Komunikasi Nonverbal


Pengertian Komunikasi Nonverbal

Komunikasi Nonverbal
Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal menurut Mark L Knapp adalah Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis (Mulyana, 2009:347).
Hudjana (2003:26) mendefinisikan komunikasi nonverbal sebagai penciptaan dan pertukaran pesan dengan tidak menggunakan kata-kata seperti komunikasi yang menggunakan gerakan tubuh, sikap, kontak mata, ekspresi muka, kedekatan jarak, dan sentuhan.

Lebih jauh, bahasa nonverbal tanpa kita sadari akan menggambarkan karakter kita secara kasat mata. Lewat perilaku nonverbalnya, kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang. Kesan awal kita pada seseorang sering didasarkan perilaku nonverbalnya, yang mendorong kita untuk mengenalnya lebih jauh.

Meskipun berbeda, namun ada keterkaitan yang erat antara bahasa verbal yang digunakan oleh suatu masyarakat dengan bahasa nonverbalnya. Ada dugaan bahwa bahasa nonverbal sebangun dengan bahasa verbalny. Artinya, pada dasarnya suatu kelompok yang punya bahasa verbal yang khas juga dilengkapi dengan bahasa nonverbal khas yang sejajar dengan bahasa verbal tersebut.

Jenis-jenis Komunikasi Nonverbal

Sangat banyak cara untuk melakukan komunikasi verbal kepada lawan bicara, ada sembilan jenis pesan nonverbal yang dianggap penting, kesepuluh jenis itu adalah (Mulyana, 2009:353-433):

1. Bahasa tubuh

Setiap anggota tubuh seperti wajah, tangan kepala, dan kaki, secara keseluruhan dapat digunakan sebagai isyarat simbolik. Ada empat gerakan tubuh yang mencerminkan bahasa tubuh:
  1. Isyarat tangan. Isyarat tangan termasuk apa yang disebut emblem yang punya makna dalam suatu budaya atau subkultur. Contohnya untuk menunjuk diri sendiri orang Indonesia menunjuk dadanya dengan telapak tangan atau jari telunjuk. Penggunaan isyarat tangan dan maknanya jelas berlainan dari budaya ke budaya.
  2. Gerakan kepala. Di beberapa negara, anggukan kepala malah berarti “tidak”, seperti di Bulgaria. Sementara isyarat untuk “ya” di negara itu adalah menggelengkan kepala. Orang Indonesia, sebaliknya menganggukan kepala utuk menyatakan setuju.
  3. Postur tubuh dan posisi kaki. Postur tubuh sering bersifat simbolik. Beberapa postur tubuh tertentu diasosiasikan dengan status sosial dan agama tertentu.  Status seseorang memengaruhi postur tubuhnya ketika ia berkomunikasi dengan orang lain. Orang yang berstatus tinggi umumnya mengatur postur tubuhnya secara lebih leluasa daripada orang yang berstatus rendah.
  4. Ekspresi wajah dan tatapan mata. Banyak orang menganggap perilaku nonverbal yang paling banyak “berbicara” adalah ekspresi wajah meskipun mulut tidak berkata-kata. Sebagian pakar mengakui, terdapat beberapa keadaan emosional yang dikomunikasikan oleh ekspresi wajah.
  5. Kontak mata punya dua fingsi. Pertama, fungsi pengatur, untuk memberi tahu orang lain apakah Anda akan melakukan interaksi dengan orang itu atau tidak. Kedua,  fungsi ekspresif, memberi tahu orang lain bagaimana perasaan Anda terhadapnya.

2. Sentuhan

Sentuhan bisa merupakan tamparan, pukulan, cubitan, senggolan, tepukan, belaian, pelukan, jabat tangan, hingga sentuhan lembut sekilas. Menurut Heslin, terdapat lima kategori sentuhan, yaitu:
  1. Fungsional-profesional. Sentuhan bersifat “dingin” dan berorientasi bisnis, misalnya pelayan toko membantu pelanggan memilih pakaian.
  2. Sosial-sopan. Membangun dan memperteguh pengharapan, aturan dan praktik sosial yang berlaku, misalnya berjabat tangan.
  3. Persahabatan-kehangatan. Meliputi setiap sentuhan yang menandakan afeksi misalnya dua orang yang saling merangkul setelah lama berpisah.
  4. Cinta-keintiman. Merujuk pada sentuhan yang menyatakan keterikatan emosional atau ketertarikan, misalnya mencium pipi orang tua.
  5. Rangsangan-seksual. Motif sentuhannya bersifat seksual. Rangsangan seksual tidak otomatis bermakna cinta atau keintiman.

3. Parabahasa

Parabahasa merujuk pada aspek-aspek suara selain ucapan yang dapat dipahami, misalnya kecepatan berbicara, tinggi-rendah nada, volume suara, intonasi, warna suara, dialek, suara gemetar, siulan, tangis, gumaman, dan sebagainya. Setiap karakteristik suara ini mengkomunikasikan emosi dan pikiran kita. Suara yang terengah engah menandakan kelamahan.

4. Penampilan fisik

Penampilan fisik mencakup dua aspek: Busana serta karakteristik fisik. Busana misalnya orang-orang memakai pakaian serba hitam saat meninggal. Pilihan orang atas busananya juga mencerminkan kepribadian, apakah ia orang yang religius, modern, atau berjiwa muda.

Sementara daya tarik fisik merupakan ciri penting dalam banyak teori kepribadian, meskipun bersifat implisit. Orang yang menarik secara fisik dinilai lebih pandai bergaul, luwes, tenang, menarik, dan berhasil dalam karier.

5. Bau-bauan

Para ahli menganalogikan bau badan setiap orang dengan sidik jari, karena merupakan ciri khas setiap orang yang tidak sama dengan bau badan setiap orang lainnya. Kita dapat menduga bagaimana sifat seseorang dan selera masakannya atau kepercayaannya berdasarkan bau yang berasal dari tubuhnya dan dari rumahnya. Victor Hugo mengatakan, “Tidak sesuatu pun membangkitkan kenangan seperti suatu bau.” Bau parfum tertentu boleh jadi mengingatkan kita pada seseorang yang khusus.

6. Orientasi Ruang dan Jarak Pribadi

Setiap orang, baik ia sadar atau tidak, memiliki ruang pribadi imajiner yang bila dilanggar, akan membuatnya tidak nyaman. Ruang pribadi kita identik dengan wilayah tubuh, satu dari empat kategori wilayah yang digunakan manusia. Ketiga wilayah lainnya adalah: wilayah pubil, yakni tempat yang secara bebas dimasuki dan ditinggalkan orang; wilayah rumah, yakni wilayah publik yang bebas dimasuki dan digunakan orang yang mengakui memilikinya; dan wilayah interaksional, yakni tempat pertemuan yang memungkinkan semua orang berkomunikasi secara informal seperti tempat pesta atau tempat cukur.

7. Konsep Waktu

Waktu menentukan hubungan antarmanusia. Waktu berhubungan erat dengan perasaan hati dan perasaan manusia. Bila kita selalu menepati waktu yang dijanjikan, maka komitmen kita pada waktu memberikan pesan tentang diri kita.

8. Diam

Dalam beberapa budaya, diam kurang disukai daripada berbicara. Kita menghargai pembicaraan untuk melepaskan ketegangan dan sebagai tanda kehidupan yang baik. Bila seorang dosen bertanya kepada mahasiswa, dan mahasiswa diam cukup lama sebelum menjawab, mahasiswa dapat dianggap berpikir lambat, mempermainkan dosen, atau abnormal. Dalam beberapa budaya lain, diam justru menyenangkan. Diam dalam budaya jepang saat mengantarai satu kalimat dengan kalimat lainnya adalah hal yang wajar. Faktor-faktor yang memengaruhi diam antara lain: durasi diam, hubungan antara orang-orang yang bersangkutan, dan situasi atau kelayakan waktu.

9. Warna

Warna sering digunakan untuk menunjukkan suasana emosional, cita rasa, bahkan keyakinan agama. Contohnya, warna merah muda sebagai warna feminin, warna biru adalah warna maskulin, warna putih sering bermakna positif, suci, murni, atau bersih.

10. Artefak

Artefak adalah benda apa saja yang dihasilkan kecerdasan manusia. Benda-benda yang digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup sering mengandung makna tertentu. Motor Harley Davidson bila terpajang di rumah seseorang, kita tahu bahwa pemiliknya adalah orang berduit.
Jangan lupa membagikan referensi ini jika bermanfaat

Terimakasih