Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Budidaya Ikan Lele

Ikan lele (clarias) adalah jenis ikan air tawar dengan ciri-ciri; tidak bersisik, badan licin agak pipih memanjang, serta memiliki sejenis kumis panjang yang mencuat dari sekitar bagian mulutnya. Ikan lele umumnya memiliki warna kehitaman atau keabu-abuan, memiliki kepalanya keras menulang di bagian atas, dengan mata yang kecil, mulut lebar dan dilengkapi dengan sungut peraba (barbels).

Budidaya Ikan Lele

Ikan lele secara ilmiah terdiri dari banyak spesies dan bermacam-macan sebutan, antara lain: ikan kalang (Sumatra Barat), ikan maut (Gayo dan Aceh), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makassar), ikan cepi (Sulawesi Selatan), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah) atau ikan keli (Malaysia). Sedang di negara Inggris dikenal dengan nama catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish.

Ikan lele disebut juga dengan nama cat fish, karena adanya kumis di sekitar mulutnya. Kumis tersebut merupakan empat pasang sungut peraba (barbels) yang amat berguna untuk bergerak di air yang gelap. Ikan lele memiliki tiga buah sirip tunggal yaitu sirip punggung, sirip ekor, sirip dubur. Lele juga memiliki sirip berpasangan yaitu sirip dada dan sirip perut. Sirip dada dilengkapi dengan sirip yang keras dan runcing yang disebut dengan patil. Patil ini berguna sebagai senjata dan alat bantu untuk bergerak.

Ikan lele mempunyai organ insang tambahan (accesory breathing organ) yang terletak di bagian depan rongga insang, yang memungkinkan ikan untuk mengambil oksigen langsung dari udara. Alat pernapasan ini berwarna kemerahan dan berbentuk seperti tajuk pohon rimbun yang penuh kapiler-kapiler darah. Oleh karena itu, ikan lele dapat hidup dalam kondisi perairan yang mengandung sedikit kadar oksigen.

Adapun klasifikasi ikan lele adalah sebagai berikut:

  • Kingdom: Animalia
  • Filum: Chordata
  • Kelas: Pisces
  • Ordo: Ostariophysi
  • Subordo: Siluroidae
  • Famili: Clariidae
  • Genus: Clarias
  • Spesies: Clarias Sp

Habitat Hidup Ikan Lele 

Habitat ikan lele adalah semua perairan air tawar, misalnya di sungai yang airnya tidak terlalu deras atau di perairan yang tenang (danau, waduk, rawa-rawa) dan genangan-genangan air lainnya (kolam dan air comberan). Dengan organ pernafasan tambahan didepan insangnya, lele dapat memperoleh oksigen langsung dari udara. Karena itulah lele mampu hidup di perairan yang beroksigen rendah. Lele tidak cocok dengan daerah tinggi (700 mdpl) dan tumbuh lambat pada suhu di bawah 20 C. Di sungai, ikan lele lebih banyak dijumpai pada tempat-tempat yang alirannya tidak terlalu deras.

Ikan lele bisa hidup di dataran rendah maupun di daerah yang tingginya maksimal 700 mdpl. Elevasi tanah dari permukaan sumber air dan kolam adalah 5-10%. Tanah yang cocok untuk kolam pemeliharaan yaitu jenis tanah liat/lempung, tidak berporos, dan subur. Ikan ini tidak menyukai tempat-tempat yang tertutup rapat oleh tanaman air, tetapi lebih menyukai tempat yang terbuka. Ini mungkin berhubungan dengan sifatnya yang sewaktu-waktu dapat mengambil oksigen langsung dari udara.

