Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Literasi Sains - Pengertian, Aspek dan Indikator

Literasi sains adalah kemampuan seseorang dalam membedakan fakta-fakta sains dari segala macam informasi yang ada, serta penerapan pengetahuan sains untuk memecahkan masalah yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Literasi sains merupakan bentuk pemahaman sains, seperti; mengkomunikasikan sains, memecahkan suatu masalah, menjawab pertanyaan, mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki ke lingkungan sekitar, serta kemampuan dalam berpikir secara ilmiah.

Literasi Sains - Pengertian, Aspek dan Indikator

Literasi sains merupakan kapasitas untuk menggunakan pengetahuan dan kemampuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti dan data yang ada agar dapat memahami dan membantu peneliti untuk membuat keputusan tentang dunia alami dan interaksi manusia dengan alamnya. Literasi sains adalah suatu penghargaan pada ilmu pengetahuan dengan meningkatkan semangat belajar di dalam diri individu agar memiliki kemampuan berkontribusi pada lingkungan sosial.

Literasi sains merupakan kemampuan untuk menggunakan hubungan ilmu pengetahuan dengan isu-isu, dan ide-ide tentang ilmu pengetahuan sebagai masyarakat yang reflektif. Individu yang memiliki kemampuan literasi sains merupakan seseorang yang mampu mengimplementasikan konsep-konsep sains dalam berbagai fakta yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Literasi sains juga dapat diartikan sebagai kemampuan mengidentifikasi masalah untuk menemukan suatu penemuan baru berdasarkan peristiwa yang diamati sehingga didapatkan suatu kesimpulan yang diambil dari bukti yang berhubungan dengan perkembangan sains.

Pengertian Literasi Sains 

Berikut definisi dan pengertian literasi sains dari beberapa sumber buku dan referensi:

  • Menurut Oktaviani dan Yuliani (2017), literasi sains adalah kemampuan individu dalam mengkaji teori, hukum, dan bukti sains guna menghadapi fenomena-fenomena yang terjadi di kehidupan sehari-hari. 
  • Menurut Toharudin, dkk (2011), literasi sains adalah kemampuan seseorang untuk memahami sains, mengkomunikasikan sains (lisan dan tulisan), serta menerapkan pengetahuan sains untuk memecahkan masalah sehingga memiliki sikap dan kepekaan yang tinggi terhadap diri sendiri dan lingkungannya dalam mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sains. 
  • Menurut Mukhroji (2016), literasi sains adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam membedakan fakta-fakta sains dari segala macam informasi yang ada, memahami dan menganalisis penggunaan metode penyelidikan saintifik serta kemampuan untuk menyusun, menganalisis, menginterpretasikan data kuantitatif dan informasi sains. 
  • Menurut Kemendikbud (2017), literasi sains adalah pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta, memahami karakteristik sains, kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual, dan budaya, serta kemauan untuk terlibat dan peduli terhadap isu-isu yang terkait sains. 
  • Menurut Purwati (2019), literasi sains adalah kemampuan menalar konsep sains, proses sains, dan mengambil keputusan dalam menyelesaikan permasalahan yang ditemui dalam keseharian yang berkaitan dengan kondisi lingkungan, interaksi masyarakat, serta penggunaan teknologi.

Aspek-aspek Literasi Sains 

Menurut Wulandari (2016), literasi sains terdiri dari beberapa aspek, yaitu sebagai berikut:

a. Konteks Sains 

Konteks sains adalah keterlibatan individu dalam berbagai situasi yang disajikan dalam bentuk isu ilmiah. Aspek konteks literasi sains melibatkan isu-isu penting yang berhubungan dengan sains dalam kehidupan sehari-hari. Konteks sains berfokus pada situasi yang terkait pada diri individu, keluarga dan kelompok individu (personal), terkait pada komunitas (sosial), serta terkait pada kehidupan lintas negara (global).

b. Kompetensi Sains 

Aspek kompetensi sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah. Aspek ini terdiri dari komponen kompetensi/proses sains, yaitu; mengidentifikasi pertanyaan ilmiah, menjelaskan fenomena secara ilmiah dan menggunakan bukti ilmiah. Proses kognitif yang terlibat dalam kompetensi sains antara lain penalaran induktif/deduktif, berfikir kritis dan terpadu, pengubahan representasi, mengkonstruksi eksplanasi berdasarkan data, berfikir dengan menggunakan model dan menggunakan matematika. Aspek kompetensi sains dapat berupa aktivitas seperti; mengidentifikasi isu ilmiah, menjelaskan fenomena ilmiah berdasarkan pengetahuan ilmiah, dan menggunakan bukti ilmiah untuk menarik kesimpulan.

c. Pengetahuan Sains 

Pengetahui sains merujuk pada konsep-konsep kunci dari sains yang diperlukan untuk memahami fenomena alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia. Kriteria pemilihan konten sains adalah relevan dengan situasi nyata, dan merupakan pengetahuan penting sehingga penggunaannya berjangka panjang. Berdasarkan kriteria tersebut, maka dipilih pengetahuan yang sesuai untuk memahami alam dan memaknai pengalaman dalam konteks personal, sosial dan global, yang diambil dari bidang studi biologi, fisika, kimia serta ilmu pengetahuan bumi dan antariksa. Pada aspek pengetahuan sains, individu perlu menangkap sejumlah konsep kunci atau esensial untuk dapat memahami fenomena alam tertentu dan perubahan-perubahan yang terjadi akibat kegiatan manusia.

d. Sikap Sains 

Tujuan utama pendidikan sains adalah untuk membantu seseorang dalam mengembangkan minat dalam sains dan mendukung penyelidikan ilmiah. Sikap-sikap akan sains berperan penting dalam keputusan seseorang dalam untuk mengembangkan pengetahuan sains lebih lanjut, mengejar karir dalam sains, dan menggunakan konsep dan metode ilmiah dalam kehidupan mereka. Kemampuan sains tidak hanya kecakapan dalam sains, juga bagaimana sifat mereka akan sains. Kemampuan sains seseorang di dalamnya memuat sikap-sikap tertentu, seperti kepercayaan, termotivasi, pemahaman diri, dan nilai-nilai.

Indikator Literasi Sains 

Terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan dalam mengukur berapa tingkat literasi sains seseorang, yaitu sebagai berikut:

a. Memahami metode inkuiri yang mengarah pada pengetahuan ilmiah 

  1. Mengidentifikasi argumen ilmiah yang valid. 
  2. Mengevaluasi validitas sumber. 
  3. Membedakan antara jenis sumber; mengidentifikasi bias, otoritas, dan keandalan. 
  4. Memahami elemen-elemen desain penelitian dan bagaimana pengaruhnya. terhadap temuan/kesimpulan ilmiah.

b. Mengorganisasikan, menganalisis dan menginterpretasikan data kuantitatif dan informasi ilmiah 

  1. Membuat representasi grafis dari data. 
  2. Membaca dan menafsirkan representasi grafis dari data. 
  3. Memecahkan masalah menggunakan keterampilan kuantitatif, termasuk probabilitas dan statistik.
  4. Memahami dan menafsirkan statistik dasar.
  5. Justifikasi inferensi, prediksi, dan kesimpulan berdasarkan data kuantitatif.

Adapun menurut Toharudin, dkk (2011), ciri-ciri seseorang memiliki literasi sains yaitu baik antara lain yaitu sebagai berikut: 

  1. Menggunakan konsep sains, keterampilan proses dan nilai apabila seseorang mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. 
  2. Mengetahui bagaimana masyarakat mempengaruhi sains dan teknologi mempengaruhi masyarakat.
  3. Mengetahui bagaimana masyarakat mengontrol sains dan teknologi melalui pengolahan sumber daya alam. 
  4. Menyadari keterbatasan dan kegunaan sains dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. 
  5. Memahami sebagian besar konsep-konsep sains, hipotesis, dan teori sains dan mampu menggunakannya.
  6. Menghargai sains dan teknologi sebagai stimulus intelektual yang dimilikinya. 
  7. Mengetahui bahwa pengetahuan ilmiah bergantung pada proses-proses inkuiri dan teori-teori. 
  8. Membedakan antara fakta-fakta ilmiah dan opini pribadi. 
  9. Mengakui asal usul sains dan mengetahui bahwa pengetahuan ilmiah itu tentatif. 
  10. Mengetahui aplikasi teknologi dan pengambilan keputusan menggunakan teknologi.
  11. Memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk memberi penghargaan kepada penelitian dan pengembangan teknologi.
  12. Mengetahui sumber-sumber informasi dari sains dan teknologi yang dipercaya dan menggunakan sumber-sumber tersebut dalam pengambilan keputusan.

Faktor yang Mempengaruhi Literasi 

Setiap orang memiliki kemampuan literasi sains yang berbeda-beda. Menurut Ni made (2016), terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan literasi sains seseorang, baik bersifat individual ataupun sosial, yaitu sebagai berikut:

a. Faktor Internal 

  1. Motivasi belajar. Motivasi belajar adalah dorongan yang timbul dari dalam diri peserta didik untuk melakukan sesuatu. Motivasi sangat berpengaruh terhadap perkembangan literasi sains peserta didik. Peserta didik yang memiliki motivasi belajar baik maka prestasi belajarnya juga baik sehingga literasinya juga tercapai. 
  2. Minat belajar. Minat merupakan dorongan atau keinginan dalam diri seseorang terhadap suatu objek. Minat belajar adalah dorongan atau keinginan peserta didik untuk belajar. Minat sangat berpengaruh terhadap literasi sains peserta didik, karena bila bahan pembelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat peserta didik, maka peserta didik tidak akan belajar dengan baik karena tidak ada dorongan baginya.
  3. Persiapan peserta didik untuk belajar. Persiapan untuk belajar sangat penting dipahami oleh setiap peserta didik, karena dengan adanya kesiapan yang matang akan memberikan dampak positif bagi hasil belajar-nya. Peserta didik dapat belajar dengan mudah dan penuh semangat dalam proses pembelajaran. 
  4. Kebiasaan belajar. Peserta didik yang tertarik pada suatu mata pelajaran cenderung tidak terbebani dengan apa yang dipelajari-nya sehingga mempengaruhi kebiasaan belajar peserta didik tersebut.

b. Faktor Eksternal 

  1. Metode yang digunakan oleh guru. Penggunaan metode pada suatu pembelajaran memberikan efek dalam kemampuan literasi sains peserta didik. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara metode yang digunakan oleh guru dengan minat belajar peserta didik. Guru dapat menerapkan model pembelajaran yang menarik untuk meningkatkan literasi sains peserta didik. 
  2. Profesionalisme guru. Saat ini masih banyak guru yang belum memenuhi persyaratan sebagai guru profesional. Meskipun sudah berusaha ditingkatkan dengan pelatihan-pelatihan pengembangan profesionalisme. Guru diharapkan tidak hanya sebatas melakukan profesi-nya melainkan juga harus memiliki keterampilan untuk melaksanakan tugasnya demi mencapai prestasi belajar yang baik.
  3. Fasilitas belajar. Fasilitas belajar merupakan salah satu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan peserta didik untuk belajar. Semakin lengkap fasilitas belajar maka semakin tidak terganggu proses pembelajaran peserta didik tersebut. 
  4. Bimbingan orang tua. Bimbingan orang tua peserta didik belajar dirumah juga dapat mempengaruhi tingkat prestasi belajar peserta didik termasuk literasi sains peserta didik. Pendidikan dan bimbingan orang tua terhadap anak, dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari berupa perhatian, kesadaran, tanggung jawab, dan perlindungan. Bimbingan belajar dari orang tua berpengaruh terhadap prestasi belajar peserta didik.

PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Literasi Sains - Pengertian, Aspek dan Indikator. Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2023/09/literasi-sains.html