Tahapan, Tipe dan Faktor Perilaku Merokok


Perilaku Merokok

Perilaku Merokok
Perilaku Merokok
Merokok adalah menghisap tembakau yang dibakar kedalam tubuh dan menghembuskan kembali keluar (Amstrong, 1990).

Merokok merupakan perilaku yang berbahaya bagi kesehatan, tetapi masih banyak orang yang melakukan. Bahkan orang merokok ketika mereka masih remaja. Sejumlah studi menegaskan bahwa kebanyakan perokok mulai merokok antara umur 11 dan 13 tahun dan 85% sampai 95% sebelum umur 18 tahun (Smet, 1994).

Tahapan Merokok

Terdapat empat tahapan seseorang melakukan kebiasaan merokok, yaitu (Komasari & Helmi, 2000):
  1. Tahap Prepatory. Seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat atau dari hasil bacaan, hal-hal ini dapat menimbulkan minat untuk merokok. 
  2. Tahap Initiation. Tahap perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang akan meneruskan atau tidak terhadap perilaku merokok. 
  3. Tahap Becoming a Smoker. Apabila seseorang sudah mengkonsumsi rokok sebanyak empat batang perhari, 
  4. Tahap Maintenance of Smoking. Tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara mengaturan diri.

Tipe Perokok

Tipe-tipe perokok berdasarkan banyaknya rokok yang dihisap digolongkan menjadi tiga tipe, yaitu (Smet, 1994):
  1. Perokok berat yang menghisap lebih dari 15 batang rokok dalam sehari. 
  2. 2Perokok sedang yang menghisap 5-14 batang rokok dalam sehari. 
  3. Perokok ringan menghisap 1-4 batang rokok dalam sehari.
Menurut Silvan dan Tomkins dalam Mutadin (2002) ada empat tipe perilaku merokok berdasarkan Management of affec theory, yaitu :

a. Perilaku perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif

Pleasure relaxition adalah perilaku merokok hanya untuk menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah di dapat, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan. Simulation to pick them up adalah perilaku merokok hanya dilakukan sekedar untuk menyenangkan perasaan. Pleasure of handling the cigerette adalah perilaku merokok berdasarkan kenikmatan yang dipereloh dari memegang rokok.

b. Perilaku perokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif

Banyak orang merokok untuk mengurangi perasaan negatif dalam dirinya. Misalnya merokok bila marah, cemas, gelisah, rokok dianggap sebagai penyelamat. Mereka menggunakan rokok bila perasaan tidak enak terjadi, sehingga terhindar dari perasaan yang lebih tidak enak.

c. Perilaku perokok yang adiktif

Perokok yang sudah adiksi, akan nenambah dosis rokok yang digunakan setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang.

d. Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan

Mereka menggunakan rokok sama sekali bukan karena untuk mengendalikan perasaan mereka, tetapi karena sudah menjadi kebiasaan.

Faktor Merokok

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok dibagi menjadi beberapa sebab, yaitu (Komalasari dkk, 2000):

a. Kebiasaan

Kebisaan merokok adalah kegiatan mengisap rokok yang dilakukan secara berulang-ulang, teratur dan sulit dilepaskan. Telah biasa artinya tidak memerlukan sesuatu yang lebih untuk melakukannya. Kebiasaan adalah sesuatu yang sudah mendarah daging.

Mereka menggunakan rokok sama sekali bukan karena untuk mengendalikan perasaan mereka, tetapi karena benar-benar sudah menjadi rutinitas. Dapat dikatakan pada orang-orang tipe ini merokok sudah merupakan suatu perilaku yang bersifat otomatis, seringkali tanpa dipikirkan dan tanpa disadari. Ia menghidupkan api rokoknya bila rokok yang terdahulu telah benar-benar habis.

b. Reaksi Emosi

Merokok digunakan untuk menghasilkan emosi yang positif, misalnya rasa senang, relaksasi, dan kenikmatan rasa. Merokok juga dapat menunjukkan kejantanan (kebanggaan diri) dan menunjukkan kedewasaan. Merokok ditujukan untuk mengurangi rasa tegang, kecemasan biasa, ataupun kecemasan yang timbul karena adanya interaksi dengan orang lain.

c. Lingkungan Sosial

Kebanyakan remaja memulai kebiasaan merokok karena ikut-ikutan teman, selain itu juga karena terpengaruh oleh image yang diciptakan oleh produsen rokok (misalnya dengan menggunakan idola remaja sebagai bintang iklan).

Faktor sosial lain yang berpengaruh terhadap perilaku merokok remaja adalah faktor keluarga. Dalam kaitannya dengan perilaku merokok remaja keluarga menjadi determinan kedua setelah teman sebaya. Keluarga dapat menjadi sumber dukungan dan pemenuhan kebutuhan bagi remaja, tetapi juga merupakan sumber bagi remaja untuk belajar norma-norma dan perilaku termasuk perilaku merokok.

d. Biologis

Faktor ini menekankan pada kandungan nikotin yang ada didalam rokok yang dapat mempengaruhi ketergantungan seseorang pada rokok secara biologis Nikotin merupakan alkaloid yang bersifat stimulan dan pada dosis tinggi beracun. Zat ini hanya ada dalam tembakau, sangat adiktif, dan mempengaruhi otak/susunan saraf.

Dalam jangka panjang, nikotin akan menekan kemampuan otak untuk mengalami kenikmatan, sehingga perokok akan selalu membutuhkan kadar nikotin yang semakin tinggi untuk mencapai tingkat kepuasan dan ketagihannya.

Daftar Pustaka

  • Armstrong. 1990. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta PT Gramedia.
  • Komalasari dan Helmi. 2006. Faktor-faktor Penyebab Merokok Pada Remaja. Jurnal Psikologi Unversitas Gajah Mada Yogyakarta
  • Mutadin, Z. 2002. Kemandirian Sebagai Kebutuhan Psikologis Pada Remaja dan rokok. www.e-psikologi.com
  • Smet. 1994. Psikologi Kesehatan. Semarang: PT Gramedia.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih