Pengertian, Penyebab, Dampak dan Pengendalian Inflasi


Pengertian Inflasi 

Pengertian, Penyebab, Dampak dan Pengendalian Inflasi
Ilustrasi Inflasi
Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga umum untuk naik secara terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga barang barang lainnya (Boediono, 1997:97).

Inflasi adalah ukuran aktivitas ekonomi yang juga sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ekonomi nasional. Secara lebih jelas inflasi dapat didefinisikan sebagai suatu ukuran ekonomi yang memberikan gambaran tentang peningkatan harga rata-rata barang atau jasa yang diproduksi oleh suatu sistem perekonomian.

Berikut ini adalah beberapa pengertian inflasi dari beberapa sumber referensi:
  • Menurut Sukirno (2004:333), inflasi adalah kenaikan dalam harga barang dan jasa, yang terjadi karena permintaan bertambah lebih besar dibandingkan dengan penawaran barang di pasar.
  • Menurut Khalwati (2000:5), inflasi adalah suatu keadaan dimana terjadi kenaikan harga-harga secara tajam (absolute) yang berlangsung secara terus-menerus dalam jangka waktu yang cukup lama yang diikuti dengan semakin merosotnya nilai riil (intrinsik mata uang suatu negara.
  • Menurut Asfia Murni (2006:202), inflasi adalah suatu kejadian yang menunjukkan kenaikan tingkat harga secara umum dan berlangsung secara terus menerus.
  • Menurut Putong (2003:147), inflasi adalah naiknya harga-harga secara umum yang disebabkan oleh tidak sinkronnya antara program pengadaan komoditi (produksi, penentu harga, pencetak uang dan sebagainya) dengan tingkat pendapatan yang dimiliki oleh masyarakat.
Kenaikan harga dari masing-masing barang tidak perlu sama (baik secara mutlak maupun presentasenya). Demikian pula waktu kenaikannya tidak perlu bersamaan. Yang penting adalah kenaikan harga umum barang tersebut terjadi secara terus menerus selama satu periode tertentu. Kenaikan harga dapat diukur menggunakan indeks harga. Beberapa indeks harga yang sering digunakan untuk mengukur Inflasi adalah indeks harga konsumen (consumer price index), indeks harga perdagangan besar (wholesale price index), GNP deflator (Nopirin, 2000:25).

Berdasarkan hasil pengukuran indeks harga, inflasi dibedakan menjadi empat tingkat, yaitu (Boediono, 1998:162):
  1. Inflasi Ringan : < 10 % per tahun 
  2. Inflasi Sedang : 10 – 30 % per tahun 
  3. Inflasi Berat : 30 -100 % per tahun
  4. Hiperinflasi : 2 100 % per tahun

Penyebab Inflasi 

Menurut Bank Indonesia, inflasi dapat disebabkan oleh tiga hal berikut ini:
  1. Tarikan Permintaan (demand full inflation). Inflasi ini timbul apabila permintaan agregat meningkat lebih cepat dibandingkan dengan potensi produktif perekonomian. 
  2. Dorongan Biaya (Cost-push inflation). Inflasi ini timbul karena adanya depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara partner dagang, peningkatan harga – harga komoditi yang diatur pemerintah (administered price), dan terjadi negative supply shock akibat bencana alam dan terganggunya distribusi. 
  3. Ekspektasi Inflasi (Inflation Expectation). Inflasi ini dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi apakah lebih cenderung bersifat adaptif atau forward looking. Hal ini tercermin dari perilaku pembentukan harga di tingkat produsen dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besar keagamaan dan penentuan upah minimum regional.

Dampak Inflasi 

Dampak atau akibat yang ditimbulkan dari adanya inflasi adalah sebagai berikut (Asfia Murni, 2006:206):
  1. Inflasi akan menurunkan pendapatan riil yang diterima masyarakat dan ini sangat merugikan orang-orang yang berpenghasilan tetap.
  2. Inflasi menimbulkan dampak yang buruk pula pada neraca pembayaran, karena menurunnya ekspor dan meningkatnya impor menyebabkan ketidakseimbangan terhadap aliran masuk dana ke luar negeri. 
  3. Pada saat keadaan yang tidak menentu (inflasi), para pemilik modal lebih cenderung menanamkan modalnya dalam bentuk pembelian tanah, rumah dan bangunan. Pengalihan investasi ini menyebabkan kegiatan investasi produktif berkurang dan kegiatan ekonomi menurun. 
  4. Ketika biaya produksi naik akibat inflasi, hal ini akan sangat merugikan pengusaha dan ini menyebabkan kegiatan investasi beralih pada kegiatan yang kurang untuk mendorong produk nasional. 
  5. Inflasi akan mengurangi nilai kekayaan berbentuk uang. Seperti tabungan masyarakat di bank nilai riilnya akan menurun.

Pengendalian Inflasi 

Pengendalian inflasi secara umum oleh pemerintah terbagi melalui kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dan kebijakan non moneter (Nopirin, 2000:34).
  1. Kebijakan moneter, adalah kebijakan pemerintah melalui bank sentral mengatur jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter berupa kebijakan diskonto, pasar terbuka, Cash ratio dan pembatasan kredit. 
  2. Kebijakan fiskal, adalah kebijakan mengatur pengeluaran pemerintah dan mengatur perpajakan. untuk mengatasi inflasi pemerintah mengambil langkah: 1) Menekan pengeluaran pemerintah. 2). Menaikkan pajak. 3). Mengadakan pinjaman pemerintah. 
  3. Kebijakan non Moneter, adalah kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi inflasi diluar kebijakan Moneter dan kebijakan fiskal. Kebijakan non moneter yang dilakukan pemerintah antara lain mengendalikan harga, menaikkan hasil produksi dan kebijakan upah.

Daftar Pustaka

  • Boediono. 1997. Ekonomi Makro: Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 2. Yogyakarta: Penerbit BPFE.
  • Nopirin. 2000. Ekonomi Moneter Buku 2. Yakarta: BPFE.
  • Sukirno, Sadono. 2004. Makro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa.
  • Khalwaty, MS Tajul. 2000. Inflasi dan Solusinya. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
  • Asfia Murni. 2006. Ekonomi Makro. Jakarta. Refika Aditama.
  • Putong, Iskandar. 2003. Pengantar Ekonomi Mikro dan Makro. Ghalia Indonesia.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih