Burnout (Kelelahan Kerja); Indikator, Faktor & Gejalanya


Apa itu Burnout (Kelelahan Kerja)?

Burnout (Kelelahan Kerja)
Ilustrasi Kelelahan Kerja
Burnout merupakan istilah psikologis yang digunakan untuk menunjukkan keadaan kelelahan kerja. Istilah burnout pertama kali diperkenalkan oleh Bradley pada tahun 1969, namun tokoh yang dianggap sebagai penemu dan penggagas istilah burnout adalah Herbert Freudenberger, dalam bukunya, Burnout: The High Cost of High Achievement pada tahun 1974, memberikan ilustrasi tentang apa yang dirasakan seseorang yang mengalami sindrom tersebut seperti gedung yang terbakar habis (burned-out). Suatu gedung yang pada mulanya berdiri tegak dan megah dengan berbagai aktivitas di dalamnya, setelah terbakar yang tampak hanyalah kerangka luarnya saja. Demikian pula dengan seseorang yang terkena kelelahan kerja, dari luar segalanya masih tampak utuh, namun di dalamnya kosong dan penuh masalah (seperti gedung yang terbakar tadi). Sejak itu pula terminologi burnout berkembang menjadi pengertian luas dan dipakai untuk memahami fenomena kejiwaan seseorang. Burnout dapat diartikan sebagai kehabisan tenaga (Babakus, et al. 1999).

Orang yang mengalami tekanan pekerjaan terus menerus akan mengalami depersonalization yang merupakan tendensi kemanusiaan terhadap sesama yang merupakan pengembangan sikap sinis mengenai karir dan kinerja diri sendiri (Pines & Guendlman, 1995). Para pekerja yang terkena kelelahan kerja (burnout) mengalami kelelahan mental, kehilangan komitmen, kelelahan emosional, dan juga mengalami penurunan motivasi seiring dengan berjalannya waktu (Bhanugopan & Alan, 2006).

Burnout sebagai gabungan dari tiga tendensi psikis, antara lain; kelelahan emosional (emotional exhaustion), sikap tidak peduli terhadap karir dan diri sendiri atau depersonalization, serta penurunan pencapaian individu (personal accomplishment) (Maslach & Jackson, 1981).

Indikator Burnout

Burnout memiliki empat indikator yang terdiri atas kelelahan fisik atau physical exhaustion, kelelahan emosional atau emotional exhaustion, dan kelelahan mental atau mental exhaustion, serta rendahnya penghargaan diri atau low of personal accomplishment (Baron & Greenberg, 2008).

a. Physical Exhaustion 

Kekurangan energi pada diri seseorang dengan merasa kelelahan dalam kurun waktu yang panjang dan menunjukkan keluhan fisik seperti sakit kepala, mual, susah tidur, dan mengalami perubahan pada nafsu makan yang diekspresikan dengan kurang bergairah dalam bekerja, lebih banyak melakukan kesalahan, merasa sakit padahal tidak terdapat kelainan pada fisiknya (Baron & Greenberg 2008).

b. Emotional exhaustion 

Merupakan suatu indikator dari kondisi burnout yang berwujud perasaan sebagai hasil dari excessive psychoemotional demands yang ditandai hilangnya perasaan dan perhatian, kepercayaan, minat dan semangat (Pines & Aronson,1989). Orang yang mengalami kelelahan emosional atau emotional exhaustion ini akan merasa hidupnya kosong, lelah dan tidak dapat lagi mengatasi tuntutan pekerjaannya.

c. Diminished personal accomplishment 

Merupakan indikator dari kurangnya aktualisasi diri, rendahnya motivasi kerja dan penurunan rasa percaya diri. Seringkali kondisi ini terlihat pada kecenderungan dengan rendahnya prestasi yang dicapainya (Cordes & Dougherty, 1993; dan Maslach, 2001).


d. Depersonalization 

Adalah tendensi kemanusiaan terhadap sesama yang merupakan pengembangan dari sikap sinis terhadap karier,dan kinerjanya sendiri (Cordes & Dougherty, 1993; dan Maslach, 2001). Seseorang yang mengalami masalah depersonalisasi merasa tidak ada satupun aktivitas yang dilakukannya bernilai atau berarti. Sikap ini ditunjukkan melalui perilaku masa bodoh, bersikap sinis, tidak berperasaan dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain.

Beban kerja yang berlebihan dapat menjadi salah satu faktor dari suatu pekerjaan yang berdampak pada timbulnya burnout (Schaufeli, Maslach & Marek, 1993). Selain itu Santrock (2003) menegaskan bahwa apabila pemberian tugas yang sangat berlebihan berlangsung terus menerus tentu dapat menimbulkan burnout pada diri seseorang yang terberdayakan di mana perasaan overload dari kelelahan fisik dan mental merupakan suatu akumulasi stres dalam jangka waktu yang panjang.

Faktor Pendukung Terciptanya Burnout

Faktor-faktor pendukung terciptanya kondisi burnout  di lingkungan kerja tempat terjadinya interaksi antara pemberi dan penerima pelayanan yang menyebabkan kelelahan secara fisik (depletion) (Maslach, 1982). Selain itu, analisis diperlukan untuk mengkaji faktor-faktor individu yang ada pada pemberi pelayanan yang turut memberikan kontribusi terhadap timbulnya burnout. Dengan demikian timbulnya burnout tidak semata karena stres namun disebabkan oleh adanya: a. Karakteristik individu, b. Lingkungan kerja, dan c. Keterlibatan emosional dengan penerima pelayanan.


a. Karakteristik Individu 

Sumber dari dalam diri individu yang memberi kontribusi atas timbulnya burnout dapat digolongkan menjadi dua faktor, yaitu faktor demografik dan faktor kepribadian (Caputo,1991; Farber,1991; dan Maslach,1982).

b. Lingkungan Kerja 

Beban kerja atau overload yang berlebihan dapat menyebabkan pemberi pelayanan merasakan adanya ketegangan emosional saat melayani klien. Hal ini dapat memberikan dorongan bagi pemberi pelayanan untuk menarik diri secara psikologis dan menghindari untuk terlibat dengan klien (Maslach, 1982).

c. Keterlibatan Emosional dengan Penerima Pelayanan

Pemberi dan penerima pelayanan turut membentuk dan mengarahkan terjadinya hubungan yang melibatkan emosional, sehingga secara tidak disenga-ja dapat menyebabkan terjadinya tekanan emosional karena keterlibatan antar mereka yang bisa memberikan penguatan positif serta kepuasan bagi kedua belah pihak, atau sebaliknya (Freudenberger, 1974).

Gejala- gejala Burnout

Cherniss (1980) menyatakan bahwa gejala-gejala seseorang mengalami burnout antara lain;
  1. Terdapat perasaan gagal di dalam diri.
  2. Cepat marah dan sering kesal.
  3. Sering merasa bersalah dan menyalahkan.
  4. Keengganan dan ketidakberdayaan.
  5. Bersikap negatif dan menarik diri.
  6. Perasaan capek dan lelah setiap hari.
  7. Hilangnya perasaan positif terhadap klien.
  8. Menunda kontak dengan klien dan membatasi telepon dari klien.
  9. Bersikap sinis dan sering kali menyalahkan klien.
  10. Sering sulit tidur bahkan sampai menggunakan obat penenang.
  11. Menghindari diskusi mengenai pekerjaan dengan teman kerja.
  12. Sering demam dan flu, sakit kepala dan gangguan pencernaan.
  13. Tidak lues berpikir dan resisten terhadap perubahan.
  14. Rasa curiga yang berlebihan, paranoid.
  15. Konflik perkawinan atau keluarga yang berkepanjangan.

Alat ukur yang paling sering digunakan untuk mengukur burnout dikenal sebagai Maslach Burnout Inventory (MBI). MBI diciptakan oleh Maslach dan Jackson pada tahun 1981, dan digunakan sebagai alat pengukur burnout bagi orang-orang yang bekerja dibidang pelayanan sosial sehingga lebih dikenal sebagai MBI-Human Services Survey (MBI-HSS).
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih