Definisi, Gejala dan Faktor Penyebab Insomnia


Definisi Insomnia 

Definisi, Gejala dan Faktor Penyebab Insomnia
Ilustrasi Insomnia
Insomnia adalah keluhan yang sering muncul berupa kendala-kendala seperti kesulitan tidur, tidur tidak tenang, kesulitan menahan tidur atau untuk tetap tidur, seringnya terbangun di pertengahan malam dan seringnya terbangun lebih awal pada diri seseorang (Rafknowledge, 2004:57).

Istilah insomnia berasal dari bahasa Latin, yaitu "in-" = tidak atau tanpa dan "somnus" = tidur. Maksudnya adalah tidak dapat tidur atau sulit untuk memulai tidur, sulit untuk tetap tidur, dan kesulitan untuk memperoleh kualitas tidur yang cukup (Nevid, 2005:70).

Berikut beberapa definisi Insomnia dari beberapa sumber referensi:
  • Insomnia didefinisikan sebagai keluhan kesulitan untuk memulai tidur. kesulitan mempertahankan tidur, atau mengalami nonrestorative sleep, dan biasanya dihubungkan dengan masalah pada aktivitas siang hari (Stepanski, 2009). 
  • Menurut Clinical Practice Guideline Adult Insomnia: Assesement to Diagnosis (Panduan Praktis Klinis Insomnia untuk Orang Dewasa: Assesment untuk Diagnosis) (2007:3) mendefinisikan insomnia sebagai kesulitan memasuki tidur, kesulitan untuk tetap tidur, atau tidur yang tidak dapat menyegarkan pada seseorang yang padahal ia mempunyai kesempatan untuk tidur malam yang normal, yaitu 7-8 jam. 
  • Menurut Hoeve (1992) insomnia merupakan keadaan tidak dapat tidur atau terganggunya pola tidur. Orang yang bersangkutan mungkin tidak dapat tidur, sukar untuk jatuh tidur, atau mudah terbangun dan kemudian tidak dapat tidur lagi.

Gejala dan Pengaruh Insomnia 

Insomnia adalah gejala atau penyakit akibat dari kekurangan tidur, atau yang terganggu oleh jam-jam dari bagian waktu yang tak sadar yang merupakan bagian terpenting untuk menuju tidur nyenyak. Penderita insomnia sesungguhnya juga bukan semata-mata karena akibat seringnya kurang tidur atau berada dalam pendeknya masa tidur, tetapi sangat mungkin disebabkan oleh adanya beberapa faktor lain (Vrisaba, 2002).

Insomnia atau gangguan sulit tidur merupakan suatu keadaan seseorang dengan kuantitas dan kualitas tidur yang kurang. Gejala insomnia sering dibedakan sebagai berikut (Laniwaty, 2001:13):
  1. Kesulitan memulai tidur (initial insomnia), biasanya disebabkan oleh adanya gangguan emosi, ketegangan atau gangguan fisik, (misal: keletihan yang berlebihan atau adanya penyakit yang mengganggu fungsi organ tubuh). 
  2. Bangun terlalu awal (early awakening), yaitu dapat memulai tidur dengan normal, namun tidur mudah terputus dan atau bangun lebih awal dari waktu tidur biasanya, serta kemudian tidak bisa kembali tidur lagi. Gejala ini sering muncul seiring dengan bertambahnya usia seseorang atau karena depresi dan sebagainya.
Gejala-gejala yang umumnya muncul pada seseorang yang mengalami insomnia berpengaruh dengan ciri-ciri sebagai berikut (Rafknowledge, 2004:60):
  1. Kesulitan jatuh tertidur atau tidak tercapainya tidur nyenyak. Keadaan ini bisa berlangsung sepanjang malam dan dalam tempo berhari-hari, berminggu-minggu atau lebih. 
  2. Merasa lelah saat bangun tidur dan tidak merasakan kesegaran. Mereka yang mengalami insomnia seringkali merasa tidak pernah tertidur sama sekali.
  3. Sakit kepala di pagi hari. Ini sering disebut efek mabuk, padahal nyatanya orang tersebut tidak minum-minum di malam itu.
  4. Kesulitan berkonsentrasi.
  5. Mudah marah.
  6. Mata memerah. 
  7. Mengantuk di siang hari.

Jenis-jenis Insomnia 

Insomnia dalam National Institutes of Health (1995) dapat dibagi menjadi transient (sementara), intermittent (kadang-kadang) dan kronis (konstan). Menurut klasifikasi diagnostik WHO pada tahun 1990, insomnia dimasukkan dalam golongan DIMS (Disorder of Initiating and Maintaining Sleep). Secara umum imsomnia dibagi menjadi dua jenis, yaitu (Lanywati, 2001:14):

a. Insomnia Primer 

Merupakan gangguan sulit tidur yang penyebabnya belum diketahui secara pasti dan biasanya berlangsung lama atau kronis (long term insomnia). Insomnia primer sering menyebabkan terjadinya komplikasi kecemasan dan depresi, yang justru dapat menyebabkan insomnia semakin parah.

b. Insomnia Sekunder 

Merupakan gangguan sulit tidur yang penyebabnya dapat diketahui secara pasti. Penyebabnya dapat berupa faktor gangguan sakit fisik dan gangguan kejiwaan (psikis). Insomnia sekunder dibedakan menjadi dua, yaitu insomnia sementara (transient insomnia) dan insomnia jangka pendek (short term insomnia). Insomnia sementara (transient insomnia) terjadi pada seseorang yang dapat tidur normal, namun karena adanya stres atau ketegangan sementara menjadi sulit tidur. Sedangkan insomnia jangka pendek (short term insomnia) merupakan gangguan sulit tidur yang terjadi pada para penderita sakit fisik atau mendapat stres situasional.

Sedangkan menurut Fisher, insomnia dibedakan menjadi tiga bentuk dan ditambahkan satu bentuk lagi oleh Maxmen, sehingga ada empat bentuk insomnia, yaitu (Hardjanta, 2003:2):
  1. Sleep-onset (Initial) Insomnia, yang meliputi kesulitan untuk jatuh atau masuk tidur. 
  2. Sleep-maintenance (Middle) insomnia, yang ditandai dengan sering terbangun di malam hari. 
  3. Terminal insomnia, yang berbentuk bangun awal pada pagi hari dan dan tidak dapat kembali tidur. 
  4. Pan-insomnia, yaitu kesulitan tidur sepanjang malam.

Faktor Penyebab Insomnia 

Menurut Rafknowldege (2004:58), jika diambil garis besarnya, faktor-faktor penyebab insomnia yaitu :
  1. Stres atau Kecemasan. seseorang yang didera kegelisahan yang dalam, biasanya karena memikirkan permasalahan yang sedang dihadapi.
  2. Depresi. Selain menyebabkan insomnia, depresi juga bisa menimbulkan keinginan untuk tidur terus sepanjang waktu, karena ingin melepaskan diri dari masalah yang dihadapi. Depresi bisa menyebabkan insomnia dan sebaliknya insomnia dapat menyebabkan depresi. 
  3. Kelainan-kelainan kronis. Kelainan tidur (seperti tidur apnea), diabetes, sakit ginjal, arthritis, atau penyakit yang mendadak seringkali menyebabkan kesulitan tidur. 
  4. Efek samping pengobatan. Pengobatan untuk suatu penyakit juga dapat menjadi penyebab insomnia.  
  5. Pola makan yang buruk. Mengkonsumsi makanan berat sesaat sebelum pergi tidur bisa menyulitkan seseorang jatuh tidur. 
  6. Kafein, nikotin, dan alkohol. Kafein dan nikotin adalah zat stimulan (penekan saraf). Alkohol dapat mengacaukan pola tidur seseorang. 
  7. Kurang berolahraga. Hal ini juga bisa menjadi faktor sulit tidur yang signifikan. 
Penyebab lainnya bisa berkaitan dengan kondisi-kondisi spesifik, seperti usia lanjut (insomnia lebih sering terjadi pada orang yang berusia di atas 60 tahun), wanita hamil dan riwayat depresi atau penurunan.

Daftar Pustaka

  • Rafknowledge. 2004. Insomnia dan Gangguan Tidur Lainnya. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.
  • Nevid, J. F., dkk. 2005. Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga.
  • Stepanski, E.J. 2009. Causes of Insomnia. In : Lee-Chiong, T.L., 2009. Sleep Medicine Esentials. Division of Sleep Medicine, Department of Medicine, National Jewish Health, University of Colorado Denver School of Medicine. Denver, Colorado.
  • Hoeve, V. 1992. Ensiklopedi (Terjemahan Oleh Irsad, M). Jakarta: Ichtar Baru.
  • Vrisaba, Rahadian. 2002. Mengapa anda sulit tidur. Bandung: Pionir Jaya.
  • Lanywati, Endang. 2001. Insomnia: Gangguan Sulit Tidur. Yogyakarta: Kanisius.
  • Hardjanta, G. 2003. Efektivitas Perlakuan Intensi Paradoksal pada Penderita Insomnia. Psikodimensia: Kajian Ilmiah Psikologi. Semarang: Universitas Katolik Soegijapranata. Vol.1. No. 1 (21-26).
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih