Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kualitas Laba - Pengertian, Karakteristik, Jenis dan Pengukuran

Kualitas laba adalah informasi laba yang tersedia untuk publik yang memiliki beberapa kriteria stabilitas dan perdiktabilitas, yaitu mencerminkan kinerja operasi perusahaan secara akurat dan dapat dijadikan sebagai indikator yang baik mengenai kinerja perusahaan di masa yang akan datang. Kualitas laba menjadi penting karena mempengaruhi pengambilan keputusan dan dapat digunakan investor untuk menilai sebuah perusahaan.

Kualitas Laba

Laba yang berkualitas adalah laba yang dapat mencerminkan kelanjutan laba (sustainable earnings) di masa depan, yang ditentukan oleh komponen akrual dan kas, serta dapat mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sesungguhnya. Kualitas laba merupakan informasi penting yang dapat digunakan oleh publik sehingga dapat digunakan untuk menilai perusahaan. Laba yang berkualitas dapat mencerminkan kinerja keuangan perusahaan sehingga tingginya kualitas laba yang dimiliki oleh perusahaan dapat membuat keputusan yang diambil oleh investor menjadi lebih tepat.

Laba yang berkualitas adalah laba yang mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sebenarnya. Laba yang tidak menunjukkan informasi yang sebenarnya tentang kinerja manajemen dapat menyesatkan pihak pengguna laporan. Rendahnya kualitas laba akan dapat membuat kesalahan pada keputusan para pengguna laporan keuangan. Dalam jangka panjang tujuan perusahaan adalah mengoptimalkan nilai perusahaan. Namun dengan kondisi laba yang memiliki kualitas rendah akan mengurangi nilai perusahaan.

Pengertian Kualitas Laba 

Berikut definisi dan pengertian kualitas laba dari beberapa sumber buku dan referensi: 

  • Menurut Wulansari (2013), kualitas laba adalah informasi laba yang tersedia untuk publik yang mampu menunjukkan sejauh mana laba dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dan dapat digunakan investor untuk menilai perusahaan. 
  • Menurut Dechow dan Schrand (2004), kualitas laba adalah laba yang mempunyai tiga ciri-ciri yaitu mampu mencerminkan kinerja operasi perusahaan saat ini dengan akurat, mampu memberikan indikator yang baik mengenai kinerja perusahaan di masa depan, dan dapat menjadi ukuran yang baik untuk menilai kinerja perusahaan. 
  • Menurut Subramanyam (2014), kualitas laba adalah laba yang mempunyai stabilitas dan perdiktabilitas dalam menilai laba dan arus kas di masa mendatang.

Karakteristik Kualitas Laba 

Laba yang berkualitas tidak mengandung gangguan atau hanya memiliki sedikit gangguan dalam persepsian di dalamnya. Selain itu, laba dikatakan berkualitas jika laba dapat mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sesungguhnya. Menurut Warianto dan Rusiti (2013), laba yang berkualitas memiliki tiga karakteristik, yaitu: 

  1. Mampu mencerminkan kinerja operasi perusahaan saat ini dengan akurat. 
  2. Mampu memberikan indikator yang baik mengenai kinerja perusahaan di masa depan. 
  3. Dapat menjadi ukuran yang baik untuk menilai kinerja perusahaan.

Jenis-jenis Kualitas Laba 

Menurut Andriani (2011), berdasarkan cara pengukurannya, kualitas laba dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu sebagai berikut:

a. Berdasarkan sifat runtun-waktu laba 

Pengukuran kualitas laba ini meliputi persistensi, prediktabilitas (kemampuan prediksi), dan variabilitas. Atas dasar persistensi, laba yang berkualitas adalah laba yang persistensi yaitu laba yang berkelanjutan, lebih bersifat permanen dan tidak bersifat transitori. Persistensi sebagai kualitas laba ini ditentukan berdasarkan prespektif kemanfaatannya dalam pengambilan keputusan khususnya dalam penilaian ekuitas. Kemampuan prediksi menunjukkan kapasitas laba dalam memprediksi butir informasi tertentu, misalnya laba di masa datang. Dalam hal ini, laba yang berkualitas tinggi adalah laba yang mempunyai kemampuan tinggi dalam memprediksi laba di masa datang. Berdasarkan konstruk variabilitas, laba berkualitas tinggi adalah laba yang mempunyai variabilitas relatif rendah atau laba smooth.

