Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pendidikan Luar Sekolah (PLS) - Pengertian, Ciri, Tujuan dan Jenis

Pendidikan Luar Sekolah (PLS) adalah bentuk penyelenggaraan pendidikan di luar sistem formal, tidak terikat jenjang dan struktur persekolahan dengan memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dengan cara belajar tertentu pula dalam bidang sosial, keagamaan, budaya, ketrampilan, dan keahlian. Pendidikan luar sekolah digunakan sebagai penambah, pelengkap, maupun pengganti yang ada di jalur pendidikan sekolah, sehingga pendidikan luar sekolah diadakan guna untuk penyempurnaan dari pendidikan sekolah.

Pendidikan Luar Sekolah (PLS)

Pendidikan luar sekolah merupakan setiap kesempatan belajar non formal, dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan kehidupan, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai. Pendidikan luar sekolah merupakan program pendidikan dan pengajaran yang bergerak di luar pendidikan formal dalam mengembangkan bidang tertentu dan skill seseorang yang terencana dan terprogram dalam mencapai tujuan pendidikan.

Pendidikan luar sekolah bisa disebut juga sebagai pendidikan masyarakat guna untuk melayani sasaran didik yang dapat disesuaikan oleh lingkungan masyarakat sekitar. Pendidikan luar sekolah dimanfaatkan sebagai penambah ataupun pembentuk keterampilan sehingga program-program yang diselenggarakan pendidikan luar sekolah kebanyakan berbentuk pelatihan untuk meningkatkan keterampilan peserta didik guna untuk menciptakan masyarakat mandiri, aktif dan terampil.

Pengertian Pendidikan Luar Sekolah 

Berikut definisi dan pengertian pendidikan luar sekolah (PLS) dari beberapa sumber buku dan referensi: 
  • Menurut Marzuki (2010), pendidikan luar sekolah adalah proses belajar terjadi secara terorganisasikan di luar sistem persekolahan atau pendidikan formal, baik dilaksanakan terpisah maupun merupakan bagian penting dari suatu kegiatan yang lebih besar yang dimaksudkan untuk melayani sasaran didik tertentu dan belajarnya tertentu pula. 
  • Menurut Joesoef (2004), pendidikan luar sekolah adalah kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan di luar sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar. 
  • Menurut Adikusumo (1986), pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah, dimana seseorang memperoleh informasi-informasi pengetahuan, latihan ataupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap-sikap peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga bahkan masyarakat dan negaranya. 
  • Menurut Ihsan (2001), pendidikan luar sekolah adalah jenis pendidikan yang tidak selalu terikat oleh jenjang dan struktur persekolahan, tetapi dapat berkesinambungan. Pendidikan luar sekolah menyediakan program pendidikan yang memungkinkan terjadinya perkembangan peserta didik dalam bidang sosial, keagamaan, budaya, ketrampilan, dan keahlian. 
  • Menurut Saleh, dkk (2020), pendidikan luar sekolah adalah bentuk dari perkembangan penyelenggaraan pendidikan secara luas, bahwa pendidikan tidak hanya kegiatan yang terorganisir disekolah tetapi juga pendidikan di luar, karena pada hakikatnya pendidikan yang sebenarnya kehidupan dan sekolah hanya bagian kecil yang dibatasi oleh jenjang umur dan disiplin.

Ciri-ciri Pendidikan Luar Sekolah 

Pendidikan luar sekolah lebih kepada praktisi agar warga belajar mampu menerapkan dalam pekerjaannya, tidak memandang usia, tidak di bagi atas jenjang, waktu penyampaian yang singkat karena rata-rata dari peserta didik pendidikan luar sekolah adalah orang dewasa yang sebagian dari waktu kesehariannya digunakan untuk bekerja.