Ikan lele adalah ikan yang hidup di air tawar, ia bersifat nokturnal artinya ia aktif pada malam hari atau lebih menyukai tempat yang gelap. Siang hari, ikan lele ini lebih memilih berdiam di lubang-lubang atau tempat-tempat yang tenang. Ikan lele bisa hidup di perairan yang tenang dan kedalamannya cukup, walaupun kondisi airnya jelek, kotor dan miskin zat O2. Kualitas air yang dianggap baik untuk kehidupan lele adalah suhu yang berkisar antara 20 - 30 C, akan tetapi suhu optimalnya adalah 27 C, kandungan oksigen terlarut > 3 ppm, pH 6.5 - 8 dan NH3 sebesar 0.05 ppm.

Jenis-jenis Ikan Lele 

Menurut Renita dan Suriana (2016), ikan lele memiliki banyak jenis, namun yang dibudidayakan umumnya terdiri dari beberapa jenis, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Lele Lokal 

Lele lokal atau dengan nama latin Clarias Batracus, merupakan spesies endemik sehingga paling sering dijumpai. Disebut lele lokal karena menghuni perairan Indonesia jauh sebelum kemunculan varietas lain. Ciri lele lokal adlaah warna kulitnya hitam pekat, kadang ada yang hitam agak abu-abu, dan ada pula hitam dengan bintik-bintik dengan ciri khas adalah patil beracun. Berdasarkan warnanya, terdapat tiga macam jenis lele lokal di Indonesia yaitu lele hitam agak kelabu, lele putih atau belang putih dan lele merah. Di antara ketiga jenis lele tersebut, lele hitam merupakan jenis yang dibudidaya untuk konsumsi. Untuk lele putih dan lele merah lebih dimanfaatkan sebagai ikan hias.

Lele Lokal atau Lele Jawa

Lele lokal memiliki kecenderungan menjadi predator dan aktif saat malam hari (nokturnal). Ukuran maksimal lele lokal yang pernah ditemui adalah kisaran 60 cm, sedangkan lele dumbo bisa mencapai 100 cm. Masa pembesaran lele lokal relatif lebih lama. Untuk memenuhi berat layak panen membutuhkan waktu 6-8 bulan. Kelebihan lele lokal adalah kualitas dagingnya lebih gurih. Berat rata-rata lele lokal yang siap panen sekitar 200gr/ekor.

b. Lele Dumbo 

Lele dumbo atau dengan nama latin Clarias Gariepinus, masuk ke Indonesia pertama kali pada tahun 1986. Ikan ini merupakan hasil persilangan antara lele Taiwan (Clarias Fuscus) dengan lele Afrika (Clarias Mosambicus). Kata dumbo sendiri berasal dari jumbo yang berarti bertubuh besar. Lele dumbo mulai popular sejak pertama kali kemunculannya, dan budidaya ikan jenis ini semakin meningkat hingga saat ini. Keunggulan lele dumbo dibandingkan lele lokal adalah lebih cepat besar. Pada umur tiga bulan lele dumbo sudah layak panen.

Lele Dumbo

Tubuh lele dumbo berbentuk memanjang dengan kepala pipih dan bertulang keras. Bobot lele dumbo dewasa mencapai 2-3 kg. kandungan telur perkilo induk betina mencapai 8000-10.000 butir. Lele jenis ini memiliki mulut bertipe terminal yaitu berada tepat di depan moncong depan dan berukuran cukup lebar. Terdapat empat pasang sungut di sekitar mulut dengan ukuran tidak sama panjang. Lele dumbo memiliki pati seperti lele lokal, hanya saja tidak beracun.

Lele dumbo bisa diberi berbagai macam makanan tambahan seperti limbah dapur. Kelebihan lain adalah ketahanan terhadap penyakit. Lele dumbo mampu beradaptasi yang tinggi dengan lingkungan. Kualitas dan ketahanan tersebut bisa hilang apabila menggunakan indukan yang berkualitas rendah untuk budidaya pembibitan. Penggunaan induk yang berkualitas rendah bisa menyebabkan pertumbuhan lele lambat dan daya tahan terhadap penyakit juga rendah.

c. Lele Sangkuriang 

Lele sangkuriang adalah lele dumbo yang dibibitkan lagi supaya mempunyai sifat yang lebih unggul. Berasal dari persilangan antara induk betina lele dumbo generasi ke dua (F2) dan induk jantan lele dumbo generasi ke enam (F6). Ikan jenis ini merupakan hasil rekayasa genetika yang dilakukan pada tahun 2002 oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air (BBPAT).

Lele Sangkuriang

Lele sangkuriang secara umum tidak berbeda dengan lele dumbo, tetapi memiliki beberapa keunggulan. Pada tingkat pendederan, lele sangkuriang lebih cepat 10% dari pada lele dumbo. Keunggulan lainnya adalah daging terasa lebih gurih. Harga bibit lele sangkuriang biasanya lebih mahal dibandingkan dengan lele dumbo biasa.

d. Lele Phyton 

Lele jenis ini ditemukan pada tahun 2004 di Kabupaten Pandeglang, Banten. Ikan jenis ini merupakan hasil perkawinan silang antara induk lele dumbo betina asal Thailand dengan induk jantan lele dumbo asal Problolinggo, Jawa Timur. Disebut lele phyton karena kepalanya mirip ular phyton. Kepalanya kecil, badannya panjang, warnanya abu-abu hampir sama dengan dumbo, serta bentuk badan dan kepala proposional.

Lele Pyton

Ciri khas lele phyton adalah memiliki punuk di belakang kepala, ekor bulat dan memiliki sungut yang lebih panjang. Lele phyton memiliki keunggulan pada tingkat pertumbuhannya yang lebih cepat, ukurannya yang seragam dan relatif tahan pada serangan penyakit. Salah satu kelebihan lele phyton dibandingkan dengan jenis lainnya adalah konversi pakan. Lele phyton memiliki FCR (Food Corvention Ratio) 1:1, artinya satu kilogram pakan yang diberikan pada lele phyton akan menghasilkan satu kilogram daging. Selain itu, lele phyton sangat lincah bergerak sehingga dagingnya terasa lebih enak dan gurih karena lemak yang terkandung sedikit, sehingga teksur dagingnya juga lebih lembut.

Pembenihan Ikan Lele 

Pembenihan merupakan kegiatan awal dalam budidaya ikan lele. Tanpa kegiatan pembenihan, kegiatan pendederan dan pembesaran tidak akan terlaksana, karena benih yang digunakan pada kegiatan pendederan dan pembesaran semuanya berasal dari kegiatan pembenihan. Menurut Khairuman dan Amri, (2002) dalam kegiatan pembenihan, terdapat tiga tahap yang dilakukan, yaitu; pemilihan induk, pemijahan, penetasan telur dan perawatan larva. Adapun penjelasan dari tahapan pembenihan adalah sebagai berikut:

a. Pemilihan Induk 

Dalam pembenihan ikan lele, induk merupakan sarana produksi paling penting. Untuk mendapatkan induk yang berkualitas baik, maka ada beberapa tahap seleksi yang diperlukan. Tahap pertama dimulai sejak ikan lele masih berupa benih hasil pendederan. Benih yang dipilih adalah yang pertumbuhannya cepat, bentuknya normal, dan kondisinya sehat. Selanjutnya benih tersebut dipelihara secara khusus. Benih dipelihara 6-8 minggu, benih tersebut diseleksi kembali sesuai dengan kriteria seperti pada seleksi pertama. Benih hasil seleksi ini dipelihara lagi, demikian seterusnya hingga diperoleh calon induk yang baik.

Untuk dijadikan induk, calon induk tersebut tidak boleh dipelihara dalam satu kolam, tetapi harus dipelihara dalam kolam terpisah untuk setiap jenis kelamin. Agar mendapatkan hasil yang baik dan induk betina yang dipilih dapat dipijahkan, maka induk jantannya harus dari daerah atau tempat lain. Hal ini dilakukan agar perkawinan sekerabat dapat dihindarkan. Induk ikan lele biasanya dapat dipijahkan sekitar umur setahun atau bobot tubuhnya sudah mencapai 700-800 gram. Biasanya ikan lele ukuran tersebut dapat memijah 5-6 kali dalam satu tahun.

b. Pemijahan 

Terdapat dua jenis pemijahan yang biasa dilakukan, yaitu:

1. Pemijahan alami (Natural Spawning) 

Pemijahan alami dilakukan dengan cara memilih induk jantan dan betina yang benar-benar matang gonad, kemudian dipijahkan secara alami di bak pemijahan dengan pemberian kakaban.

