Pengertian, Epidemiologi, Penyebab dan Pengobatan Infertilitas

Apa itu Infertilitas? 

Pengertian, Epidemiologi, Penyebab dan Pengobatan Infertilitas
Infertilitas atau Kemandulan
Infertilitas atau ketidaksuburan atau kemandulan adalah kondisi ketidakmampuan untuk menghasilkan keturunan, meskipun pasangan suami istri telah melakukan hubungan seksual sebanyak 2-3 kali seminggu dalam kurun waktu satu tahun tanpa menggunakan alat kontrasepsi jenis apapun.

Pasangan suami-istri dianggap fertil atau mandul apabila suami memiliki sistem dan fungsi reproduksi yang sehat sehingga mampu menghasilkan dan menyalurkan sel kelamin pria (spermatozoa) ke dalam organ reproduksi istri dan istri memiliki sistem dan fungsi reproduksi yang sehat sehingga mampu menghasilkan sel kelamin wanita (sel telur atau ovum) yang dapat dibuahi oleh spermatozoa dan memiliki rahim yang dapat menjadi tempat perkembangan janin, embrio, hingga bayi berusia cukup bulan dan dilahirkan.

Berikut ini beberapa pengertian infertilitas dari beberapa sumber referensi buku:
  • Menurut Prawirohardjo (2005), infertilitas (pasangan mandul) adalah pasangan suami istri yang telah menikah selama satu tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa alat kontrasepsi, tetapi belum memiliki anak. 
  • Menurut Djuwantono (2008), infertilitas adalah kegagalan dari pasangan suami istri untuk mengalami kehamilan setelah melakukan hubungan seksual, tanpa kontrasepsi selama satu tahun. 
  • Menurut Purba (2011), infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil setelah sekurang-kurangnya satu tahun berhubungan seksual sedikitnya empat kali seminggu tanpa kontrasepsi.
  • Menurut Mansjoer (2004), infertilitas adalah bila pasangan suami istri, setelah bersanggama secara teratur 2-3 kali seminggu, tanpa memakai metode pencegahan belum mengalami kehamilan selama satu tahun. 
  • Menurut Herlianto (1981), infertilitas adalah ketidakmampuan sepasang suami istri untuk memiliki keturunan dimana wanita belum mengalami kehamilan setelah bersenggama secara teratur 2-3 x / minggu, tanpa memakai metode pencegahan selama 12 bulan.

Jenis-jenis Infertilitas 

Menurut Anwar (2005), infertilitas dibagi menjadi dua jenis, yaitu infertilitas primer dan infertilitas sekunder. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
  1. Infertilitas primer adalah pasangan suami-istri belum mampu dan belum pernah memiliki anak setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk apapun. 
  2. Infertilitas sekunder adalah pasangan suami istri telah atau pernah memiliki anak sebelumnya, tetapi saat ini belum mampu memiliki anak lagi setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat atau metode kontrasepsi dalam bentuk apapun.

Epidemiologi Infertilitas 

Berdasarkan hasil statistik, sebanyak 60% sd 70% pasangan yang telah menikah akan memiliki anak pada satu tahun usia pernikahan mereka. Sebanyak 20% akan memiliki anak pada tahun kedua pernikahan mereka. Sisanya sebanyak 10% sd 20% akan memiliki anak pada tahun ketiga atau lebih atau tidak akan memiliki anak (Djuwantono, 2008).

Diperkirakan satu dari tujuh pasangan didunia bermasalah dalam hal kehamilan. Di Indonesia angka kejadian perempuan infertil primer 15% pada usia 34-35 tahun, meningkat 30% pada usia 35-39 tahun dan 64% pada usia 40-44 tahun. Penyebab infertilitas sebanyak 40% berasal dari pria, 40% dari wanita 10% dari pria wanita, 10% tidak diketahui (Kurniawan, 2010).

Ciri-ciri Infertilitas 

Pasangan yang mengalami infertilitas memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Pasangan tersebut memiliki keinginan untuk memiliki anak. 
  2. Selama satu tahun atau lebih berhubungan seksual, istri belum mendapatkan kehamilan.
  3. Melakukan hubungan seksual 2-3 kali dalam seminggu dalam kurun waktu satu tahun.
  4. Istri maupun suami tidak pernah menggunakan alat ataupun metode kontrasepsi, baik kondom, obat-obatan dan alat lain yang berfungsi untuk mencegah kehamilan.

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Infertilitas

a. Faktor Pria 

Penyebab infertilitas pada pria dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
  1. Gangguan produksi sperma. Misalnya akibat kegagalan testis primer (hipergonadotropik hipogonadisme) disebabkan oleh faktor genetik atau kerusakan langsung lainnya terkait anatomi, infeksi atau gonadotoksin. Stimulasi gonadotropin yang tidak adekuat disebabkan faktor genetik, efek tumor hipotalamus atau pituitari atau penggunaan androgen eksogen. 
  2. Gangguan fungsi sperma. Misalnya akibat antibodi antisperma, radang saluran genital (prostatitis), varikokel, kegagalan reaksi akrosom, ketidaknormalan biokimia, atau gangguan dengan perlengketan sperma (ke zona pelusida) atau penetrasi. 
  3. Sumbatan pada duktus. Misalnya akibat vasektomi, tidak adanya vas deferens bilateral, atau sumbatan kongenital atau yang didapat (acquired) pada epididimis atau duktus ejakulatorius (penanganan interil).

b. Faktor Wanita 

Penyebab infertilitas pada wanita dibagi menjadi empat jenis, yaitu:
  1. Gangguan ovulasi. Gangguan ovulasi jumlahnya sekitar 30-40% dari seluruh kasus infertilitas wanita. Terjadinya anovulasi dapat disebabkan tidak ada atau sedikitnya produksi gonadotropin releasing hormon (GnRH) oleh hipotalamus, sekresi hormon prolaktin oleh tumor hipopise, PCOS dan kegagalan ovarium dini. 
  2. Kelainan Anatomis. Kelainan anatomis yang sering ditemukan berhubungan dengan infertilitas adalah abnormalitas tuba fallopii dan peritoneum, faktor serviks, serta faktor uterus. 
  3. Endometriosis. Endometriosis berat dengan kerusakan tuba falopi dan ovarium menyebabkan adhesi atau munculnya endometrioma, merupakan penyebab infertilitas.
  4. Infertlitas yang tidak dapat dijelaskan (Unexplained Infertility). Infertilitas yang tidak dapat dijelaskan merupakan keadaan kurang normal dari distribusi efisiensi reproduksi atau abnormal dari fungsi sperma atau oosit, fertilisasi, implantasi, atau perkembangan preembrio yang tidak dapat terdeteksi dengan metode evaluasi standard.

Penanganan dan Pengobatan Infertilitas 

Beberapa cara yang dilakukan untuk penanganan dan pengobatan infertilis, yaitu sebagai berikut (Permadi, 2008):

a. Infertilitas pada wanita

  1. Pengetahuan tentang siklus menstruasi, gejala lendir serviks puncak dan waktu yang tepat untuk coital. 
  2. Pemberian terapi obat.

b. Infertilitas pada pria

  1. Penekanan produksi sperma untuk mengurangi jumlah antibodi autoimun, diharapkan kualitas sperma meningkat. 
  2. Testosteron Enantat dan testosteron spionat untuk stimulasi kejantanan. 
  3. FSH dan HCG untuk menyelesaikan spermatogenesis.
  4. Bromokriptin, digunakan untuk mengobati tumor hipofisis atau hipotalamus.
  5. Perbaikan varikokel menghasilkan perbaikan kualitas sperma. 
  6. Perubahan gaya hidup yang sederhana dan yang terkoreksi. Seperti perbaikan nutrisi, tidak membiasakan penggunaan celana yang panas dan ketat. 

Daftar Pustaka

  • Prawirohardjo, S. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka.
  • Djuwantono, Tono, dkk. 2008. Hanya 7 Hari Memahami Infertilitas. Bandung: Refika Aditama.
  • Purba, Imelda Hariani. 2011. Kecemasan Pasangan Usia Subur Terhadap Infertilitas Sekunder. Medan: Universitas Sumatera Utara.
  • Mansjoer, A. 2004. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta: Media Aeskulapius.
  • Herlianto, Harijati. 1981. Fertilitas (Kelahiran) dalam Pengantar Demogarfi. Jakarta: Lembaga Demografi UI.
  • Anwar, R. 2005. Diagnostik Klinik Dan Penilaian Infertilitas. Bandung: Fakultas Kedokteran Unpad. 
  • Kurniawan, D. 2010. Asuhan Kebidanan Pada Infertilitas Primer. Medan: Universitas Sumatera Utara.
  • Permadi. 2008. Mengatasi Infertilitas. Bandung: Grafindo.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat