Pengertian dan Tipe-tipe Kepribadian

Pengertian Kepribadian 

Pengertian dan Tipe-tipe Kepribadian
Kepribadian
Kepribadian atau personalitas adalah segala bentuk perilaku, sifat dan tingkah laku yang khas pada diri seseorang yang digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain serta menyesuaikan diri dengan lingkungan, sehingga membentuk corak tingkah laku yang menjadi kesatuan fungsional yang khas pada setiap individu.

Istilah kepribadian atau dalam bahasa Inggris disebut personality, berasal dari bahasa Yunani yaitu persona yang artinya topeng dan personare. Penggunaan topeng berhubungan dengan salah satu atribut yang dipakai oleh para pemain sandiwara pada zaman Yunani kuno. Melalui topeng yang dikenakan dan diperkuat dengan gerak-gerik dan apa yang diucapkan, karakter dari tokoh yang diperankan tersebut dapat menembus keluar, dalam arti dapat dipahami oleh para penonton.

Berikut ini beberapa pengertian kepribadian dari beberapa sumber referensi:
  • Menurut Weller (2005), kepribadian merupakan jumlah total kecenderungan bawaan atau herediter dengan berbagai pengaruh dari lingkungan serta pendidikan, yang membentuk kondisi kejiwaan seseorang dan memengaruhi sikapnya terhadap kehidupan. 
  • Menurut Feist dkk (2009:86), kepribadian mencakup sistem fisik dan psikologis meliputi perilaku yang terlihat dan pikiran yang tidak terlihat, serta tidak hanya merupakan sesuatu, tetapi melakukan sesuatu. Kepribadian adalah substansi dan perubahan, produk dan proses serta struktur dan perkembangan. 
  • Menurut Sukmadinata (2003:136), kepribadian merupakan keterpaduan antara aspek-aspek kepribadian, yaitu aspek psikis seperti aku, kecerdasan, bakat, sikap, motif, minat, kemampuan, moral, dan aspek jasmaniah seperti postur tubuh, tinggi dan berat badan, indra, dll. 
  • Menurut Adolf Heuken dkk (1979:10), kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang, baik yang jasmani, mental, rohani, emosional maupun yang sosial. Semuanya ini telah ditatanya dalam caranya yang khas di bawah beraneka pengaruh dari luar. Pola ini terwujud dalam tingkah lakunya, dalam usahanya menjadi manusia sebagaimana dikehendakinya.


Terdapat konsep-konsep yang berhubungan atau disamakan dengan kepribadian, yaitu antara lain sebagai berikut (Alwisol,2005:8-9):
  1. Character (karakter), yaitu penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit. 
  2. Temperament (temperamen), yaitu kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan biologis atau fisiologis. 
  3. Traits (sifat-sifat), yaitu respon yang senada atau sama terhadap sekelompok stimuli yang mirip, berlangsung dalam kurun waktu (relatif) lama. 
  4. Type attribute (ciri), mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimuli yang lebih terbatas. 
  5. Habit (kebiasaan), merupakan respon yang sama dan cenderung berulang untuk stimulus yang sama pula.

Tipe-tipe Kepribadian 

Terdapat berbagai tipe kepribadian yang telah deklasifikasi oleh para ahli, antara lain Hiprocates, Gelanus, Eduard Spranger, C.G. Jung, Heymans dan lain-lain. Berikut ini beberapa tipe kepribadian menurut para ahli (Friedman dan Schustack, 2006):

a. Tipe Kepribadian Menurut Hiprocates dan Gelanus 

Hiprocates dan Gelanus membagi tipe-tipe kepribadian berdasarkan zat cair yang ada dalam tubuh seseorang. Tipe kepribadian menurut Hiprocates dan Gelanus adalah sebagai berikut:
  1. Melancholicus (Melankolis), yaitu tipe kepribadian seseorang yang memiliki banyak empedu hitam di dalam tubuhnya. Sehingga orang ini memiliki sifat-sifat kepribadian seperti; bersikap murung, pesimis dan selalu menaruh rasa curiga. 
  2. Sanguinicus (Sanguinisi), yaitu tipe yang dimiliki seseorang yang memiliki banyak darah dalam tubuhnya. Orang yang memiliki sifat wajah yang berseri-seri, periang, dan selalu bersikap optimistis. 
  3. Flagmaticus (Flegmatisi), yaitu tipe kepribadian yang dimiliki oleh orang orang yang memiliki banyak lendir dalam tubuhnya. Orang yang memiliki tipe kepribadian ini memiliki sifat sifat seperti lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimis, pembawaannya tenang, dan memiliki pendirian yang teguh.
  4. Cholericus (kolerisi). Tipe kepribadian yang dimiliki seseorang yang memiliki banyak empedu kuning dalam tubuhnya. Sifat yang dimiliki oleh seseorang dengan kepribadian ini adalah memiliki tubuh besar dan kuat, garang dan agresif.

b. Tipe Kepribadian Menurut Alfred Adler

Alfred Adler mengembangkan tipe kepribadian berdasarkan stimulus yang ada dari luar. Tipe kepribadian menurut Adler adalah sebagai berikut:
  1. Rulling Dominant, tipe ini bersifat agresif dan dominan.
  2. Getting Learning, tipe ini lebih cenderung belajar kepada orang lain dan bersifat pasif. 
  3. Avoiding, tipe ini lebih cenderung lari dari masalah untuk mengatasi masalah. 
  4. Socially useful, tipe ini cenderung menghadapi masalah secara realistis; kooperatif dan penyayang.

