Involusi Organ Reproduksi


Ilustrasi Organ Reproduksi
Ilustrasi Organ Reproduksi
Involusi adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya alat kandungan atau uterus dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan hingga mencapai seperti sebelum hamil. Perubahan ini khususnya pada alat kelamin dalam yaitu uterus dan ovarium (Ibrahim, 1996:28).

Involusi yang terjadi pada organ reproduksi antara lain:

Uterus

Setelah bayi lahir yang selama persalinan mengalami kontraksi dan retraksi akan menjadi keras, sehingga dapat menutup pembuluh darah besar yang bermuara pada bekas implantasi plasenta. Otot rahim yang terdiri tiga lapisan otot yang membentuk anyaman sehingga pembuluh darah dapat menutup sempurna, dengan demikian dapat terhindar dari perdarahan post partum (Manuaba, 1998 : 192). Dalam waktu 0-4 jam setelah persalinan tinggi fundus uteri meningkat menjadi 2 cm diatas pusat (12 cm diatas sympysis pubis). Selanjutnya tinggi fundus uteri menurun 1 jari (1 cm) tiap hari. Pada hari ke 7 pasca salin tinggi fundus uteri tidak dapat diraba lagi melalui dinding perut (Reeder, 1997 : 668).

Setelah plasenta lahir uterus merupakan alat yang keras, karena kontraksi dan retraksi otot-ototnya. Fundus uteri ± 3 jari dibawah pusat, selama 2 hari berikutnya besarnya tidak seberapa berkurang, tetapi sesudah 2 hari ini uterus mengecil dengan cepat, sehingga pada hari 10 tidak teraba lagi dari luar (Sastrawinata, 1983).
Sedangkan menurut Prawirohardjo (2005) setelah plasenta lahir tinggi fundus uteri ± jari bawah pusat. Uterus menyerupai suatu buah advokat gepeng berukuran panjang ±15 cm, lebar ±12 cm, dan tebal ±10 cm. Pada hari pertama post partum tinggi fundus uteri kira-kira 1 jari bawah pusat. Pada hari simfilis pusat, sesudah 12 hari uterus tidak dapat diraba lagi diatas simfisis.

Kontraksi uterus baik bila menjadi bundar dan keras, sebaliknya bila uterus lembek dan menjadi lebih tinggi dari tempatnya semula menunjukkan bahwa kontraksi uterus baik.

Lochea

Lochea tidak lain adalah sekret luka yang berasal dari luka dalam rahim terutama luka plasenta. Maka sifat lochea berubah seperti luka berubah menurut tingkat penyembuhan luka. (Sastrawinata, 1983). Dalam keadaan normal jumlah lochea yang keluar dan komponen darah didalamnya berubah secara bertahap disertai dengan perubahan warna yang semakin memucat.

Menurut Ibrahim (1996) lochea dapat dibagi dalam beberapa jenis, yaitu lochea rubra, lochea serosa dan lochea alba. Lochea rubra adalah lochea lapisan decidua, sisa-sisa korion, liquor amnii, rambut lanugo, vernix caseosa dan kemungkinan pula mekonium. Ini biasanya dikeluarkan 3 hari setelah melahirkan, lochea serosa adalah lochea yang berwarna kecoklatan dan agak pucat, berisi banyak serum, selaput lendir, luecocyten dan kuman penyakit yang telah mati. Jumlah lebih sedikit, dikeluarkan pada hari ke 4 sampai hari ke 9. Sedangkan lochea alba adalah lochea berwarna putih kekuningan dan berisi selaput lendir, leucocyten dan kuman penyakit yang telah mati, dikeluarkan pada hari 10 sampai hari ke 15 atau lebih.

Sedangkan menurut Manuaba (1998:193) pengeluaran lochea dapat dibagi berdasarkan jumlah dan warnanya sebagai berikut :
  1. Lochea rubra (kruenta) keluar pada hari pertama sampai hari ke tiga berwarna merah dan hitam terdiri dari sel desidua, verniks kaseosa, rambut lanugo sisa mekonium, sisa darah
  2. Lochea sanginolenta keluar pada hari ke 3 sampai 7 berwarna putih bercampur merah
  3. Lochea serosa keluar setelah ke 7 sampai ke 14 berwarna kekuningan
  4. Lochea alba keluar setelah hari ke 4 berwarna putih. Lochea dapat dikaji melalui pembalut yang dikenakan ibu masa nifas. 
Suatu penelitian memperkirakan bila noda pada pembalut lebih 6 inci mengandung darah 50-80 cc, bila pada pembalut nodanya kurang dari 4 inci mengandung darah 10-25 cc. Pengkajian lochea pada pembalut dikatakan jumlahnya berlebihan bila pembalut penuh dalam 1 jam. Jumlah lochea dikatakan cukup bila noda pada pembalut kurang dari 6 inci, diikatan tipis atau sedikit bila noda pada pembalut kurang dari 4 inci dan dikatakan sangat kurang bila noda pada pembalut kurang dari 1 inci (Reeder,1997 dalam Nursalam,2001:156).

Luka pada jalan lahir

Organ yang sering mengalami perlukaan pada persalinan adalah serviks, vulva, vagina, dan perineum. Semua itu merupakan tempat masuknya kuman-kuman patogen. Proses radang dapat terbatas pada luka-luka tersebut atau dapat menyebar keluar luka asalnya bila luka tidak disertai infeksi yang sembuh dalam 6-7 hari (Mochtar, 1998 : 116). Luka-luka jalan lahir seperti bekas episiotomi yang telah dijahit, luka pada vagina dan serviks umumnya bila tidak seberapa luas akan sembuh prepilitis yang dapat menjalar sampai keadaan sepsis (Winkjosastro, 1994 : 239).

After pain pasca salin

After pain adalah mules-mules sesudah partus akibat kontraksi uterus kadang-kadang sangat mengganggu selama 2-3 hari post partum. Perasaan mules ini lebih terasa bila wanita tersebut sedang menyusui. Perasaan sakit itupun timbul bila masih ada sisa-sisa selaput ketuban, sisa plasenta atau gumpalan darah didalam kavum uteri (Winkjosastro, 1994 : 239).

Menurut Sastrawinata (1983) his pengiring  terutama terasa oleh multipara, karena rahimnya berkontraksi dan berelaksasi, yang menimbulkan perasaan nyeri. His pengiring terutama terasa waktu menyusukan anaknya. Biasanya setelah 48 jam post partum tidak seberapa mengganggu lagi. Primipara kurang diganggu oleh his pengiring, karena uterusnya dalam kontraksi dan retraksi yang tonis (terus-menerus).

Serviks

Setelah bersalin bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarma merah kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil. Setelah bayi lahir tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui 2-3 jari dan setelah 7 hari dapat dilalui 1 jari (Mochtar, 1998)

Ligamen-ligamen

Ligamen facial dan diafragma pelvis yang meregang saat partus setelah bayi lahir secara berangsur-angsur ciut dan pulih kembali. Tidak jarang uterus jatuh kebelakang menjadi retrofleksi karena ligamen rotundum menjadi longgar apabila suatu kebiasaan wanita di Indonesia setelah melahirkan pijat dimana waktu dipijat tekanan abdominal bertambah tinggi, oleh karena setelah melahirkan ligamenta, fasia dan jaringan penunjang menjadi kendor maka tidak heran kalau wanita mengeluh kandungannya turun atau terbaik. Untuk memulihkan perlu diadakan latihan-latihan pasca salin (Prawirohardjo, 2005).

Endometrium

Perubahan pada endometrium adalah timbulnya trombosis degenerasi dan nekrosis ditempat implantasi plasenta. Pada hari pertama masa nifas endometrium yang kira-kira 2-5 mm itu mempunyai pembukaan yang kasar akibat pelepasan desidua dan selaput. Setelah tiga hari permukaan endometrium mulai rata akibat lepasnya sel-sel yang mengalami degenarasi. Sebagian endometrium terlepas oleh proses itu. Regenerasi endometrium terjadi dari sisa-sisa sel desidua basalis yang memakan waktu 2-3 minggu (Winkjosastro, 1994:237).

Hemokonsentrasi

Pada masa hamil didapat hubungan yang dikenal dengan shunt antara sirkulasi ibu dan plasenta. Setelah persalinan shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relatif bertambah, dengan mekanisme kompensasi timbulnya hemokonsentrasi kembali normal, terjadi pada hari ke 3-5 pasca salin (Winkjosastro, 1994 : 239).

Laktasi

Menurut Mochtar (1998 : 131) untuk menghadapi laktasi sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mammae. Setelah persalinan pengaruh supresi estrogen dan progesteron hilang, maka timbul laktogenik hormone (LH) atau prolaktin yang akan merangsang pembentukan ASI. Disamping itu pengaruh oksitosin menyebabkan mioepitel kelenjar susu berkontraksi sehingga ASI keluar. Produksi ASI akan maksimal sesudah 2-3 hari post partum.

Daftar Pustaka

  • Ibrahim. 1996. Perawatan Kebidanan Jilid III. Jakarta : Bharata Karya Aksara
  • Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu Kebidanan,Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC
  • Nursalam, dan S. Pariani. 2002. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta : Rineka Cipta
  • Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri I. Jakarta : EGC
  • Prawirohardjo, S. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
  • Winkjosastro. 1994. Asuhan Pelayanan Maternal dan Neonatal. Jakarta : EGC
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih