cara manajer bawah meminta pengeluaran kas melebihi kebutuhan yang sebenarnya. Apabila terdapat sis akas dan dikembalikan, maka akan terlihat baik oleh atasan.

Indikator Budgetary Slack 

Menurut Arthaswadaya (2015), terdapat tiga indikator adanya budgetary slack, yaitu sebagai berikut:

a. Perbedaan jumlah anggaran dengan estimasi terbaik 

Estimasi yang dimaksud adalah anggaran yang sesungguhnya terjadi dan sesuai dengan kemampuan terbaik perusahaan dalam keadaan terjadinya budgetary slack, bawahan cenderung mengajukan anggaran dengan merendahkan pendapatan dan meninggikan biaya dibandingkan dengan estimasi terbaik yang diajukan sehingga target mudah dicapai.

b. Target anggaran 

Bawahan menciptakan kesenjangan anggaran karena dipengaruhi oleh keinginan dan kepentingan pribadi sehingga akan memudahkan pencapaian target anggaran, terutama jika penilaian prestasi manajer ditentukan berdasarkan pencapaian anggaran, dengan target anggaran yang rendah dan biaya yang dianggarkan juga tinggi menyebabkan seorang manajer dapat dengan mudah mencapai anggaran yang telah disetujui sebelumnya.

c. Kondisi lingkungan 

Kondisi lingkungan juga sangat mempengaruhi budgetary slack di antaranya dengan sengaja melakukan perbuatan tersebut dapat suatu timbal balik seperti gaji, promosi, dan bonus dari organisasi karena anggaran yang dibuat dapat dicapai. Budgetary slack dapat dilakukan manajer karena dianggap perlu untuk menyelamatkan anggaran dengan melakukan penyesuaian dengan bawahan. Oleh karena karakter dan perilaku manusia yang berbeda-beda, partisipasi penganggaran dapat berpengaruh atau tidak berpengaruh terhadap kesenjangan anggaran.

Sedangkan menurut Rukmana (2013), terdapat beberapa indikator dalam budgetary slack atau kesenjangan anggaran, yaitu sebagai berikut: 

  1. Pengaruh anggaran dalam mendorong produktivitas. Anggaran yang telah dibuat atau ditetapkan, membuat bawahan akan berusaha untuk meningkatkan kinerjanya atau meningkatkan produktivitasnya agar anggaran yang dibuat bisa tercapai. Sehingga kinerja karyawan akan terlihat baik dimata atasannya. 
  2. Pencapaian anggaran dalam pelaksanaan kerja. Karyawan yang memiliki komitmen tinggi terhadap organisasi, maka akan berusaha yang terbaik demi kepentingan dan tujuan dari organisasi tersebut. Mereka akan berusaha untuk mencapai anggaran yang telah ditetapkan tersebut. 
  3. Pengawasan atau monitoring dalam penggunaan anggaran. Karena adanya keterbatasan dalam penggunaan anggaran, maka karyawan harus memonitor setiap pengeluaran atau penggunaan anggaran agar sesuai dengan target yang telah dianggarkan. 
  4. Tidak adanya tuntutan pada anggaran. Anggaran yang dibuat tidak terlalu tinggi. Sehingga karyawan tidak merasa tertekan untuk mencapai anggaran. Mereka akan bekerja sesuai dengan kemampuannya dan tidak terburu-buru untuk mencapai anggaran.
  5. Target anggaran tidak mendorong tingkat efisiensi. Karena adanya tuntutan dari atasan untuk mencapai target anggaran, membuat karyawan tidak perlu meningkatkan efisiensi agar target anggaran segera dicapai dan kinerja karyawan akan terlihat baik jika mampu mencapai anggaran. 
  6. Target atau sasaran susah untuk direalisasi. Target atau sasaran anggaran tidak mudah untuk dicapai, oleh karena itu karyawan menyusun anggaran tidak sesuai dengan estimasi terbaik yang bisa dilakukan.

Dampak Budgetary Slack 

Kesenjangan anggaran (budgetary slack) dalam proses penyusunan anggaran menyebabkan kerugian pada organisasi dari sisi finansial yang organisasi keluarkan untuk anggaran biaya maupun sisi finansial organisasi dari prospek keuntungan di masa mendatang karena kesalahan perencanaan kebutuhan anggaran yang tidak merepresentasikan kebutuhan yang sesungguhnya.

Budgetary Slack dapat mengakibatkan pengalokasian dana yang tidak efektif, selain itu anggaran yang disusun menjadi tidak benar-benar merepresentasikan dana yang memang benar-benar dibutuhkan. Budgetary slack juga dapat mempengaruhi pembuatan anggaran tahun berikutnya, dan fungsi penilaian kinerja menjadi tidak berfungsi karena anggaran yang dibuat kurang mencerminkan kemampuan sebenarnya dari sebuah organisasi terkait dengan sumber dan pengelolaan dana.

Budgetary slack dapat terjadi secara berkelanjutan dan mempengaruhi penyusunan anggaran periode selanjutnya. Budgetary slack akan meningkat seiring dengan tahun periode anggaran. Hal ini terjadi ketika organisasi menggunakan pendekatan anggaran tradisional dimana cara penyusunan anggaran berdasarkan incrementalism yang berarti hanya menambah atau mengurangi jumlah rupiah pada item-item anggaran yang sudah ada sebelumnya dengan menggunakan data tahun sebelumnya sebagai dasar untuk menyesuaikan besarnya penambahan atau pengurangan tanpa dilakukan kajian yang mendalam.

Daftar Pustaka

  • Lubis, Arfan Ikhsan. 2011. Akuntansi Keprilakuan. Jakarta: Salemba Empat.
  • Indrawati, Yuhertiana. 2005. Kajian Etika Budgetary Slack di Organisasi Sektor Publik Menurut Perspektif Gender. Simposium Riset Ekonomi II Surabaya.
  • Listriani, H., & Jatmiko, B. 2015. Partisipasi Anggaran, Komitmen Organisasi dan Asimetri Informasi serta Pengaruhnya terhadap Senjangan Anggaran (Studi Empiris pada SKPD Kabupaten Sleman).
  • Suartana, I Wayan. 2010. Akuntansi Keperilakuan Teori dan Implementasi. Yogyakarta: Andi.
  • Kartika, Andi. 2010. Pengaruh Komitmen Organisasi dan Ketidakpastian Lingkungan dalam Hubungan Antara Partisipasi Anggaran dengan Senjangan Anggaran (Studi Empirik Pada Rumah Sakit Swasta di KotaSemarang). Jurnal Akuntansi.
  • Siregar, B., dan Suripto, B. 2013. Akuntansi Biaya. Jakarta: Salemba Empat.
  • Falikhatun. 2007. Pengaruh Partisipasi Penganggaran Terhadap Budgetary Slack Dengan Variabel Pemoderasi Ketidakpastian Lingkungan dan Kohesivitas Kelompok. Jurnal Akuntansi dan Keuangan.
  • Welsch, G.A., Hilton, R.W., dan Gordon, P.N. 2000. Anggaran: Perencanaan dan Pengendalian Laba. Jakarta: Salemba Empat.
  • Arthaswadaya, A. 2015. Pengaruh Asimetri Informasi Terhadap Budgetary Slack dengan Self Esteem sebagai Variabel Pemoderasi. Jurnal Akuntansi Universitas Negeri Yogyakarta.
  • Rukmana, P. 2013. Pengaruh Partisipasi Anggaran dan Asimetri Informasi Terhadap Budgetary Slack. Jurnal Universitas Negeri Padang.
PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Budgetary Slack - Pengertian, Tujuan, Indikator dan Dampak. Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2022/08/blog-post_30.html