2. Pemijahan buatan 

Pemijahan buatan dilakukan dengan cara merangsang induk dengan penyuntikan hormon perangsang, kemudian dipijahkan secara buatan. Penyuntikan terhadap induk betina dengan menggunakan ekstra pituitary atau hipofisis atau hormone perangsang, misalnya; ovaprim, ovatide, Llieutenaizing Hormone Releasing Hormone (LHRH), atau yang lainnya. Penyuntikan hormon ini cukup satu kali untuk satu masa bertelur. Penyuntikan ini dilakukan secara intramuskular (melalui otot) pada bagian punggung.

Pemijahan buatan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu induced spawning dan streeping. Adapun penjelasan masing-masing adalah sebagai berikut: 

  • Induced spawning. Pemijahan dilakukan dalam bak berukuran 3x4 m dengan ketinggian 1m. Di dalam bak tersebut dipasangkan hapa halus, selanjutnya induk jantan dan betina yang sudah disuntik dimasukkan ke dalam hapa pada sore hari. Dengan cara ini induk akan memijah secara alami. 
  • Streeping. Induk jantan dan induk betina pada pemijahan ini harus dipisahkan. Setelah 10-12 jam dari penyuntikan, induk betina siap distreeping (pengerutan perut kearah lubang kelamin), larutan sperma harus sudah disiapkan terlebih dahulu. Telur yang keluar selanjutnya ditampung dalam wadah plastik dan pada saat yang bersamaan dimasukkan larutan sperma sambil diaduk sampai rata dengan perlahan dan hati-hati dengan menggunakan bulu ayam.

c. Penetasan Telur dan Perawatan larva 

Penetasan telur sebaiknya dilakukan pada air yang mengalir pada debit kecil (1 liter per menit) untuk menjamin ketersediaan oksigen terlarut dan penggantian air yang kotor akibat pembusukan telur yang tidak berbuah. Biasanya lele menetas 30 jam-36 jam setelah pembuahan. Larva ikan lele yang baru menetas memiliki cadangan makanan berupa kantung telur (yolksack) yang dapat diserap sebagai sumber makanan bagi larva, sehingga tidak perlu diberi pakan penetasan telur dan penyerapan yolksack akan lebih cepat terjadi pada suhu yang lebih tinggi. Pakan dapat mulai diberikan setelah larva umur 4-7 hari atau sampai larva berwarna hitam. Pada keadaan ini biasanya larva sudah siap ditebarkan dalam kolam pendederan.

Pendederan Ikan Lele 

Pendederan adalah pemeliharaan benih ikan yang berasal dari pembenihan hingga mencapai ukuran tertentu. Ikan lele dapat didederkan di kolam tanah, kolam tembok atau kolam terpal. Tidak ada ketentuan khusus mengenai luas kolam. kolam yang baik harus memiliki saluran pemasukan dan pengeluaran air. Di bagian tengah dasar kolam dilengkapi kamilir atau saluran tengah yang berfungsi untuk memudahkan penangkapan benih saat dipanen.

Pendederan dilakukan dalam dua tahap, yaitu pendederan pertama dan pendederan kedua. Pada pendederan pertama, benih ikan lele yang dipelihara adalah benih yang berasal dari hasil pembenihan berukuran 1-3 cm. Benih ini dipelihara selama 30-45 hari hingga saat panen dan akan diperoleh ikan lele berukuran lebih kurang 5-8 cm per ekornya. Kepadatan penebaran ikan lele pada kegiatan pendederan pertama ini adalah 150 ekor per M2 dengan luas kolam 1.000 M2. Derajat kelangsungan hidup ikan lele diperkirakan sekitar 60%.

Pendederan kedua, benih yang dipelihara berasal dari hasil pendederan pertama. Pemeliharaan dilakukan selama 30 hari hingga diperoleh ikan lele berukuran 8-12 cm per ekornya. Derajat kelangsungan hidup ikan lele pada pendederan kedua di perkirakan sekitar 70%. Perbedaan antara pendederan pertama dan pendederan kedua adalah pada jumlah kolam yang digunakan yaitu sebanyak dua buah dengan luas tiap kolam sekitar 500 M2.

Pembesaran Ikan Lele 

Hasil pendederan belum cukup dijadikan ikan konsumsi, karena ukurannya masih kecil yaitu baru mencapai 5-8 cm atau 8-12 cm per ekornya. Sementara itu, ikan lele yang dinilai baik untuk dijadikan ikan konsumsi adalah jika telah mencapai jumlah 6- 10 ekor per kg. Dengan demkian kegiatan pembesaran merupakan pemeliharaan ikan lele hasil pendederan sampai mencapai ukuran konsumsi. Masa pemeliharaan ikan lele dalam kegiatan pembesaran yaitu selama 3-4 bulan atau tergantung dari permintaan pasar. Secara garis besar, tahapan pembesaran ikan lele adalah sebagai berikut:

a. Pemilihan dan Pembuatan kolam 

Kolam merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan ketika memutuskan untuk budidaya ikan lele. Pasalnya, kolam akan menjadi tempat berkembangnya ikan dan menentukan keberhasilan budidaya ikan. Pembuatan kolam lele hampir serupa dengan kolam jenis ikan lainnya, yaitu memiliki empat bagian, diantaranya pematang/ tanggul, saluran masuk, saluran pembuangan, dan pelataran (dasar kolam). Adapun beberapa kriteria kolam ikan lele yang baik, yaitu tidak bocor, mudah dalam pengelolaan, dan murah.

Pembudidaya harus memilih jenis kolam yang akan digunakan. Secara umum ada empat jenis kolam yang biasa dipakai untuk pembesaran lele, yaitu kolam tanah, kolam terpal, kolam semen, dan kolam keramba. Namun, saat ini yang tidak memiliki lahan juga dapat berkreasi dengan ember atau tong sebagai tempat budidaya lele sekaligus menerapkan sistem hidroponik. Pemilihan jenis kolam yang akan dibuat haruslah juga disesuaikan dengan lokasi dan kondisi tanah yang ada serta anggaran keuangan yang dimiliki.

Adapun penjelasan, kelebihan dan kekurangan jenis-jenis kolam antara lain adalah sebagai berikut:

1. Kolam tanah 

Kolam tanah disebut sebagai kolam paling ideal digunakan sebagai pembesaran lele karena pada kolam tanah ini terdapat pakan alami seperti plankton yang tumbuh subur. Pakan alami ini amat diperlukan, terutama saat awal benih ikan lele ditebarkan (pakan starter), yakni ketika ikan lele belum diberi pakan produksi pabrik. Umumnya, bentuk kolam tanah berbentuk empat persegi panjang dan luasnya menyesuaikan lahan yang tersedia. kolam tanah memiliki ketinggian air sekitar 1 m dari permukaan tanah dengan tinggi dan lebar tanggul atau pematang masing-masing sekitar 25 cm - 50 cm dan 100 - 150 cm.

Kolam Tanah

Kolam tanah atau yang kita kenal dengan nama blumbang memiliki keunggulan, antara lain pemeliharaan dengan wadah alami yaitu lahan tanah, penekanan dalam biaya pembudidayaan ikan, kaya akan mikroorganisme yang baik untuk pakan ikan, minimalisir frekuensi pergantian air. Kolam tanah juga memiliki kekurangan yakni, memerlukan bidang tanah yang cukup luas sebagai media pembudidayaan, mudah terserang hama dan penyakit, sulitnya pengontrolan suhu kolam, mengalami kendala dalam penyortiran karena ikan sulit dilihat di air yang keruh, dan dapat mengalami penurunan harga jual karena pembudidayaan pada air berlumpur berisiko menurunkan kualitas ikan.

