Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Perilaku Kerja Inovatif - Pengertian, Aspek, Fungsi dan Faktor

Perilaku kerja inovatif atau innovative work behaviour adalah sikap atau perilaku individu dalam sebuah organisasi atau perusahaan dalam memperkenalkan, mengajukan dan mengimplementasikan ide-ide, proses, produk atau prosedur yang baru untuk diterapkan dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan. Perilaku kerja inovatif diperlukan untuk meningkatkan efektivitas proses internal dan hasil kerja yang berkualitas. Selain itu, keunggulan kompetitif juga dapat dicapai dan dipertahankan, serta menjaga kehidupan organisasi dalam jangka panjang.

Perilaku Kerja Inovatif - Pengertian, Aspek, Fungsi dan Faktor

Perilaku kerja inovatif merupakan kontribusi individu yang mampu menghasilkan atau menciptakan suatu ide-ide atau produk baru yang dapat diimplementasikan pada lingkup perusahaan, kelompok atau organisasi dan dapat menghasilkan keuntungan bagi perusahaan, kelompok, atau organisasi tersebut. Hal yang paling penting dari sebuah perilaku kerja inovatif adalah bagaimana karyawan dapat mencari ide-ide kreatif, kemudian mencari dukungan dan diakhiri dengan penerapan pada lingkup pekerjaan.

Perilaku kerja inovatif juga dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan karyawan untuk menciptakan, mengembangkan dan menerapkan ide-ide baru dalam pekerjaannya dengan proses yang baru pula sehingga dapat memberikan keuntungan baik untuk diri sendiri maupun untuk perusahaan. Perilaku kerja inovatif ini penting untuk menjaga daya saing perusahaan dan meningkatkan produktivitas kerja karyawan.

Pengertian Perilaku Kerja Inovatif 

Berikut definisi dan pengertian perilaku kerja inovatif atau innovative work behaviour dari beberapa sumber buku dan referensi: 

  • Menurut De Jong, dkk (2008), perilaku kerja inovatif adalah perilaku individu yang bertujuan untuk mencapai tahap pengenalan atau berusaha mengenalkan ide-ide, proses, produk atau prosedur yang baru dan berguna di dalam pekerjaan, kelompok atau organisasi. 
  • Menurut Janssen (2000), perilaku kerja inovatif adalah perbuatan, pengenalan, dan penerapan ide atau gagasan baru dalam pekerjaan, kelompok, atau organisasi untuk meningkatkan kinerja peran individu, kelompok, atau organisasi tersebut. 
  • Menurut Gaynor (2002), perilaku kerja inovatif adalah sebuah tindakan yang dilakukan untuk menciptakan dan mengambil ide-ide, pemikiran, atau cara-cara baru untuk di terapkan dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan. 
  • Menurut Nyoman dan Ardana (2020), perilaku kerja inovatif adalah sikap memperkenalkan, mengajukan dan mengimplementasikan ide-ide, produk, serta prosedur baru ke dalam pekerjaannya. 
  • Menurut Nurdin (2020), perilaku kerja inovatif adalah tindakan individu untuk mengenali suatu masalah, memunculkan dan mengembangkan ide-ide baru, serta merealisasikan ide atau gagasan tersebut dengan teknik dan prosedur yang baru dan dapat berguna bagi perusahaan.

Aspek-aspek Perilaku Kerja Inovatif 

Menurut De Jong dan Hartog (2008), perilaku kerja inovatif terdiri dari beberapa aspek, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Eksplorasi peluang (Opportunity exploration) 

Dalam merealisasikan suatu hal yang baru langkah awal yang perlu dapat dimulai adalah dengan mengidentifikasi peluang baru. Awal dari proses inovasi seringkali diawali oleh suatu ketidaksengajaan berupa penemuan peluang, masalah yang muncul, atau teka-teki yang perlu dipecahkan. Pemicunya dapat berupa kesempatan untuk memperbaiki kondisi atau ancaman yang membutuhkan tanggapan.

b. Generasi ide (Idea generation) 

Generasi ide diperlukan untuk berinovasi karena selain menyadari suatu kebutuhan atau peluang, kemampuan untuk membangun cara-cara baru dalam menjawab kebutuhan tersebut juga sangat penting. Generasi ide sendiri mengacu pada menghasilkan konsep untuk tujuan perbaikan. Sehingga diperlukan adanya individu yang dapat mendekati masalah atau kesenjangan yang muncul dari sudut yang berbeda.

c. Memperjuangkan (Championing) 

Yang dimaksud dengan memperjuangkan di sini adalah perilaku yang terkait dengan mencari dukungan seperti mempengaruhi anggota atau manajemen lain untuk mendorong, dan bernegosiasi. Memperjuangkan berkaitan dengan menjual ide. Pembangunan koalisi diperlukan untuk menerapkan inovasi yang melibatkan perolehan kekuasaan dengan penjualan ide tersebut pada pihak lain. Dalam konteks ini terdapat istilah seorang juara dimana istilah tersebut merujuk pada seseorang dengan peran informal yang mampu mendorong ide kreatif untuk melampaui hambatan dalam organisasi.

d. Aplikasi (Application) 

Ide yang memperoleh dukungan pada akhirnya akan diimplementasikan dan dipraktek-kan. Implementasi berarti meningkatkan produk dan prosedur yang sudah ada atau mengembangkan yang baru. Ide yang telah dipilih harus diterapkan oleh anggota organisasi dengan upaya yang besar.

Menurut Janssen (2000), aspek-aspek perilaku kerja inovatif adalah sebagai berikut:

a. Menciptakan Ide (Idea Generation) 

Karyawan mampu mengenali masalah yang terjadi dalam organisasi kemudian menciptakan ide atau solusi baru yang berguna pada bidang apapun. Ide atau solusi tersebut dapat bersifat asli maupun di-modifikasi dari produk dan proses kerja yang sudah ada sebelumnya. Contohnya ketika muncul masalah di dalam organisasi, karyawan mampu untuk menemukan ide-ide sebagai pemecahan masalah.

b. Berbagi Ide (Idea Promotion) 

Karyawan berbagi ide atau solusi baru yang telah diciptakan kepada rekan-rekan kerja, sehingga ide tersebut dapat diterima. Selain itu, terjadi pula pengumpulan dukungan agar ide tersebut memiliki kekuatan untuk diimplementasikan dan direalisasikan dalam organisasi. Contohnya ketika karyawan sudah menemukan ide sebagai sebuah pemecahan masalah, maka selanjutnya karyawan berbagi ide tersebut untuk mendapatkan dukungan yang nantinya dapat di terapkan di organisasi.

c. Realisasi Ide (Idea Realization) 

Karyawan memproduksi sebuah prototipe atau model dari ide yang dimiliki menjadi produk dan proses kerja yang nyata agar dapat diaplikasikan dalam lingkup pekerjaan, kelompok, atau organisasi secara keseluruhan sehingga dapat meningkatkan efisiensi kerja organisasi. Contohnya ketika karyawan sudah mendapatkan dukungan dari rekan kerja untuk ide yang diciptakan, maka selanjutnya penerapan atau aplikasi ide tersebut ke dalam sebuah organisasi sebagai sebuah pemecahan masalah.

Sedangkan menurut Kleysen dan Street (2001), perilaku kerja inovatif memiliki lima aspek atau indikator, yaitu sebagai berikut:

a. Eksplorasi peluang (opportunity exploration) 

Eksplorasi peluang mencakup beberapa perilaku, yakni memberikan perhatian pada sumber peluang, mencari peluang untuk inovasi, mengenali peluang, dan mengumpulkan informasi tentang peluang.

b. Generativitas (generativity) 

Aspek ini bertujuan untuk memperluas gagasan pembentukan ide ke organisasi. Generativitas mencakup perilaku yang diarahkan pada menghasilkan perubahan yang bermanfaat untuk tujuan menumbuhkan organisasi, orang-orang yang berada dalam organisasi, produk, sistem, dan pelayanan dalam organisasi. Generativitas ditunjukkan dengan sikap seseorang yang mampu menghasilkan ide dan solusi, menghasilkan ide yang representatif pada peluang, dan membangun asosiasi antara ide serta informasi.

c. Sugesti formatif (formative suggestion) 

Aspek ketiga ini menjelaskan bahwa perilaku kerja inovatif berkaitan dengan memberi bentuk dan menyempurnakan ide,solusi, dan opini serta mencoba untuk melakukan penyelidikan terhadap hal-hal tersebut. Aspek ini ditunjukkan dengan perilaku untuk merumuskan ide dan solusi, melakukan eksperimen terhadap ide dan solusi tersebut, serta mengevaluasi-nya.

d. Memperjuangkan (championing) 

Aspek ini mengarah pada beberapa perilaku, seperti mengumpulkan sumber daya, membujuk dan mempengaruhi, mendorong dan bernegosiasi, serta mengambil tantangan dan resiko. Upaya-upaya tersebut dilakukan untuk merealisasikan ide-ide. Dalam aspek ini terdapat istilah dimana terdapat individu yang muncul untuk menghasilkan ide kreatif dimana dikenal dengan sebutan juara. Perilaku dalam aspek ini ditandai dengan menggerakkan sumber daya yang ada, mempengaruhi, bernegosiasi, dan mengambil risiko.

e. Pengaplikasian (application) 

Pengaplikasian menjadi akhir dari tahap pengimplementasian ide atau inovasi menjadi bagian rutin dari organisasi. Perilaku yang meliputi aspek ini adalah pengimplementasian, memodifikasi, dan menjadikan sebagai rutinitas.

Fungsi Perilaku Kerja Inovatif 

Menurut Berliana (2018), adanya perilaku kerja inovatif di sebuah organisasi atau perusahaan, memiliki beberapa dampak yang positif, antara lain yaitu sebagai berikut:

  1. Dapat menghasilkan gagasan untuk lingkungan kerja. Dengan adanya perilaku kerja inovatif, akan mendorong karyawan untuk menciptakan ide-ide baru untuk memperbaiki lingkungan tempat kerja menjadi lebih baik dan menciptakan cara baru dalam menyelesaikan pekerjaan agar lebih efektif dan efisien. 
  2. Dapat mempromosikan diri sendiri di dalam pekerjaan. Seorang karyawan yang memiliki ide inovatif memiliki peluang yang lebih besar untuk dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan adanya peran serta karyawan tersebut dalam menciptakan ide baru untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di perusahaan. 
  3. Dapat mewujudkan gagasan baru untuk lingkungan kerja. Perilaku kerja inovatif sebagai tempat dalam diri seseorang untuk mengimplementasikan ide-ide baru yang terpendam dan dapat digunakan untuk menghadapi permasalahan yang terjadi.

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kerja Inovatif 

Menurut De Jong and Kemp (2003), terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kerja inovatif di perusahaan atau organisasi, antara lain yaitu sebagai berikut: 

  1. Tantangan Kerja (Job Challenge). Ketika karyawan menghadapi tantangan, mereka akan lebih termotivasi secara intrinsik. Rekan kerja dapat dimotivasi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Motif ekstrinsik meliputi insentif berdasarkan kenaikan gaji, bonus, dll. Motivator intrinsik termasuk insentif yang diterima oleh partisipasi. Motif intrinsik diharapkan memiliki pengaruh yang lebih signifikan dalam membuat saran dan usaha implementasi. 
  2. Otonomi (Autonomy). Seseorang akan lebih berinovatif apabila mereka memiliki pemimpin yang cukup mengawasi dan mengontrol ketika mereka bekerja.
  3. Perhatian Strategis (Strategic Attention). Perhatian dapat mempengaruhi perilaku inovatif, terutama ditujukan untuk meningkatkan tujuan bisnis yang lebih umum seperti kepuasan kerja dan kinerja. Perusahaan yang mampu memberikan perhatian yang baik untuk karyawan akan menjadikan karyawan menjadi lebih bekerja dengan baik. 
  4. Situasi yang Mendukung (Supportive Climate). Perusahaan diharapkan mampu mengetahui situasi yang diperlukan dan diharapkan oleh karyawan, karena dengan mengetahui apa yang diharapkan dari mereka, karyawan akan membuang sedikit waktu dalam memutuskan bagaimana bertindak dalam situasi tertentu. Sehingga, karyawan dapat lebih berinisiatif dengan melakukan inovasi. 
  5. Kontak Luar (External Contacts). Semakin seringnya rekan kerja berinteraksi dengan klien dan kompetitor maka hal ini memungkinkan pekerja untuk mengidentifikasi peluang pasar dan ancaman dari pekerjaan mereka di lingkungan yang lebih cepat dan menggunakannya untuk pengembangan layanan baru. 
  6. Perbedaan (Differentiation). Perbedaan situasi, terutama perbedaan situasi pasar akan mempengaruhi perilaku inovatif, karena karyawan tidak ingin perusahaannya tertinggal dari perusahaan lain. 
  7. Variasi Permintaan (Variation in Demand). Variasi permintaan diharapkan dapat mendorong perilaku inovatif. ketika Pelanggan menginginkan layanan yang berbeda, maka hal itu membuat karyawan dipaksa untuk menghasilkan ide baru secara berurutan untuk menghubungkan dengan kebutuhan pelanggan.

PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Perilaku Kerja Inovatif - Pengertian, Aspek, Fungsi dan Faktor. Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2023/08/perilaku-kerja-inovatif.html