Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Storytelling (Pengertian, Jenis, Tahapan dan Manfaat)

Storytelling adalah sebuah seni dari keterampilan bernarasi atau bercerita yang dilakukan secara lisan kepada orang lain yang menggambarkan peristiwa yang sebenarnya maupun berupa fiksi yang berisi sebuah pesan, informasi, gagasan atau hanya sebuah dongeng mengenai pembelajaran tentang kehidupan.

Storytelling (Pengertian, Jenis, Tahapan dan Manfaat)

Storytelling merupakan kegiatan menceritakan kembali sebuah cerita secara lisan kepada orang lain yang pada umumnya adalah anak-anak dengan tujuan untuk menyampaikan isi pikiran, perasaan dan gagasan. Kegiatan storytelling mampu membawa anak untuk berimajinasi dan berfantasi terhadap cerita dibawakannya sehingga anak mampu mengkreasikan sesuatu berdasarkan khayalan mereka.

Storytelling merupakan sarana penyampaian nilai pendidikan yang dikemas secara menarik sehingga anak dapat memahami isi yang disampaikan dalam cerita tersebut. Storytelling dapat menjadi motivasi untuk mengembangkan daya kesadaran dan memperluas imajinasi anak.

Pengertian Storytelling 

Berikut definisi dan pengertian storytelling dari beberapa sumber buku dan referensi: 

  • Menurut Oliver (2008), storytelling adalah sebuah seni yang menggambarkan peristiwa yang sebenarnya maupun berupa fiksi dan dapat disampaikan menggunakan gambar ataupun suara, sedangkan sumber lain mengatakan bahwa storytelling merupakan penggambaran tentang kehidupan yang dapat berupa gagasan, kepercayaan, pengalaman pribadi, pembelajaran tentang hidup melalui sebuah cerita. 
  • Menurut Asfandiyar (2007), storytelling adalah sebuah seni bercerita yang dapat digunakan sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai pada anak yang dilakukan tanpa perlu menggurui sang anak. 
  • Menurut Nurbiana, dkk (2005), storytelling adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang secara lisan kepada orang lain dengan alat atau tanpa alat tentang apa yang harus disampaikan dalam bentuk pesan, informasi atau hanya sebuah dongeng yang untuk didengarkan dengan rasa menyenangkan, oleh karena orang yang menyajikan cerita tersebut menyampaikannya dengan menarik.
  • Menurut Nurcahyani (2010), storytelling adalah sebuah seni atau seni dari sebuah keterampilan bernarasi dari cerita-cerita dalam bentuk syair atau prosa, yang dipertunjukkan atau dipimpin oleh satu orang di hadapan audience secara langsung dimana cerita tersebut dapat dinarasikan dengan cara diceritakan atau dinyanyikan, dengan atau tanpa musik, gambar, ataupun dengan iringan lain yang mungkin dapat dipelajari secara lisan, baik melalui sumber tercetak, ataupun melalui sumber rekaman mekanik.

Jenis-Jenis Storytelling 

Menurut Asfandiyar (2007), storytelling dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:

a. Fabel 

Fabel adalah cerita tentang kehidupan binatang yang digambarkan dapat berbicara seperti manusia. Kisah dari binatang ini diperagakan seolah-olah mereka berada dalam kehidupan manusia. Ada yang berkepribadian baik, buruk, kurang baik, atau pun sedang. Konflik yang disajikan juga sangat erat kaitannya dengan yang dialami oleh manusia. Ceritanya pun singkat, padat dan jelas tanpa kerumitan yang hanya akan membuat pendengarnya bosan. Sehingga cerita fabel sangat luwes digunakan untuk menyindir perilaku manusia tanpa membuat manusia terganggu. Misalnya; Kisah Kancil dan Buaya, Cerita lebah dan Semut, Semut dan Kepompong, Buaya yang serakah, dan lain-lain.

b. Legenda 

Legenda atau cerita rakyat adalah cerita yang berasal dari masyarakat dan berkembang dalam masyarakat. Cerita ini terjadi pada masa lampau yang akhirnya menjadi ciri khas setiap bangsa. Cerita ini juga menunjukkan kultur budaya yang beraneka ragam mencakup kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki oleh masing-masing bangsa. Kisah ini dipercaya adanya oleh masyarakat yang dibuktikan dengan adanya data ataupun peninggalan bersejarah. Misalnya saja legenda Banyuwangi, Tangkuban Perahu, Danau Toba, Candi Borobudur, Roro Jonggrang, Keong Mas, Sangkuriang, dan masih banyak yang lainnya.

c. Dongeng 

Dongeng merupakan cerita khayalan dan imajinasi yang tidak benar-benar terjadi. Dongeng berasal dari pemikiran seseorang yang kemudian diceritakan secara turun temurun. Biasanya kisah dongeng dapat membuat pendengarnya terhanyut ke dalam dunia fantasi, mereka seolah-olah berada pada posisi pemeran kisah. Namun, semua itu tergantung pada cara penyampaian pendongeng sehingga bisa membawa pendengar ikut merasakannya. Contoh dongeng seperti; Cinderella, Rapunzel, Putri Salju, dan sebagainya.