2. Kolam Terpal 

Kolam terpal dipilih karena dinilai praktis, menghemat tempat, mudah untuk mengontrol kualitas dan kuantitas air, lebih mudah dalam pengeringan dan pembersihan air, dapat dipindah, serta lebih mudah saat panen. Pada dasar kolam, perlu dipasangi pipa yang berfungsi untuk mengatur tinggi air dan jalan keluar kotoran lele yang mengendap. Kolam ini juga memiliki kekurangan diantaranya rawan terjadi kebocoran, mudah lapuk, minim ion dan mineral tanah, dan air kolam yang cepat bau.

Terdapat dua jenis kolam terpal, yaitu kolam kotak dan kolam bundar. Adapun penjelasan ke dua jenis kolam tersebut adalah sebagai berikut: 

  • Kolam terpal kotak. Kolam ini memiliki keunggulan seperti luasan lahan yang dapat dimaksimalkan karena kolam dapat disusun dempet, dapat menampung air lebih banyak dari kolam bentuk bundar, satu sisi dinding kolam dapat dibuat untuk dua kolam, biaya pembuatan lebih murah. Kekurangan kolam terpal kotak yaitu membutuhkan tambahan aerasi dengan difusi oksigen yang merata untuk padat tebar yang tinggi, ikan akan bergerombol di sudut kolam.

    Kolam Terpal Kotak

  • Kolam terpal bundar. Sesuai dengan namanya, kolam ini terbuat dari terpal dan berbentuk bulat, dengan diameter yang bervariasi mulai dari 1 hingga 5 meter dan tinggi 1,5 meter. Keunggulan kolam terpal bundar yaitu lebih hemat air, mudah mengontrol kesehatan ikan, dapat digunakan pada segala kondisi, mudah dalam penyortiran, dapat menampung lebih banyak lele dibanding kolam terpal bentuk persegi panjang. Kolam ini memiliki kekurangan volume air yang dapat ditampung lebih sedikit dari kolam terpal persegi panjang, tidak dapat disusun dempet, memiliki harga yang lebih mahal dari kolam terpal biasa.

    Kolam Terpal Bundar

3. Kolam Semen atau Beton 

Beberapa pembudidaya memilih kolam beton adalah karena dinilai awet dan tetap kokoh meskipun diterpa hujan ataupun angin kencang. Kolam beton terbuat dari campuran semen dan pasir yang diberi kerangka besi. Bagian dasar kolam lele beton dibuat miring dari arah air masuk ke saluran pembuangan air. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar mudah saat menguras air kolam dan membersihkan endapan pakan maupun lumpur. Pembuatan parit di tengah kolam juga dibutuhkan untuk mempermudah saat panen.

Kolam Semen atau Beton

Biasanya kolam beton dibuat dengan ukuran panjang 2 m dengan lebar dan tinggi masing-masing 3 m dan 80 cm. setelah kolam selesai dibuat, kolam dibiarkan selama beberapa hari hingga mengering. Keunggulan kolam beton yaitu memiliki bangunan yang lebih kokoh dan dapat bertahan hingga 5-10 tahun, mampu mengontrol perubahan suhu, pengaturan dan perawatan air lebih terjaga. Kekurangan kolam beton berupa baik bahan maupun konstruksi membutuhkan biaya yang relatif besar, memiliki kendala dalam perbaikan ketika ada kerusakan, perlu menghilangkan bau semen yang muncul dalam kolam terlebih dahulu, dan bagian permukaan semen mudah ditumbuhi lumut.