c. Tipe Kepribadian Menurut Big Five 

Diawali pada tahun 1960 hingga tahun 2000, penelitian menyimpulkan bahwa pendekatan trait terhadap kepribadian dapat dilihat melalui lima dimensi yang lebih dikenal dengan Big Five, yaitu: Openness, Conscientiousness, Extroversion Agreeableness, Neuroticism. Tipe kepribadian banyak dipergunakan untuk bidang keterampilan atau kecakapan. Adapun tipe kepribadian menurut Big Five adalah sebagai berikut:
  1. Extroversion (sering disebut juga surgensi), orang yang tinggi pada dimensi ini cenderung semangat, antusias, dominan, ramah, dan komunikatif. Orang yang sebaliknya akan cenderung pemalu, tidak percaya diri, submisif, dan pendiam. 
  2. Agreeableness, orang yang tinggi pada dimensi agreableness cenderung ramah, kooperatif, mudah percaya dan hangat. Orang yang rendah dalam dimensi ini cenderung dingin, konfrontatif dan kejam. 
  3. Conscientiousness (disebut juga lack of impulsivity), orang yang tinggi dalam dimensi conscientiousness umumnya berhati-hati, dapat diandalkan, teratur dan bertanggung jawab. Orang yang rendah dalam dalam dimensi conscientiousness atau impulsivity cenderung ceroboh, berantakan dan tidak dapat diandalkan. Penelitian kepribadian awal menamakan dimensi ini will (kemauan).
  4. Neuroticism (disebut juga emotional instability), orang yang tinggi dalam Neuroticism cenderung gugup, sensitif, tegang, dan mudah cemas. Orang rendah dalam dimensi ini cenderung tenang dan santai.
  5. Openness (sering juga disebut culture atau intellect), orang yang tinggi dalam dimensi ini umumnya terlihat imajinatif, menyenangkan, kreatif dan artistik. Orang yang rendah dalam dimensi ini umumnya dangkal, membosankan atau sederhana.

d. Tipe Kepribadian Menurut C.G Jung 

Carl Gustav Jung menyatakan bahwa kepribadian manusia dapat dibagi menjadi dua kecenderungan ekstrim berdasarkan reaksi individu terhadap pengalamannya. C.G Jung membagi kepribadian menjadi dua tipe, yaitu ekstraversi dan introversi yang dijelaskan sebagai berikut:
  1. Ekstraversi. Orang yang ekstraversi terutama dipengaruhi oleh dunia objektif, yaitu dunia di luar dirinya. Orientasinya terutama tertuju keluar: pikiran, perasaan, serta tindakan-tindakannya terutama ditentukan oleh lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan non sosial. Orang yang ekstraversi bersikap positif terhadap masyarakat, hatinya terbuka, mudah bergaul, hubungan dengan orang lain lancar.
  2. Introversi. Orang yang introvert terutama dipengaruhi oleh dunia subjektif, yaitu dunia di dalam dirinya sendiri. Orientasinya terutama tertuju ke dalam pikiran, perasaan, serta tindakan-tindakannya terutama ditentukan oleh faktor-faktor subjektif. Penyesuaiannya dengan dunia luar kurang baik, jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan orang lain, kurang dapat menarik hati orang lain.

e. Tipe kepribadian Menurut Eysenck 

Menurut Eyseck kepribadian tidak muncul secara spontan, tetapi mengikuti empat level yang disebutnya dengan theory of personality structure. Pada tahap awal, seseorang akan bertindak terhadap respon yang dialaminya terhadap dunia luar. Dia akan selalu merespon setiap hal-hal stimulus yang datang kepadanya. Pada tahap ini oleh Eysenck disebut dengan specific responses. Tahap selanjutnya adalah merupakan kebiasaan apabila merespon stimulus yang sama. Tahap ini disebut dengan habitual responses. Pada tahap selanjutnya, apabila sudah menjadi kebiasaan, maka ia beranjak menjadi traits. Pada tahap traits inilah indikator-indikator kepribadian berada. Pada tahap trait ini terdapat banyak indikator. Selanjutnya traits ini akan membentuk sebuah tipe kepribadian secara umum, yang oleh Eysenck disebut dengan general tipe, seperti; ekstroversi, introversi, neurotisme dan psikotisme.

Daftar Pustaka

  • Weller. 2005. Kamus Saku Perawat, Edisi 22. Jakarta: EGC.
  • Feist, J., Feist, G. 2009. Theories of Personality, 7th edition. New York: McGraw-Hill.
  • Sukmadinata, Nana Syaodih. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Adolf, Heuken SJ dkk. 1979. Pedoman untuk Mengenal Diri, Tantangan Membina Kepribadian, Jilid I & II cet. ke-3. Yogyakarta: Kanisius.
  • Alwisol. 2005. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press
  • Howard S. Friedman dan Miriam W. Schustack. 2006. Personality Classic Theories and Modern Research terjemahan. Benedictine Widyasinta, Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern. Jakarta: Erlangga.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat