Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Daya Ledak Otot (Power) - Pengertian, Jenis, dan Mekanisme

Daya ledak otot adalah kemampuan otot atau sekelompok otot dalam memaksimalkan gabungan antara kekuatan dan kecepatan kontraksi otot yang dinamis dan eksplosif secara maksimal dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Otot merupakan alat gerak aktif karena kemampuan berkontraksi, otot memendek jika sedang berkontraksi dan hanya terjadi jika otot sedang melakukan kegiatan. Daya ledak otot merupakan salah satu unsur di antara beberapa komponen kondisi fisik, yaitu kemampuan yang dapat ditingkatkan sampai batas tertentu dengan melakukan latihan tertentu yang sesuai.

Daya Ledak Otot

Daya ledak otot merupakan kemampuan otot atau sekelompok otot seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu sependek-pendeknya atau sesingkat-singkatnya. Otot yang kuat mempunyai daya ledak yang besar, hampir dipastikan memiliki nilai kekuatan yang besar. Daya ledak otot merupakan gabungan antara kekuatan dan kecepatan dimana usaha dalam pengerahan gaya otot dalam berkontraksi secara dinamis dan eksplosif. Daya ledak merupakan kombinasi kekuatan dengan kecepatan, sehingga dapat diperhitungkan berdasarkan atas kerja per satuan waktu.

Daya ledak merupakan komponen biomotorik dalam kegiatan suatu aktivitas termasuk olahraga karena daya ledak akan menentukan seberapa jauh seseorang dapat menendang, seberapa keras orang memukul dan seberapa jauh seseorang dapat melompat dari titik awal tolakannya. Daya ledak otot banyak digunakan pada cabang olahraga yang menggunakan unsur kecepatan dan kekuatan sebagai aspek utamanya. Apabila seseorang dapat memanfaatkan daya ledak otot tubuhnya dengan baik, maka kemampuan terbaiknya pasti akan diperoleh, dan apabila semakin cepat seseorang melakukan aksi daya ledak otot maka hasilnya juga cukup baik.

Pengertian Daya Ledak Otot 

Berikut definisi dan pengertian daya ledak (power) otot dari beberapa sumber buku dan referensi: 

  • Menurut Harsono (2001), daya ledak otot adalah kemampuan otot atau sekelompok otot seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimal yang dikerahkan dalam waktu yang sependek-pendeknya atau sesingkat singkatnya.
  • Menurut Ismaryati (2006), daya ledak otot adalah kekuatan atau kecepatan kontraksi otot yang dinamis dan eksplosif serta melibatkan pengeluaran kekuatan otot yang maksimal dalam waktu yang secepat-cepatnya. 
  • Menurut Widiastuti (2015), daya ledak otot adalah gabungan antara kekuatan dan kecepatan atau pengerahan gaya otot maksimum dengan kecepatan maksimum. 
  • Menurut Wahjoedi (2001), daya ledak otot adalah kemampuan tubuh yang memungkinkan otot atau kelompok otot untuk bekerja secara eksplosif. 
  • Menurut Syafrudin (2011), daya ledak otot adalah kemampuan kombinasi kekuatan dan kecepatan yang terealisasi dalam bentuk kemampuan otot untuk mengatasi beban dengan kontraksi yang tinggi. 
  • Menurut Nala (2011), daya ledak otot adalah kemampuan untuk melakukan aktivitas secara tiba-tiba dan cepat dengan mengarahkan seluruh kekuatan dalam waktu yang singkat.

Jenis-jenis Daya Ledak Otot 

Menurut Bompa (1999), daya ledak otot terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

a. Daya ledak asiklik 

Daya ledak asiklik dilakukan pada olahraga yang memiliki suatu gerakan yang secara terus-menerus berubah tanpa adanya kemiripan gerak dengan yang lainnya. Jenis olahraga yang dominan dalam penampilannya terdapat gerakan melempar, menolak dan melompat seperti pada cabang olahraga sepak bola, bola voli, bulu tangkis, loncat indah, bola basket dll.

b. Data ledak siklik 

Data ledak siklik dilakukan pada cabang olahraga yang memiliki gerakan yang sama dan berulang-ulang. Cabang olahraga yang dominan gerakannya terdapat gerak maju pada seluruh badan seperti berenang, balap sepeda, lari cepat, dayung dll.

Fisiologi Daya Ledak Otot 

Setiap otot tubuh manusia terdiri atas campuran dari serabut otot cepat dengan serabut otot lambat. Kecepatan kontraksi dari otot saat melakukan aktivitas sangat dipengaruhi oleh kedua jenis serabut tersebut. Menurut Guyton, dkk (2014), penjelasan dari ke dua jenis serabut otot tersebut adalah sebagai berikut:

a. Serabut lambat (tipe I, otot merah) 

Serabut lambat memiliki ukuran serabut lebih kecil juga dipersarafi oleh serat-serat saraf yang lebih kecil. Dimana sistem pembuluh darah dan kapiler yang lebih luas menyediakan sejumlah oksigen tambahan. Peningkatan pada jumlah mitokondria membantu peningkatan metabolisme oksidatif serta serabut-serabut mengandung sejumlah besar myoglobin yaitu suatu protein yang mengandung zat besi yang serupa dengan hemoglobin. Myoglobin disimpan dengan oksigen sampai diperlukan; hal ini juga sangat mempercepat transpor oksigen ke mitokondria.

b. Serabut cepat (tipe II, otot putih) 

Serabut ini sering digunakan untuk kontraksi otot yang besar. Dimana reticulum sarkoplasma yang luas dapat dengan cepat melepaskan ion-ion kalsium untuk memulai kontraksi. Memiliki sejumlah besar enzim glikolisis untuk pelepasan energi yang cepat melalui proses glikolisis. Memiliki kandungan myoglobin merah yang sedikit pada otot cepat sehingga otot ini dinamakan otot putih.

Dari dua jenis otot tersebut maka jenis serabut otot yang paling banyak digunakan dalam daya ledak otot ialah serabut tipe II, dimana serabut ini dapat menampilkan kontraksi otot yang cepat dan kuat. Adapun mekanisme kontraksi otot dapat digambarkan dan dijelaskan sebagai berikut:

Mekanisme kontraksi dan relaksasi otot

  1. Asetilkolin yang dibebaskan oleh akson neuron motorik menyeberangi celah dan berikatan dengan reseptor/saluran di motor end-plate. 
  2. Terbentuk potensial aksi sebagai respons terhadap pengikatan asetilkolin dan potensial end-plate yang kemudian timbul disalurkan ke seluruh m em bran permukaan dan turun ke tubulus T sel otot. 
  3. Potensial aksi di tubulus T memicu pelepasan Ca2+ dari retikulum sarkoplasma. 
  4. lon kalsium yang dibebaskan dari kantung lateral berikatan dengan troponin di filamen aktin; menyebabkan tropomiosin secara fisik bergeser untuk membuka penutup tempat pengikatan jembatan silang di aktin. 
  5. Jembatan silang miosin berikatan dengan aktin dan menekuk, menarik filamen aktin ke bagian tengah sarkomer; dijalankan oleh energi yang dihasilkan dari ATP. 
  6. Ca2+ secara aktif diserap oleh retikulum sarkoplasma jika tidak ada lagi potensial aksi local.
  7. Dengan Ca2+ tidak lagi terikat ke troponin, tropomiosin bergeser kembali ke posisinya menutupi tempat pengikatan diaktin; kontraksi berakhir; aktin secara pasif bergeser kembali ke posisi istirahatnya semula.

Dari mekanisme penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa semakin cepat rangsangan yang diterima dan semakin cepat reaksi yang terjadi pada filament aktin dan myosin maka membuat kontraksi otot semakin cepat, sehingga daya ledak yang dihasilkan karena penggabungan kekuatan dan kecepatan menjadi lebih besar. Keuntungan dari daya ledak otot adalah melatih sistem saraf dengan merekrut motor unit dan meningkatkan toleransi dari motor neurons terhadap peningkatan frekuensi innervasi. Sehingga membentuk adaptasi dalam motor unit dan membuat koordinasi neuromuscular lebih baik.

Faktor yang Mempengaruhi Daya Ledak Otot 

Daya eksplosif atau daya ledak otot memiliki dua komponen utama, yaitu kekuatan dan kecepatan. Oleh karena itu power/daya eksplosif dapat di manipulasi atau ditingkatkan dengan meningkatkan kekuatan otot tanpa mengabaikan kecepatan. Atau sebaliknya, dapat meningkatkan kecepatan tanpa mengabaikan kekuatan, cara pendekatan seperti ini biasanya dengan memanipulasi atau melatih keduanya secara bersamaan sehingga menghasilkan daya eksplosif yang baik.

Menurut Halim (2011), penjelasan dari dua faktor utama daya ledak otot tersebut adalah sebagai berikut:

a. Kekuatan 

Kekuatan merupakan aspek penting dalam melakukan aktivitas olahraga dimana kekuatan sangat diperlukan dalam meningkatkan prestasi pemain. Kekuatan (strength), adalah kemampuan seseorang dalam mempergunakan ototnya untuk menerima beban sewaktu bekerja atau dapat juga dikatakan kemampuan otot skeletal tubuh untuk melakukan kontraksi atau tegangan maksimal dalam menerima beban sewaktu melakukan aktivitas.

Kekuatan otot sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti; besar kecilnya potongan melintang (potongan morphologid yang tergantung dari proses hyperthropi otot), jumlah fibril otot yang turut bekerja dalam melawan beban sehingga makin banyak fibril otot yang bekerja berarti kekuatan bertambah besar, intervasi otot baik pusat maupun perifer, keadaan zat kimia dalam otot (glokogen, ATP), umur dan jenis kelamin

b. Kecepatan 

Kecepatan (speed) adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kecepatan otot dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: jenis serabut otot yang dibawa sejak lahir dimana serabut otot fast twich baik untuk gerakan kecepatan, koordinasi otot saraf, susunan zat kimia dalam otot, faktor biomekanika misalnya ketrampilan dan kekuatan otot.

Faktor yang mempengaruhi daya ledak otot bila dilihat lebih mendalam terhadap potensi yang dimiliki pada seseorang dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

a. Faktor internal 

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh atlet sendiri di antaranya adalah; jenis kelamin, berat badan, panjang anggota gerak, kebugaran fisik, dan usia. 

  1. Jenis kelamin akan mempengaruhi kekuatan dan kecepatan otot dengan adanya perbedaan hormon testosteron pada laki-laki dan wanita. Perbedaan terjadi sangat mencolok setelah seseorang mengalami pubertas, pada usia 18 tahun ke atas, laki-laki mempunyai kekuatan dua kali lebih besar daripada wanita. 
  2. Pembesaran masa otot dapat meningkatkan kekuatan otot. Kekuatan otot erat kaitannya dengan berat badan, semakin besar berat badan seseorang karena tebal otot yang meningkat, maka kekuatan otot akan bertambah.
  3. Tinggi badan adalah jarak dari alas kaki sampai titik tertinggi pada posisi kepala dalam posisi berdiri. Tinggi badan akan mempengaruhi pertumbuhan organ tubuh lainnya yaitu panjang lengan dan panjang tungkai. 
  4. Kesegaran jasmani seseorang merupakan salah satu parameter dalam memberikan pembebanan latihan, sebab tingkat kesegaran jasmani yang kurang dapat mengakibatkan kelelahan sehingga tidak dapat melakukan pelatihan secara maksimal. 
  5. Perbedaan dan penambahan usia atau umur sangat menentukan kekuatan otot. Tenaga mencapai puncak pada umur 20 tahun. Selain itu usia dapat menunjukkan tingkat kematangan yang dikaitkan dengan pengalaman.

b. Faktor Eksternal 

  1. Suhu lingkungan yang panas akan berpengaruh terhadap aktivitas kerja otot karena sebagian dari volume darah akan dibawa ke kulit untuk mengkompensasi kelebihan panas dan mempercepat terjadinya pengeluaran keringat. Sedangkan suhu lingkungan yang dingin, tubuh akan bereaksi untuk mengimbangi konsentrasi panas tubuh dengan reaksi menggigil, memerlukan energi tambahan.
  2. Kelembaban relatif menentukan proses pelatihan dalam hal kenyamanan pada saat latihan. Kelembaban relatif di Indonesia berkisar antara 70-80%. Kelembaban udara yang cukup tinggi atau di atas 90% akan mempengaruhi kesanggupan pengeluaran panas tubuh akibat aktivitas pelatihan melalui evaporasi. Sedangkan bila kelembaban udara di bawah 80% maka akan mempengaruhi keseimbangan panas tubuh oleh karena metabolisme meningkat akibat adanya aktivitas tubuh untuk mengimbangi suhu dingin sehingga tubuh mengeluarkan energi yang lebih besar untuk menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu lingkungan.

Daftar Pustaka

  • Harsono. 2001. Latihan Kondisi Fisik. Bandung: FPOK UPI.
  • Ismaryati. 2006. Tes dan Pengukuran Olahraga. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
  • Widiastuti. 2015. Tes Dan Pengukuran Olahraga. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  • Wahjoedi. 2001. Landasan Evaluasi Pendidikan Jasmani. Jakarta: Raja Grafindo.
  • Syafrudin. 2011. Ilmu Kepelatihan Olahraga, Teori dan Aplikasinya dalam Pembinaan Latihan. Padang: UNP Press Padang.
  • Nala. 2011. Prinsip Pelatihan Fisik Olahraga. Denpasar: Universitas Udayana.
  • Bompa. T. 1999. Theory and Methodology of Training Human Kinetics. Heslington: York University.
  • Guyton, dkk. 2014. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Saunder Elsevier.
  • Halim, Nur Ichsan. 2011. Tes dan Pengukuran Dalam Bidang Olahraga. Makassar: Universitas Negeri Makassar.