Tahapan Storytelling 

Menurut Bunanta (2009), tahapan atau langkah-langkah dalam storytelling adalah sebagai berikut:

a. Persiapan sebelum storytelling 

Hal pertama dan utama yang harus dilakukan yaitu memilih judul yang menarik dan mudah diingat. Untuk memilih judul maka perlu memilah dan memilah dari sebuah bahan cerita. Setelah mendapat cerita maka perlu mendalami karakter-karakter yang ada pada cerita tersebut agar pendongeng memiliki kekuatan.

b. Storytelling berlangsung 

Merupakan tahap terpenting, untuk memulainya maka pendongeng harus menunggu waktu atau kondisi audience tenang atau benar-benar siap untuk menyimak dongeng yang akan disampaikan. Ada beberapa faktor yang dapat menunjang berlangsungnya proses storytelling antara lain: 

  1. Kontak mata. Pendongeng harus mampu menguasai seluruh anak yang ada melalui indra penglihatannya. 
  2. Mimik wajah. Ekspresi atau mimik wajah pendongeng disesuaikan dengan kondisi peran yang sedang dibaca. Seperti halnya ketika sedih maka pendongeng juga menampakkan wajah yang sedih, selain itu bahkan bisa dengan menangis, tersenyum dan bahagia. 
  3. Gerak tubuh. Gestur atau gerak tubuh ini juga penting dimainkan saat bercerita supaya mendukung kisah yang disampaikan. 
  4. Suara. Pelafalan suara ketika bercerita sangat penting, karena menjadi modal utama dalam keberlangsungan kegiatan storytelling. 
  5. Kecepatan. Kecepatan yang dimaksud adalah mengenai pembawaan kisah alur cerita yang harus disesuaikan dengan kemampuan untuk memahami materi anak. 
  6. Alat peraga. Media alat peraga yang dapat digunakan dalam kegiatan storytelling sangat beragam. Misalnya, wayang, boneka jari, boneka tangan, dana masih banyak yang lainnya.

c. Sesudah storytelling selesai 

Tahap ini adalah tahap pendongeng untuk mengevaluasi cerita, mengajak pendengar untuk meneladani nilai-nilai yang diperoleh dari cerita tadi. Selain itu juga bisa mengajukan sebuah pertanyaan atau pun memberikan kesempatan kepada audience yang belum memahami dari kisah tersebut.

Manfaat Storytelling 

Storytelling merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan aspek-aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), sosial, dan aspek konatif (penghayatan) anak-anak. Melalui storytelling, pendengar akan memperoleh pelepasan emosional melalui pengalaman fiktif yang tidak pernah mereka alami dalam kehidupan nyata. Menurut Asfandiyar (2007), beberapa manfaat dari storytelling adalah sebagai berikut:

a. Penanaman nilai-nilai 

Storytelling merupakan sarana untuk mengatakan tanpa mengatakan, maksudnya storytelling dapat menjadi sarana untuk mendidik tanpa perlu menggurui. Pada saat mendengarkan dongeng, anak dapat menikmati cerita dongeng yang disampaikan sekaligus memahami nilai-nilai atau pesan yang terkandung dari cerita dongeng tersebut tanpa perlu diberi tahu secara langsung atau mendikte. Pendongeng hanya mendongengkan tanpa perlu menekankan atau membahas tersendiri mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam cerita dongeng tersebut.

b. Mampu melatih daya konsentrasi 

Storytelling sebagai media informasi dan komunikasi yang digemari anak-anak, melatih kemampuan mereka dalam memusatkan perhatian untuk beberapa saat terhadap objek tertentu. Ketika seorang anak sedang asyik mendengarkan dongeng, biasanya mereka tidak ingin diganggu. Hal ini menunjukkan bahwa anak sedang berkonsentrasi mendengarkan dongeng.

c. Mendorong anak mencintai buku dan merangsang minat baca anak 

Storytelling dengan media buku atau membacakan cerita kepada anak-anak ternyata mampu mendorong anak untuk mencintai buku dan gemar membaca. Anak dapat berbicara dan mendengar sebelum ia belajar membaca. Tulisan merupakan sistem sekunder bahasa, yang pada awal membaca harus dihubungkan dengan bahasa lisan. Oleh karena itu, pengembangan sistem bahasa yang baik sangat penting untuk mempersiapkan anak belajar membaca. Storytelling dapat menjadi contoh yang efektif bagi anak mengenai cara membaca. Storytelling dengan media buku dapat menjadi stimulasi yang efektif, karena pada saat itu minat baca anak mulai tumbuh.

Daftar Pustaka

  • Oliver, Serrat. 2008. Storytelling. United States of America: Reed Elsevier.
  • Asfandiyar, A.Y. 2007. Cara Pintar Mendongeng. Jakarta: Mizan.
  • Nurbiana, Dhieni, dkk. 2005. Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka. 
  • Bunanta, Murti. 2009. Buku Dongeng dan Minat Baca. Jakarta: Murti Bunanta Foundation.
  • Nurcahyani, D. 2010. Pengarah Kegiatan Storytelling Terhadap Pertumbuhan Minat Baca Siswa di TK Bangun 1 Getas Kec.Pabelan. Semarang: Universitas Diponegoro.
PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Storytelling (Pengertian, Jenis, Tahapan dan Manfaat). Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2022/08/storytelling-pengertian-jenis-tahapan-dan-manfaat.html