4. Kolam Keramba 

Kolam keramba jaring apung (KJA) dapat diterapkan di empang, rawa, dan sungai. Adapun beberapa keuntungan menggunakan jaring apung, yakni mudah dalam pengontrolan, penyortiran, pemanenan, lebih menghemat pakan, tidak perlu menguras air saat panen, terhindar dari hama, dan lebih efisien. Bahan pembuatan keramba jaring apung, yaitu jaring dapat diperoleh dengan mudah di toko alat pancing. Jaring yang dipakai sesuai dengan ukuran yang diinginkan dan setelah itu dijahit. Ada juga toko yang menjual keramba jaring apung yang sudah jadi, tinggal memasang jaring dengan cara dipatok pada keempat sisinya dalam bentuk persegi di empang atau rawa. Kolam dibentuk dengan jarak 1 meter antar tiang dan kedalaman 1 meter. Bagian atas dan bawah jaring diikat dengan bambu agar tidak mengambang dan diberi pemberat seperti batu di bagian tengah agar ikan dapat mencari makanan di dasar kolam. Batu tersebut diikat dengan tali agar mudah diambil saat proses panen.

Kolam Keramba

Kolam keramba memiliki beberapa keunggulan seperti lahan pembudidayaan yang lebih luas, lebih mudah dalam pengontrolan ikan, kecenderungan ikan untuk stress lebih kecil karena tinggal di habitat alami, dan mudah dalam proses panen. Namun, kolam ini juga memiliki kekurangan yaitu, sulit dalam pengontrolan suhu, ikan lebih mudah terserang hama dan penyakit, berisiko terbawa arus sungai atau danau, dan ikan dapat kabur melalui lubang yang terbentuk.

5. Kolam Tong atau Ember 

Kolam ini dibuat dengan tujuan memanfaatkan pekarangan rumah sebagai tempat budidaya ikan lele sekaligus tanaman kangkung dan diharapkan dapat menambah penghasilan keluarga jika diperoleh hasil yang melimpah. Budidaya ikan lele dengan tipe kolam tersebut selain memerlukan modal yang relatif rendah, juga memiliki keuntungan lain seperti mudah dalam pemeliharaannya, tidak membutuhkan lahan khusus, memerlukan air yang sedikit, dan pertumbuhannya cepat.

Kolam Tong atau Ember

Budidaya dalam kolam ember atau tong memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang dimiliki kolam ini yaitu lebih hemat tempat, memerlukan biaya yang sedikit, sangat mudah dipindah, mudah dalam proses panen, selain menghasilkan ikan juga menghasilkan sayuran berupa tanaman kangkung. Sedangkan kekurangannya yaitu terbatasnya jumlah ikan yang dapat dibudidaya dan pH air yang tidak menentu.

b. Persiapan Kolam 

Menurut Nasrudin (2014), terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan dalam persiapan kolam sebelum penebaran bibit, yaitu sebagai berikut: 

  1. Mengisi kolam dengan air bersih yang bebas dari limbah dan bahan kimia hingga setinggi 50 cm.
  2. Melakukan pengomposan atau pemupukan menggunakan kotoran kambing atau domba yang basah. Pengomposan dilakukan dengan cara membagi dua bagian kotoran kambing atau domba, masing-masing 7,5 kg. Memasukkan kotoran ke dalam karung yang berbeda, lalu ikat rapat. Karung tersebut diletakkan di dalam kolam selama delapan hari. pH air kolam yang dibutuhkan yakni 7-8.
  3. Menambahkan ramuan herbal ke dalam kolam dengan dosis 20 cc untuk kolam seluas 10 meter persegi. Pemberian herbal bertujuan untuk menetralkan air dari kandungan zat kimia yang berbahaya, menyeimbangkan pH dan suhu air, menguatkan daya tahan tubuh lele, serta menangkal penyakit yang mungkin mengancam kesehatan lele. 
  4. Mengangkat karung pada hari ke delapan. Sebelum mengangkat total, naik dan tutunkan karung di dalam kolam beberapa kali agar kandungan atau zat yang terdapat dalam kotoran kambing keluar dan menyebar ke dalam air.

c. Penebaran Benih dan Pemeliharaan 

Benih yang ditebar sangat menentukan produksi lele konsumsi. Benih yang dipilih harus berkualitas agar pertumbuhannya baik, tidak mudah terserang penyakit, dan lele konsumsi yang dihasilkan bermutu baik. Waktu yang baik untuk menebar benih lele adalah pada pagi atau sore hari untuk menghindari terik matahari. Penebaran benih dilakukan secara perlahan agar benih lele tidak stres. Kepadatan penebaran benih lele yaitu 100-120 ekor per meter persegi. Benih ikan lele yang ditebarkan sebaiknya berukuran 5-6 cm. Benih yang ditebar harus sehat, tidak cacat berukuran sama besar dan sama panjang.

Frekuensi pemberian pakan pun tidak 2-3 kali sehari, melainkan bisa lebih sering dari itu, yaitu 5-6 kali sehari. Hal penting yang harus diperhatikan adalah jarak antara pemberian pakan, yakni minimum 2-3 jam. Ikan lele diberi makanan berupa pelet sebanyak 3-5% per hari dari berat ikan lele. Air kolam tidak boleh diganti hingga masa panen tiba, kecuali jika air berbau amis, yang umumnya disebabkan oleh timbunan sisa pakan di dasar kolam. Usai panen, barulah air boleh diganti. Air yang digunakan harus sudah melalui proses pengomposan atau pemupukan terlebih dahulu.

d. Pemanenan 

Pemanenan dilakukan setelah ikan mencapai ukuran 8-10 ekor/kg atau berukuran 100-125 gram/ekor. Biasanya pembesaran ikan lele membutuhkan waktu selama 2-3 bulan. Pemanenan dilakukan pada pagi atau sore hari dengan cara membuang atau mengurangi air media pemeliharaan, lalu ikan ditangkap dengan menggunakan alat tangkap seperti seser atau sair. Sebelum dijual ikan dipuasakan dahulu selama beberapa jam agar saat diangkut, kotoran-kotorannya sudah terbuang. Jika pemeliharaan sesuai petunjuk, maka tingkat kelangsungan hidupnya mencapai 95-98% dari benih yang ditebarkan. Usahakan ikan-ikan yang dipasarkan berukuran sama dengan cara disortir terlebih dahulu, agar dapat diterima oleh pasar.

Pengangkutan Ikan Lele 

Pengangkutan adalah proses pemindahan ikan dari satu tempat ke tempat lain. Sistem pengangkutan ikan lele dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara tertutup dan secara terbuka. Pengangkutan secara tertutup untuk pengangkutan ikan lele ukuran kecil (benih) atau jarak angkutnya jauh. Wadah angkutnya dapat berupa kantung plastik yang berisi air sebanyak seperempat bagian dan oksigen, kemudian wadah ini diikat dengan menggunakan karet. Air yang digunakan untuk mengisi kantung plastik sebaiknya telah diendapkan selama 1 hari untuk menghindari adanya gas-gas beracun. Sebelum diangkut, benih dipuasakan beberapa jam agar tidak mengeluarkan kotoran selama pengangkutan, karena jika selama pengangkutan ikan mengeluarkan banyak kotoran, maka ikan lele akan keracunan atau kakurangan oksigen.

Untuk pengangkutan cara terbuka, umumnya untuk ikan lele berukuran besar yang siap dikonsumsi atau jarak angkutnya dekat. Wadah angkutnya dapat berupa tong plastik berkapasitas 20-200 liter yang berisi air sebanyak seper-empat bagian atau bak yang terbuka dari fiber glass. Jika menggunakan tong plastik berukuran 200 liter, ikan lele yang dapat diangkut sebanyak 40-50 kg per tong. Sebelum diangkut, ikan lele dipuasakan selama satu hari dengan cara disimpan pada air mengalir agar tubuhnya bersih.

PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Budidaya Ikan Lele. Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2023/06/budidaya-ikan-lele.html