Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Online Disinhibition Effect - Pengertian, Aspek dan Jenis

Online disinhibition effect adalah keadaan atau kondisi psikologis individu yang ditunjukkan dengan perilaku khusus yaitu individu memiliki perilaku yang berbeda antara ketika di dunia maya (online), dengan pada saat tatap muka langsung (offline). Perilaku online disinhibition effect disebabkan ketika online individu memiliki kesempatan untuk memisahkan tindakan online dari gaya hidup dan identitas pribadi mereka, sehingga mereka menjadi lebih mungkin untuk mengungkap diri dan bertingkah.

Online Disinhibition Effect - Pengertian, Aspek dan Jenis

Online disinhibition effect merupakan bentuk kegagalan individu untuk mengendalikan perilaku yang dapat menyakiti orang lain atau citra dirinya sendiri dalam keadaan online. Online disinhibition effect digambarkan sebagai bentuk perilaku seseorang membagikan berbagai hal yang sangat pribadi tentang diri mereka sendiri. Mereka mengungkapkan keinginan, ketakutan dan emosi serta rahasia secara online. Hal ini juga meliputi bagaimana individu menunjukkan tindakan kebaikan, kemurahaan hati dan kedermawanan yang tidak mereka tunjukkan ketika di dunia nyata.

Online disinhibition effect juga dapat diartikan bagaimana individu mengatakan dan melakukan sesuatu di media sosial yang biasanya tidak akan mereka katakan dan lakukan di dunia nyata. Individu jadi lebih merasa bebas, kurang mengendalikan diri, dan lebih terbuka. Online disinhibition effect adalah kegagalan individu dalam mengendalikan tingkah laku, pikiran dan perasaan ketika melakukan interaksi online yang mengakibatkan munculnya kepribadian yang berbeda pada individu ketika online dan tatap muka.

Pengertian Online Disinhibition Effect 

Berikut definisi dan pengertian online disinhibition effect dari beberapa sumber buku dan referensi: 

  • Menurut Suler (2004), online disinhibition effect adalah kondisi dimana individu lebih nyaman untuk mengungkapkan emosi maupun perasaan di media online dibandingkan pada dunia nyata atau ketika tatap muka. 
  • Menurut Hollenbaugh dan Everett (2013), online disinhibition effect adalah kondisi ketika individu memiliki kesempatan untuk memisahkan tindakan online dari gaya hidup dan identitas pribadi mereka, sehingga mereka menjadi lebih mungkin untuk mengungkap diri dan bertingkah. 
  • Menurut Wright, dkk (2019), online disinhibition effect adalah keadaan psikologis dimana individu merasa lebih santai dan bebas untuk terlibat dalam perilaku tertentu seperti perilaku menyimpang di media sosial yang disengaja, antisosial, dan provokatif yang bertujuan untuk memusuhi dan mengecewakan pengguna media sosial lainnya. 
  • Menurut Joinson (2001), online disinhibition effect adalah perilaku khusus yang ditunjukkan oleh seseorang ketika online dimana hal tersebut sangat berbeda dengan perilakunya ketika offline.

Aspek-aspek Online Disinhibition Effect 

Menurut Suler (2004), online disinhibition effect memiliki beberapa aspek, yaitu sebagai berikut:

a. Dissociative Anonymity 

Ketika orang memiliki kesempatan untuk memisahkan tindakan mereka secara online dengan gaya hidup dan identitas mereka secara langsung, mereka merasa tidak terlalu takut untuk mengungkapkan diri dan bertindak. Individu akan menyembunyikan identitas asli dan membentuk identitas baru di media sosial, dengan begitu individu dapat mengungkapkan pendapat ataupun tindakan menyimpang tanpa perlu mempertanggungjawabkan tindakan tersebut. Individu dapat menjadi tidak bertanggungjawab mengenai tindakan merugikan yang mereka lakukan.

b. Invisibility 

Dalam lingkungan online, terutama yang berbasis teks, individu tidak dapat melihat satu sama lain. Kondisi tidak tampak ini memberi orang keberanian untuk mengunjungi berbagai tempat dan melakukan hal-hal yang tidak akan mereka lakukan di lingkungan tatap muka. Individu tidak perlu khawatir tentang penampilan atau suara mereka saat mengetik pesan. Mereka tidak perlu khawatir tentang bagaimana penampilan atau suara orang lain dalam menanggapi apa yang mereka katakan atau lakukan.

c. Asynchronicity 

Dalam e-mail atau papan pesan (message boards), komunikasi bisa menjadi asinkron. Orang lain mungkin membutuhkan waktu beberapa menit, jam, hari, atau bahkan bulan untuk membalas pesan. Dalam komunikasi online, di mana terjadi penundaan untuk membalas, seseorang dapat melarikan diri setelah mengunggah pesan yang bersifat pribadi, emosional, atau memusuhi kepada orang lain. Berbeda dengan ketika melakukan interaksi secara langsung, dimana interaksi akan terus mengalir dan berlangsung dalam waktu relatif singkat.

d. Solipsistic Introjection 

Individu membayangkan suara atau wujud lawan bicaranya ketika berkomunikasi secara teks online. Seseorang dapat memunculkan sebuah suara dari pesan yang dikirimkan lawan bicaranya, seolah lawan bicaranya tersebut hadir di dekatnya. Secara sadar ataupun tanpa sadar, individu mampu berimajinasi mengenai visual dan perilaku lawan bicaranya di mana hal tersebut dapat menimbulkan introjeksi.

e. Dissociative Imagination 

Dissociative imagination mendorong individu untuk mengimajinasikan dirinya secara berbeda antara di media sosial dan di kehidupan nyata. Orang dapat merasa bahwa karakter imajiner yang mereka buat berada di ruang yang berbeda, di mana karakter tersebut tidak berkaitan dengan diri mereka di dunia nyata. Aspek ini dapat memberikan efek dimana individu akan kesulitan dalam membedakan antara fantasi dan realitas.

f. Minimization of Status and Authority 

Saat online, status seseorang di dunia tatap muka mungkin tidak diketahui oleh orang lain dan mungkin tidak memiliki dampak yang besar. Figur otoritas yang biasanya ditampakkan melalui cara pakaian atau bahasa tubuh menjadi tidak ada saat berada di media sosial. Ketiadaan isyarat-isyarat tersebut di media sosial pun mengurangi dampak otoritas mereka. Ketakutan akan hukuman yang seseorang rasakan ketika mengungkapkan sesuatu di dunia nyata, dapat seketika meredup saat berada di media sosial karena saat online ada persepsi bahwa pihak otoritas dapat dianggap sebagai teman atau sosok yang setara posisinya. Perbedaan status ekonomi, pangkat, ras dan jenis kelamin tidak menjadi pengaruh dalam media sosial, hal yang berpengaruh ketika melakukan interaksi online adalah keterampilan seseorang dalam berkomunikasi.

Jenis-jenis Online Disinhibition Effect 

Menurut Suler (2004), online disinhibition effect terdiri dari dua jenis, yaitu sebagai berikut:

a. Benign disinhibiton 

Benign disinhibition adalah pengungkapan diri secara online terkait informasi pribadi pada publik. Ketika berada di dunia maya, individu menjadi lebih terbuka dan membagikan hal-hal yang sangat pribadi tentang diri mereka sendiri, seperti emosi, ketakutan, dan harapan. Selain itu, terdapat tindakan kebaikan dan kedermawanan yang tidak bias, sampai terkadang keluar dari jalur mereka untuk membantu orang lain yang ditunjukkan ketika sedang berada di dunia maya.

b. Toxic disinhibition 

Toxic disinhibition adalah tindakan agresif yang hanya dilakukan individu ketika online dengan melibatkan kata-kata kasar, kebencian, ancaman, atau mengunjungi situs-situs negatif pada media sosial. Dalam dunia maya, terdapat individu-individu yang berbahasa kasar, mengkritik keras, menunjukkan kemarahan, menunjukkan menunjukkan kebencian, bahkan ancaman. Selain itu, terdapat individu-individu yang mengunjungi dunia gelap internet, seperti tempat-tempat pornografi, kejahatan, dan kekerasan. Jika di dunia nyata mereka tidak akan menjelajahi wilayah tersebut, tetapi ketika online mereka melakukannya karena kurangnya kendali.

PERHATIAN
Jika ingin mengcopy-paste referensi dari KajianPustaka.com, mohon untuk menambahkan sumber rujukan di daftar pustaka dengan format berikut:
Riadi, Muchlisin. (). Online Disinhibition Effect - Pengertian, Aspek dan Jenis. Diakses pada , dari https://www.kajianpustaka.com/2023/09/online-disinhibition-effect.html