Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Multiple Intelligeces / Kecerdasan Majemuk

Teori multiple intelligences pertama kali dikenalkan oleh Howard Gardner, seorang psikologi perkembangan dan professor pendidikan dari Graduate School of Education, Harvard University, Amerika Serikat. Multiple intelligences adalah istilah dari teori yang mengkaji tentang ilmu kecerdasan ganda atau kecerdasan majemuk. Melalui bukunya yang berjudul Frames of Mind, Gardner mengenalkan setidaknya ada tujuh kecerdasan dasar lalu menambah kecerdasan delapan dan membahas kemungkinan adanya kecerdasan kesembilan.

Multiple Intelligences

Gardner menyusun daftar tujuh kecerdasan dalam buku Frames of Mind (1983), yaitu kecerdasan linguistik (linguistic intelligence), kecerdasan logis-matematis (logical-mathematical intelligence), kecerdasan visualspasial (spatial intelligence), kecerdasan musikal (musical intelligence), kecerdasan gerak tubuh (bodily-kinesthetic intelligence), kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligence), kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence). Sedangkan di bukunya Intelligence Reframed (1999), ia menambahkan adanya dua kecerdasan baru, yakni kecerdasan naturalis atau lingkungan (naturalist intelligence) dan kecerdasan eksistensial (existential intelligence).

Menurut Sujiono (2004), kecerdasan majemuk adalah sebuah penilaian yang melihat secara deskriptif bagaimana individu menggunakan kecerdasannya untuk memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu. Teori kecerdasan majemuk dikembangkan berdasarkan pandangannya bahwa masa sebelumnya ukuran kecerdasan hanya dilihat dari segi logika saja, padahal kecerdasan sifatnya adalah majemuk. Konsep ini merupakan sebuah penilaian yang melihat bahwa kecerdasan itu berkaitan erat dengan usaha memecahkan masalah dan menghasilkan produk.

Multiple intelligeces adalah teori kecerdasan ganda yang dimiliki di dalam diri seseorang dalam memecahkan suatu persoalan. Kecerdasan tidak dapat diukur dengan cara mengerjakan tes-tes saja akan tetapi kecerdasan mempunyai arti yang sangat luas. Masing-masing kecerdasan yang berbeda-beda ini dapat digambarkan oleh ciri-ciri, kegiatan-kegiatan, dan minat-minat tertentu. Teori kecerdasan majemuk bukan hanya mengakui perbedaan individual ini untuk tujuan-tujuan praktis, seperti pengajaran dan penilaian, tetapi juga menganggap serta menerimanya sebagai sesuatu yang normal, wajar, bahkan menarik dan sangat berharga.

Setiap kecerdasan seorang memiliki urutan dan tingkat perkembangan sendiri, tumbuh dan berkembang dalam setiap waktu dalam kehidupan. Gardner juga mempercayai bahwa setiap kecerdasan berpotensi untuk digunakan dalam tujuan baik dan buruk, maka semua kecerdasan lepas dari stempel penghargaan (value free). Pada dasarnya kecerdasan itu merupakan suatu keseimbangan yang dapat dikembangkan seumur hidup, dapat mengembangkan dan memperkuat kecerdasan yang dimiliki.

Jenis-jenis Kecerdasan Majemuk 

Menurut Yaumi (2016), jenis-jenis kecerdasan majemuk seperti yang dikemukakan oleh Howard Gardner adalah sebagai berikut:

a. Kecerdasan Verbal-Linguistik 

Kecerdasan Verbal-Linguistik adalah kecerdasan dalam menguasai hal-hal yang berkaitan dengan bahasa, termasuk bahasa ibu dan bahasa-bahasa asing, untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam pikiran dan memahami orang lain. Seseorang yang memiliki kecerdasan Verbal-Linguistik dalam mengekspresikan pikirannya mereka cenderung banyak bicara, suka pelajaran bahasa termasuk bahasa daerah dan bahasa asing, suka lelucon, senang membaca semua bentuk bacaan. Orang yang memiliki kecerdasan Verbal-Linguistik ini cocok bekerja sebagai Guru, Pendongeng, pembawa acara, dkk.

Ciri-ciri yang melekat pada orang yang memiliki kecerdasan Verbal-Linguistik sebagai berikut: 

  1. Senang membaca semua bentuk bacaan. 
  2. Senang mencoret-coret dan menulis ketika mendengar atau berbicara. 
  3. Sering memaparkan pandangan-pandangan cemerlang di hadapan orang lain. 
  4. Sering teka-teki silang. 
  5. Mampu menulis lebih baik dari teman seusianya.

b. Kecerdasan logika-matematik 

Kecerdasan logika-matematik berkaitan dengan kemampuan mengolah angka dan kemahiran menggunakan logika. Anak-anak yang cerdas dalam logika-matematik menyukai kegiatan bermain yang berkaitan degan berpikir logis, seperti mencari jejak (maze), menghitung benda-benda, dan timbang menimbang. Anak-anak yang cerdas dalam logika-matematik mudah menerima dan memahami penjelasan sebab-akibat.

Kecerdasan logika-matematika bersemayam di otak depan sebelah kiri dan parietal kanan. Kecerdasan logika-matematika dikategorikan sebagai kecerdasan akademik, karena dukungannya yang tinggi dalam keberhasilan studi seseorang. Dalam tes IQ, kecerdasan logika-matematika sangat diutamakan.

c. Kecerdasan Visual-Spasial 

Kecerdasan Visual-Spasial merupakan salah satu bagian dari multiple intelligence yang terdiri dari sembilan jenis kecerdasan yang berhubungan erat dengan kemampuan untuk memvisualisasikan gambar di dalam pikiran seseorang atau untuk anak dimana dia berpikir dalam bentuk visualisasi dan gambar untuk memecahkan sesuatu masalah atau menemukan jawaban. Anak yang memiliki kecerdasan Visual-Spasial mereka mampu memanipulasi dan menciptakan gambar, mereka lebih berpikir secara konseptual untuk memahami sesuatu.

Materi program dalam kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan Visual-Spasial antara lain: Video, gambar, menggunakan model atau diagram. Ciri-ciri dalam mengembangkan kecerdasan Visual-Spasial pada anak usia dini adalah: 

  1. Menggambar dan melukis. 
  2. Mencoret-coret. 
  3. Menyanyi, mengenal dan membayangkan suatu konsep.
  4. Membuat prakarya.
  5. Melakukan permainan konstruktif dan kreatif.

d. Kecerdasan Jasmaniah-Kinestetik 

Kecerdasan Jasmaniah-kinestetik berkaitan dengan kemampuan menggunakan gerak seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaannya serta keterampilan mempergunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu. Kecerdasan ini meliputi kemampuan fisik yang spesifik, seperti koordinasi, keseimbangan, keterampilan, kekuatan, kelenturan, kecepatan dan sentuhan.

Anak yang cerdas dalam gerak-kinestetik terlihat menonjol dalam kemampuan fisik daripada anak seusianya. Mereka suka bergerak, tidak bisa duduk lama-lama dan mengetuk-ngetuk sesuatu. Mereka cepat menguasai tugas-tugas motorik halus seperti menggunting, melipat, menjahit dan menempel. Kecerdasan ini memiliki wujud relatif bervariasi, bergantung ada komponen-komponen kekuatan dan fleksibilitas seperti tari dan olah raga.

Karakteristik orang yang memiliki kecerdasan jasmaniah-kinestetik sebagai berikut: 

  1. Senang membuat sesuatu dengan menggunakan tangan secara langsung. 
  2. Merasa bosan dan tidak tahan untuk duduk pada waktu yang relatif lama. 
  3. Ketika belajar, selalu menyertakan aktivitas yang bersifat demonstrastif. 
  4. Senang belajar dengan strategi learning by doing. 
  5. Selalu mengisi waktu luang dengan aktivitas-aktivitas seni.

e. Kecerdasan Musikal 

Kecerdasan musikal berkaitan dengan kemampuan menangkap bunyi-bunyi, membedakan, mengubah dan mengekspresikan diri melalui bunyi-bunyi atau suara-suara yang bernada dan berirama. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada irama, melodi dan warna suara. Anak yang menonjol intelegensi musikalnya sangat peka terhadap suara dan music, Anak akan dengan mudah belajar dan main musik secara baik. Bahkan sejak kecil anak sering kali mereka sudah dapat menangkap dan mengerti struktur musik.

Anak yang memiliki kecerdasan musikal suka menyanyi bersenandung, atau bersiul. Mereka mudah mengenali suara-suara di sekitarnya seperti suara sepeda motor, burung, kucing dan anjing. Kecerdasan musikal memiliki peran yang cukup signifikan dalam perkembangan anak. Beberapa filosofi memasukkan musik sebagai bagian yang penting dalam pendidikan. Musik memberikan efek yang meredakan setelah melakukan aktivitas fisik, membangkitkan kembali energi yang terkuras, dan mengurangi stres yang biasanya menyertai anak-anak setelah melakukan tugas-tugas akademik yang berat.

f. Kecerdasan Intrapersonal 

Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan kita untuk berpikir secara reflektif, yaitu mengacu kepada kesadaran reflektif mengenal perasaan dan proses pemikiran diri sendiri. Kecerdasan ini melibatkan kemampuan untuk secara akurat dan realistis menciptakan gambaran mengenai diri sendiri (kekuatan dan kelemahan); kesadaran akan mood atau kondisi emosi dan mental diri sendiri, kesadaran akan tujuan, motivasi, keinginan, proses berpikir dan kemampuan untuk melakukan disiplin diri, mengerti diri sendiri dan harga diri.

Anak dengan kecerdasan intrapersonal yang berkembang dapat mencatat hal-hal penting yang ada dalam pikiran mereka dan membantu mereka dalam proses pembelajaran. Selain itu mereka juga dapat bekerja secara mandiri. Mereka kadang terlihat malu dan agak introvert atau tertutup. Profesi yang cocok dengan anak yang memiliki kecerdasan intrapersonal yaitu ahli teologi, penulis, motivator, guru dan lain sebagainya.

Karakteristik yang dimiliki oleh anak yang memiliki kecerdasan Intrapersonal adalah: 

  1. Punya kemauan yang kuat dan kepercayaan diri. 
  2. Punya rasa yang realistik tentang kemampuan dan kelemahannya. 
  3. Punya kepekaan akan arah dirinya. 
  4. Dapat belajar kesuksesan dari orang lain. 
  5. Cenderung bekerja sendiri daripada dengan orang lain.

g. Kecerdasan Interpersonal 

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain. Kecerdasan ini melibatkan kepekaan pada ekspresi wajah, suara dan gerakan tubuh dari orang lain dan mampu memberikan respons secara efektif dalam berkomunikasi.

Anak-anak yang berkembang pada kecerdasan interpersonal peka terhadap kebutuhan orang lain. Apa yang dimaksud, dirasakan, direncanakan dan diimpikan orang lain dapat ditangkap melalui pengamatannya terhadap kata-kata, gerik-gerik, gaya bahasa, dan sikap orang lain. Mereka akan bertanya memberi perhatian yang dibutuhkan, member respon yang baik, sensitif suasana hatinya namun mampu bekerja sama dengan baik.

Ciri-ciri anak yang mempunyai kecerdasan interpersonal sebagai berikut: 

  1. Mudah mendapat teman, tidak pemalu. 
  2. Senang berada di sekitar orang-orang. 
  3. Berbagi makanan dan minuman dengan orang lain. 
  4. Menunggu giliran dalam bermain.

h. Kecerdasan Naturalistik 

Kecerdasan Naturalis melibatkan kemampuan mengenali bentuk-bentuk alam di sekitar kita: burung, bunga, pohon, hewan dan fauna. Anak-anak yang sangat kompeten dalam kecerdasan ini merupakan pencinta alam, anak lebih suka berada di alam terbuka, di padang atau di hutan dari pada terkurung dalam sekolah, namun jika tugas sekolah melibatkan kupu-kupu, binatang atau bentuk alam sekitar maka motivasi anak kemungkinan besar akan melambung tinggi. Anak-anak akan lebih senang berkebun, menghabiskan waktu dekat akuarium dan akrab dengan hewan peliharaan.

Karakteristik anak yang memiliki kecerdasan Naturalis adalah: 

  1. Punya kemampuan klasifikasi. 
  2. Menyukai flora dan fauna serta alam semesta. 
  3. Suka berjalan-jalan di alam bebas menikmati alam. 
  4. Menyukai kelestarian lingkungan.

i. Kecerdasan Eksistensial-Spiritual 

Kecerdasan Eksistensial adalah kemampuan untuk menempatkan diri dalam hubungannya dengan suatu kosmos yang tak terbatas dan sangat kecil serta kapasitas untuk menempatkan diri dalam hubungannya dengan fitur-fitur eksistensial dari suatu kondisi manusia seperti makna kehidupan, arti kematian, perjalanan akhir dari dunia fisik dan psikologis, dan pengalaman mendalam tentang cinta kepada orang lain atau perendaman diri secara total dalam suatu karya seni. Anak yang memiliki kecerdasan ini menjadi analitik sekaligus kreatif, logik dan imajinatif, khusus dan umum, senang pada hal yang bersifat detail pada saat yang sama juga suka pada hal yang umum.

Karakteristik yang dimiliki oleh orang yang memiliki kecerdasan Eksistensial-spiritual adalah sebagai berikut: 

  1. Senang berdiskusi tentang kehidupan. 
  2. Memiliki kepekaan pada alam. 
  3. Senang berdarmawisata ke alam, kebun binatang. 
  4. Senang ketika belajar ekologi, alam dan binatang. 
  5. Mengerjakan dengan baik topik-topik yang melibatkan sistem kehidupan binatang.

Prinsip-prinsip Kecerdasan Majemuk 

Menurut Musfiroh (2008), prinsip-prinsip dalam pengembangan kecerdasan majemuk adalah sebagai berikut: 

  1. Tidak ada kecerdasan yang dianggap lebih bernilai atau lebih baik, semuanya sederajat. 
  2. Setiap manusia memiliki sembilan kecerdasan ini, hanya saja kadarnya tidak sama persis. Semua kecerdasan itu berpotensi untuk dikembangkan secara optimal. 
  3. Setiap jenis kecerdasan akan saling bekerja sama dalam aktivitas manusia. Sebuah aktivitas mungkin bisa memerlukan satu kecerdasan atau mungkin lebih. 
  4. Semua jenis kecerdasan tersebut ditemukan di seluruh atau semua lintas kebudayaan di seluruh dunia dan kelompok usia. 
  5. Perkembangan alami kecerdasan dimulai dengan kemampuan membuat pola dasar. Sebagai contoh kecerdasan visual-spasial akan dimulai dengan kemampuan pengaturan tiga dimensi. Sementara kecerdasan musik ditanda dengan kemampuan membedakan tinggi rendah nada.
  6. Kecerdasan diekspresikan melalui pengejaran profesi atau hobi pada usia dewasa. Sebagai contoh, seorang dengan kecerdasan kecerdasan logika-matematika akan dimulai dengan kemampuan membuat pola dasar pada masa balita, berkembang menjadi penguasaan simbolik pada masa anak-anak, dan mencapai puncak kecerdasannya pada usia dewasa sebagai ahli matematika, akuntan, atau ilmuwan.
  7. Kecerdasan anak memiliki kemungkinan berada pada kondisi berisiko sehingga apabila tidak memperoleh dukungan yang baik maka akan mengalami kegagalan pada tugas yang memerlukan kecerdasan tersebut.

Menurut Suparno (2004), beberapa prinsip dalam membantu pengembangan kecerdasan majemuk pada siswa adalah sebagai berikut: 

  1. Pendidikan harus memperhatikan semua kemampuan intelektual. Maka, mengajar tidak hanya terfokus pada kemampuan dari intelligence yang lain. Kemampuan yang hanya logika dan bahasa tidak cukup untuk menjawab persoalan manusia secara menyeluruh. Perlu dikenalkan pula intelligence yang lain. 
  2. Pendidikan seharusnya individual, pendidikan harusnya lebih personal, dengan memperhatikan intelligence setiap siswa, mengajar dengan cara, materi dan waktu yang sama, jelas tidak menguntungkan bagi siswa yang berbeda intelligence-nya, jadi, guru perlu banyak cara untuk membantu siswa. 
  3. Pendidikan harus menyemangati siswa untuk dapat menentukan tujuan dan program belajar mereka. Siswa perlu diberi kebebasan untuk menggunakan cara belajar dan cara kerja sesuai dengan minat mereka. 
  4. Sekolah harus menyediakan sarana dan fasilitas yang dapat dipergunakan siswa untuk melatih kemampuan intelektual mereka berdasarkan intelligence majemuk. 
  5. Evaluasi belajar harus lebih konstektual dan bukan tes tertulis saja. Evaluasi lebih harus berupa pengalaman lapangan langsung dan dapat diamati bagaimana performa siswa, apakah langsung maju atau tidak.
  6. Pendidikan sebaiknya tidak dibatasi di dalam gedung sekolah, intelligence majemuk memungkinkan juga dilaksanakan di luar sekolah, lewat masyarakat, kegiatan ekstra, serta kontak dengan orang luar dan para ahli.

Daftar Pustaka

  • Gardner, Howard. 1983. Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: Basic Books.
  • Gardner, Howard. 1999. Intelligence Reframed. New York: Basic Books.
  • Sujiono, Yuliani N, dkk. 2004. Metode Pengembangan Kognitif. Jakarta: Universitas Terbuka.
  • Yaumi, Muhammad. 2016. Pendidikan Karakter (Landasan, Pilar & Implementasi). Jakarta: Prenada Media.
  • Musfiroh, Takdiroatun. 2008. Perkembangan Kecerdasan Majemuk. Jakarta: UniversitasTerbuka.
  • Suparno, Paul. 2004. Teory Intelligensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius.
PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Multiple Intelligeces / Kecerdasan Majemuk. Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2022/08/multiple-intelligeces-kecerdasan-majemuk.html