Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Partisipasi Anggaran - Pengertian, Manfaat, Jenis dan Indikator

Partisipasi anggaran adalah tingkat keikutsertaan, keterlibatan serta pengaruh individu di dalam suatu organisasi dalam menentukan, menyusun dan pengembangan suatu anggaran guna mencapai tujuan operasional yang sasaran kinerjanya dapat dievaluasi secara periodik. Partisipasi anggaran merupakan kesempatan seorang bawahan untuk ikut berpartisipasi dalam proses penyusunan anggaran pada suatu organisasi.

Partisipasi Anggaran - Pengertian, Manfaat, Jenis dan Indikator

Partisipasi anggaran merupakan salah satu pendekatan bottom-up dalam proses penyusunan anggaran, dimana aliran data anggaran dalam suatu sistem partisipasi berawal dari tingkat tanggung jawab yang lebih rendah kepada tingkat tanggung jawab yang lebih tinggi. Partisipasi anggaran dalam menentukan target anggaran membutuhkan peran aktif dimana atasan dan bawahan ikut terlibat.

Partisipasi anggaran adalah adanya keikutsertaan para manajer dan bawahan secara komunikatif dalam proses penyusunan anggaran, dimana informasi yang dibutuhkan para manajer dapat diberikan oleh para bawahan secara aktual sehingga manajer dapat mengambil keputusan yang baik dalam suatu anggaran tanpa mementingkan kepentingan manajer saja tapi juga bawahan dan mencakup perusahaan secara keseluruhan. Partisipasi dalam penyusunan anggaran diperlukan untuk menyelaraskan tujuan setiap bagian dalam organisasi secara keseluruhan, dengan harapan kinerja yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan oleh organisasi.

Pengertian Partisipasi Anggaran

Berikut definisi dan pengertian partisipasi anggaran dari beberapa sumber buku dan referensi:

  • Menurut Nafarin (2012), partisipasi anggaran adalah tingkat seberapa jauh keterlibatan dan pengaruh individu di dalam menentukan dan menyusun anggaran yang ada di dalam divisi atau bagiannya, baik secara periodik maupun tahunan. 
  • Menurut Nurrasyid (2015), partisipasi anggaran adalah seberapa jauh keterlibatan dan pengaruh individu dalam proses penyusunan anggaran dengan adanya partisipasi anggaran maka dapat terjadi keselarasan tujuan organisasi.
  • Menurut Hansen and Mowen (2013), partisipasi anggaran adalah pendekatan penganggaran yang memungkinkan para manajer yang akan bertanggungjawab atas kinerja anggaran, untuk berpartisipasi dalam pengembangan anggaran, partisipasi anggaran mengkomunikasikan rasa tanggung jawab kepada para manajer tingkat bawah dan mendorong kreativitas. 
  • Menurut Puspaningsih (2002), partisipasi anggaran adalah suatu proses yang individu-individu di dalamnya terlibat dan mempunyai pengaruh atas penyusunan target anggaran, yang kinerjanya akan dievaluasi, dan mungkin dihargai atas dasar pencapaian target anggaran mereka.
  • Menurut Nurfaizah (2007), partisipasi anggaran adalah keikutsertaan dan tanggung jawab di dalam pengambilan keputusan baik manajer tingkat menegah dan manajer tingkat bawah, untuk menyusun suatu anggaran guna mencapai tujuan operasional dan sasaran kinerja dimasa yang akan datang. 
  • Menurut Mulyadi (2010), partisipasi anggaran adalah keikutsertaan operating managers dalam memutuskan bersama dengan komite anggaran mengenai rangkaian kegiatan di masa yang datang yang akan ditempuh oleh operating managers tersebut dalam pencapaian sasaran anggaran. 

Manfaat Partisipasi Anggaran 

Menurut Hansen and Mowen (2013), partisipasi anggaran mendorong kreativitas serta meningkatkan tanggung jawab dan tantangan manajer level bawah dan mencegah yang mengarah pada tingkat kinerja yang lebih tinggi. Keikutsertaan para manajer level menengah dan bawah dalam penentuan anggaran akan mendapatkan keputusan yang lebih realistis sehingga tercipta kesesuaian tujuan perusahaan yang lebih besar.

Menurut Ikhsan dan Ishak (2005), manfaat dari partisipasi anggaran adalah:

  1. Partisipasi dapat meningkatkan moral dan mendorong inisiatif yang lebih besar pada semua tingkat manajemen. 
  2. Meningkatkan rasa kesatuan kelompok, yang pada gilirannya cenderung untuk meningkatkan kerja sama antar anggota kelompok dalam penetapan tujuan. 
  3. Menurunkan tekanan dan kegelisahan yang berkaitan dengan anggaran. 
  4. Menurunkan ketidakadilan yang dipandang ada dalam alokasi sumber daya organisasi antar subunit organisasi, serta reaksi negatif yang dihasilkan dari persepsi semacam itu.

Jenis-Jenis Partisipasi Anggaran 

Proses penyusunan anggaran bisa dari atas ke bawah (Top-Down), bisa juga sebaliknya yaitu dari bawah ke atas (Bottom-Up) dan ada pula yang menggunakan gabungan keduanya. Partisipasi dalam penyusunan anggaran merupakan keterlibatan yang meliputi pemberian pendapat, pertimbangan dan usulan dari bawahan kepada pimpinan dalam mempersiapkan dan merevisi anggaran.

Menurut Sayputri (2017), terdapat tiga jenis partisipasi anggaran, yaitu sebagai berikut:

  1. Atasan ke bawahaan (top-down approach). Manajemen senior menetapkan anggaran bagi tingkat yang lebih rendah, sehingga pelaksana anggaran hanya melakukan apa saja yang telah disusun. 
  2. Bawahan ke atasan (bottom-up approach). Anggaran sepenuhnya disusun oleh bawahan dan selanjutnya diserahkan ke atasan untuk mendapatkan pengesahan. 
  3. Perpaduan antara top-down dan bottom-up. Perpaduan antara top down dan buttom-up ini menekankan pada perlunya kerja sama antara atasan dan bawahan untuk menetapkan anggaran yang terbaik agar tujuan organisasi tercapai.

Setiap organisasi biasanya menentukan jenis pendekatan dalam proses penganggaran disesuaikan dengan kebutuhan. Alasannya bisa karena histori atau kebijakan manajemen. Karena partisipasi anggaran memiliki dampak positif dan negatif, organisasi seharusnya juga mempertimbangkan hal tersebut sebelum menentukan jenis pendekatan dalam proses penganggarannya. Jika hal ini diabaikan, tujuan organisasi bisa jadi tidak dapat sepenuhnya tercapai.

Indikator Partisipasi Anggaran 

Indikator partisipasi anggaran bisa dilihat dari karakteristik partisipasi anggaran yaitu keterlibatan manajer dan atasan dalam proses penyusunan anggaran. Pada dasarnya tidak terdapat indikator-indikator yang sangat jelas mengenai partisipasi anggaran, karena hal tersebut sangat berkaitan dengan sikap dan perilaku manusia.

Adapun menurut Soobaroyen (2005), indikator-indikator yang dapat digunakan dalam mengukur partisipasi anggaran adalah sebagai berikut: 

  1. Keikutsertaan dalam penyusunan anggaran. 
  2. Kontribusi dalam penyusunan anggaran yang menjadi tanggung jawabnya.
  3. Pengaruh manajer dalam penentuan jumlah anggaran final yang menjadi tanggung jawabnya.
  4. Alasan atasan dalam merevisi anggaran yang disusun atau diusulkan manajer.
  5. Frekuensi manajer untuk mendiskusikan anggaran yang diusulkan kepada atasan. 
  6. Frekuensi atasan meminta pendapat atau usulan manajer ketika menyusun anggaran.

Menurut Sinaga (2013), indikator partisipasi anggaran antara lain yaitu sebagai berikut: 

  1. Keterlibatan dalam penyusunan anggaran. Adanya hak untuk mengajukan usulan anggaran dalam organisasi tersebut sesuai dengan tanggung jawab yang dimilikinya.
  2. Pengaruh terhadap penetapan anggaran. Besarnya pengaruh dalam hal ini menunjukkan seberapa besar peran dan keikutsertaan yang diberikan karyawan terhadap keputusan anggaran final.
  3. Pentingnya usulan anggaran. Kemampuan individu dalam memberikan usulan/pendapat dari bawahan diharapkan dapat memberikan manfaat kepada organisasi dalam mencapai tujuan organisasi. 
  4. Kelogisan dalam anggaran. Kadang anggaran dibuat berdasarkan taksiran dan asumsi, sehingga mengandung unsur ketidak-pastian. Oleh karena itu, diperlukan ketelitian dan keyakinan dalam membuat anggaran agar anggaran tersebut logis sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Kelebihan dan Kekurangan Partisipasi Anggaran 

a. Kelebihan Partisipasi Anggaran 

Menurut Garrison (2000), kelebihan adanya partisipasi anggaran adalah: 

  1. Setiap orang pada semua tingkatan organisasi diakui sebagai anggota tim yang pandangan dan penilaiannya dihargai oleh manajemen puncak. 
  2. Perkiraan anggaran disiapkan oleh manajer level bawah yang lebih akurat dan dapat diandalkan dari perkiraan yang disiapkan oleh manajer level atas yang memiliki pengetahuan kurang detail mengenai pasar dan operasi sehari-hari. 
  3. Motivasi pada umumnya lebih tinggi ketika individu berpartisipasi dalam menetapkan tujuan mereka sendiri dari pada ketika tujuan yang dipakai dipaksakan dari atasan. 
  4. Manajer yang tidak mampu memenuhi anggaran yang dipaksakan oleh atasan akan selalu mengatakan bahwa anggaran tidak realistis dan mustahil untuk dicapai.

b. Kekurangan Partisipasi Anggaran 

Menurut Hansen dan Mowen (2013), kekurangan pelaksanaan partisipasi anggaran adalah: 

  1. Menetapkan standar yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Target yang dicapai pada anggaran cenderung menjadi tujuan manajer saat ikut berpartisipasi dalam pembuatan anggaran. Penetapan tujuan yang terlalu rendah bisa mengakibatkan penurunan tingkat kinerja manajer, namun penetapan tujuan anggaran yang terlalu tinggi bisa menyebabkan kegagalan untuk mencapai standar dan membuat frustasi manajer yang bisa mengarah pula pada penurunan tingkat manajer.
  2. Membuat kelonggaran dalam anggaran (sering disebut sebagai menutupi anggaran). Partisipasi anggaran dapat menciptakan kesempatan bagi para manajer untuk membuat kelonggaran dalam anggaran (budgetery slack) atau senjangan anggaran. Senjangan anggaran dalam jumlah yang cukup besar dapat merugikan perusahaan, karena sumber daya yang seharusnya bisa dimanfaatkan secara produktif tidak dapat dilakukan karena telah terikat pada bagian lain yang sebenarnya tidak membutuhkan sumber daya tersebut.
  3. Partisipasi semu. Partisipasi semu akan terjadi apabila manajemen puncak menerapkan pengendalian total atas proses penganggaran, sehingga hanya mencari partisipasi semu dari manajer tingkat bawah. Partisipasi semacam ini tidak akan mendatangkan manfaat dari anggaran partisipasi sesungguhnya karena manajemen puncak hanya mendapatkan persetujuan formal dari manajer tingkat bawah, bukan untuk mencari input yang sebenarnya.

Daftar Pustaka

  • Nafarin, M. 2012. Penganggaran Perusahaan. Jakarta: Salemba Empat.
  • Nurrasyid, M.N. 2015. Pengaruh Budgetary Participation, Information Asymmetry, Budget Emphasis dan Job Relevant Information Terhadap Budgetary Slack (Studi Empiris Pada Sekolah Menengah Atas Di Tangerang Selatan). Jakarta: UIN Jakarta.
  • Hansen, D.R., dan Mowen, M. 2013. Akuntansi Manajerial, Buku 1. Jakarta: Salemba Empat.
  • Puspaningsih, Abriyani. 2002. Pengaruh Partisipasi Dalam Penyusunan Anggaran Terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja Manajer. Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia.
  • Mulyadi. 2010. Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.
  • Ikhsan, Arfan dan Ishak, Muhammad. 2005. Akuntansi Keprilakuan. Jakarta: Salemba Empat.
  • Sayputri, Meiliana. 2017. Pengaruh Partisipasi Anggaran terhadap Kinerja Manajerial dengan Komitmen Organisasi dan Locus of Control sebagai Variabel Moderating (Studi Kasuspada Pemerintahan Kota Bandar Lampung). Lampung: Universitas Lampung.
  • Soobaroyen, Teeroven. 2005. Management Control System and Dysfunctional Behaviour: An Emprical Investigation. United Kingdom: University of Wales, Aberystwyt.
  • Sinaga, Mardongan Tua. 2013. Pengaruh Partisipasi Anggaran terhadap Senjangan Anggaran dengan Locus Of Control dan Budaya Organisasi Sebagai Variabel Pemoderasi. Padang: Universitas Negeri Padang.
  • Garrison. 2000. Akuntansi Manajerial. Jakarta: Salemba Empat.
PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Partisipasi Anggaran - Pengertian, Manfaat, Jenis dan Indikator. Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2022/08/partisipasi-anggaran.html