b. Berdasarkan hubungan laba-kas-akrual 

Kualitas laba didasarkan pada hubungan laba-kas-akrual yang dapat diukur dengan berbagai ukuran, yaitu: rasio kas operasi dengan laba, perubahan akrual total, estimasi abnormal/discretionary accruals (akrual abnormal/kebijakan), dan estimasi hubungan akrual-kas. Dengan menggunakan ukuran rasio kas operasi dengan laba, kualitas laba ditunjukkan oleh kedekatan laba dengan aliran kas operasi. Laba yang semakin dekat dengan aliran kas operasi mengindikasi laba yang semakin berkualitas. Dengan menggunakan ukuran perubahan akrual total, laba berkualitas adalah laba yang mempunyai perubahan akrual total kecil. Pengukuran ini mengasumsikan bahwa perubahan total akrual disebabkan oleh perubahan discretionary accruals. Estimasi discretionary accruals dapat diukur secara langsung untuk memnentukan kualitas laba. Semakin kecil discretionary accruals semakin tinggi kualitas laba dan sebaliknya. Selanjutnya, keeratan hubungan antara akrual dan aliran kas juga dapat digunakan untuk mengukur kualitas laba. Semakin erat hubungan antara akrual dan aliran kas, semakin tinggi kualitas laba.

c. Berdasarkan konsep kualitatif kerangka konseptual 

Laba yang berkualitas adalah laba yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan yaitu yang memiliki karakteristik relevansi, reliabilitas, dan komparabilitas/konsistensi. Pengukuran masing-masing kriteria kualitas tersebut secara terpisah sulit atau tidak dapat dilakukan. Oleh sebab itu, dalam penelitian empiris koefisien regresi harga dan return saham pada laba (dan ukuran-ukuran terkait yang lain misalnya aliran kas) diinterprestasi sebagai ukuran kualitas laba berdasarkan karakteristik relevansi dan reliabilitas.

d. Berdasarkan keputusan implementasi 

Kualitas laba berdasarkan keputusan implementasi meliputi dua pendekatan. Dalam pendekatan pertama, kualitas laba berhubungan negatif dengan banyaknya pertimbangan, estimasi, dan prediksi yang diperlukan oleh penyusun laporan keuangan. Semakin banyak estimasi yang diperlukan oleh penyusunan laporan keuangan dalam mengimplementasi standar pelaporan, semakin rendah kualitas laba, dan sebaliknya. Dalam pendekatan kedua, kualitas laba berhubungan negatif dengan besarnya keuntungan yang diambil oleh manajemen dalam menggunakan pertimbangan agar menyimpang dari tujuan standar (manajemen laba). Manajemen laba yang semakin besar mengindikasi kualitas laba yang semakin rendah dan sebaliknya.

Pengukuran Kualitas Laba 

Menurut Schroeder, dkk (2015), terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan dalam menilai kualitas laba, antara lain yaitu sebagai berikut: 

  1. Membandingkan antara prinsip akuntansi yang digunakan oleh perusahaan dengan prinsip yang umum digunakan dalam industri dan oleh kompetisi. Apakah prinsip akuntansi yang digunakan perusahaan akan menggelembungkan laba? 
  2. Meninjau kembali perubahan terbaru dalam prinsip akuntansi dan perubahan dalam estimasi untuk menentukan jika terjadi penggelembungan laba.
  3. Menentukan apakah pengeluaran diskresioner, seperti iklan telah ditunda pengakuannya dengan membandingkannya kepada periode sebelumnya. 
  4. Mencoba untuk menilai apakah sebuah beban seperti beban garansi ditampilkan di laporan laba atau tidak. 
  5. Menentukan biaya penggantian dari inventori dan aset lainnya. Menilai apakah perusahaan menghasilkan aliran kas yang cukup untuk mengganti asetnya.
  6. Meninjau kembali catatan atas laporan keuangan untuk menentukan apakah ada kerugian kontijensi yang mungkin bisa mereduksi laba dan aliran kas masa depan. 
  7. Meninjau kembali hubungan antara penjualan dan piutang untuk menentukan apakah piutang meningkat lebih cepat dari pada penjualan. 
  8. Meninjau kembali diskusi manajemen dan bagian analisis dari laporan tahunan dan opini auditor untuk menentukan opini manajemen terhadap masa depan perusahaan dan untuk mengidentifikasikan berbagai masalah utama akuntansi.

Adapun menurut Subramanyam (2014), langkah-langkah dalam mengukur kualitas laba adalah sebagai berikut: 

  1. Mengidentifikasi dan menilai kunci kebijakan akuntansi. Salah satu langkah penting adalah mengidentifikasi kunci kebijakan akuntansi yang digunakan oleh perusahaan. Apakah kebijakan tersebut beralasan atau tidak? Apakah kebijakan yang digunakan konsisten dengan norma industri? Apa dampak yang akan timbul dari kebijakan tersebut dalam pelaporan keuangan?
  2. Mengevaluasi tingkat fleksibilitas akuntansi. Ini penting untuk mengevaluasi tingkat fleksibilitas yang tersedia dalam menyiapkan laporan keuangan. Tingkat fleksibilitas akuntansi berbeda antara satu industri dengan industri yang lainnya. Sebagai contoh: akuntansi untuk industri yang banyak memiliki aset tidak berwujud, perusahaan yang memiliki volatility yang lebih besar dalam operasi bisnisnya, dan pengakuan pendapatan yang tidak umum memerlukan lebih banyak judgments dan estimasi. 
  3. Menentukan strategi pelaporan. Identifikasi strategi akuntansi yang diadopsi oleh perusahaan. Apakah perusahaan mengadopsi praktik pelaporan yang agresif? Apakah perusahaan mempunyai laporan audit yang bersih? Apakah ada sejarah masalah akuntansi? Apakah manajemen mempunyai reputasi integritas atau tidak? Ini hal yang penting untuk diuji secara insentif untuk manajemen laba dan mencari konsistensi pola indikatif dari itu. Analis butuh untuk mengevaluasi kualitas dari pengungkapan perusahaan. Ketika pengungkapan tidak mewakili kualitas pelaporan keuangan yang baik, yang akan datang, dan detail pengungkapan dapat mengurangi kelemahan dalam pelaporan keuangan.
  4. Identifikasi dan menilai red flags. Satu langkah yang paling berguna dalam mengevaluasi kualitas laba adalah berhati-hati terhadap red flags. Red flags adalah item yang memberi sinyal analis akan potensi masalah yang serius.

Rumus Kualitas Laba 

Kualitas laba dapat diukur salah satunya melalui discreationary accruals (DACC) yang dihitung dengan cara mencari selisih antara total accruals (TAit) dan nondiscreationary accruals (NDAit). Discreationary accruals (DACC) digunakan karena estimasi dari discreationary accruals dapat diukur secara langsung untuk menentukan kualitas laba. Semakin kecil discreationary accruals, maka semakin tinggi kualitas labanya. Adapun DACC dapat diukur dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

a. Menghitung Total Accruals

Rumus Menghitung Total Accruals

Keterangan:

TAit = Total akrual perusahaan i tahun t. 

NIit = Laba bersih perusahaan i tahun t. 

CFOit = Arus kas dari aktivitas operasi bersih perusahaan i tahun t. 

b. Menentukan Tingkat Akrual yang Normal

Rumus Menghitung Nondiscreationary Accruals

Keterangan:

TAit = Total akrual perusahaan i tahun t. 

Ait-1 = Total aset perusahaan i pada periode ke t-1. 

ΔRevt = Perubahan pendapatan perusahaan i pada periode ke t. 

ΔRect = Perubahan piutang perusahaan i pada periode ke t. 

PPEt = Aset tetap perusahaan i pada periode ke t. 

β1 β2 β3 = Koefisien regresi. 

e = error.

c. Menghitung Nondiscreationary Accruals 

Rumus Menentukan Tingkat Akrual yang Normal

Keterangan:

NDAit = Nondiscreationary Accruals perusahaan i pada periode t. 

Ait-1 = Total aset perusahaan i pada periode ke t-1. 

ΔRevt = Perubahan pendapatan perusahaan i pada periode ke t. 

ΔRect = Perubahan piutang perusahaan i pada periode ke t. 

PPEt = Aset tetap perusahaan i pada periode ke t. 

e = error.

d. Menghitung Discreationary Accruals

Rumus Menghitung Total Accruals

Keterangan:

DACCit = Discreataionary accruals perusahaan i pada periode ke t. 

NDAit = Nondiscreataionary accruals perusahaan i pada periode ke t. 

Tait = Total accruals perusahaan i pada periode ke t.

PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Kualitas Laba - Pengertian, Karakteristik, Jenis dan Pengukuran. Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2023/01/kualitas-laba.html