Teori Motivasi Kebutuhan Manusia

Motivasi Kebutuhan Manusia
Motivasi Kebutuhan Manusia
Banyak teori yang dapat menjelaskan mengenai motivasi kebutuhan manusia. Teori motivasi kebutuhan dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu teori dini motivasi dan teori kontemporer motivasi (Robbins, 1996:125).

Teori Hirarki Kebutuhan

Teori ini diciptakan oleh Abraham Maslow, dalam teorinya mengatakan bahwa manusia memiliki lima tingkat kebutuhan mulai dari paling bawah sampai paling tinggi. Manusia terlebih dahulu akan memenuhi kebutuhan yang paling bawah sebelum berusaha untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. Kelima kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Physiological needs, kebutuhan ini adalah kebutuhan manusia paling dasar seperti kebutuhan  akan air, makanan dan tempat tinggal. 
  2. Safety needs, individu yang berada pada tingkatan ini membutuhkan keamanan, seperti lingkungan yang aman, bebas dari kejahatan yang mengancam fisik maupun psikologis mereka. 
  3. Social needs, kebutuhan ini merefleksikan kebutuhan individu untuk memiliki kehidupan sosial. 
  4. Esteem needs, pada tingkatan ini kebutuhan individu semakin meningkat. Individu tidak lagi hanya ingin memenuhi kebutuhan dasar, keamanan, dan sosial mereka akan tetapi individu juga membutuhkan suatu penghargaan dari orang lain. 
  5. Self actualization, tingkat kebutuhan manusia paling tinggi menurut Maslow adalah kebutuhan akan aktualisasi diri yaitu dorongan untuk menjadi  apa yang diinginkan, mencakup pertumbuhan, pemenuhan diri dan pengembangan potensi yang dimiliki.

Teori X dan teori Y

Kedua teori ini dibuat oleh Douglas McGregor. Teori X mengandaikan bahwa manusia atau karyawan tidak menyukai kerja, malas, tidak menyukai tanggung jawab dan harus dipaksa untuk berprestasi. Teori Y mengandaikan sebaliknya, bahwa  manusia menyukai kerja, kreatif, dan berusaha untuk bertanggung jawab.

Teori Motivasi Hygiene

Teori yang dibuat oleh Frederick Herzberg mengatakan bahwa hubungan seorang individu dengan kerja merupakan suatu hubungan dasar dan sikap individu terhadap kerja sangat menentukan berhasil atau gagalnya individu tersebut. Faktor-faktor yang menghantarkan kepuasan kerja terpisah dan berbeda dengan faktor-faktor yang menghantar ke ketidakpuasan kerja. Menghilangkan faktor ketidakpuasan kerja bukan berarti karyawan akan mencapai kepuasan kerja dan termotivasi.

Faktor-faktor yang dapat menciptakan kepuasan kerja merupakan faktor intrinsik seperti prestasi, pengakuan, kerja itu sendiri, tanggung jawab, kemajuan dan pertumbuhan. Faktor penyebab ketidakpuasan adalah faktor ekstrinsik seperti kebijakan dan administrasi perusahaan, penyeliaan gaji, hubungan dengan rekan kerja, kondisi kerja dan lain-lain. Herzberg menyebutkan faktor penyebab ketidakpuasan sebagai faktor hygiene. Apabila faktor hygiene dapat memadai maka dapat menentramkan karyawan, tetapi apabila faktor hygiene tidak memadai maka karyawan tidak akan terpuaskan.

Teori ERG

Teori ini diciptakan oleh Clayton Alderfer yang merupakan revisi dari teori kebutuhan Maslow. Manusia memiliki tiga kebutuhan, yaitu kebutuhan teras (exictence), keterhubungan (relationship), dan pertumbuhan (growth). Pembagian kebutuhan didasarkan pada lima kebutuhan manusia dalam teori Maslow yang disederhanakan menjadi tiga kebutuhan. Teori ini lebih dikenal dengan nama teori ERG.

Walaupun memiliki kemiripan dengan teori Maslow, antara lain dikatakan bahwa manusia dapat memiliki lebih dari satu kebutuhan sekaligus. Perbedaan lain adalah teori ERG tidak membuat suatu hirarki kebutuhan manusia yang tegas, artinya manusia dapat saja memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi sebelum kebutuhan yang lebih rendah terpenuhi. Perbedaan terakhir ini didukung oleh berbagai macam studi yang telah dilakukan.

Berdasarkan penelitian atau studi yang dilakukan terungkap bahwa teori Maslow tidak berjalan. Kebutuhan tingkat atas dapat saja terpenuhi walaupun kebutuhan tingkat bawah belum terpenuhi (Davis, 1987:112). Pemenuhan kebutuhan tergantung  pada prioritas kebutuhan itu sendiri.

Teori Kebutuhan Mc Clelland

Teori ini disusun oleh David Mc Clelland dan memusatkan pada tiga kebutuhan, yaitu:

  1. Kebutuhan akan prestasi (achievement) yaitu kebutuhan untuk mengungguli, berprestasi dan berjuang untuk meraih keberhasilan.
  2. Kebutuhan akan  kekuasaan (power) yaitu kebutuhan untuk mempunyai pengaruh, dampak, dan mengendalikan orang-orang lain.
  3. Kebutuhan akan pertalian (affiliation) yaitu kebutuhan untuk memiliki hubungan yang baik.


Teori Evaluasi Kognitif  

Teori ini mengatakan bahwa pemberian ganjaran ekstrinsik untuk perilaku yang sebelumnya telah diberi ganjaran intrinsik cenderung mengurangi tingkat motivasi keseluruhan. Ganjaran ekstrinsik adalah ganjaran yang berasal dari luar diri individu berupa upah. Ganjaran intrinsik adalah ganjaran yang  berasal dari dalam diri individu seperti prestasi, tanggungjawab, kompetensi dan lain sebagainya.

Teori Penguatan Tujuan (Goals Theory)

Teori ini disusun oleh Edwin Locke yang mengatakan bahwa maksud-maksud untuk bekerja ke arah suatu tujuan merupakan sumber utama dari motivasi kerja. Tujuan yang spesifik lebih baik daripada tujuan samar-samar karena tujuan yang jelas akan dapat meningkatkan kinerja.

Teori Penguatan (Reinforcement Theory) 

Teori ini mengatakan bahwa perilaku merupakan fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya. Teori penguatan mengabaikan  keadaan dalam diri individu dan memusatkan perhatian pada apa yang terjadi pada seseorang apabila mengambil suatu tindakan.

Teori Keadilan (Equity)

Teori ini menyatakan bahwa tiap individu mencoba untuk membandingkan masukan  (input) dan keluaran (output) pekerjaan mereka dengan orang lain. Berdasarkan hasil dari perbandingan akan  timbul suatu respon dari individu terhadap hasil perbandingan. Individu akan merasa keadilan terjadi apabila perbandingan antara output dengan input mereka sama dengan perbandingan output dengan input orang lain.

Teori Pengharapan (Expectancy)

Teori yang dibuat oleh Victor Vroom ini menyatakan bahwa kuatnya kecenderungan untuk bertindak dalam suatu cara tertentu tergantung pada kekuatan suatu pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh suatu keluaran tertentu dan daya tarik dari keluaran tersebut bagi individu. Dalam bahasa yang lebih sederhana  dapat dikatakan bahwa individu akan termotivasi untuk mengeluarkan semua upaya apabila individu yakin upaya yang dilakukan  akan membuahkan suatu hasil (ganjaran) yang diharapkan dan hasil (ganjaran) merupakan sesuatu sangat menarik bagi individu.

Daftar Pustaka

Robbins, S.P., 1996, Organizational Behaviour, Prentice Hall, New York.