Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Strategi Pembelajaran Teka-Teki Silang (Crossword Puzzle)

 Teka-teki silang (crossword puzzle) adalah suatu jenis permainan kata dengan template berbentuk segi empat, yang berisi kotak-kotak berwarna hitam dan putih secara mendatar (horizontal) dan menurun (vertikal). Permainan ini menyediakan sejumlah pertanyaan, dengan kata frase atau potongan huruf sebagai kunci untuk mengisi serangkaian kotak-kotak kosong yang disusun sedemikian rupa.

Strategi Pembelajaran Teka-Teki Silang (Crossword Puzzle)

Strategi pembelajaran teka-teki silang adalah salah satu strategi pembelajaran yang memanfaatkan teka-teki silang sebagai media belajarnya. Penggunaan teka-teki silang dalam proses pembelajaran dapat membantu siswa untuk menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan meningkatkan keterlibatan siswa dalam materi.

Strategi pembelajaran teka-teki silang merupakan salah satu metode yang dapat dipakai oleh guru. Strategi ini merupakan pembelajaran aktif yang dapat digunakan sebagai strategi pembelajaran yang baik dan menyenangkan tanpa menghilangkan esensi belajar yang sedang berlangsung. Dalam pembelajaran aktif bermain teka-teki silang tidak hanya guru saja yang aktif di dalam kelas, melainkan peserta didik yang akan terlibat aktif dalam pembelajaran seperti mengajukan pertanyaan, mencari jawaban atas pertanyaan (permasalahan) yang ada, mencari pasangan diskusi, aktif dalam kelompok diskusi, dan sebagainya.

Strategi pembelajaran teka-teki silang dianggap dapat meningkatkan motivasi siswa dalam membaca rujukan buku lain agar siswa mendapat jawaban yang benar dan tepat. Penggunaan teka-teki silang memerlukan pengetahuan dasar peserta didik. Maka sebelum menggunakannya peserta didik harus sudah membaca materi yang akan disampaikan oleh guru, sehingga teka-teki silang ini dapat melatih peserta didik untuk memanfaatkan buku-buku dan sumber lainnya untuk belajar mandiri.

Teka-teki silang dapat meningkatkan kerja sama antar siswa, merangsang siswa untuk aktif berpikir serta membantu siswa untuk lebih teliti dalam menjawab setiap pertanyaan. Penggunaan strategi pembelajaran tersebut akan lebih menyenangkan dan meningkatkan aktivitas siswa sehingga akan berdampak pada hasil belajar siswa.

Pengertian Teka-teki Silang 

Berikut definisi dan pengertian teka-teki silang (crossword puzzle) dari beberapa sumber buku dan referensi: 

  • Menurut Zaini, dkk (2008), teka-teki silang adalah kotak-kotak kosong yang akan diisi dengan kata sebagai jawaban dari pernyataan yang telah ditentukan. Biasanya kata yang tersusun berbentuk mendatar (horizontal) dan menurun (vertikal). 
  • Menurut Munir (2005), teka-teki silang adalah suatu permainan dengan template yang berbentuk segi empat yang terdiri dari kotak-kotak yang berwarna hitam putih, serta dilengkapi dua lajur, yaitu mendatar (Kumpulan kotak yang berbentuk satu baris dan beberapa kolom) dan menurun (Kumpulan kotak satu kolom dan beberapa baris). 
  • Menurut Siberman (2014), teka-teki silang adalah permainan, dimana permainan ini disediakan sejumlah pertanyaan atau kata frase sebagai kunci untuk mengisi serangkaian kotak-kotak kosong yang didesain sedemikian rupa.

Tujuan Strategi Pembelajaran Teka-teki Silang 

Strategi pembelajaran teka-teki silang bertujuan untuk membina dan mengembangkan kemampuan berpikir khususnya dalam ranah kognitif. Strategi ini menggabungkan antara bermain dengan belajar. Melalui permainan tersebut, siswa akan lebih menikmati proses pembelajaran yang berlangsung. Menyertakan permainan dalam strategi pembelajaran merupakan suatu hal yang penting untuk dipertimbangkan, mengingat permainan adalah hal yang sangat menarik bagi siswa.