Menurut Joesoef (2004), pendidikan luar sekolah mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan pendidikan sekolah. Keduanya saling menunjang dan melengkapi satu sama lain. Adapun ciri-ciri dari pendidikan luar sekolah adalah sebagai berikut: 

  1. Pada umumnya tidak dibagi atas jenjang. 
  2. Waktu penyampaian program lebih pendek. 
  3. Usia siswa di sesuatu kursus tidak perlu sama. 
  4. Para siswa umumnya berorientasi studi jangka pendek, praktis, agar segera dapat menerapkan hasil pendidikannya dalam praktik kerja (berlaku dalam masyarakat sedang bermasyarakat sedang berkembang). 
  5. Materi mata pelajaran pada umumnya lebih banyak yang bersifat praktis dan khusus.
  6. Merupakan respons dari pada kebutuhan khusus yang mendesak. 
  7. Credentials (Ijazah, dan sebagainya) umumnya kurang memegang peranan penting terutama bagi penerimaan siswa.

Selain itu beberapa ciri dari pendidikan luar sekolah antara lain adalah sebagai berikut: 

  1. Beberapa bentuk pendidikan luar sekolah yang berbeda ditandai untuk mencapai bermacam-macam tujuan. 
  2. Keterbatasan adalah suatu perlombaan antara beberapa PLS yang dipandang sebagai pendidikan formal dari PLS sebagai pelengkap bentuk-bentuk pendidikan formal. 
  3. Tanggung jawab penyelenggaraan lembaga pendidikan luar sekolah dibagi oleh pengawasan umum/masyarakat, pengawasan pribadi atau kombinasi keduanya. 
  4. Beberapa lembaga pendidikan luar sekolah di disiplinkan secara ketat terhadap waktu pengajaran, Teknologi modern, kelengkapan dan buku-buku bacaan. 
  5. Metode pengajaran juga bermacam-macam dari tatap muka atau guru dan kelompok-kelompok belajar sampai penggunaan audio televisi, unit latihan keliling, demonstrasi, kursus-kursus korespondensi, alat-alat bantu visual. 
  6. Penekanan pada penyebaran program teori dan praktik secara relatif dari pada PLS.
  7. Tidak seperti pendidikan formal, tingkat sistem PLS terbatas yang diberikan kredensial. 
  8. Guru-guru mungkin dilatih secara khusus untuk tugas tertentu atau hanya mempunyai kualifikasi profesional dimana tidak termasuk identitas guru. 
  9. Pencatatan tentang pemasukan murid, guru dan kredensial pimpinan, kesuksesan latihan, membawa akibat peningkatan produksi ekonomi, peningkatan kesejahteraan dan pendapatan peserta.
  10. Pemantapan bentuk PLS mempunyai dampak pada produksi ekonomi dan perubahan sosial dalam waktu singkat dari pada kasus pendidikan formal sekolah. 
  11. Sebagian besar program PLS dilaksanakan oleh remaja dan orang-orang dewasa secara terbatas pada kehidupan dan pekerjaan. 
  12. Karena secara digunakan, PLS membuat lengkapnya pembangunan nasional. Peranannya mencakup pengetahuan, keterampilan dan pengaruh pada nilai-nilai program. 
  13. Diselenggarakan dengan tidak berjenjang, tidak berkesinambungan dan dilaksanakan dalam waktu singkat. 
  14. Karena sifatnya itu sehingga tujuan, metode pembelajaran dan materi yang disampaikan selalu berbeda di masing-masing penyelenggara PLS.

Tujuan dan Fungsi Pendidikan Luar Sekolah 

Menurut Marzuki (2010), tujuan pendidikan luar sekolah adalah supaya individu dalam hubungannya dengan lingkungan sosial dan alamnya dapat secara bebas dan bertanggung jawab menjadi pendorong ke arah kemajuan, gemar, berpartisipasi, memperbaiki kehidupan mereka.

Selain itu, pendidikan luar sekolah juga diharapkan dapat menciptakan pembangunan dengan membuat program-program yang dapat disesuaikan dari lingkungan sekitar, masalah sehari-hari dan potensi yang ada di lingkungan masyarakat, serta menciptakan masyarakat yang terampil dengan memanfaatkan potensi yang ada guna untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Pendidikan luar sekolah memiliki fungsi dalam kaitan dengan kegiatan pendidikan sekolah, kaitan dengan dunia kerja dan kehidupan. Dalam kaitan dengan pendidikan sekolah, fungsi Pendidikan luar sekolah adalah sebagai substitusi, komplemen, dan suplemen. Kaitannya dengan dunia kerja, Pendidikan luar sekolah mempunyai fungsi sebagai kegiatan yang menjembatani seseorang masuk ke dunia kerja. Sedangkan dalam kaitan dengan kehidupan, PLS berfungsi sebagai wahana untuk bertahan hidup dan mengembangkan kehidupan seseorang.

Menurut Saleh, dkk (2020), beberapa fungsi pendidikan luar sekolah adalah sebagai berikut: 

a. Substitusi pendidikan sekolah

Substitusi atau pengganti mengandung arti bahwa PLS sepenuhnya menggantikan pendidikan sekolah bagi peserta didik yang karena berbagai alasan tidak bisa menempuh pendidikan sekolah. Materi pelajaran yang diberikan adalah sama dengan yang diberikan di pendidikan persekolahan.

b. Komplemen pendidikan sekolah 

Pendidikan luar sekolah sebagai komplemen adalah pendidikan yang materinya melengkapi apa yang diperoleh di bangku sekolah. Tidak semua hal yang dibutuhkan peserta didik dalam menempuh perkembangan fisik dan psikisnya dapat dituangkan dalam kurikulum sekolah. Dengan demikian, jalur PLS merupakan wahana paling tepat untuk mengisi kebutuhan mereka.

c. Suplemen pendidikan sekolah 

Pendidikan luar sekolah sebagai suplemen berarti kegiatan pendidikan yang materinya memberikan tambahan terhadap materi yang dipelajari di sekolah. Lulusan pendidikan sekolah perlu menyesuaikan pengetahuan dan keterampilannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang. Hal itu dapat ditempuh dengan melakukannya melalui PLS.

d. Jembatan memasuki dunia kerja 

Pendidikan luar sekolah berfungsi sebagai suplemen bagi lulusan pendidikan sekolah untuk memasuki dunia kerja. Lepas kaitannya dengan pendidikan sekolah, PLS berfungsi sebagai jembatan bagi seseorang memasuki dunia kerja. Seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan keaksaraannya di jalur PLS dan ia belum memiliki pekerjaan, dia memerlukan jenis pendidikan luar sekolah yang bisa membawa ke dunia pekerjaan.

e. Wahana untuk bertahan hidup dan mengembangkan kehidupan 

Bertahan hidup (survival) harus melalui pembelajaran. Tidaklah mungkin seseorang bisa mempertahankan hidupnya tanpa belajar mempertahankan hidup. Demikian pula untuk mengembangkan mutu kehidupannya, seseorang harus melakukan proses pembelajaran. Belajar sepanjang hayat merupakan wujud pertahanan hidup dan pengembangan kehidupan. Pendidikan luar sekolah merupakan bagian dari sistem pendidikan dan belajar sepanjang hayat yang amat strategis untuk pengembangan kehidupan seseorang. Dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah kehidupan itu sendiri.

Jenis-jenis Pendidikan Luar Sekolah 

Menurut Sudjana (1996), pendidikan luar sekolah terdiri dari beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:

a. Pendidikan massa (Mass Education) 

Pendidikan massa yaitu kesempatan pendidikan yang di berikan kepada masyarakat luas dengan tujuan yaitu membantu masyarakat agar mereka memiliki kecakapan dalam hal menulis, membaca, dan berhitung secara berpengetahuan umum yang di perlukan dalam upaya peningkatan taraf hidup dan kehidupan sebagai warga negara.

b. Pendidikan orang dewasa (Adult Education) 

Pendidikan orang dewasa adalah pendidikan yang disajikan untuk membelajarkan orang dewasa. Pendidikan orang dewasa adalah pendidikan yang diperuntukkan bagi orang-orang dewasa dalam lingkungan masyarakat, agar mereka dapat mengembangkan kemampuan memperkaya pengetahuan, meningkatkan kualifikasi teknik dan profesi yang telah dimilikinya, memperoleh cara-cara baru serta mengubah sikap dan perilakunya.

c. Pendidikan peluasan (Extension Education) 

Kegiatan yang diselenggarakan meliputi seluruh kegiatan pendidikan baik yang dilaksanakan di luar sistem pendidikan sekolah yang dilembagakan ataupun yang tidak dilembagakan. Pendidikan luar sekolah dilaksanakan melalui kegiatan belajar-mengajar dan pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan di dalam keluarga.