Pada strategi teka-teki silang, siswa akan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang telah disediakan. Strategi ini membuat peserta didik menjadi aktif dan pembelajaran pun menjadi menyenangkan, dimana peserta didik akan merasa senang dalam belajar ketika ada tantangan yaitu dengan menggunakan permainan. Selain itu, dengan menjawab salah satu soal maka akan memancing siswa untuk dapat menjawab soal lain karena terbantu satu atau lebih huruf dari jawaban sebelumnya sehingga akan lebih termotivasi dalam belajar.

Teka-teki silang dapat digunakan sebagai alternatif strategi pembelajaran yang berdampak pada pengembangan teori serta memotivasi para siswa untuk mengganti kebiasaannya yang hanya menghafalkan materi pada cara belajar mereka. Teka-teki silang dapat meningkatkan kerja sama antar siswa, merangsang siswa untuk aktif berpikir serta membantu siswa untuk lebih teliti dalam menjawab setiap pertanyaan. Penggunaan strategi pembelajaran tersebut akan lebih menyenangkan dan meningkatkan aktivitas siswa sehingga akan berdampak pada hasil belajar siswa.

Strategi pembelajaran teka-teki silang dianggap dapat meningkatkan motivasi siswa dalam membaca rujukan buku lain agar siswa mendapat jawaban yang benar dan tepat. Hal ini dapat meningkatkan keaktifan siswa dan menambah wawasan dalam menganalisis setiap bacaan sehingga dapat melatih daya ingat. Strategi pembelajaran teka-teki silang berhubungan dengan cara untuk mengingat kembali apa yang telah dipelajari siswa dan pengujian kemampuan serta pengetahuan yang telah diperoleh.

Prinsip-prinsip Strategi Pembelajaran Teka-teki Silang 

Strategi pembelajaran Teka-teki Silang (TTS) adalah bagian dari salah satu strategi pembelajaran aktif (Active Learning) yang berakar di model pembelajaran konstruktivisme. Oleh karena itu, prinsip dari strategi pembelajaran Teka-teki Silang (TTS) mengikuti prinsip dari konstruktivisme, yaitu (Mulyasa, 2003): 

  1. Peserta didik harus selalu aktif selama pembelajaran. Proses aktif ini adalah proses membuat segala sesuatu masuk akal. Pembelajaran tidak terjadi melalui proses transmisi tetapi melalui interpretasi. 
  2. Interpretasi selalu dipengaruhi oleh pengetahuan sebelumnya. 
  3. Interpretasi dibantu oleh metode instruksi yang memungkinkan negosiasi pemikiran (bertukar pikiran) melalui diskusi, tanya jawab, dan lain sebagainya. 
  4. Tanya jawab didorong oleh kegiatan inkuiri (ingin tahu) para peserta didik. Jadi kalau peserta didik tidak bertanya, tidak bicara, berarti peserta didik tidak belajar secara optimal.
  5. Kegiatan belajar mengajar tidak hanya merupakan suatu proses pengalihan pengetahuan, tapi juga pengalihan keterampilan dan kemampuan.

Langkah-langkah Strategi Pembelajaran Teka-teki Silang 

Penerapan teka-teki silang (TTS) tidak hanya sebuah kumpulan pertanyaan teka-teki yang dibukukan, akan tetapi memiliki sebuah pemikiran logis serta pemecahan masalah secara umum. Tak sekedar hiburan, tetapi juga dapat mendidik kita maupun siswa untuk terus menambah wawasan dan mengasah kemampuan berpikir cepat.

Menurut Zaini, dkk (2008), langkah-langkah dalam pelaksanaan strategi teka-teki silang adalah sebagai berikut: 

  1. Tuliskan kata-kata kunci, terminologi atau nama yang berhubungan dengan materi pelajaran yang telah diajarkan. 
  2. Susunlah teka-teki silang sederhana yang mencakup beberapa item sebanyak yang diperlukan. Berilah warna hitam pada kotak-kotak yang tidak diperlukan. 
  3. Buatlah contoh-contoh item silang, gunakan macam-macam kategori, seperti; definisi, kategori yang sesuai dengan item, contoh, atau lawan kata. 
  4. Buat pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya disesuaikan dengan kata-kata yang telah dipilih. 
  5. Bagikan teka-teki kepada siswa. Tugas dapat dikerjakan secara individu maupun kelompok.
  6. Berikan batasan waktu dalam mengisi teka-teki tersebut. 
  7. Beri hadiah berupa penghargaan atau nilai kepada kelompok atau individu yang mengerjakan paling cepat dan benar.

Adapun menurut Soeparno (1988), langkah-langkah atau tahapan pelaksanaan pembelajaran dengan strategi teka-teki silang adalah: 

  1. Pertama-tama menentukan kompetensi dasar dan indikator keberhasilan yang akan dibahas.
  2. Membuat kotak-kotak setelah itu diisi dengan jawaban dari setiap pertanyaan (menurun dan mendatar). 
  3. Setiap kotak yang berisikan huruf pertama dari setiap kotak diberi nomor. 
  4. Selanjutnya kita mulai menyusun pertanyaan atau soal yang harus dibuat sedemikian rupa, sehingga kata-kata yang telah tercantum dalam kotak-kotak tersebut adalah jawabannya. 
  5. Setelah semua pertanyaan tersebut tersusun, maka kotak-kotak yang tidak terisi kita tutup dengan warna hitam. 
  6. Langkah selanjutnya menghapus semua huruf yang ada dalam setiap kotak yang ditinggalkan hanya angka atau nomor pada setiap awal kata. 
  7. Langkah terakhir, adalah memindahkan ke kertas lain yang lebih bersih, untuk selanjutnya diperbanyak dengan menfotocopy sesuai dengan keperluan.

Kelebihan dan Kekurangan Strategi Pembelajaran Teka-teki Silang 

Setiap strategi pembelajaran biasanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, begitu juga dengan strategi pembelajaran teka-teki silang.

a. Kelebihan 

Kelebihan atau keunggulan strategi pembelajaran teka-teki silang adalah: 

  1. Relatif mudah penyelenggaraannya, dengan mencurahkan beberapa gagasan, istilah atau kata kunci dari materi yang telah disampaikan. Menyusunnya dalam bentuk pertanyaan yang disusun ke dalam kata kunci dan ditulis silang, horizontal atau vertikal. 
  2. Menyenangkan, teka-teki silang dikemas dalam bentuk permainan, karena pertanyaan-pertanyaan dalam teka-teki silang tersebut bisa diselingi oleh item-item yang menyenangkan yang tidak berkaitan dengan pelajaran. 
  3. Merangsang siswa untuk lebih banyak membaca buku. 
  4. Siswa dapat mengembangkan materi yang lebih luas karena memiliki dorongan emosional dan intelektual yang memungkinkan mereka melampaui tingkat pengetahuan mereka sekarang. 
  5. Lebih mudah mengingat, menghafal dan memahami konsep-konsep pembelajaran.

b. Kekurangan 

Kekurangan atau kelemahan strategi pembelajaran teka-teki silang adalah: 

  1. Sedikitnya waktu pembelajaran yang tersedia, sedangkan materi yang harus diajarkan sangat banyak. 
  2. Penerapan strategi teka-teki silang dalam ruang kelas juga memungkinkan terjadinya diskusi hangat dalam kelas. Adakalanya siswa berteriak atau bertepuk tangan untuk mengungkapkan kegembiraannya ketika mereka mampu memecahkan suatu masalah. 
  3. Banyak mengandung unsur spekulasi, peserta yang lebih dahulu selesai (berhasil) dalam permainan teka-teki silang belum dapat dijadikan ukuran bahwa dia seorang siswa lebih pandai dari lainnya. 
  4. Adanya keengganan dari para guru untuk mengubah paradigma lama dalam pendidikan. Kebanyakan guru sudah merasa nyaman dengan metode konvensional sehingga mereka enggan untuk mencoba hal-hal yang baru karena dianggap merepotkan.

Daftar Pustaka

  • Zaini, Hisyam, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.
  • Siberman, M.L. 2014. Active Learning; 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nuansa.
  • Mulyasa, E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep Karakteristik dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Soeparno. 1988. Media Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: Intan Pariwara.
PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Strategi Pembelajaran Teka-Teki Silang (Crossword Puzzle). Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2022/09/strategi-pembelajaran-teka-teki-silang.html