d. Kelompok Belajar 

Kelompok belajar yaitu salah satu wadah dalam rangka membelajarkan masyarakat. Kelompok belajar adalah upaya yang dilakukan secara sadar dan berencana melalui bekerja dan belajar dalam kelompok belajar untuk mencapai suatu kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi sekarang. Contoh: Kelompok Belajar Paket A, Kelompok Belajar Paket B, Kelompok Belajar Paket C, Kelompok Belajar Usaha.

e. PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) 

PKBM merupakan tempat belajar yang dibentuk dari, oleh, dan untuk masyarakat dalam rangka usaha untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, hoby, dan bakat warga masyarakat. PKBM bertitik tolak dari kebermaknaan dan kebermanfaatan program bagi warga belajar dengan menggali dan memanfaatkan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada di lingkungannya.

f. Majelis Taklim 

Majelis taklim adalah suatu lembaga pendidikan yang dibentuk atas dasar pendekatan dari kebutuhan masyarakat (bottom up approach), dengan kegiatannya lebih berorientasi pada keagamaan, khususnya agama Islam. Melalui majelis taklim dibahas berbagai aspek yang ditinjau dari sudut pandang agama Islam.

g. Satuan Pendidikan yang Sejenis 

Satuan pendidikan yang sejenis adalah satuan yang tidak termasuk pada luar satuan yang sudah dijelaskan di atas. Satuan lainnya di antaranya pesantren, sanggar seni, TKA/TPA. Pesantren adalah lembaga pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan keagamaan. Pondok pesantren adalah suatu lembaga keagamaan yang mengembangkan dan menyebarkan ilmu agama Islam. Sanggar seni lebih ditujukan pada tempat kegiatan khusus dalam beraneka seni yang diikuti anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Sementara itu, TKA/TPA yaitu lembaga pendidikan khusus diperuntukkan bagi anak usia dini dalam bidang keagamaan, khususnya agama Islam.

h. Pendidikan Kecakapan Hidup 

Pendidikan kecakapan hidup adalah kemampuan yang mencakup penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang saling berinteraksi diyakini sebagai unsur penting untuk lebih mandiri. Pendidikan kecakapan hidup berpegang pada prinsip belajar untuk memperoleh pengetahuan (learning to know), belajar untuk berbuat/bekerja (learning to do), belajar untuk menjadi orang yang berguna (learning to be), dan belajar untuk hidup bersama dengan orang lain (learning to live together).

i. Pendidikan Kepemudaan 

Pendidikan kepemudaan adalah program pendidikan yang sasarannya khusus pemuda. Program kepemudaan yang dikembangkan di Indonesia ini contohnya adalah dengan dibentuknya Kelompok Usaha Pemuda Produktif (KUPP). Melalui program KUPP diharapkan para pemuda melalui kemampuan tertentu dalam bidang usaha sehingga dapat meningkatkan taraf hidupnya.

j. Pendidikan Keterampilan 

Program pendidikan keterampilan ditujukan untuk membekali warga belajar dalam bidang keterampilan yang dapat dijadikan bekal usaha. Dengan keterampilan yang dimiliki diharapkan masyarakat dapat meningkatkan kemampuan dirinya untuk peningkatan kesejahteraan hidupnya.

Daftar Pustaka

  • Joesoef, Soelaiman. 2004. Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Marzuki, Saleh, H.M. 2010. Pendidikan Nonformal - Dimensi dalam Keaksaraan, Fungsional, Pelatihan, dan Andragogi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Adikusumo. 1986. Pendidikan Kemasyarakatan. Yogyakarta: Pustaka Adikarya.
  • Ihsan, Fuad. 2001. Dasar-dasar Kependidian Komponen MKDK. Jakarta: Reneka Cipta.
  • Saleh, S., Nasution, T., & Harahap, P. 2020. Pendidikan Luar Sekolah. Yogyakarta: K-Media.
  • Sudjana, Djudju. 1996. Pendidikan Luar Sekolah, Wawasan, Sejarah Perkembangan, Falsafah dan Teori Pendukung Asas. Bandung: Nusantara Press.

PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Pendidikan Luar Sekolah (PLS) - Pengertian, Ciri, Tujuan dan Jenis. Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2022/09/blog-post.html